
Dua bulan pun berlu , semakin hari hubungan Aldrich dengan Nabila semakin membaik.
Bahkan setiap Nabila ada jadwal masuk kuliah , Aldrich selalu mengantar nya dengan senang hati.
Semantata itu sore hari di gedung bertingkat milik .
MAHARDIKA GROUP.
-Jegreg...
Suara knop pintu di buka dengan kasar.
Brakkkk..
.....
Suara pintu ruangan Aldrich di buka dengan keras , hingga membentur dinding ruangan nya .
" Al ! " Panggil wanita dengan pakaian sedikit sexy.
" Al , aku sudah berusaha menahan nya " Jelas Feri , nafas nya terlihat terengah-engah .
Aldrich pun bangkit dari duduk nya , lalu mulai berjalan ke arah Ghina.
Namun mata nya menatap Feri , memberi isyarat tidak usah meng khawatir kan dirinya .
" Fer lo boleh keluar " Titah Aldrich .
Feri mengangguk , tubuh nya mundur , tangan nya menarik pintu lalu menutup nya kembali .
" Untuk apa kau kesini ?" Tanya Aldrich dingin .
" Al , tidak kah kau ingin memberi ku ke sempatan untuk memperbaiki semuanya ?" Lirih Ghina.
Wanita berperawakan tinggi , berkulit putih dan mulus dengan rambut sebahu yang di cat berwarna Coklat,terus berjalan mendekati Aldrich dengan air mata yang sudah berlinang .
" Bukan kah dulu kau sangat mencintai ku ?" Lirih Ghina kembali , manik hitam nya menatap Aldrich sendu .
" Ya , bahkan kau tau aku sangat menyayangi mu !"Sahut Aldrich , tubuh nya terus berdiri di tempat yang sama walau Ghina terus berjalan mendekat ke arah nya .
" Terus mengapa kau membiar kan aku tersiksa dengan rasa rindu ini , aku masih mencintai mu Al , dan aku tahu betul cinta itu masih ada dalam hati mu " Ghina langsung memeluk tubuh tegap nan berotot suami dari Nabila Adriana .
Aldrich terkejut ketika Ghina memeluk nya dengan isak tangis yang sangat memilukan .
Aldrich hanya terdiam , pria itu tidak sanggup mengusir Ghina yang saat ini tengah memeluk nya.
" Aku memeng mencintai mu , tapi itu dulu Ghina " Jelas Aldrich .
" Tidak Al , aku tahu aku masih ada di dalam sini " Ghina menyentuh dada Aldrich , pandangan wajah nya mendongkak ke atas , menatap Aldrich yang sedari tadi tidak pernah melihat tatapan mata nya .
Aldrich menghelas nafas nya kasar , mata pria itu tertutup dengan tangan yang mengusap wajah nya kasar .
" Ghina pergilah " Titah Aldrich lembut .
Namun wanita yang sedang menenggelam kan wajah nya di dada Aldrich langsung menggeleng kan kepala nya .
Tangan nya semakin erat melilit pinggang lelaki yang dulu pernah ada dalam masa lalu nya .
" Al , bahkan dulu kau rela persahabatan mu hancur hanya demi aku bukan ?" Tanya Ghina .
Aldrich lagi-lagi hanya terdiam , ia bingung dengan suasana hati nya saat ini .
Dulu memang Aldrich sangat mengingin kan Ghina, bahkan sampai ia susah sekali melupakan kenangan manis nya bersama prempuan yang kini tengah bersama nya .
" Rasa ini memang masih tersisa sedikit , tapi semua nya sirna begitu saja ketika seorang mulai masuk ke dalam hati ku Ghina! " Jelas Aldrich.
" Bahkan aku bisa membuat rasa itu besar kembali terhadap ku Al , beri aku kesempatan ku mohon , " Isak tangis pun terdengar memenuhi ruang kerja Aldrich.
" Itu tetap tidak bisa terjadi , bagai mana pun aku adalah suami dari Nabila saat ini Ghina" Aldrich berusaha menjelas kan kepada mantan kekasih nya.
Tangisan Ghina pun semakin menjadi , air mata wanita itu mulai membasahi kemeja yang Aldrich kenakan.
Melihat Ghina yang terus menangis tersedu-sedu , membuat hati Aldrich luluh sedikit , lengan kekar nya mulai membalas peluka Ghina.
Terus mengusap punggung Ghina lembut .
Entah sadar atau tidak , Aldrich meletakan dagu nya di bahu Ghina , membalas pelukan itu sama erat nya dengan pelukan Ghina pada dirinya.
" Hiduplah dengan baik , cari kebahagiaan mu Ghina " Bisik Aldrich , kedua nya merenggang kan pelukan mereka.
