
"Dengar Binar! pernikahan bukanlah suatu hal yang main-main. Kalau aku harus menikahimu itu sekali untuk seumur hidup. Aku nggak akan pernah menceraikanmu kalau kita akhirnya menikah, nanti" ucap Theo penuh dengan keseriusan.
Binar menatap Theo dengan penuh keharuan dan dia pun berkata, "apa itu berarti kamu mau menikahiku?"
Theo mendesah lalu memegang kedua bahunya Binar. Dia tatap dalam-dalam samudera yang begitu dalam yang seolah tak bisa terselami, yang berada di dalam kedua netranya Binar dan Theo kemudian berkata, "aku mau menikahimu, asalkan kamu setuju kalau pernikahan kita nantinya, sekali untuk seumur hidup"
"Tapi anak ini bukan anak kamu, kamu tidak mencintaiku dan aku tidak men...cin.....taimu" ucap Binar lirih, penuh dengan keraguan.
Theo mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat, dia terus menatap kedua bola mata nan cantik miliknya Binar dan berkata di dalam hatinya, aku mencintai kamu Binar. Sungguh-sungguh mencintaimu.
"Theo?" Binar menatap Theo penuh selidik untuk mencoba menemukan jawaban yang dia butuhkan, di sana.
"Hmm. Aku tidak keberatan walaupun itu bukan anakku dan kamu tidak mencintaiku" ucap Theo.
"Maafkan aku! aku terlalu lancang meminta kamu untuk menikahiku. Anggap saja aku hanya berbicara omong kosong. Jangan kau anggap serius! aku tarik kembali kata-kataku" Binar menepis tangan Theo dengan pelan dari kedua bahunya lalu bangkit namun, Theo dengan segera menahan tangannya Binar.
Binar menoleh ke Theo, "aku mau pulang"
"Baiklah! pikirkan semuanya malam ini dengan baik-baik. Jangan gegabah karena, kamu tidak mengambil keputusan untuk diri kamu sendiri. Kamu harus pikirkan anak yang kamu kandung, keluarga kamu, kolega kamu, karyawan kamu, bahkan si Mimi itu, asisten rumah tangga kamu. Aku siap menikahimu jika kamu setuju kalau pernikahan kita sekali untuk seumur hidup, aku nggak mau ada perceraian"
Binar menganggukkan kepalanya dan tersenyum ke Theo, "baiklah, aku akan berpikir tenang dan benar-benar aku akan berpikir dengan baik malam ini"
Theo bangkit lalu berkata, "kita pamit sama papa kamu dan aku antarkan kamu pulang. Kamu belum lupa kan, kalau kita tetanggaan, jadi arah kita sama, heeeee"
Binar terkekeh geli dan secara tidak sadar dia menggenggam erat tangannya Theo dan dia tarik tangan itu untuk dia ajak berjalan beriringan.
Ada percikkan listrik dan rasa hangat menjalar di tubuhnya Theo ketika Binar menggenggam tangannya dan laki-laki tampan keturunan Revano itu pun terus menatap tangan yang terasa nyaman di genggamannya Binar sembari terus mengulas senyum. Theo merasakan kebahagiaan yang luar biasa hanya karena, Binar menggenggam tangannya.
Theo dan Binar pamit ke Damian Adelard papanya Binar. Kemudian mereka pergi meninggalkan kediamannya Damian Adelard untuk, pulang.
Aksa pergi ke Amerika dengan putri dari kolega papanya. Kenzo Julian dan papanya gadis itu, diam-diam menjodohkan Aksa dengan Berlian Permana, nama gadis cantik itu yang seumuran dengan Aksa.
Berlian mengetahui perjodohannya dengan Aksa dan dia langsung menyetujuinya karena, dia langsung terpikat dengan ketampanannya Aksa dan karena, dia tahu kalau Aksa laki-laki yang sangat cerdas. Perpaduan sempurna di matanya Berlian, laki-laki tampan, putra konglomerat, dan seorang yang cerdas.
Aksa terbangun dari tidur panjangnya dan hendak menelan pil tidur lagi namun, dicegah oleh Berlian, "jangan terlalu banyak minum pil itu! sangat berbahaya untuk kesehatan kamu"
Aksa menoleh ke bangku seberang lalu mendengus kesal, "bukan urusanmu" dan Aksa nekat hendak memasukkan pil tidur yang telah dia pegang ke dalam mulutnya namun, Berlian dengan sigap bangkit dan menarik tangannya Aksa sehingga pil tidur yang tinggal satu itu terjatuh ke bawah.
Aksa menarik tangannya dan berteriak kesal ke Berlian, "urus saja urusanmu sendiri! jangan ganggu aku!"
"Aku tidak mengganggu kamu. Aku mencegah kamu untuk bunuh diri. Seorang laki-laki sejati tuh nggak lari dari suatu permasalahan dan bersembunyi di balik pil tidur" ucap Berlian yang masih berdiri di samping jok-nya Aksa.
Aksa melipat tangan dan langsung memunggungi Berlian. Aksa memilih menatap jendela pesawat dan menikmati putihnya Awan daripada melihat wajahnya Berlian.
