My Pretty Boss

My Pretty Boss
Mika Menuju Amsterdam



Mister Herald keluar dari ruangannya di saat menerima panggilan dari Camelia putri tungga kesayangannya.


Camelia langsung melingkarkan tangan di pinggang papanya dan dengan senyum manjanya dia berucap, "pa, kabulkan permintaanku!"


Mister Herald menghela.napas panjang kemudian tersenyum lebar, "apalagi yang kamu mau? rumah mewah, mobil keluaran terbaru, atau berlian?"


Camelia mendongakkan wajah cantiknya ke wajah tampan papanya lalu menggelengkan kepalanya sambil terus tersenyum penuh arti.


Mister Herald mencubit pucuk hidungnya Camelia lalu terkekeh, "katakan saja!"


"Janji dulu kalau papa akan mengabulkannya!"


"Iya apa dulu dong. Kalau kamu minta bom masak iya papa kabulkan, hmm, Lia, Lia" Mister Herald mendengus kesal.


"Emm, oke deh aku katakan. Aku mencintai Abimana Kusuma dan ingin menikah dengannya"


Mister Herald langsung menarik tangannya Camelia dari pinggangnya, "jangan bercanda!"


"Aku serius pa! aku benar-benar mencintai Abimana. Nikahkan aku dengannya sekarang juga!"


Mister Herald menghempaskan kedua tangannya Camelia ke udara lalu berucap, "dia single apa sudah menikah? lalu apakah dia juga membalas cintamu?"


Camelia diam membisu di depan papa tampannya.


Shit! kenapa semua wanita di dalam hidupku, tertarik dengan lelaki bermarga Kusuma. Dulu istriku lari dengan papanya Abimana lalu sekarang Camelia mencintai Abimana? Batin Herald kesal.


"Papa akan bicarakan soal ini dengan Abimana dulu" Mister Herald kemudian membuka pintu dan berniat masuk ke dalam ruangannya lagi. Camelia mengekor dan hidungnya membentur dada papanya ketika Herald tiba-tiba memutar badan untuk mencegah Camelia masuk.


"Aduh, pa! kenapa berhenti mendadak?" Camelia berucap sambil mengelus-elus pucuk hidungnya.


"Kamu jangan ikuti papa! kamu tunggu di sini atau tunggu di mana aja terserah kamu asal jangan ikuti papa! papa akan bicara berdua saja dengan Abimana" ucap Herald tegas.


Camelia menghentakkan kaki di lantai dengan sangat kesal dan Herald langsung masuk kembali ke dalam ruangannya lalu menguncinya.


Mister Herald menepuk pundaknya Abimana, "saya ingin berbicara empat mata dengan anda sebentar. Ikutlah ke ruangan saya!"


Abimana mengangguk, tersenyum, lalu mengikuti langkahnya Mister Herald.


"Duduklah!" ucap Mister Herald.


Abimana duduk di atas sofa mewah yang melingkar cantik di tengah ruangan kerja Mister Herald yang sangat luas itu.


Abimana mengamati sofa tersebut dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu.


"Ada apa? ada yang salah dengan ruangan saya?"


"Emm, saya hanya merasa sofa ini tidak cocok berada di ruangan ini karena, terlaku besar dan warnanya terlalu kalem, saya pikir sofa mini di sudut ruangan dengan warna oranye atau merah menyala lebih cocok menghuni ruangan ini" ucap Abimana dengan kepolosannya.


"Baiklah kalau begitu, saya serahkan perombakan sofa dan ruangan ini ke tangan anda juga, saya akan tambah biaya jasa anda nanti" ucap Mister Herald.


"Aaah, maaf! ini hanya pendapat pribadi saya saja. Anda tidak perlu menggantinya jika anda menyukai konsep seperti ini" ucap Abimana sambil mengelus tengkuknya.


"Saya menyukai pendapat anda dan saya cocok dengan selera anda jadi saya akan merombak ruangan saya ini sesuai dengan saran anda tadi" ucap Mister Herald.


"Terima kasih anda sudah begitu baik dan anda sudah begitu besar menghargai karya saya" ucap Abimana sambil tersenyum tulus ke Mister Herald.


"Sudah dan saya juga sudah memiliki seorang putra yang sangat tampan dan cerdas yang masih berumur lima tahun" ucap Abimana dengan senyum bangganya.


"Tentu saja anda pasti sudah menikah. Bodohnya saya bertanya soal pernikahan kepada seorang lelaki tampan, gagah, dan cerdas seperti anda. Saya yakin istri anda pun sangatlah cantik dan baik saat anda mengatakan kalau putra anda tampan dan cerdas" ucap Mister Herald dengan senyum lebarnya.


"Iya anda benar, istri saya sangat cantik, sangat cerdas dan kecerdasannya itu dia turunkan ke putra kami. Saya sangat mencintai keluarga saya" ucap Abimana serius.


"Lalu apa pendapat anda soal Camelia, putri saya?" tanya Mister Herald.


"Maksud anda?" Abimana langsung menautkan alisnya.


