
Suara gemercik air pun terdengar di dalam kamar mandi yang berada di dalam kamar.
Setelah cukup lama Aldrich membersih kan tubuh nya , pria itu pun keluar dengan ke adaan segar , aroma sabun pun menyeruak , dengan rambut basah yang terlihat sedikit acak-acakan.
Suasana kamar masih terlihat remang , sinar matahari tertutup gorden tebal yang menjuntai lebar di kamar nya.
-Ssssrrrreeettttt...
Aldrich pun menggeser gorden ke arah sudut , mata nya seketika melihat istri cantik nya yang sudah terlihat menggeliat , sinar mata hari mengganggu tidur Nabila mampu membuat mata nya mengerjap perlahan.
Pria dengan hanya mengguna lilitan handuk saja di pinggang nya hanya tersenyum gemas .
" Sayang bangun " Aldrich pun menghampiri Nabila yang masih terlunglai lemas di atas kasur .
" Ehmmmmm" Guman nya lalu membalikan badan ke arah lain .
" Bangun sayang udah siang " Panggil Aldrich kembali , sambil menarik selimut yang menggulung tubuh polos Nabila.
" Aku masih ngantuk " Rengek nya manja.
" Seperti nya kamu mau aku hajar lagi sayang ?!"
Nabila benar-benar lelah ketika ia di gempur habis-habisan oleh Aldrich tadi pagi , hingga saat ini ia tak memberi respon apaun ketika Aldrich mengancam akan menghajar nya kembali.
" Sayang bangunlah dulu , kita makan lalu kau boleh tidur kembali" Aldrich terus berusaha membuat Nabila bangun.
" Mas . Tapi aku lelah , seluruh tubuh ku sakit !! apa kamu tidak kasian ?" Jelas Nambila tanpa membuka mata .
" Makanlah terlebih dulu , aku tidak mau penyakit lambung mu kambuh kembali ".
Akhirnya Nabila pun membuka mata nya , mata yang terlihat sayu dan memerah , terlihat raut wajah lelah begitu jelas pada Nabila.
Tubuh kecil itu mulai duduk di tepi ranjang , dengan hanya menggunakan lilitan selimut di tubuh nya .
" Gebdong " Rengen Nabila sambil merentang kan tangan nya.
–Cupp.
Aldrich mencium pipi Nabila.
" Aku suka istriku ini bersikap manja padaku " Lalu Aldrich mengankat tubuh mungil itu ke arah kamar mandi .
" Tunggu disini , aku akan menyiap kan air hangat untuk mu " Aldrich menurun kan Nabila tepan di ambang pintu kamar mandi .
Nabila pun langsung terduduk di lantai , kaki nya seakan tidak mempunyai tenaga untuk bediri .
" Mas ?" Panggil Nabila.
" Ya ?" Sahut Aldrich.
" Kamu boleh keluar , aku akan mandi sendiri ".
" Aku akan memandikan istriku yang kini sedang telihat lemas " Ujar aldrich .
" Tidak , aku malu " Tolak Nabila.
" Aku sudah melihat semua nya sayang !".
" Engga , mas harus keluar ".
" Oke , oke aku keluar sekarang " Aldrich pun berjalan kelaur dari kamar mandi .
Tangan nya mulai menarik pintu agar tertutup rapat , kaki nya melangskah ke arah lemari , dan mulai memakai pakaian .
Melihat ke adaan kamar yang begitu berantakan , Aldrich pun memunguti setiap pakaian kotor yang berceceran di sembarang tempat , lalu menumpukan nya di sudur dekat kamar mandi .
Aldrich pun kembali berjalan ke arah ranjang , betapa terkejut nya ketika ia melihat beberapa titik seprai yang terkena cipratan darah .
Awal nya Aldrich berfikir Nabila terluka karena apa , namun pikiran nya kembali mengingat ketika Nabila berteriak tadi malam , hingga membuat senyum Aldrich pun merekah sempurna.
" Uhhh darah perawan " Bisik nya sambil tersenyum dan duduk di pinggir ranjang dengan laptop di pangkuan nya .
Dua puluh lima menit Nabila berada di kamar mandi , wanita itu masih belum juga keluar hingga membuat Aldrich khawatir .
" Sayang ?" Panggil Aldrich.
Toktoktok..
"Sa..." Tangan nya berhentik mengetuk .
" Apa ?" Terlihat Nabila pun keluar dengan menggunakan bathrobe .
" Kenapa lama sekali ?!" Aldrich terlihat khawatir .
" Hah " Nabila menghela nafas nya . " Kenapa ini tidak bisa memudar " Nabila membuka sedikit bathrobe nya , hingga memperlihat kan dada bagian atas dan leher yang banyak sekali jejak merah ke unguan .
" Hahahahah " Aldrich pun tertawa .
