My Pretty Boss

My Pretty Boss
Makan Satu Mangkuk Berdua



Aksa kemudian berkata ke Boy, "jadi cowok yang selama ini kamu ceritakan, saingan kamu itu Theo?"


"Bingo!" sahut Boy.


"Baiklah aku mengerti. Kamu tolong awasi terus kak Lela ya, kalau ada hal yang mencurigakan kamu kabari aku, ya"


"Siap" sahut Boy.


Theo melihat Binar menyingkirkan, daun bawang, wortel, buncis, dan jagung manis yang tercampur di nasi goreng pesanannya Binar.


Mirip banget sama Aksa. Waktu aku sarapan di hotel yang ada di Bali bareng sama Aksa, Aksa juga menyingkirkan daun bawang, wortel dan buncis dari nasi goreng yang waktu itu Aksa pesan. Batin Theo.


Ada desiran aneh lagi di dalam hatinya Theo dan bisa dirasakan oleh Theo dengan penuh kesadaran kalau dia cemburu. Theo kemudian bertanya, "sayang, kamu nggak suka sayuran ya?"


Binar mengangkat wajah untuk menatap Theo dan berkata, "aku suka banget sama sayuran malah nggak begitu suka sama steak, daging, dan nasi goreng. Aku bahkan biasa sarapan salad buah atau sayuran aja tapi entah kenapa sejak aku hamil, aku nggak suka sayuran dan aku malah menyukai daging, steak, dan nasi goreng, hehehehe"


Theo terus menatap Binar yang sudah mulai menyendok nasi gorengnya dengan lahap. Tanpa Theo sadari dia mendesah keras untuk membuang rasa sesak di dadanya karena, kecemburuannya pada Aksa.


Binar bisa menangkap bunyi desahannya Theo lalu dia kembali mengangkat wajah cantiknya untuk melihat Theo dan bertanya, "kenapa Mas?"


"Hah? kenapa? apa?" Theo gelagapan menerima pertanyaan dari Binar.


"Mas mendesah dengan berat tadi, apa ada masalah di kantornya Mas? apa kerjaanku yang bikin Mas jadi resah?" Binar membombardir Theo dengan rentetan pertanyaannya.


Theo tersenyum lebar lalu mulai menyendok sup iga pesanannya lalu berkata, "nggak ada apa-apa, umm, aku cuma, uhuk uhuk, sepertinya mau flu jadi aku mendesah tadi untuk mengurangi rasa gatal di tenggorokanku, hehehehe. Aku tadi memenangkan satu klien besar untukmu" Theo mengangkat kedua aslinya ke Binar.


"Benarkah? makasih Mas. Tapi, desain mana yang Mas tawarkan ke klienku itu?" tanya Binar dengan mata berbinar-binar.


Theo meringis, mengelus tengkuknya kemudian berkata, "aku nggak kasih dia contoh desain. Aku bilang untuk desainnya menyusul dan dia setuju. Aku bilang ke klien kamu tadi kalau soal desain istriku yang jago jadi aku bilang ke dia untuk menunggu dan dia bersedia menunggu contoh desain dari kamu sampai lusa. Dia udah bayar lunas, kamu tinggal cek di rekening kamu"


"Waaahhh! kamu hebat Mas. Baru kali ini aku menemui klien yang setuju bekerja sama denganku, udah kasih lunas proyeknya tapi, mau menunggu desain yang belum ada" Binar tersenyum lalu melepas sorot mata curiga ke Theo, "kamu kasih apa ke klienku tadi? kenapa dia bisa begitu percaya sama kamu?"


Theo menggelegarkan tawa macho-nya lalu berkata, "aku kan marketing jadi pandai berbicara, hehehehe. kata Andik, gaya bicaraku ini akan licin dan manis kalau sedang menggaet klien, hehehehe"


"Kamu berbakat membujuk orang berarti. Asalkan nggak kamu pakai bakat kamu itu untuk menggaet cewek" Binar mulai merengut.


"Hahahaha, mana ada seperti itu. Justru kalau di depan cewek yang aku suka, aku nggak pandai ngomong jadinya gagu dan terkesan bloon, hahahahaha. Tapi untungnya cewek yang aku suka dan bahkan aku cintai dengan sepenuh jiwa dan ragaku, kini udah menjadi istriku jadi aku nggak bloon lagi, hehehehe" Theo lalu meraih tangannya Binar yang terkulai manis di atas meja lalu dia cium penuh cinta tangan itu.


Binar merona malu dan berkata, "makasih udah memilihku untuk Mas jadikan istri. Makasih Mas udah kasih aku cinta yang begitu hangat, manis, dan indah"


"Karena kamu layak mendapatkannya" ucap Theo.


Binar lalu melirik iga sapi yang masih ada di mangkuknya Theo lalu dia berkata, "Mas, masih mau iga itu?"


