
Setelah menyantap habis burger mereka, Aksa menahan lengannya Binar di saat Binar bangkit dan hendak membuang sampah.
Binar menoleh dan cup, Aksa mengecup sudut bibirnya Binar, "ada sisa saos di situ, sayang kalau diusap pakai tissue, heeee"
Binar menepuk bahunya Aksa dan langsung berbalik badan untuk menyembunyikan rona di wajahnya.
Setelah membuang sampah, Binar langsung berjinjit berlari kecil masuk ke dalam kamar. Aksa terkekeh melihat tingkah Binar yang masih saja malu-malu kucing sama dia.
Aksa kemudian bangkit dan berjalan ke sofa tapi tiba-tiba Binar menampakkan batang hidungnya di balik pintu kamar dan bertanya, "kamu nggak pegal tidur di sofa?"
Aksa menggelengkan kepalanya sambil merebahkan diri di sofa,"tidurlah! aku udah terbiasa tidur di sofa, sejak kemarin, heeee"
Alih-alih menutup pintu, Binar bergumam, "impianku selanjutnya dalam berpacaran nggak akan terwujud nih"
Aksa langsung bangkit dan sekali lompatan dia sudah berdiri di depannya Binar, "kamu ngomong apa? aku nggak dengar"
"Oh Astaga!" Binar terlonjak kaget melihat Aksa tiba-tiba berdiri begitu dekat dengannya.
Aksa tertawa lirih, "apa yang kau omongkan tadi?"
Binar langsung menundukkan kepalanya dan Aksa membuka lebar daun pintu kamarnya.
"katakanlah! aku pacarmu nggak usah malu-malu meong lagi!"
Binar berucap dengan masih menundukkan wajahnya, "emm, itu, selama kita berpacaran, kita kan udah nonton, udah makan bareng, aku udah menginap di rumahmu, kita bahkan udah berciuman, semua itu adalah impianku dalam hal berpacaran. Ta....tapi masih ada lagi impianku yang season dua"
Aksa menggemakan tawanya, "kita sudah melakukan banyak hal dan baru mau sampai di season dua, hahahaha, kamu lucu banget sih?"
Binar mengangkat wajah sambil merengut lalu menepuk dadanya Aksa, "jangan menggodaku, aku serius. Katanya kamu mau mengabulkan semua impianku?"
"Hahaha, oke katakanlah! aku akan mewujudkannya!" ucap Aksa di sela gelak tawanya.
"Emm, aku ingin tidur dipeluk sama pacarku"
ucap Binar lirih namun cukup mampu didengar oleh pendengarannya Aksa dan cukup ampuh membuat Aksa tertegun.
"Kamu yakin dengan impianmu itu? aku ini laki-laki normal walaupun aku lebih muda darimu aku tetaplah laki-laki yang sudah dewasa dan nor.....mal" keseriusan terdengar di nada bicaranya Aksa dan nampak di sorot mata tajamnya Aksa.
Binar menganggukkan wajahnya, "aku serius. Bukankah hanya dipeluk? aku kan hanya minta dipeluk"
"Ya mana bisa cuma memeluk. kobra bis bangun dan berontak entar, kamu mau bertanggung jawab?" ucap Aksa.
Binar langsung melompat masuk dan merangkul lehernya Aksa bak seekor anak monyet bergelantungan di tubuh induknya.
Aksa langsung menangkup pantatnya Binar karena takut Binar terjatuh dan langsung menggemakan tawanya, "kenapa kamu langsung minta gendong kayak gini?"
"Mana ular kobranya? aku nggak takut sama ular asalkan bukan ular kobra" ucap Binar sambil semakin menaikkan kedua kakinya. Kemudian dia lingkarkan kedua kakinya dengan sangat erat di pinggangnya Aksa.
"Hahahaha, yang aku maksud ular kobra tuh bukan yang beneran tapi......aahhh! sudahlah, hahahahaha" Aksa terus tergelak geli dan melangkah ke ranjangnya sambil menggendong Binar.
