
Langit semakin gelap, jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam, tapi Indri masih berada duduk di hadapan tv sambil menunggu Feri yang masih belum ada tanda-tanda pulang.
"Ish...Mas Feri kemana sih? jam segini belum pulang juga!"Indri terus menatap layar ponsel nya nanun tidak ada jawaban dari Feri setelah beberapa kali mengirim kan pesan.
—TAKKK!!
Indri melempar ponsel nya ke atas meja, lalu perlahan menjatuh kan tubuh nya dan berbaring menghadap televisi dengan tangan yang terus mengusap perut yang sudah sangat membuncit.
—Vrummmm.
Akhirnya suara yang Indri nantikan sedari tadi sudah terdengar jelas.
Ceklek..
Mata Feri menatap sekitar, lampu di ruang tamu nya sudah mati, namun Feri mendengar suara tv masih hidup dengan lampu yang juga masih menyala.
Feri terus berjalan pelan, ke arah wanita yang sudah berbaring namun terlihat belum tidur.
"Sayang, kenapa belum tidur?"Tanya Feri.
"Aku kan udah bilang, kalo mas nggak ada aku nggak bisa tidur!"Indri mengomel.
Pria yang sedang berjonkok di hadapan Indri itu hanya tersenyum.Sudah mulai mengerti dan terbiasa dengan mood istrinya yang berubah-ubah.Kadang dia terlihat manja, pemarah tidak jarang juga seharian Indri bersikap manis kepada nya.
"Yasudah ayok kita tidur."Ucap Feri lalu bangkit dan membantu Indri untuk bangun.
"Kesel akutuh, udah berapa kali di kirimin pesan nggak di bales-bales!"Cerocos Indri.
—Cup..
Indri langsung terdiam ketika Feri menciumbibir nya.
"Jangan ngomel terus! nanti cantik nya hilang, mas tahu kamu kangen, makanya ayok kita masuk kamar."Feri tersenyum jahil lalu menggerakan alis nya naik-turun.
"Dasar mesum!"Gumam Indri namun Feri masih bisa mendengar nya dengan jelas.
"Iya aku tahu, ini juga anjuran dari Dokter Oscar bukan? kata nya biar bayi nya tahu jalan lahir."Kata Feri.
-Ceklek..
"Mas mandi dulu, kamu boleh tunggu di tempat tidur, atau mau ikut mandi air hangat? kalau mau ayok."Feri terus menggoda istrinya yang masih terlihat kesal.
Mata Indri mendelik, lalu berjalan menuju ranjang king size milik nya.Beberapa bantal Indri susun untuk punggung nya bersandar, maklum saja sakit pinggang adalah keluhan sering di rasakan ketika perut nya sudah sangan membesar.
Suara gemercik air sudah jelas terdengar, hingga berhenti setelah kurang lebih lima belas menit Feri habis kan.
Pria jangkukng bertubuh kekar itu langsung berjalan menghampiri Indri dengan hanya menggunakan bathrobe.
"Kenapa nggak pake baju?"Tanya Indri ketika Feri sudah berada duduk menyandar kan punggung ny di samping Indri.
"Mau nya kaya gini sayang."Sahut Feri.
"Nanti masuk angin mas, rambut nya juga masih basah! mana AC nyala lagi."Ucap Indri lembut.
"Hayu aku antar, kamu pake baju dulu!"Indri bangun perlahan, lalu menatik tangan Feri.
Feri menurut, pria itu terus berjalan di belakang Indri sambil terus memgulum senyum.
Gampang banget kan bikin kamu nggak marah lagi! Pikirnya.
Sesampai nya di walk in closet, Indri lansung berjalan ke arah gantunga baju milik Feri, dan membawa kan joger pans dan kaos oblong hitam untuk nya.
"Pakai dulu, aku mau ambil hairdryer."Indri memberikan baju nya kepada Feri.
"Ada kabar mengejut kan dari Raynan."Kat Feri.
"Mengejut kan apa?"Tanya Indri.
"Besok dia mau lamar Asila!"Jelas nya.
"Apa kita di undang?"Kedua nya terus berbincang sambil saling menatap di arah pantulan cermin dengan hairdryer yang terus di arah kan ke kepala Feri.
"Hanya acara keluarga, mungkin kalo nikah di undang."Sahut Feri.
Indri mengangguk, lalu mematikan mesin pengenring rambut dan kembali menyimpan pada tempat nya.
"Kita tidur sekarang, sudah larut dan ibu hamil nggak boleh selalu begadang."Feri meraih tangan Indri lalu berjalan ke arah tempat tidur.
"Kamu yang bikin aku selalu begandang."Rengek Indri.
"Maaf sayang, lagi banyak kerjaan di pabrik sama kebun teh."Jelas nya.
^
^
"Ray!!"
DOR..DOR..DOR..
Maura terus menggedor pintu kamar hotel yang di tempati adik nya, namun pria itu sama sekali belum memberi respon apapun setelah Maura beberapa kali mencoba membangun kan nya.
"Raynan! ih bener-bener deh ni anak!"Gerutu Maura."Pake segala di kunci lagi!"
DOR..DOR..DOR..
"Raynan Muhammad Biantara!!"Maura benar-benar berteriak.
Raynan yang sedang terlelap pun langsung terbangun karena suara bising di balik pintu.
"Aishh...iya..iya, bawel babget sumpah! lagian pagi-pagi ngebangunin mau apa sih!"Raynan menyibakan selimut sambil mengumpat kesal.
