
Theo menatap ponselnya dengan kesal, "dasar serigala muda berani benar dia menutup telponku, dasar gila! awas aja kalau ketemu akan aku kasih pelajaran, cih! menyebalkan" Theo kemudian melempar ponselnya di jok mobil, tiba-tiba......Tok....Tok....Tok. Kaca mobilnya diketuk oleh seseorang, seketika itu juga, dia menoleh, mengernyit sembari membuka kaca jendela mobilnya.
Lela tersenyum manis ke arah Theo, "kak? ada keperluan apa kemari?"
"Aku mencari Binar ada urusan kerjaan tapi Binar udah pulang. Lho? kamu kok belum pulang? kantor kamu dah tutup dan bos kamu udah pulang, kan?" Theo balik bertanya ke Lela.
"Aku baru pulang dari tugas lapangan dan mau makan ramen. Pas capek tuh cocoknya makan makanan berkuah, pedas, dan hangat. Kakak mau menemaniku? tuh kedainya, berjalan dua puluh langkah sampai. Dekat, kan?"" Lela tersenyum penuh harap.
Theo menghela napas, "okelah!" lalu dia menutup kembali kaca mobilnya dan turun. Theo merasa perlu menetralisir perasaan kesal dan cemburunya dengan sesuatu yang hangat maka dia pun mengiyakan ajakannya Lela untuk makan ramen.
Theo dan Lela berjalan berdampingan menyusuri trotoar menuju ke kedai ramen. Boy yang juga baru sampai dari tugas lapangan melihat Lela dan Theo. Setelah menempelkan jempolnya di mesin absensi, dia berlari menyusul Theo dan Lela. Dengan tanpa dosa, Boy menelusup di tengah-tengahnya Theo dan Lela lalu menoleh ke Theo, "kak Theo apa kabar? masih ingat sama saya?"
Lela mendengus kesal sembari menggeser langkahnya ke kiri, dia mengerucutkan bibir merahnya ke punggungnya Boy.
Theo menoleh ke Boy, "kamu Boy, kan? tentu saja aku ingat, kamu pernah membantuku melawan preman waktu itu. Kamu dan Lela satu kantor?"
Boy tersenyum lebar karena, usahanya mengalihkan perhatiannya Theo ke Lela dan usahanya memberikan jarak diantara Theo dan Lela telah berhasil lalu dia berucap, "iya, aku dan Lela kerja di tempatnya kak Binar. Syukurlah kalau kakak masih ingat. Aku kira orang sehebat, setampan, dan setenar kakak nggak akan mengingat orang kecil seperti aku ini"
Theo menepuk pundaknya Boy, "hahahaha, aku hanya orang biasa banyak kekurangan, jangan memujiku berlebihan seperti itu! kamu juga awet tampan dan awet muda, kamu juga keren"
"Tetapi tidak semua orang menyadari kalau aku ini keren, heeee" Boy berucap untuk menyindir Lela.
Lela dapat merasakan sindiran itu dan terus mendengus kesal di sepanjang langkahnya menuju ke kedai ramen. Usahanya untuk menggaet perhatiannya Theo, untuk ngobrol panjang dengan Theo, dan berharap bisa bergandengan tangan dengan Theo, musnah sudah. Gara-gara Boy.
Mereka akhirnya sampai di kedai ramen dan duduk bertiga di meja yang sama. Theo memesan yang original karena, dia nggak bisa makan makanan pedas. Boy dan Lela yang hobi makan pedas memesan ramen di level sepuluh pedasnya.
Theo terkekeh geli, "kalian yakin kuat, makan ramen level sepuluh?"
"Yakin" ucap Boy dan Lela secara bersamaan.
Lela menoleh ke Boy dan melotot lalu berucap, "Boy, kamu nggak ada acara malam ini?"
"Nggak ada" jawab Boy sambil tersenyum lebar ke Lela.
Kamu tengah berupaya mengusirku dari sini kan Lela? Cih! jangan harap! aku akan terus di sini sampai kak Theo pulang. Batin Boy.
"Berkas kontrak kerja sama dengan pak Steve udah selesai? draftnya apa sudah kamu eksekusi? bukankan kamu tadi bilang ke aku kalau kamu mau lembur hari ini?" tanya Lela dengan kode memohon agar Boy paham lalu Boy pergi meninggalkannya sendirian dengan Theo.