Setelah sampai di tepi ranjang Aksa berucap, "turunlah! kita udah sampai di kasur nih dan ular kobranya tuh beneran nggak ada"
Binar menurunkan kedua kakinya dan menampak di atas kasur sambil merengut, "kalau beneran nggak ada, lalu kenapa kamu bilang ular kobranya akan bangun tadi?"
"Aaah, itu, emm, sudahlah, tidurlah! aku hanya asal bicara, hahahaha, tidurlah! aku akan peluk kamu" ucap Aksa.
Tapi nggak janji aku bisa mengendalikan king kobranya. Batin Aksa.
Binar kemudian berbaring dengan posisi miring dan Aksa menaruh lengannya di pinggang rampingnya Binar, "begini benar? sudah sesuai dengan impianmu belum?" Aksa kemudian mengulum bibir menahan geli.
Binar menganggukkan kepalanya lalu memegang tangannya Aksa yang menempel di perutnya. Secara perlahan, Binar mencoba untuk memejamkan mata tapi sungguh bukanlah hal yang mudah untuk dia lakukan di kala itu.
Berbagai cara dia coba dari berhitung.di dalam pikirannya, membayangkan yang indah-indah, sampai membayangkan Bronzo pun dia belum bisa tertidur lelap bahkan hanya sekadar memejam mata pun dia tidak sanggup. Justru jantungnya menjadi berdetak semakin kencang tidak karuan membuatnya sesak napas dan kesulitan berkonsentrasi untuk jatuh ke alam mimpi.
"Ada apa? kamu mimpi buruk?" tanya Aksa sambil mengusap rambutnya Binar.
Binar menggelengkan kepalanya dan meringis, "aku bahkan belum tidur dari tadi"
"Udah sejam aku meluk kamu dan kamu belum tidur? ini udah jam sebelas malam dan besok aku harus ke bandara pagi-pagi, penerbanganku jam sepuluh, kan?" Alsa menggelengkan kepalanya
Binar masih meringis dan berucap, "maaf! aku nggak kesulitan memejamkan mata karena, degup jantungku yang sangat kencang dan tidak beraturan ini sangatlah menggangguku"
Aksa terkekeh dan menarik tubuh Binar menempel ke tubuhnya lalu mempererat pelukannya sambil berbisik, "kamu harus bertanggung jawab karena, king kobra udah bangun nih"
Binar menatap Aksa dalam kebingungan karena, dia belum paham apa yang dimaksud dengan king kobra namun, Aksa memilih untuk langsung menempelkan bibirnya ke bibir Binar dan terus bekerja dengan bibir dan tangannya alih-alih menjelaskan ke Binar apa itu king kobra yang dia maksud.
Binar berkata lirih di dalam keringkihannya melawan godaan cintanya Aksa, "jangan berhenti, aku menginginkanmu" membuat Aksa kehilangan akal sehatnya. Aksa terus bekerja dengan bibir dan tangannya menjelajahi setiap jengkal tubuh kekasihnya itu.
"Kamu indah, kamu sungguh indah dan cantik, apa kamu yakin mau melakukannya karena, begitu kamu menganggukkan kepala maka aku tak akan mampu berhenti lagi" ucap Aksa.
Binar menganggukkan kepala dan Aksa kembali bertindak hingga keduanya mendesah penuh kenikmatan lalu saling berpelukan dalam keadaan polos di bawah selimut yang terus menghangatkan cinta mereka.
Aksa berbisik di telinganya Binar, "maaf jika aku terlalu brutal dan menyakitimu habisnya kamu begitu menggoda, seksi, dan indah. Aku tidak menyangka akulah yang pertama kali membuka segelmu. Terima kasih Binar"
Binar merona malu dan berucap di dalam.dekapannya Aksa, "aku justru malu sama.kamu, aku terlalu liar dan seperti bukan diriku sendiri tadi di saat aku terus merengek meminta kamu menyatukan cinta kita. Jangan khawatir aku akan bertanggung jawab"
Aksa langsung menggemakan tawanya, lepas ke udara, "seharusnya aku yang mengucapkan kata itu, aku cowok jadi yang seharusnya berkata, aku akan bertanggung jawab itu, aku"
Binar memainkan jari di atas dada bidangnya Aksa, "tapi.....aku kan lebih tua dari kamu jadi aku yang akan bertanggung jawab"
Aksa semakin mempererat dekapannya, "tidurlah! setelah aku pulang dari Bali, kita akan bahas lagi soal ini" ucap Aksa.
