My Pretty Boss

My Pretty Boss
Theo Senewen



Theo mengantar Binar sampai ke dalam ruang kerjanya Binar. Dia mencium kening, kedua pipi Binar, bibir Binar lalu, perutnya Binar.


Binar menatap Theo yang telah berdiri tegak menatapnya dengan senyum dan sorot mata penuh cinta. Binar terus tersenyum lebar lalu bertanya, "kenapa menatapku terus? kamu bisa telat ngantor kalau menatapku terus"


"Umm" Theo mengerucutkan bibirnya lalu menggoyangkan bibir monyongnya ke kanan dan ke kiri sambil terus menatap Binar.


"Apa sih? kamu mau apa, mas?" Binar berbicara dengan senyum cantik yang terulas manis di wajahnya sambil melipat tangan di depannya Theo.


Theo kemudian mengurai kerucut di bibirnya, menghela napas panjang lalu berkata, "aku pengen ajak kamu ke kantorku, aku pengen menatapmu sepanjang hari ini, sayangku"


"Nggak bisa mas, ada banyak klien yang harus aku temui hari ini" sahut Binar sambil terkekeh geli menatap tingkah manja suaminya.


"Tapi, bukankah kita perlu persiapan mental untuk mengerjakan PR (Pekerjaan Rumah) dari dokter Wulan tadi? dan bagiku, persiapan mental yang paling baik adalah, kita saling menatap sepanjang hari ini, hehehehe" Theo kemudian meringis ke Binar.


Binar tersenyum geli lalu segera memutar badannya Theo. Binar mendorong Theo dengan pelan keluar dari dalam ruangannya sambil terkekeh geli dia berucap, "aaiisshh! jangan lebay! ini saatnya kita kerja, kerja, kerja!"


Theo sampai di depan pintu ruangannya Binar lalu memutar badan dan menyambar cepat bibirnya Binar kemudian dia melangkah pergi meninggalkan Binar dengan berjalan mundur dia terus menatap Binar sambil melambaikan tangannya.


Binar berdiri di depan pintu ruangannya dengan senyum penuh cinta, dia terus menatap wajah tampan suaminya dan lambaian tangan suaminya itu.


Lela memandang kemesraannya Theo dan Binar dengan kesal dan berkata di dalam hatinya, sebentar lagi kau akan bangkrut kak Binar dan aku yakin kau akan memohon pada tuan Darren untuk mengembalikan semua klien kamu dan kau akan menuruti semua permintaannya tuan Darren. Kau akan meninggalkan kak Theo dan aku yang akan menjadi istrinya kak Theo selanjutnya. Lihat saja nanti.


Theo sampai ke kantornya dan dia segera membuka laptopnya namun, bukan pekerjaan yang hendak dia tatap di layar laptop-nya itu melainkan hal mengenai persiapan memadu kasih dengan istrinya nanti malam. Theo mulai browsing di internet namun, tidak ada jawaban di internet yang bisa menjawab kegalauan di hatinya. CEO tampan pemilik perusahaan periklanan itu pun kemudian merengut dan menggaruk-nggaruk kepalanya.


Theo menghela napas panjang lalu bersandar ke kursi kerjanya sambil melipat tangan. Dia berpikir keras, kira-kira apa saja yang perlu dia persiapkan untuk penyatuan cintanya dengan Binar nanti malam. Dia benar-benar merasa senewen dan takut kalau dia melakukan suatu kesalahan yang bisa membuat Binar merasa tidak nyaman karena, dia belum pernah melakukannya. Dengan Dita mantannya dulu, dia hanya sampai tahap berciuman tidak lebih dari itu.


Theo kemudian bangkit, mencubit dagunya dan berjalan mondar-mandir di dalam ruangannya yang sangat besar dan mewah itu. Andik sang asisten pribadi mengetuk pintu dua kali lalu masuk saat tidak menerima sahutan dari dalam. Andik melihat tingkah laku bos-nya dengan heran.


Asisten pribadinya Theo itu menaruh berkas di atas meja kerjanya Theo lalu berdiri tegak dan melempar pertanyaan ke Theo, "Bos, ada apa?"


Theo memutar badan, menatap Andik untuk sesaat lalu dia menarik tangannya Andik untuk dia ajak duduk di sofa dan langsung bertanya ke Andik, "kau pernah melakukan itu?"


Andik mengerutkan keningnya, "melakukan apa, Bos?"


"Emm, melakukan.........lupakan saja. Kau belum menikah jadi kau juga tidak akan paham" Theo berkata sambil melepas tangannya Andik dari genggaman tangannya.


"Apa sih? saya nggak ngerti" sahut Andik semakin mengerutkan dahinya.


"Aku dapat PR dari dokter kandungannya Binar dan........" Theo menghentikan ucapannya saat dia menatap wajah Andik yang terlihat semakin kebingungan dan hal itu menggelitik Theo untuk bertanya ke Andik, "kenapa malah kamu yang kebingungan?"


"Hehehehehe, saya nggak paham PR dari dokter kandungan itu apa?" Andik mulai menggaruk kepalanya.


"Hahahaha, ngomong sama anak di bawah umur memang repot"


"Saya sudah dewasa Bos, udah dua puluh lima tahun" sahut Andik dengan polosnya.


