My Pretty Boss

My Pretty Boss
Lela Menghadap Binar



Tepat pukul sembilan malam, Theo bertanya, "Kamu mau makan apa?" tanya Theo sambil menggandeng tangan Binar berjalan keluar dari taman bermain anak-anak.


"Nasi goreng sama alpukat kocok, hehehehehe" Binar menoleh ke Theo sambi memamerkan deretan gigi cantiknya yang putih sempurna.


Theo menunduk untuk melihat wajah imut istinya, "lagi? nggak bosan?"


Binar mengulum bibir, mengayunkan tangan dia dan Theo yang masih bertaut manis sambil menggeleng-nggelengkan kepalanya lalu ia tiba-tiba memekik, "bonekanya?"


Theo terkekeh geli lalu menunjukkan tas plastik jumbo yang tergantung di tangan kirinya, "nih, aman. Kamu tuh mirip banget sama Aulia kalau udah happy, selalu aja ujung-ujungnya ada barang ia yang ketinggalan dan sering hilang pada akhirnya"


Binar tertawa lalu berkata, "emang Aulia tuh pantasnya jadi adik perempuanku"


Theo mencium punggung tangan yang dia genggam lalu membukakan pintu mobil untuk Binar, "masuklah, aku akan taruh boneka ini ke dalam bagasi"


Binar masuk lalu menutup pintu mobil itu dan langsung memasang sabuk pengamannya. Lima menit kemudian Theo membuka pintu kemudi lalu masuk dan menoleh dengan desahan panjang disertai bibir tersimpul, saat ia menangkap wajah cantiknya Binar, tidur dengan mimik yang sangat lucu.


Kemudian secara perlahan Theo merebahkan jok mobil di mana terdapat putri tidur nan cantik di atasnya. Setelah dirasa cukup nyaman untuk Binar, Theo merapikan rambutnya Binar yang sebagian menutupi wajah putri tidurnya itu., dan tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium keningnya Binar, lalu ia kenakan sabuk pengamannya dan dengan simpul di bibirnya dia mulai melajukan mobilnya.


Setiap kali berhenti di lampu merah, Theo menoleh untuk melihat istrinya dan kembali tersenyum penuh cinta dan bergumam, "kau memang menggemaskan, selalu saja ceroboh tapi imut"


Sementara itu di Amerika, Aksa mengajak Monica di food court. Aksa kembali memesan makanan yang sama yaitu nasi goreng dan alpukat kocok.


"Kamu kenapa makan itu lagi? nggak bosan ya, pagi, siang, malam, makan itu terus. Dan kapan kamu bikin alpukat kocok itu?" Monica bertanya saat Aksa mulai membuka kotak makan yang dia keluarkan dari dalam tas selempangnya dan kotak makan itu berisi alpukat kocok hasil karyanya Aksa sendiri.


"Pagi-pagi buta tadi aku bikin dua, satu untuk sarapan dan satu lagi aku bawa untuk bekal, emm, stok alpukatku udah habis, setelah makan, kita ke supermarket ya, beli alpukat lagi"


Monica hanya bisa tersenyum lebar dan kemudian berkata, "selera kamu memang unik"


Aksa mengulum bibir dan menatap Monica dengan sorot mata jenaka kemudian melanjutkan memakan alpukat kocoknya sembari menunggu nasi goreng pesanannya datang.


"Kamu bolos sekolah ya?" tanya Aksa.


"Nggak! emm, aku salah jadwal, harusnya besok aku masuk kelas jadi aku langsung ke kampusmu saja tadi karena nggak ada kelas daripada pulang terus bengong di rumah"


"Oh" sahut Aksa singkat.


"Binar meminta ijin mengubungi kamu via VC apa kau mau?" tanya Aksa kemudian.


Monica langsung melambaikan tangannya, "no, no ,no! jika bos kamu itu nanya-nanya soal desain bisa mati kutu aku. Aku buta soal desain, seni, dan kawan-kawannya"


"Okelah, aku akan kasih alasan ke Binar kalau Silver Butterfly selamanya tidak akan bersedia melakukan virtual meeting"


"Fiuuuuhh" Monica melepas napas leganya.