Binar pun secara ajaib bisa tertidur dengan sangat cepat dan bermimpi sangat indah.
Aksa mencium.pucuk kepalanya Binar kemudian menyusul Binar ke alam mimpi.
Keesokan harinya Aksa terbangun pukul enam pagi seperti biasanya, dia menunduk dan melihat Binar masih tertidur pulas di dalam dekapannya. Aksa melepas pelukannya secara perlahan lalu memakai celana kolornya dan berlari keluar dari kamar menuju ke kamar mandi.
Aksa bergegas mandi karena, dia berniat menyiapkan sarapan untuk Binar sebelum dia berangkat ke bandara.
Tepar di saat jarum jam menunjuk ke angka delapan, Aksa telah selesai menata masakannya di atas meja makan lalu masuk kembali ke kamarnya. Dia tersenyum penuh cinta melihat Binar masih tertidur sangat pulas.
Aksa kemudian mengambil buku sketsa gambarnl mininya, dia lukis.wajah alami dan cantiknya Binar yang masih tertidur pulas lalu dia menulis kata-kata di bawah lukisannya itu :
"Aku berangkat ke bandara dulu. Maaf tidak membangunkanmu karena, wajah cantikmu sewaktu tidur, sangatlah indah dan sayang untuk aku bangunkan. Aku sudah siapkan sarapan, maaf tidak menemanimu sarapan, tapi rasa masakanku bisa mewakili kehadiranku untuk menemanimu makan. Bawa aja kunci apartemenku, kamu bisa datang kapan saja ke apartemenku bila kau rindukan aku"
Yang sudah merindukanmu, kekasihmu Aksa.
Aksa meletakkan secarik kertas gambar tersebut di atas bantal, di sebelahnya Binar lalu dia mencium keningnya Binar, "aku mencintaimu" lalu bangkit dan keluar dari kamarnya, meraih koper, mencangklong tas ransel dan keluar dari apartemennya untuk pergi ke bandara.
Binar terbangun ketika ponselnya berbunyi dengan sangat nyaring, Binar meraba-raba meja di sebelah ranjang itu lalu mengangkat panggilan ponselnya.
"Kak Binar! kakak di mana sih? ini udah jam sepuluh kok kakak belum ngantor?" Suara menggelegarnya Lela langsung membangunkan semua indranya Binar dan BInar langsung bangun dan bersandar di ranjang itu lalu berucap, "aku telat, kemarin aku lembur. Handle dulu kerjaanku!" Klik.....Binar langsung memutuskan sambungan teleponnya Lela.
Binar membuka selimutnya dan tersenyum malu melihat tubuhnya masih polos dan menggelengkan kepala sambil meringis ketika dia mengingat percintaannya semalam dengan Aksa.
Binar kemudian menoleh ke kanan dan mendapati lukisan wajahnya yang tengah tertidur lalu dia membaca pesan yang ditulis Aksa. Binar mengulas senyum penuh cinta lalu mencium lukisan dirinya hasil karyanya Aksa.
Di saat dia duduk di tepi ranjang dan hendak berjalan, nyeri di pangkal paha menderanya lalu dia melihat ada bercak darah di atas seprai. Binar menyisir kasar rambutnya dengan jari jemarinya lalu mencoba berjalan pelan ke kamar mandi.
Dia kemudian sarapan dan terus bergumam, "aku memang gila, benar-benar gila" lalu tersenyum dengan rona merah di wajah saat dia mengingat Aksa.
Selesai sarapan dia pun pergi meninggalkan apartemennya Aksa dan menuju ke kantor. Urusan mengganti seprai akan dia lakukan nanti sepulangnya dari kantor.