" Mas ko ketawa ?" Nabila menatap suaminya jengah .
" Sayang ayolah , itu tanda cinta dariku " Jawab Aldrich sambil terus tertawa .
" Aku harus memakai baju dengan kerah tinggi " Nabila terlihat sedikit sebal .
"Cepat pakai baju mu, atau aku tidak bisa menahan nya kembali!!" .
" Iya , iya , sebentar dong " Nabila pun akhir nya berjalan ke arah lemari dan mulai memakai baju nya di depan Aldrich.
Setelah selesai , Nabila pun berjalan ke arah ranjang kembali , ketika ia ingin duduk di samping suaminya , ia terlihat sangat terkejut kala melihat ceceran darah di seprai nya .
" Hahhh ,,, itu apa ? mas apa kamu terluka ?" Nabila menatap Aldrich penuh ke khawatiran .
" Apa kamu tidak sadar ? justru kamu yang mas lukain !" Jelas Aldrich .
" Aku ? luka ? tapi apa ?dan di mana ?" Nabila menunjuk diri nya sendiri dengan raut wajah kebingungan .
Aldrich pun meletakan laptop nya , lalu berdiri dan berjalan mendekat ke arah Nabila.
" Apa kau lupa ?" Bisik Aldrich di telinga Nabila.
" Apa ?" Nabila memang benar-benar telihat bingun .
" Itu darah perawan mu sayang ," Sontak Nabila menutup mulut nya dengan telapak tangan .
" Kenapa ?" Tanya Aldrich sambil tersenyum .
" Aku baru ingat , pedang mu sangag besar " Ujar Nabila , lalu terdengan Aldrich tertawa kencang.
" Apa masih sakit ?"
Nabila pun menggeleng kan kepala , lalu mengangguk .Sungguh raut wajah polos Nabila kini terlihat sangat menggemas kan , hingga satu cubitan pun Aldrich berikan di pipi Nabila .
" Tuhan , istriku benar-benar masih sangat kecil " Jelas Aldrich sambil terkekeh geli .
-Plakk..
Nabila memukul lengan Aldrich dengan sangat keras , hingga mampu membuat tangan berotot itu terlihat memerah.
" Aw sayang sakit " Pekik Aldrich , sambil terus mengusap lengan sebelah kanan nya .
" Abis nya mas ngatain aku terus ".
" Maaf sayang " Aldrich pun membawa Nabila ke dalam pelukan nya .
" Sayang , boleh kan aku meminta sesuatu " Kata Aldrich.
" Apa ?" Nabila pun mendongkak , menatap Aldrich dengan seksama .
" Aku lapar , boleh kan buat kan aku nasi goreng atau apapun , asal itu masakan mu " Jelas Aldrich sediki manja .
" Baiklah , aku akan membuat kan nasi goreng sea food untuk mu" Balas Nabila sambil tersenyum .
Aldrich melepas kan dekapan nya , membiar kan Nabila beranjak pergi begitu saja menuju dapur .
Ia kembali membawa laptop nya , berusaha menyesesai kan secepat mungkin pekerjaan nya .
Ddrrtt...drrtt..
Ponsel Aldrich pun bergetar .
...Feri📲...
Hallo ??
-Apa kau tidak pergi ke kantor ?
Ya , aku serahkan kerjaan ku sampai satu minggu kedepan kepada mu.
-Ada apa ? apa kau sakit Al ?
Tidak , aku hanya ingin menghabis kan waktu untuk istri ku.
-Baiklah , maaf sudah mengganggu mu .
Tidak . Maaf merepot kan mu .
-Santai saja , kau mempunyai asisten yang berasal dari sahabat baik mu .
Terimakasih .
-Baikalah.
Sambungan telpon pun terputus .
Tidak berselang lama ,Nabila pun memanggil nya .
" Mas ! nasi goreng nya sudah siap " Teriak Nabila.
Aldrich pun langsung menuju tempat di mana istri kecil nya berada.
" Sayang " Aldrich memeluk Nabila dari belakang .
" Hemmm " Sahut Nabila yang kini sedang berdiri di depan dispenser.
" Kita ke rumah ibu ".
Nabila pun berbalik arah .
" Serius ?" Tanya Nabila lalu di jawab anggukan oleh Aldrich.
" Kita kunjungi mereka ".
–Cupp..
Nabila langsung menghadiahi Aldeich dengan kecupan hangat di bibir .
" Makanlah nasi goreng nya terlebih dulu , aku akan sedikit membersihkan kamar , lalu kita berangkat " Nabila pun terlihat sangat senang , langkah nya sedikit berlari menuju kamar dengan senandung bahagia yang terus terdengar oleg Aldrich .
...🍁🍁🍁🍁🍁...
Jangan lupa like,komen dan vote .
Terimakasih yang udah dukung author sampai saat ini . Author sayang kalian 🥺