"Apa anda tertarik dengan putri saya?" ucap Mister Herald tanpa basa-basi lagi.


Abimana tersenyum tipis lalu berucap, "putri anda wanita yang cantik, menarik, dan sangat cerdas tapi saya tidak pernah tertarik dengan wanita lain selain istri saya"


Dia berbeda sekali dengan papanya ternyata. Bagus! aku menyukai jawabannya. Batin Mister Herald.


Papanya Camelia itu kemudian bangkit, "saya akan memeriksa bagian pembelian dulu, anda silakan lanjutkan pekerjaan anda"


Abimana bangkit, tersenyum dan menganggukkan kepalanya ke Mister Herald.


Mister Herald kembali menemui Camelia dan dengan sangat terpaksa dia menampar pipi mulus putri kesayangannya itu.


Camelia mengelus pipinya, menautkan alis dan bertanya dengan kesal, "kenapa papa menamparku?"


"Supaya kamu sadar dan tidak memiliki pemikiran yang aneh-aneh lagi. Abimana sudah menikah dan dia tidak tertarik sama kamu. Jadi berhenti mengharapkan Abimana!" Mister Herald mendengus kesal lalu melangkah pergi meninggalkan Camelia yang terus menghentakkan kaki di atas lantai.


"Kalau papa tidak mau membantuku maka jalan satu-satunya aku akan memaksa Abimana menikahiku. Apapun caranya" ucap Camelia.


Abimana berlari masuk ke dalam mobil yang dia sewa di saat Camelia terus mengejarnya dengan memeluk dan mencoba menciumnya. Abimana mendorong keras tubuhnya Camelia lalu bergegas berlari masuk ke dalam mobil tersebut.


"Dasar cewek gila! aku harus sembunyi ke mana nih? apa aku booking kamar di hotel lain saja, ya?" gumam Abimana sambil mengemudikan mobil menuju ke hotel lain yang letaknya tidak begitu jauh dari hotel kepunyaannya Mister Herald.


Abimana kemudian booking kamar di hotel itu lalu bergegas menuju ke kamarnya dan mengunci kamar itu dengan segera. Dia merebahkan diri di atas kasur kamar VIP hotel bintang lima tersebut. Berkali-kali dia mendesah mengingat kegilaannya Camelia.


Dulu sewaktu Mika hamil, Abimana juga pernah digilai oleh mahasiswinya namun ketika Abimana menolaknya dengan tegas, mahasiswinya tersebut langsung mundur dan tidak menggodanya lagi. Tetapi kali ini, dia benar-benar menghadapi wanita yang agresif dan gila. Berkali-kali dia tolak masih terus saja mengejarnya.


Camelia memukul kemudi mobilnya ketika dia kehilangan jejaknya Abimana. Kemudian dengan kesal dia balik ke hotelnya.


Abimana menatap kemejanya, "shit! bahkan aku lupa nggak bawa baju ganti. Apa aku beli saja beberapa kaos di butik yang ada di lantai bawah hotel ini ya? aku lihat ada butik baju di hotel ini. Tapi, bagaimana kalau Camelia memergoki aku, hufffttt, aku pakai layanan pesan antar saja"


Abimana kemudian mengangkat gagang telepon intern yang ada di kamarnya itu lalu dia menekan nomer extension 012 dan langsung terhubung ke butik tersebut. Abimana memesan dua kaos, dua celana kolor dan sepasang sandal berukuran delapan untuk size di luar negeri sama dengan ukuran empat puluh dua di Indonesia.


Setelah membayar dan menerima pesanannya, Abimana menutup dan mengunci kembali pintu kamarnya lalu dia mandi, berganti baju dan sambil mengenakan bajunya dia berucap, "baju baru, hore, aku dapat baju baru, hore, heeeee" lalu Abimana terkekeh dengan sendirinya.


"Huffttt! gara-gara Camelia aku menjadi sangat boros begini, huuffttt! untung saja ada tambahan transferan dari Mister Herald untuk merombak ruang kerjanya tadi kalau enggak, bisa bangkrut aku, huuffttt!" gumam Abimana kesal.


Abimana melompat ke atas ranjangnya, bersandar di ranjangnya lalu melakukan sambungan Video Call dengan istrinya. Abimana langsung memekik senang ketika istrinya mengabarkan kalau istrinya dan Arga, putranya, ada di bandara Internasional dan akan terbang menyusul Abimana saat itu juga. Setelah mengucapkan kata safe flight, I Love You, lalu mencium layar ponselnya, Abimana memutuskan sambungan Video Call-nya itu lalu berguling-guling di atas ranjangnya.


Abimana merasakan kebahagiaan yang luar biasa karena, di dalam empat belas jam ke depan dia akan bertemu dengan anak dan istri yang begitu dia cintai dan begitu dia rindukan.


Setelah puas berguling ke kanan dan ke kiri di atas ranjangnya, dia kemudian menyetel televisi karena, saking gembiranya, dia justru sulit untuk memejamkan kedua matanya dan tidur lelap.