Theo menghela napas panjang lalu berkata, "lupakan soal umur kamu, emm intinya, aku akan berkencan dengan Binar malam ini, berdua saja, sampai pagi, nah, apa yang harus aku persiapkan agar istriku merasa nyaman"


"Ooohhhhh" sahut Andik.


"Ngerti kan?" Theo menatap Andik dengan penuh harap menanti jawaban memuaskan dari Andik.


"Nggak ngerti juga sih Bos, kan saya masih jomblo, hehehehe"


"Masuk akal juga jawaban kamu. Makasih ya" Theo kemudian menepuk pundaknya Andik dan berkata, "kalau gitu, temani aku belanja"


"Hah?! lalu pekerjaan kita hari ini gimana, Bos?"


Theo berkata, "pekerjaan bisa menunggu, ayo temani aku belanja!"


Andik segera mengikuti langkah bos-nya sambil bertanya, "belanja apa bos?"


"Iya belanja semua barang yang kamu sebutkan tadi"


"Hah?!" Andik menarik dagunya ke bawah sambil terus mengimbangi langkah lebar bos-nya menuju ke ruang parkir.


Theo membeli kaos berkerah warna biru karena, kata Binar, Theo terlihat lebih tampan jika memakai kaos berkerah berwana biru muda dipadukan dengan celana panjang berwarna cokelat tua.


Andik menatap bos-nya dengan banyak kerutan di dahinya kemudian dia bertanya, "kenapa beli baju baru, Bos? bukankah baju bos dengan warna ini, masih banyak di rumah?"


"Binar suka wangi baju baru makanya aku beli baju baru biar nanti saat aku dan dia berkencan dia akan menempel terus sama aku" Theo berucap dengan sumringah lalu dengan penuh semangat dia menarik Andik ke tempat lilin. Dia membeli lilin dengan aroma lavender bercampur vanila kesukaannya Binar.


Lalu melangkah lebar ke bagian parfum setelah dia berhasil mendapatkan lilin yang dia mau. Theo membeli parfum yang biasa dia pakai karena, Binar sangat menyukai bau badannya. Dia membeli parfum beraroma Woody (kekayuan yang memberi kesan macho) bercampur dengan aroma Aqua (yang segar dan memberi kesan sporty) perpaduan wangi tersebut sangat disukai oleh Binar.


Andik mengikuti bos-nya sambil sesekali menggeleng-nggelengkan kepalanya dan tersenyum geli.


Anda benar-benar mencintai istri anda. Saya bahagia kalau anda bahagia. Kata Andik di dalam hatinya.


Theo menoleh ke Andik, "kamu perlu apa ambil aja, jangan sungkan!"


Andik tersenyum dan berkata, "saya hanya perlu duduk dan minum, hehehehe"


Theo termasuk orang yang perfeksionis di dalam memilih apapun dan selalu lama jika berbelanja dan itu membuat Andik cukup kelelahan. Andik pun merasa sangat haus saat harus mengikuti bos-nya itu berkeliling ke sana kemari selama dua jam lebih di sebuah mall yang sangat besar yang berada di pusat kota.


"Oke, setelah kita bayar, kita mampir ke food court untuk beli makan dan minum"


Setelah selesai membayar semua belanjaannya, Theo mengajak Andik ke food court. Dia kemudian menyodorkan satu kotak besar bertuliskan merk terkenal ke Andik sambil berucap, "ini aku belikan jam tangan keluaran terbaru untukmu Aku juga beli jam tangan couple keluaran terbaru untuk aku dan Binar"


Andik menahan kotak tersebut dan berkata, "tapi Bos, ini sangat mahal dan jam tangan saya masih ada nih" Andik menunjukkan jam tangan yang dia pakai di pergelangan tangan kirinya lalu berkata lagi, "dan masih berfungsi dengan baik"


"Udah terima aja! aku membelinya dengan sepenuh hati kalau kamu menolaknya, aku akan sedih dan ini parfum beraroma Musk (aroma yang manis dan lembut), kesukaanmu" emm, wangi kamu mengingatkanku pada mantannya Binar. Batin Theo sambil tersenyum ke Andik.


Andik tersenyum lalu menerima jam tangan dan minyak wangi pemberian dari Bos-nya itu dengan kata, "terima kasih banyak, Bos"


"Sama-sama dan maaf udah membuatmu capek mengikutiku belanja" kata Theo dengan senyum tampannya.


"Walaupun capek tapi, saya senang bisa menemani Bos"


Theo tersenyum ke Andik lalu menatap layar ponselnya, dia mulai mengetik pesan text ke Binar, Sayang, aku keluar sama Andik apa kamu pengen sesuatu? kalau iya, aku akan belikan dan bawa ke kantor kamu.


Ting.......pesan text masuk ke dalam ponselnya Binar. Binar masih berada di ruang meeting denan seorang klien. Binar kemudian mencuri waktu di sela-sela obrolannya dengan klien tersebut untuk menjawab pesan text dari suaminya, nggak usah mas, Lela udah siapkan makan siang untuk aku dan klien-ku.


Ting.......Pesan text masuk ke ponselnya Theo. Theo segera menjawab pesan text dari istri tercintanya itu dengan senyum lebar, jangan lupa makan. Jangan lupa minum vitamin-nya. Sun sayang untuk anakku. I Love You.


Binar mengulas senyum bahagia di wajah cantiknya sambil mengetikkan pesan text untuk suami tercintanya, I Love You too😘