
"Berhentilah mengganggu istri saya" Theo langsung melempar sorot mata tajam di kedua bola mata indahnya Darren yang berwarna cokelat.
"Hahahahahaha, saya sungguh tidak menyangka, di balik wajah lembut dan sikap ramah anda selama ini, ternyata anda punya sisi garang juga, hahahahaha" Darren menanggapi ucapannya Theo dengan sikap santai. Darren kemudian menyalakan cerutunya lalu menghisapnya dalam-dalam. Lalu Darren menggeser kotak cerutu ya ke tengah meja dan berkata, "silakan ambil kalau anda mau"
Theo tersenyum tipis, "saya tidak merokok dan saya tegaskan sekali lagi, jangan ganggu istri saya mulai dari sekarang!"
"Salahkan istri anda kalau gitu! Saya sudah meminta Binar secara baik-baik agar mau menjadi pacar lalu suatu saat nanti ia bersedia menjadi istri saya namun Binar selalu menolak saya, berkali-kali, saya tegaskan berkali-kali Binar menolak saya"
"Cinta tidak bisa dipaksakan" sahut Theo dengan muka datar.
"Hahahaha siapa bilang? saya yakin Binar akan mencintai saya jika hanya ada saya di saat ia terpojok dan hanya saya yang bisa menolongnya? untuk itulah saya nggak akan pernah melepaskan Binar, lalu apa yang akan anda lakukan? saya lebih kaya dan lebih berkuasa dari anda, saya yakin anda menyadari betul akan hal ini dan bukti-bukti remeh yang anda tunjukkan itu, cih! nggak akan mampu menghentikan langkah saya untuk meraih wanita yang saya inginkan" Darren menyeringai penuh arti ke Theo.
"Saya sadar betul akan kekayaan anda dan karena itulah saya menemui anda. Saya sadar betul kalau uang, kekayaan, kedudukan, bisa membuat orang menjadi berkuasa namun, di sini saya juga menyadari betul bahwa uang, kekayaan, dan kedudukan juga bisa membuat orang menjadi hopeless, lupa diri, dan akhirnya terhempas ke jalanan. Ada pula pepatah yang mengatakan, jika hati seseorang ada di hartanya maka dia akan hancur"
"Hahahahahaha, itu nggak berlaku di hidup saya. Camkan baik-baik pak Theo, saya tidak hopeless, saya tidak lupa diri, dan saya tidak akan hancur. Jadi bermimpilah karena, anda nggak akan pernah melihat saya terhempas di jalanan, hahahahaha" ucap Darren .
Theo tersenyum dan hanya tersenyum penuh arti tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Darren meradang melihat senyumannya Theo lalu dia mencondongkan tubuhnya di atas meja dan menyemburkan asap cerutunya ke Theo sambil menyeringai ia berkata, "saya membenci senyum anda itu pak Theo. Saya juga membenci anda karena, anda memiliki Binar dan saya tidak. Anda tahu, saya lebih dulu mencintai Binar dan saya sudah terbiasa mendapatkan apapun yang saya mau dan........"
"Saya nggak akan biarkan anda mendapatkan Binar karena, Binar adalah istri saya. Camkan itu pak Darren! Ikatan pernikahan itu terlalu sakral untuk dipatahkan dan cinta itu terlalu suci untuk dipermainkan. Anda juga harus mengerti bahwa cinta sepasang suami istri itu abadi untuk selama-lamanya" sahut Theo penuh ketegasan.
Darren memundurkan kembali tubuhnya dan menggebrak meja, "cih! pernikahan itu hanyalah secarik kertas yang rapuh, dengan mudah akan aku robek-robek dan Binar akan saya dekap untuk selama-lamanya"
"Jika anda bersikeras menjadi bodoh seperti itu maka jangan salahkan saya jika saya menghancurkan jalan anda menuju ke karir politik anda" Theo menaikkan kedua alisnya.
Darren segera terhenyak di kursinya dan menatap Theo penuh dengan tanda tanya, "ba...bagaimana anda tahu kalau saya mencalonkan diri menjadi menteri? bahkan pihak partai pun belum mempublikasikannya"
Theo kembali tersenyum penuh arti ke Darren.
Darren segera membuang cerutunya ke lantai lalu menginjaknya sambil menghunus tatapan tajamnya ke Theo, "apa yang akan anda lakukan?"
Theo bangkit, tersenyum tipis lalu berkata, "biarlah itu menjadi langkah terakhir saya untuk mematikan langkah anda dan tidak akan saya beritahukan ke anda langkah apa yang akan saya ambil. Saya akan terus mengawasi anda, jika anda masih berani mengganggu istri saya maka saya akan langsung menggerakkan bidak catur andalan saya dan skak mat! Anda akan tamat" lalu Theo melenggang pergi meninggalkan Darren yang masih terhenyak di kursi.
Darren segera menelepon koleganya dan bertanya mengenai kebocoran informasi terkait langkahnya ke jalur politik dan koleganya berkata, "paman dari pak Theo Revano yakni bapak yang terhormat James Revano adalah seorang jendral besar yang sangat berpengaruh di negeri ini jadi........"