Theo menunduk menatap mangkuknya lalu kembali menatap Binar, "kenapa? kamu pengen ya? aku pesankan lagi kalau gitu"


Binar berkata, "nggak usah pesan lagi. Anakku pengen makan di mangkuk yang sama dengan papanya. Makan semangkuk berdua, hehehe"


Theo merona senang lalu berkata, "aaahhh! benarkah? manis banget anak kita, ya? aku bahagia banget mendengarnya, makasih ya Nak" pekik Theo ke arah perutnya Binar lalu dia segera berkata, "aaaaa, aku suapi kamu, ya?"


Binar tersenyum bahagia, membuka mulutnya, "enak Mas, aku suka" ucapnya sambil mengunyah iga sapi dari mangkuknya Theo.


Theo bahagia bukan main, anak di dalam kandungannya Binar ternyata peduli dan perhatian sama dia. "Udah habis nih, aku pesankan lagi terus kita makan semangkuk berdua lagi, ya?"


Binar menganggukkan kepalanya dan Theo langsung memekik senang laku bangkit dan memesan satu mangkuk sup iga lagi. Dia lalu menoleh ke Andik dan Miko, "kalian pesan lagi sana. Aku dan istriku masih lama nih di sini. Masih mau makan sup iga berdua"


Andik bersitatap dengan Miko, lalu mereka menggelengkan kepala mereka secara bersamaan di depannya Theo dan berkata secara kompak, "udah kenyang, Bos"


"Kalian akan bosan kalau duduk aja di situ menunggu aku dan istriku makan"


Andik kemudian bangkit, "kalau gitu, saya balik ke kantor aja Bos, mau urus kerjaan di kantor"


Miko ikutan berdiri dan berkata, "ikut"


Andik mendelik ke Miko, "aku mau kerja kok ikut sih? kegilaan apalagi, nih?"


"Ai sendirian dong di sini kalau kau tinggalkan, terus ai ngapain?" sahut Miko.


"Bodo amat kau mau ngapain? emangnya aku bapakmu?" Andik mengangguk ke Theo dan Binar yang tengah tertawa geli menatapnya lalu Andik segera melangkah lebar meninggalkan Miko yang kebingungan mau ngapain.


Binar mengayunkan tangan ke Miko, "gabung ke sini aja! pesan camilan atau apa gitu!"


Miko meringis, menggelengkan kepala lalu berkata, "ai tunggu di mobil aja deh"


Theo tersenyum lalu melemparkan kunci mobil ke Miko. Miko menangkap kunci mobil itu lalu melangkah keluar menuju ke mobilnya Binar dan masuk ke dalamnya.


Theo duduk dengan sisa tawanya, dia menggelengkan kepala lalu berkata, "kamu menemukan Miko di mana sih?"


"Kamu beruntung bisa bertemu dengan orang sebaik dan setulus Miko, ya walaupun dia lemah gemulai, hahahaha" sahut Theo.


"Iya aku merasa kalau aku ini sebenarnya beruntung padahal aku ini orangnya ceroboh, impulsif, dan nggak pernah berpikir panjang kalau mengambil suatu tindakan tapi, aku ternyata beruntung" ucap Binar.


"Itu karena kamu memiliki hati yang murni, tulus, dan penuh kasih pada siapa pun jadi banyak yang kasih feedback yang sama ke kamu" ucap Theo.


Binar tersenyum sambil menerima suapan demi suapan sup iga dari suaminya, "kamu juga makan dong, Mas. Kok aku terus yang kamu suapi?"


"Hahahaha, habisnya kamu makan lahap banget aku jadi semangat menyuapi kamu dan aaaaa, hmm, aku juga makan nih" Theo memasukkan satu sendok sup iga ke dalam mulutnya dan Binar memandangnya dengan penuh cinta.


Selang lima belas menit kemudian mereka keluar dari restoran itu dan masuk ke dalam mobil. Miko yang sudah duduk di belakang kemudi sedari tadi langsung mengemudikan mobil itu dan bertanya, "kita ke mana nih?"


"Mau ke mana lagi?" tanya Theo ke Binar.


"Ke kantor kamu aja. Aku pengen lihat kantor kamu, Mas"


Theo merangkul Binar dan tertawa riang lalu berkata, "oke Ko, kita ke kantorku dulu, perempatan depan belok ke kanan dan lurus terus"


"Siap Bos!" sahut Miko.


Binar terkejut melihat betapa megah dan besarnya perusahaan periklanan miliknya Theo. Dia sungguh tidak menyangka di balik penampilannya Theo yang sederhana, Theo ternyata memiliki gedung raksasa. Binar menoleh ke Theo sambil melangkah masuk ke dalam gedung berlantai delapan nan megah itu lalu melempar tanya ketika mereka berada di dalam lift pribadinya Theo, "gedung sebesar dan semegah ini, milik kamu?"