Boy masih tersenyum lalu menggelengkan kepalanya, "aku nggak jadi lembur karena, draftnya udah diselesaikan Aksa. Senang ada karyawan magang yang cerdas, rajin, dan suka menolong kayak Aksa. Kerjaanku jadi lebih ringan, heeee"
"Huuffttt" Lela mendesah kecewa karena, Boy tidak memahami maksudnya.
"Anak magang itu, emm, si Aksa, bagaimana orangnya?" sahut Theo.
Boy menoleh dengan penuh semangat ke Theo lalu berucap, "Aksa itu baik, cerdas, rajin, dan cepat tanggap, aku suka dia masuk ke dalam timku"
"Harusnya kamu nggak boleh terlalu memanfaatkan Aksa. Kalau Aksa telah selesai masa magangnya maka kamu akan gigit jari jika terbiasa mengandalkan Aksa" sahut Lela kesal.
"Aku bukannya memanfaatkan Aksa tapi aku mengajarinya kerja" sahut Boy tidak kalah kesalnya.
"Waaahhh serigala muda itu hebat juga ya" sahut Theo dengan santainya.
"Siapa serigala muda?" Boy dan Lela secara spontan menatap Theo.
"Ooooo, hahahaha, itu tadi aku habis lihat film horor di ponsel dan masih kebayang-bayang sama serigalanya, hahahaha" ucap Theo sambil mulai menyumpit ramennya yang sudah tersaji hangat dengan kuah yang masih mengepul, di depannya.
"Ooooo" Boy dan Lela menyahut bersamaan.
"Kita taruhan nggak kali ini?" tanya Lela.
"Taruhan dong" sahut Boy sambil mengunyah ramennya.
"Taruhan apa?" Theo menatap Boy dan Lela dengan heran.
"Heeee, sedari kita kuliah dulu, jika makan makanan pedas kita selalu taruhan. Siapa yang duluan habis dan tanpa minum selama makan maka akan dapat uang seratus ribu" sahut Boy.
"Waaahhh lumayan ya seratus ribu, tahu gitu aku ikutan pesan yang level sepuluh tadi" ucap Theo serius.
Boy menatap Lela penuh kecemburuan. Lela bahkan masih mengingat dengan baik kalau Theo punya penyakit asam lambung.
"Heeeee, kamu masih ingat aja. Oke kalau gitu aku pasang seratus ribu aja nih, aku dukung Boy" Theo mengambil uang seratus ribu rupiah dari dalam saku kemejanya lalu menaruhnya di atas meja.
"Lela kok nggak didukung?" Lela merengut di depan Theo.
"Biasanya cewek lebih tahan pedas kalau soal makanan untuk itu aku mendukung Boy" jawab Theo.
"Aku juga tahan pedas kok" sahut Boy.
"Kamu itu cowok, kalau pedas soal makanan pasti kalah kalau sama cewek soalnya cowok itu ditakdirkan hanya bisa tahan sama pedasnya omongan kaum cewek, heeeeee" sahut Theo.
Boy langsung menggemakan tawanya ke udara dan Lela terkekeh geli.
"Kelakarnya kak Theo masih oke juga, ya" puji Lela dengan senyum manisnya. Boy kembali merengut penuh kecemburuan sambil terus memakan ramen super pedasnya.
"Go Boy Go! dapat dua ratus ribu lho Boy, lumayan! jangan melirik gelas, fokus, fokus, terus maju!" ucap Theo.
Tapi Justru Lela yang menjadi bersemangat menyantap ramennya tanpa minum. Namun, di saat dia melihat Theo yang tanpa sadar mengambil gelasnya Lela, lalu meminumnya, tepat di bekas lipstick yang tercetak di gelas itu karena sebelum taruhan berlaku, Lela telah menyesap gelas itu. Lela tertegun, tercengang dan menjadi berfantasi liar. dia membayangkan dirinya berciuman dengan Theo saat itu juga.
Fantasi itu semakin menjadi-jadi di dalam benaknya Lela sehingga membuat Lela terus membuka mulutnya ke arah Theo dan terus menatap Theo. Theo meletakkan gelas itu lalu menatap Lela, "ada apa? kenapa menatapku seperti itu?"