—Klek..
"Apaan sih! brisikk tau nggak Ra?!"Raynan kesal.
"Oh..loe gitu ya sama gw? sukur-sukur lo gw bangunin, kalo nggak lamaran lo buat Asila kesiangan bego!"Cecar Maura lalu menoyor kepala adik nya.
"Lamaran?!"Raynan masih terlihat ling-lung.
"Kalo nggak jadi gw kasih tau mama sama papah ya!"Maura berbaik.
"Lima! enak aja lu kita harus nunggu lebih lama lagi."Tegas Maura lalu pergi kembali masuk ke dalam kamar hotel nya.
^
^
Sementara itu di rumah Asila yang sudah terlihat siap, ke adaan rumah sudah sangat rapih dengan hamparan karpen besar menutupi ubin rumah nya.
"Mau dateng jam berapa nduk?"Tanya mina kepada Asila.
"Jam delapan-sembilanan lah bu."Sahut Asila.
Tidak ada persiapan khusus dari Asila dan Raynan, karena menurut Asila ini hanya acara yang di hadiri dua keluarga saja.
–Aku sudah mau sampai.
Begitulah pesan yang di terima Asila dari Raynan.
Hati Asila lansung bergemuruh, ini memang bukan kali pertama untuk nya, namun saat ini berbeda, Asila akan di lamar oleh pria yang di cintai nya.
Vrum..vrumm..
Suara derum mobil tepat berhenti di depan gerbang rumah nya, suara Maura dan Yulia berbincang pun terdengar jelas oleh Asila yang sedang berada di kamar nya.
"Aduh!"Ucap Asila sambil memengangi dada nya yang mulai terasa sesak.
"Silah kan masuk."Suara Mina ketika menyambut calon besan nya.
"Iya jeng terimakasih!"Ucap Yulia.
Namun Joko terdiam ketika melihat ayah dari Raynan datang dan berdiri di belakang Yulia.
"Loh!! Joko?"Cicit nya menunjuk ayah dari Asila.
"Biantara?!"Joko pun menunjuk pria tersebut.
Kedua nya tersenyum, lalu saling berpelukan, hingga membuat Mina dan Yulia memandang nya penuh tanya.
"Kamu sudah tua Joko."Canda ayah Raynan.
"Kamu juga sudah tua Bian."Balas Joko.
"Udah saling kenal toh pak?"Tanya Mina.
"Temen di asrama bu."Jawab Joko.
"Ayo kita lanjut ngobrol nya di dalam."Ajak Joko."Bu panggil Asila."Titah nya kemudian.
Mina pun mengangguk, lalu beranjak pergi le arah kamar Asila berada.
—Klek..
"Asila... nduk, Raynan sama keluarga udah ada disini! ayok samperin."Jelas Mina kepada putri nya yang sedang duduk di tepi ranjang sambil terus meremas jemari tangan nya.
"Bu Asila gugup, jantung Asila kaya mau copot sama sesak nafas juga."Ucap nya sedikit berbisik.
Amina tersenyum.
"Nggak apa-apa! ada ibu sama bapak! gugup nya nanti hilang."Sahut Mina lalu menggandeng tangan putrinya.
"Kebaya ini masih muat toh?"Mina tersenyum sambil memperhatikan penampilan Asila.
"Sedikit sempit tapi nggak apa-apa, Asila tahan nafas sebentar."Bisik nya lalu tersenyum.
Asila terus berjalan beriringan dengan sang ibunda tercinta.Pandangan nya terus menunduk, ketika Asila sampai di ruang tamu.
Berbeda dengan Asila yang tidak sanggup menatap sekitar, Raynan justru terus menatap Asila dengan penuh ke kaguman.
"Calon mantu mamah cantik sekali!"Yulia memuji prempuan yang sudah duduk di hadapan nya.
Wajah Asila semakin memerah, rasa gugup nya pun tak kunjung hilang, hingga membuat jantung nya tidak henti dan terus berdegup dengan kencang.
"Karena Asila sudah ada di sini, kita lansung saja."Kata Biantara ayah dari Raynan.
"Joko, saya Biantara ingin meminta putri mu untuk menikah dengan putra bungsu kami."Kata nya.
"Saya serah kan jawaban nya pada Asila saja yah."Jelas Joko tersenyum.
"Asila?!"Panggil Joko.
Prempuan itu pun mengangguk, hingga mampu membuat senyum Raynan mengembang.
"Joko, saya tidak mau banyak berbasa-basi, maka dari itu saya akan lansung menentukan tanggal pernikahan Asila dan Raynan."Tutur Biantara.
"Kita ikut saja! niat baik tidak usah di tunda lama-lama"Jelas Joko.
"Satu minggu lagi kita siap kan acara nya."
"Apa tidak terlalu mepet, aku tidak bisa menyiap kan acara secepat itu."Kata Joko.
"Tenang saja, sudah saya urus."
Orang tua Asila mengangguk, acara pun berjalan dengan lancar, jamuan makan untuk keluarga Raynan pun tiba, semua anggota keluarga membawa setiap makanan yang di hidang kan keluarga Asila.
"Asila!"Panggil Raynan.
"Iya."Asila menoleh.
"Kau cantik hari ini, dan aku suka!"Raynan tersenyum.
"Raynan stop, aku malu."Cicit nya.
...TBC🍀🍀🍀...
...FOLLOW, LIKE, KOMEN, DAN VOTE YA☺☺...