"Shit!" Darren langsung membanting kotak cerutunya ke atas lantai dan semua cerutu yang ada di dalam kotak tersebut tercerai berai, seperti harapannya untuk memiliki Binar seketika itu pula menjadi tercerai berai.
"Kenapa aku lupa kalau jendral besar negri ini bermarga Revano, shit!" Darren kembali bersandar di kursinya dan langsung menangkup wajah tampannya dengan kesal.
Beberapa jam kemudian Theo berdiri di pintu masuk ruangnya Binar sambil tersenyum lebar, "hai cantik, udah selesai belum?" ucap Theo sambil bersandar di pintu dengan tangan dilipat
Binar menoleh lalu terkekeh geli melihat tingkahnya Theo, "kamu habis menang apa sih kok cerah ceria seperti itu?"
Theo kemudian menutup pintu dan melangkah mendekati Binar lalu berkata, "aku ingin mengajak istriku berkencan makanya aku cerah ceria begini, hehehehe"
"Berkencan? jangan aneh-aneh deh, Mas"
"Kok aneh, suami ngajak kencan istrinya itu aneh, ya?" Theo menautkan alisnya.
"Iya karena, aku dah hamil, kan aneh kalau kencan"
Theo kemudian bangkit, memutari mejanya Binar lalu berdiri di belakangnya Binar untuk kemudian merangkul tubuhnya Binar. Theo menaruh bibinya di atas belahan kepalanya Binar lalu berkata di pucuk kepalanya Binar, "justru itulah seni-nya sayang, kita kan belum pernah berkencan dalam arti yang sesungguhnya sejak kita menikah"
Binar mengelus tangannya Theo yang mendekapnya, "lalu pas kita di Jepang dan di Bali, itu bukan kencan namanya?"
"Waktu itu kamu belum mencintaiku kan? dan aku sibuk bekerja, kamu juga lebih sering memilih untuk menghabiskan waktu di kamar"
Deg, dada Binar berdetak kencang karena, penyesalan. Dia mengingat semuanya, di hari di mana dia dan Theo menghabiskan waktu mereka di Jepang, dan di Bali, dia belum mencintai Theo dan sering memilih untuk berdiam diri di kamar. Binar segera bangkit, memutar badan sambil menyingkirkan kursi kerjanya yang beroda lalu ia segera memeluk erat suaminya, "maafkan aku, Mas"
Theo mencium puncak kepalanya Binar dan berkata, "diajak kencan kok malah minta maaf, sih?"
Binar segera mendongakkan kepalanya lalu tersenyum, "baiklah, ayok kita berkencan"
"Kamu kenapa menggemaskan sekali, sih" Theo segera menyambar bibirnya Binar. Sepasang suami istri yang sedang dimabuk cinta itu kemudian berciuman dengan lembut, penuh cinta, dan intens.
Binar lalu menarik wajahnya dan berkata, "aku telah merebahkan cintaku padamu, tolong jaga dan pelihara ya, Mas!?"
The mengelus pipinya Binar, "aku sudah menjaga dan memeliharanya dari sejak kita pertama kali bertemu"
Binar tersenyum lebar penuh cinta lalu berjinjit, mengecup bibirnya Theo lalu berucap, "kita berkencan sekarang?'
Theo menunduk dan menaikkan sebelah alisnya, "emangnya udah selesai kerjaanmu?"
"Dianggap selesai aja lah, besok masih ada hari esok, hehehehehe" ucap Binar sambil menggandeng lalu menarik tangannya Theo namun, Theo menahannya. Theo segera berjongkok, mengelus perutnya Binar dan bertanya, "how are you today, Junior?"
Theo mencium perutnya Binar lalu berdiri dan merangkul bahunya Binar. Mereka kemudian melenggang pergi meninggalkan kantornya Binar.
"Kau pengen ke mana tuan putri?" tanya Theo sambil mulai melajukan mobilnya.
"Aku ingin ke taman bermain anak-anak yang ada di sebuah mall. Aku pengen bermain di sana, hehehehe"
"Oke, as you wish my beloved wifey" Theo berucap sambil mengusap rambutnya Binar.
Binar membeliak, "AW! sudah lama aku nggak ke sini. Makasih Mas. Tapi, kamu nggak apa-apa aku ajak ke sini?" Binar mengedarkan pandangannya ke seluruh taman bermain anak yang berada di dalam sebuah mall yang cukup besar itu dengan mata berbinar-binar.
"Aku.........."
Grep! Binar segera menarik tangannya Theo tanpa menunggu jawaban dari Theo atas pertanyannya dan dia mengajak Theo berhenti di depan kotak yang penuh dengan boneka.
Theo menoleh ke Binar, "kamu pengen ambil boneka?"
Binar menoleh ke Theo dan dengan senyum lebar dia menganggukkan kepalanya lalu berkata, "dari dulu aku suka bermain di depan kotak boneka dan menghabiskan banyak uang karena, aku selalu gagal mendapatkan boneka-boneka itu dan aku penasaran jadi aku coba lagi dan lagi, hehehehe"
"Dan tidak satu pun boneka berhasil kamu dapatkan?" Theo tertawa lepas.