"Uhuk....Uhuk....Uhuk!" Lela langsung meraih gelas yang baru saja diletakkan Theo dan meminum sampai tandas separuh es susu cokelat di gelas itu.
Theo dan Boy tercengang menatap Lela. Mereka bingung karena Lela meminum gelas yang sama dengan Theo.
"Kenapa kau minum dari gelasku?" tanya Theo.
Lela meletakkan gelas itu dan menatap Theo dengan canggung.
"Yes! aku menang!" Boy berteriak untuk menyelamatkan Lela dari suasana canggung itu.
Theo langsung mengalihkan pandangannya ke Boy, "wow! hebat! iya kamu menang karena, Lela minum sebelum menghabiskan ramennya. Lela mana uang seratus ribu kamu? kasih ke Boy!"
Lela mengusap bibirnya, mendengus kesal sambil mengeluarkan uang seratus ribu rupiah dari dalam tasnya lalu dia serahkan ke Boy.
"Kamu cowok idaman nih nggak cuma tahan sama omongan pedasnya cewek tapi juga tahan sama pedasnya makanan, bravo! Minta papa kamu untuk melamar Lela pasti langsung diterima sebagai menantu idaman, hahahaha" ucap Theo dengan santainya.
Boy tersenyum lebar sambil menggaruk kepalanya dia memasukkan uang dua ratus ribu yang berhasil dia menangkan, ke dalam saku kemejanya.
Lela kembali mendengus kesal mendengar ucapannya Theo. Dia berharap Theo memperhatikannya tetapi Theo justru menyodorkan Boy untuknya. Lalu Lela berucap, "aku nggak mungkin sama Boy karena, hatiku udah ada yang punya, kak"
Theo menatap Lela, "oh. Tapi cowok itu pasti kalah keren dengan Boy. Aku restui kamu dengan Boy kalau kalian jadian saat ini juga, heeeee"
Lela kemudian meninggalkan meja dengan langkah lebar tanpa pamit kepada Boy dan Theo. Theo lalu menatap Boy, "apa yang salah dengan ucapanku?"
Boy menggelengkan kepalanya, "nggak ada yang salah. Lela mungkin baru datang bulan jadi mudah tersinggung kak, heeeee"
"Oooo, begitu ya. Cewek memang makhluk paling unik sedunia. Datang bulan selalu dijadikan alasan untuk nggak mau kalah, nggak mau salah, dan merajuk, hmm, kasihan para cowok ya, hahahaha" Theo berucap dengan santainya.
Tiba-tiba datang seorang ibu-ibu yang menghampiri Theo dan berdiri sambil melipat tangan di depannya Theo.
Theo menatap ibu-ibu tersebut dengan heran lalu bertanya, "ada apa Bu? ada yang bisa saya bantu?"
"Anda pernah datang bulan?" tanya ibu itu dengan sorot mata kesal ke Theo.
Theo menautkan alisnya lalu menggelengkan kepalanya, "saya cowok Bu, jadi ya saya nggak pernah datang bulan" sahutnya dengan santai.
Ibu itu kemudian memukul bahunya Theo dengan sangat keras, "kalau belum pernah merasakan datang bulan jangan mencela wanita dengan masalah datang bulan. Kamu ngerti nggak, datang bulan itu sangat menyakitkan, kalian kaum lelaki hanya bisa mencela saja. Kalian laki-laki juga nggak mau mengalah suka semena-mena, cih! dasar cowok nggak punya perasaan" Ibu itu memukul sekali lagi bahunya Theo lalu pergi dengan kesal meninggalkan mejanya Theo.
"Ppfffttt" Boy mengulum bibir menahan tawa.
"Waaahhh, ibu itu tadi pasti sedang datang bulan juga ya. Hmm, wanita memang menakutkan apalagi the power of emak-emak, wow sungguh dahsyat, mematikan!" ucap Theo sambil mengusap bahunya yang terasa pedih habis dipukul ibu-ibu yang menghampirinya tadi lalu meringis ke Boy. Boy kemudian tertawa sejadi-jadinya melihat ekspresi polosnya Theo.