Berlian kemudian mendengus kesal dan kembali ke tempatnya. Setelah duduk, dia terus melihat ke arah Aksa.
Tampan dan sangat menarik tapi sayangnya galak dan dingin. Tapi nggak masalah, aku akan membuatmu menerimaku. Batin Berlian.
Aksa mengusap air matanya dan bergumam, "tega sekali kau Binar. Aku sungguh-sungguh membencimu"
Hendra menemani Aulia mencoba gaun pengantin dan mengecek persiapan pernikahan mereka yang akan dilaksanakan satu bulan lagi. Hendra merasa malas sebenarnya karena, Aulia terus menempel seperti lem kepadanya, terus bersikap manja yang bagi Hendra sudah melewati batas kemanjaan dari kebanyakkan wanita pada umumnya.
Hendra mendesah panjang dan hanya berucap, "hmm"
"Mas, kupaskan udangnya! dan suapi aku!" pinta Aulia dengan nada manja mendesah yang sebenarnya sangat mengganggu bagi Hendra Herlambang. Hendra sungguh membenci wanita manja seperti Aulia.
Namun, bagi Aulia yang masih sangat muda, dia melakukan itu semua untuk menarik perhatiannya Hendra dan dia tidak pernah mengerti kalau sebenarnya Hendra merasa sangat muak dengan semua kemanjaannya Aulia
Hendra akhirnya mengupas kulit udang yang ada di depannya Aulia dan berkata, "lepaskan dulu tanganmu dan jangan bersandar.kayak gini! aku nggak bisa bergerak bebas mengupas udangnya kalau kamu terus memeluk aku"
Aulia kemudian menarik kepala dan tangannya dari Hendra lalu berucap, "mas, bukan gitu cara kupas udangnya. Kok nggak bisa-bisa sih, udah berulangkali aku ajari"
"Kenapa nggak kamu kupas sendiri" sungut Hendra.
"Nggak mau, tanganku kotor dan bau amis nanti. Lagian aku punya pacar, calon suami lagi, jadi yang harus ngupasin nih udang ya kamu, mas" ucap Aulia dengan santainya.
Hendra semakin kesal dan asal-asalan mengupas kulit udangnya lalu menyodorkannya sepiring udang yang sudah dia kupas ke Aulia.
Aulia tidak berterima kasih malah melipat tangan dan merengut, "kamu makan aja udangnya. Salah kupas jadi kecil-kecil udangnya, aku nggak mau. Pesankan lagi makanan baru mas, emm, cake cokelat aja, aku tiba-tiba malas makan nasi"
Hendra merapatkan bibir menahan geram lalau bangkit, mencuci tangannya yang kotor dan bau amis karena, habis dia pakai untuk mengupas udang lalu berjalan ke tempat pemesanan makanan untuk memesan cake cokelat.
Setelah kembali dan duduk di sebelahnya Aulia, tiba-tiba Aulia meringis dan kembali berucap, "mas, aku kok tiba-tiba pengen makan kentang goreng, heeee. Pesankan lagi deh, buruan!"
Hendra menoleh kesal ke Aulia, "kenapa nggak sekalian bilang tadi? kamu pesan sendiri, aku capek"
Aulia langsung memasang wajah mewek dan Hendra mendengus kesal lalu bangkit lagi untuk memesankan Aulia, kentang goreng.
Hendra selalu merasa terkekang, terikat, dan sangat menderita menjalani hubungan berpacaran dengan Aulia Revano. Dia bahkan tidak bisa membayangkan kehidupannya setelah menikah dengan Aulia Revano namun, dia tidak berdaya untuk melepaskan diri dari ikatan yang begitu menyiksanya itu.
Binar menelepon Theo, "aku mau. Aku mau menikah dengan kamu. Sekali seumur hidup"
"Kenapa nggak besok aja kamu kasih keputusan. Bahkan malam pun belum berlalu ini dan........."
"Aku serius. Tapi, jika kamu tidak bersedia pun tidak masalah kok, aku punya option kedua" Binar langsung memotong ucapannya Theo.
"Katakan dulu apa option kedua kamu itu, sebelum aku katakan keputusanku" ucap Theo.
"Option kedua yang aku ambil untuk diriku sendiri adalah, aku akan pergi ke Jepang atau ke Thailand, aku punya sahabat yang tinggal di sana. Aku akan tinggal di sana selamanya dengan anakku ini. Aku akan bangun bisnis baru di sana dan nggak akan balik ke Indonesia selamanya"
"Se...la...manya?" ucap Theo.
"Iya! dengan begitu keluargaku akan aman dari cibiran. Aku dan anakku pun bisa nyaman hidup baru di negeri orang yang tidak mengenalku kecuali sahabatku"
Theo langsung berucap, "oke! aku mau menikahimu" Karena, dia merasa tidak rela kalau Binar harus hidup sendirian di negeri orang.
"Makasih bro! besok kita temui papa kita dan aku mau menikah besok, sebelum aku berubah pikiran karena, aku ini suka berubah-ubah pikiran, heeeee"
"Oke, besok kita temui papa kita dan kita langsung menikah" ucap Theo.