Binar terkekeh dan sambil merengut dia kembali menganggukkan kepalanya.
"Ok let me try it" heo segera menggulung kedua lengan kemejanya lalu menggesekkan kartu yang Binar punya di mesin bermain itu lalu mulai memainkan tombol ke kiri, ke kanan, dan lurus dan mulai membidik sebuah boneka.Theo menggerakkan tombol sambil bertanya, "kau ingin boneka yang mana, sayang?"
"Yang mana aja yang penting bisa diambil"
Jeglek, nguinnngggg, bunyi mesin bermain itu saat capitnya yang berada di dalam kotak penuh boneka itu mulai turun ke bawah dan grep! capit itu berhasil menangkup sebuah boneka kelinci. Binar memekik senang sambil bertepuk tangan saat Theo berhasil menjatuhkan boneka itu di kotak pengambilan boneka.
Binar segera memasukkan tangannya untuk mengambil boneka kelinci itu. Lalu dia menoleh ke Theo, "kok kamu bisa mengambilnya? ajari aku, ajari aku!"
Theo segera menarik tubuh Binar di depan tubuhnya lalu dia memegang tangannya Binar, dia gerakkan tangannya Binar di tombol kiri, kanan, lurus lalu turun dan grep! capit itu berhasil mencapai boneka beruang yang lumayan besar. Binar memekik kegirangan saat boneka beruang itu berhasil jatuh di kotak pengambilan boneka. Binar segera memasukkan tangannya untuk meraih boneka beruang itu.
Binar menoleh ke Theo lalu berjinjit dan mencium pipinya Theo, "makasih Mas, baru kali ini aku berhasil mendapatkan boneka dari mesin ini. Aku lega akhirnya aku bisa balas dendam pada mesin ini, hahahahaha"
Theo tertawa melihat tingkah kekanak-kanakannya Binar lalu bertanya, "kok kamu tahu kalau aku bakal bisa mendapatkan boneka untuk kamu?"
"Feeling aja dan benar kata orang, feeling ibu hamil itu selalu tepat, hebehehe"
Theo segera merangkul Binar lalu mencium pelipisnya Binar dan berkata, "lalu mau main apalagi?"
Binar mengedarkan pandangan sambil memeluk boneka kelinci dan beruangnya lalu melangkah lebar menuju ke permainan bola basket.
Theo segera berucap, "big No, sayang! kalau bola-nya terpental dan mengenai kamu gimana? kita cari permainan lain yang aman saja ya?"
"Benar juga, emm, kalau gitu balap motor aja"
Theo segera merangkul Binar dan menunduk, "kamu pakai dress, kalau kamu naik motor itu maka dress kamu akan tersingkap, aku nggak rela paha indah istriku jadi tontonan menarik untuk mata laki-laki lain"
"Lalu main apa dong?" Binar mendesah kecewa karena, semua permainan favoritnya tidak bisa ia mainkan lagi saat itu.
"Kita main tembak-tembakkan aja, gimana?"
Binar segera menganggukkan kepalanya dan di permainan tembak-tembakkan dia bisa berbangga diri karena, berhasil mengalahkan Theo dengan telak.
Theo pura-pura merengut dan tanpa Theo sangka, Binar mengecup bibirnya. Theo sampai tersentak mundur dan mengelus bibirnya. Theo menatap Binar sambil terkekeh geli ia berucap, "kamu berani juga ya menciumku di tempat umum?"
Binar tertawa lepas lalu menyenggol bahunya Theo, "kenapa nggak berani, kamu kan suamiku"
Theo langsung mengecup bibirnya Binar dan berkata, "oke, mulai sekarang siapa yang kalah harus mengecup bibir yang menang"
"Oke siapa takut?" sahut Binar dan Theo segera menggelegarkan tawa merdunya ke udara dan mereka segera menuju ke permainan papan hockey dan siap bertanding. Binar kembali meletakkan boneka kelinci dan boneka beruangnya di atas lantai.
Keesokan harinya, sepulang dari kuliah, Aksa mengajak Monica ke taman bermain anak-anak dan Aksa bermain cukup lama di depa. mesin yang penuh dengan boneka. Aksa berhasil mendapatkan boneka kelinci, beruang, kura-kura, kucing, anjing, hamster, dan dia masih belum mau berhenti sampai Monica menepuk pundaknya Aksa dan berkata, "cukup Sa! kau akan bikin bangkrut taman bermain ini jika kau ambil semua bonekanya" ucap Monica sambil menaruh boneka-boneka yang berhasil Aksa dapatkan ke dalam tas plastik berukuran jumbo.
"Boneka ini terus mau kamu apakan?"
Aksa menoleh ke Monica, "buat kamu aja"
"Kamu kenapa tiba-tiba mengajakku ke taman bermain?"
Aksa memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan menjawab, "entah, aku tiba-tiba aja ingin ke sini"
Monica hanya bisa terkekeh geli