"Bos kamu cantik banget ya. Dia tidak nampak berumur tiga puluh bahkan nampak seumuran denganku"


Aksa tersenyum lebar dan berkata, "iya, Binar memang sempurna. Aku sendiri heran kenapa aku selalu meliar hanya dengan membayangkan hembusan napasnya, kenapa aku selalu menggila setiap kali mengingat senyum manisnya, dan aku............"


"Sedalam itu kau mencintainya maka sedalam itu kau akan terluka" sahut Monica.


Aksa menatap Monica dengan kesal dan Monica segera berucap, "ah! maaf! aku hanya mengutip kata-kata yang aku baca di buku pelajaranku, hehehehe"


Aksa menghela napas panjang sambil menggantung sendoknya di udara, "walaupun kata-kata kamu itu sangat menohok tapi, itu benar. Semakin banyak yang kita tahu mengenai orang yang kita cintai maka sebanyak itu pula kita akan mengalami kekecewaan dan luka batin"


"Makanya aku alergi sama cinta dan sepertinya aku tidak akan pernah mau mengenal cinta. Itu karena, kamu"


Aksa langsung melengkungkan alisnya, "aku?"


"Iya, aku melihat kamu begitu menderita karena cinta maka dari itu aku bertekad tidak akan pernah mau menyentuh cinta. Hehehehe, aku takut menderita kayak kamu"


Aksa terkekeh geli lalu berkata, "bukankah kemarin kamu menasehati aku, kalau ketemu jodoh kita maka kita nggak akan bisa menghindar?"


"Umm, betul itu! aku hanya akan diam menunggu jodohku tiba lalu menikah jadi tidak perlu berpacaran seperti yang kamu alami, hehehehe"


"Jika untuk bertemu dengan jodohmu, kamu harus berproses seperti aku gimana?"


"Aku akan menghindar" sahut Monica.


"Hahahaha, aku rasa kita semua di dunia ini tidak akan mampu menghindari takdir hidup kita"


Aksa hanya menghela napas dan menggelengkan kepalanya untuk menanggapi ucapannya Monica.


Setelah makan malam, Theo membopong tubuh Binar dari dalam mobilnya karena, di daam perjalanan pulang, Binar kembali tertidur. Theo merebahkan Binar secara pelan di atas ranjang lalu mengganti bajunya Binar dengan penuh kasih sayang. Setelah itu ia menyelimuti Binar, mengecup bibirnya Binar dan melangkah keluar menuju ke ruang kerjanya. Seharian penuh ia tidak ngantor membuat ia harus menyelesaikan banyak PR di malam itu


Malam hari telah tiba di negeri paman Sam Saat Aksa hendak memejamkan mata, ia mendapatkan telepon dari Boy.


"Sa, Lela sepertinya telah bertobat. Ia minta tolong sama aku untuk mengambil kembali desainnya kak Binar yang berada di dalam genggamannya Darren"


"Berhati-hatilah karena, Darren bukan orang yang baik dan ramah"


"Oke" sahut Boy. Lalu klik, Boy segera memutuskan sambungan telepon itu.


Satu Minggu kemudian...........


Lea telah berhasil mendapatkan kembali semua desain miliknya Binar berkat kecerdasannya Boy. Lalu Lela menghadap ke meja kerjanya Binar


Binar tersenyum tulus ke Lela dan bertanya, "ada apa kenapa wajah kamu pucat? kamu sakit? kalau sakit pulang aja! atau mau aku antar ke dokter?"


Lela tersentuh dengan semua perkataannya Binar dan hatinya semakin merasa bersalah. Awan gelap yang sudah menguasai hati dan pikirannya untuk waktu yang cukup panjang, akhirnya mengeluarkan air bening yang jatuh di kedua pipinya Lela.


Binar segera bangkit lalu melangkah mendekati Lela dan segera memeluk bahunya Lela, "ada apa, kenapa kamu menangis?"


Lela menepis pelan tangannya Binar lalu berkata, "duduklah kembali di kursi kakak. Ada yang ingin Lela sampaikan"


Binar menautkan alisnya dan kembali melangkah ke kursinya lalu duduk di sana.


Lela mengusap air matanya lalu mendesah panjang dan mulai berkata, "maafkan aku, Kak! setelah pernyataan ku nanti, apa pun keputusannya kak Binar aku akan terima"


Binar semakin mengerutkan keningnya dan menatap Lela dengan penuh tanda tanya.