Ghina melihat ke atas , menatap wajah tampan yang kini tengah menatap nya juga .
Deru nafas Aldrich dan Ghina pun makin terdengar jelas , hingga dahi kedua nya menepel sempurna.
Pautan bibir pun tidak bisa terhindar kan ketika Ghina menyerang nya terlebih dulu.
Awal nya Aldrich tidak membalas Ghina , ia hanya membiar kan wanita itu berbuat semau nya sebelum benar-benar Aldrich memyuruh nya pergi secara baik-baik.
Namun Aldrich membalas nya , seolah terhanyut oleh ke adaan .
Brakk...
Suara itu mengejut kan kedua nya .
-Degg.
Betapa terkejut nya Aldrich ketika melihat ke arah suara , ia melihat seorang wanita yang sedang berdiri di ambang pintu.
Telapak tangan nya menutupi mulut yang sudah terbuka , netra indah yang sudah memerah dengan linangan air di sekitar nya .
Pandangan Aldrich pun beralih pada wadah makanan yang terjatuh , hingga membuat isi nya berhamburan di atas lantai .
" Sayang ini tidak .." Penjelas yang akan Aldrich berikan pun terhenti , ketika Nabila langsung berlari menajauh dari ruangan nya .
Tangan Aldrich langsung mendorong Ghina , langkah kaki nya berlajan sedikit cepat , hingga ketika di ambang pintu Aldrich melihat Feri yang terlihat cemas .
" Kenapa kau tidak memberi tahu ku ?!" Lirih Aldrich kepada assisten sekaligus sahabat nya itu .
" Aku udah berusaha menahan nya , tapi dia tetap memaksa Al , suara keributan sudah ku lakukan , namun kenapa kamu tidak mendengar peringatan dari ku sama sekali !!" Sesal Feri .
Tampa menjawab , Aldrich pun lansung berlari , meninggal kan Ghina dan Feri yang masih berada di ruangan nya .
Mata nya terus melihat Nabila yang kini sedang berlari , namun sial pintu lift yang Nabila naiki sudah tertutup, ketika Aldrich sapai di hadapan pintu lift tersebut .
" Oh shit !! " Aldrich mengusap wajah nya kasar .
Setelah menunggu beberapa detik , pintu lift pun kembali terbuka.
Tanpa menunggu lama , Aldrich lansung masuk , lalu menekan tombol paling atas , yaitu lantai dasar .
Ting..
Pintu lift kembali terbuka ,dengan langkah cepat Aldrich kembali berlari berusaha menyusul istri nya saat ini .
Nabila yang terus menghindar , ia berlari dengan air mata yang sudah bercucuran .
Semua karyawan Aldrich pun menatap nya heran dan penuh tanya, Nabila yang berlari sambil menangis , sedang kan Aldrich terus berlari menyusul Nabila tergesa-gesa .
Mata nya terus lurus kedepan , ia hanya memikir kan bagai mana cara nya Aldrich tidak dapat menyusul nya .
Hingga ketika sampai di parkiran , Nabila hampir menabrakan diri pada mobil yang sedang melaju .
-Cekittttt..
Nabila terdiam , lengan nya sudah berada menghalangi wajah , seakan telah siap untuk hal yang lebih buruk .
" Hey nona , awas !!" Teriak seoarang pria .
Lengan Nabila kembali menurun , mata nya mulai terbuka .
" Aku masih hidup ?!" Gumam nya dengan raut wajah yang sedikit bingung.
" Nabila ?!" Cicit Raynan .
Nabila lansung berlari ke arah mobil milik Raynan.
-Brugghh..
" Ray bawa aku pergi !" Ujar nya dengan nafas yang terengah-engah.
" Tapi .."
" JALAN!! " Jeritan Nabila pun terdengar begitu sakit di telinga .
- Tok..Tok..Tok..Tok..
" Buka pintu nya !" Kata Aldrich .
" AKU BILANG BUKA PINTU NYA !".
Namun bukan nya membuka kan pintu , justru Rayna lansung tancap gas berlalu meninggal kan Aldrich yang terus berteriak .
" Sialan !! " Teriak Aldrich , ketika ia sudah tak mampu mengejar mobil Raynan yang membawa Nabila.
" Keparat !! kenapa dia datang di waktu yang tidak tepat " Ujar Aldrich penuh penyesalan .
TBCπΌπΌπΌπΌ
...ππππππ...
Jangan lupa , like ,komen ,follow dan vote ya gengs .
So sorry kalo masih ada typo yang belum keperiksa semua π€
Semangatin Author dongs , biar makin semangat juga update nya .