Theo tersenyum dan berkata, "puji Tuhan, iya. Aku bukan hanya bergerak di bidang periklanan tapi juga di bidang properti dan bermain saham dan aku bersyukur usahaku bisa berkembang dengan baik"


Ting, pintu lift terbuka dan Theo merangkul Binar. Mereka berjalan menuju ke ruang kerjanya Binar. Binar segera menurunkan rahangnya ke bawah, ruang kerjanya Theo dua kali lebih besar, lebih megah dan lebih mewah dari ruang kerjanya. Binar menoleh ke Theo, "aku malu nih"


Theo tertawa lepas, "kenapa malu?"


"Kamu tadi pasti merasa kegerahan berada di ruang kerjaku yang sempit aku jadi malu karena, ruang kerjaku nggak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan ruang kerjamu ini, Mas"


Theo memeluk Binar lalu berkata, "bagiku sama aja yang penting kita nyaman dan bisa bekerja dengan baik. Buktinya dari ruang kerja kamu, telah banyak keluar ide-ide brilian, desain-desain dan karya-karya hebat, kan. Jadi besar atau kecil ruang kerja kita, tidak ada bedanya"


Binar mengedarkan pandangannya, di dalam ruang kerjanya Theo bahkan ada ruang golf mini, di balkon ada lapangan basket mini, dan ada bar mini-nya juga. Binar lalu menoleh ke Theo, "kamu di sini kerja atau olah raga sih?"


Theo tertawa lepas, "aku tuh dari kecil hiperaktif nggak bisa duduk diam untuk waktu yang sangat lama, jadi untuk melepas jenuh, aku terkadang main basket sebentar, atau main golf sebentar"


Binar kemudian duduk di sofa melingkar yang besar dan mewah yang berada di tengah ruangan itu lalu bertanya, "sendirian main basket atau main golfnya?"


"Biasanya sih iya. Tapi kadang aku suruh Andik untuk menemaniku main"


"Nggak sama Frida?"


Theo melompat duduk di sebelahnya Binar lalu menciumi wajahnya Binar kemudian berkata, "Frida nggak pernah ngantor. Frida seringnya di lokasi shooting, dia ke sini kalau ambil gaji aja"


"Entah kenapa aku nggak menyukai Frida, Mas"


"Aku juga karena, aku hanya menyukaimu, hehehehe"


Binar terkekeh geli lalu dia berkata, "bekerjalah, aku akan menunggumu di sini sampai kamu selesai bekerja. Aku ingin melihatmu bekerja"


Theo tersenyum dan bertanya, "serius nih? kamu nggak akan bosan?"


"Kalau bosan aku akan suruh Miko naik untuk main golf denganku, hehehehehe"


Theo tertawa lalu mencium pelipisnya Binar dan mengecup bibirnya Binar kemudian bangkit dan mulai bekerja di meja kerjanya. Binar menatap Theo dengan terus mengulas senyum penuh cinta.


Aku nggak nyangka di balik sikap santai, ceria, dan lincahnya, dia bisa begitu serius waktu bekerja dan tampak seksi saat bekerja. Batin Binar sambil terus menatap Theo.


Theo sesekali mengangkat wajah untuk melihat istrinya, Binar melempar senyum jika Theo memandangnya. Dan ajaib, Binar merasa menikmati momen Theo bekerja, dia tidak merasa bosan sama sekali saat dia mengamati suaminya itu bekerja.


Andik kemudian masuk dan kaget saat melihat Binar. Andik segera mengerem langkahnya dan berkata di depan pintu, "nyonya, saya akan berganti baju dan parfum dulu kalau gitu. Saya nggak tahu kalau nyonya ada di sini"


"Nggak usah Ndik, aku ke balkon aja, kamu lanjutkan aja kerjaanmu dengan suamiku" Binar bangkit sambil menutup hidung dia menuju ke balkon dan menutup rapat pintu balkon itu.


Theo mengikuti langkahnya Binar lalu tersenyum, "istriku manis banget ya Ndik"


Andik hanya tersenyum lalu berkata, "Bos, jangan lihat ke balkon terus, kerja, kerja,kerja! Bos"


Theo tertawa dan mulai bergulat kembali dengan pekerjaannya.


Frida bergumam kesal di lokasi shooting, "dasar wanita murahan. Sial! aku gagal mencelakainya karena, Theo terus menempel ke wanita brengsek itu, sial!" Dia terus mengumpat kesal dan tanpa Frida sadari ocehannya didengar oleh salah satu dari anak buahnya Andik. Sejak detik itu pula, anak buahnya Andik itu selalu mengawasi gerak geriknya Frida.


Binar duduk di bangku yang ada di balkon sambil membuka emailnya. Binar menatap email dari Silver Butterfly. Binar mengamati contoh desain yang dikirim oleh Silver Butterfly dan dia langsung terkesan. Tanpa berpikir panjang, Binar menerima Silver Butterfly menjadi karyawan online-nya detik itu juga.