"Ini file yang berhasil aku dapatkan lagi dari Darren dan di dalam file ini berisi desain hasil karyanya kakak yang aku kopi secara diam-diam dan aku kasih ke Darren. Dan map ini berisi pembatalan klaim atas karya kakak yang sudah berhasil Lela urus. Darren sudah tidak bisa lagi menggunakan desain kakak untuk kepentingan pribadinya" Lela meletakkan USB Flash Drive dan map yang dia pegang di atas meja kerjanya Binar.


Binar menatap map dan USB Flash Drive itu tanpa menyentuhnya lalu ia mendongak untuk menatap Lela, "kenapa kau lakukan semua itu? kau tahu tindakanmu hampir saja membuat perusahaan ini bangkrut? yang membuatku stres bukan soal kebangkrutan perusahaanku tapi lebih ke karyawan yang bekerja di sini, jika perusahaan ini bangkrut banyak karyawan yang akan dirumahkan, aku nggak mau kalau sampai itu terjadi karena, aku sudah mengganggap semua karyawanku seperti keluargaku sendiri, aku nggak mau kalau sampai aku harus membuat mereka kehilangan pekerjaan di masa sulit ini"


"Maafkan aku, Kak! aku tidak berpikir panjang" Lela kembali terisak karena, rasa bersalah yang semakin besar mendera hati nuraninya.


"Kenapa kau lakukan itu?"


"Tidak ada alasannya. Saya hanya tergiur gaji dan kedudukan yang jauh lebih besar di Darren Desain" sahut Lela tanpa menatap Binar karena, ia masih berusaha menyembunyikan alasan yang sebenarnya kenapa ia mengkhianati Binar.


"Kau bukan pribadi yang gila kedudukan, pasti kau menyembunyikan alasan kamu yang sebenarnya saat ini. Tatap aku dan katakanlah! nggak usah takut"


Lela tidak ingin Binar mengetahui perasaan cintanya yang sangat besar untuk Theo Revano, suami sah-nya Binar. Lela kemudian menatap Binar dan berkata, "itu alasanku yang sebenarnya, Kak. Orang bisa berubah karena, keadaan"


Binar kemudian menatap Lela, "aku tidak tega memecat kamu karena, di masa sulit ini akan sangat berat bagi siapa pun untuk mencari pekerjaan yang baru tapi, setiap perbuatan harus ada konsekuensinya untuk pembelajaran dirimu sendiri dan untuk cerminan orang lain agar tidak melakukan hal yang sama"


Lela tersenyum sambil mengusap air matanya, "aku siap menerima apa pun keputusanmu, Kak"


"Aku akan memecatmu dengan sangat terpaksa tapi, aku akan mengoper kamu ke perusahaan papaku. Aku akan telpon papaku setelah ini tapi ......."


Lela langsung memekik, "terima kasih atas kemurahan hatimu, Kak"


"Dengar dulu! tapi, posisi yang kosong di perusahaan papaku hanya ada di bagian adminstrasi, posisi itu lebih rendah dari posisi kamu di sini dan gajinya pun lebih sedikit karena........."


"Aku bersedia, Kak. Asalkan aku masih bisa bekerja aku bersedia memulai dari nol lagi. Terima kasih, Kak"


"Kau juga nggak akan membawa masalah ini ke jalur hukum asalkan kamu memberi pernyataan maaf di grup untuk semua perbuatan kamu ini"


"Hanya di grup? nggak di semua media sosial?" tanya Lela.


"Kamu sudah aku anggap sebagai adikku dan aku nggak ingin kamu merasa malu, jadi cukuplah kamu meminta maaf di grup saja"


Lela segera bangkit, membungkukkan badan di depannya Binar sambil berucap, "Tuhan akan membalas berkali-kali lipat kemurahan hatimu ini, Kak dan sekali lagi Lela meminta maaf yang sedalam-dalamnya, Lela juga nggak akan mengulanginya lagi" Lalu Lela menegakkan badan menatap Binar dengan senyum penuh rasa terima kasih.


"Pergilah ke kantor papaku! selamat berkarya di sana dan aku akan nelpon papa sekarang juga"


Lela menganggukkan kepalanya lalu memutar badan dan pergi meninggalkan ruang kerjanya Binar dengan hati yang lapang, murni, dan penuh rasa syukur.