My Pretty Boss

My Pretty Boss
Binar Selamat



Damar akhirnya berhasil sampai di vila keluarganya Hendra tepat di saat Hendra Membopong Binar keluar dari dalam mobilnya Hendra.


Damar langsung berteriak, "lepaskan Binar, Hendra!"


Hendra secara spontan menurunkan Binar, memegang lengannya Binar dan menoleh ke Damar, "Damar? kenapa kau bisa sampai di........?" Hendra langsung menghunus tatapan tajam ke Binar, "kau menghubungi Damar? kapan?"


Binar menyeringai penuh kemenangan sambil menarik lengannya dari genggaman tangannya Hendra, " hah! memangnya aku akan diam saja saat melihat gelagat busuk darimu tadi, cih dasar brengsek! I am not that stupid!" Binar memekik kesal ke Hendra lalu melipat tangan kemudian meringis ketika merasakan pinggangnya kembali terasa nyeri dan membuka lipatan tangannya untuk beralih memegangi pinggangnya.


Hendra mengumpat kesal sembari menarik kembali lengannya Binar dan menghadap ke Damar yang sudah berdiri dengan jarak satu meter di hadapannya.


"Lepaskan Binar! atau aku akan panggil anak buahku kemari untuk menjebloskanmu ke penjara" ucap Binar sembari menempelkan ponsel di telinganya.


Hendra langsung melepaskan lengannya Binar dengan sorot mata penuh kekesalan dan Binar langsung mengambil tasnya dari tangan kirinya Hendra lalu memegangi pinggangnya kembali dan berjalan tertatih, mendekati Damar.


Damar langsung memegang lengannya Binar untuk memapah Binar lalu melotot ke Hendra, "kau apakan Binar?" Damar bertanya sambil merangkul bahunya Binar.


"Aku nggak apa-apain dia bro. Mana mungkin aku menyakiti wanita yang aku cintai. Dia udah kayak gitu dari tadi dan justru dia yang menyakiti aku, dia menggigit pundakku nih" Hendra berucap sambil menyibak kerah kemejanya untuk menunjukkan bekas gigitannya Binar di pundak kirinya.


Damar menatap Binar dan Binar meringis, "iya benar. Apa yang dia katakan benar, heeeee"


Damar terkekeh geli, menggeleng-nggelengkan kepalanya lalu mengalihkan pandangannya ke Hendra, "Jangan panggil aku bro! aku bukan saudaramu bahkan untuk sekadar menjadi temanmu aku tak sudi. Aku kecewa sekali sama kamu Hendra. Setelah ini, jangan ganggu Binar lagi! aku akan menjaga Binar selama dua puluh empat jam penuh jadi jangan harap kamu bisa mengganggunya lagi. Camkan itu!" setelah berucap panjang lebar ke Hendra, Damar memapah Binar masuk ke dalam mobilnya.


Binar menoleh ke Hendra sebelum masuk ke dalam mobil dinasnya Damar, "camkan itu! jangan pernah muncul di depanku lagi! karena lain kali saat kau muncul lagi di depanku, aku akan menghajarmu, dasar brengsek!" lalu Binar masuk ke dalam mobil dinasnya Damar dan Hendra hanya bisa gigit jari menatap kepergiannya Damar dan Binar.


Damar melajukan mobilnya lalu menoleh ke Binar, "kenapa kamu nggak melawannya? kamu kan jago bela diri dan kenapa dengan pinggangmu?"


"Emm, ya karena pinggangku cedera kemarin. Jatuh dari ranjang dan pinggangku terbentur ranjang yang terbuat dari kayu lalu, belum sembuh benar aku ber......emm......" Binar hampir saja keceplosan mengatakan kata bercinta dengan Aksa, ke Damar.


"Ber.......apa?" tanya Damar.


"Ber.....juang menyelesaikan proyek-ku, heeeeee dan lembur, jadi pinggangku sepertinya semakin parah dan kalau digerakkan terasa nyeri" ucap Binar.


"Aku akan membawamu ke rumah sakit untuk periksa" ucap Damar.


"Nggak usah! aku nggak suka bau disinfektan rumah sakit, bikin mual" ucap Binar.


"Kamu harus nurut kalau nggak nurut sama aku maka, untuk selanjutnya jika kau minta bantuan ke aku, aku nggak akan membantu kamu lagi" keseriusan terdengar di nada suara bass-nya Damar.


"Yeeeaahhh, seorang kapten polisi memang selalu tegas dan nggak bisa dibantah" ucap Binar sambil mendesah panjang.


"Hahahaha, itu demi kebaikanmu. Aku salut kamu langsung berinisiatif memencet nomer ponselku dan memang kamu tuh cerdas, aku dari dulu mengagumi kecerdasanmu Binar, kamu selalu bisa menemukan jalan keluar di saat-saat genting" ucap Damar.


"Heeee, biasa aja sih. Aku terbiasa berbisnis dengan banyak orang jadi selalu memiliki antisipasi untuk hal-hal terburuk yang mungkin bisa terjadi, yeeeaahhh, untuk mengurangi kerugian yang bisa terjadi, heeeee" ucap Binar dengan santainya.


"Salut aku! aku bangga jadi sahabat kamu dan sepertinya kamu cocok juga untuk menjadi seorang polisi atau detektif. Otak kamu selalu penuh ide-ide cemerlang" ucap Damar sambil terkekeh geli.


Binar ikutan terkekeh geli lalu mengecek ponselnya, ada lima panggilan tidak terjawab dari kakak perempuannya, lima panggilan tak terjawab dari Aksa, dan tiga buah pesan text.


Binar membuka terlebih dahulu pesan text dari kakak perempuannya, yang berisi :


Kamu ke mana aja, dari semalam kakak telpon nggak kamu angkat. Kakak berangkat ke Belanda sama Arga, pulang paling cepat lusa.


Binar mengernyit membaca pesan text dari kakak perempuannya lalu berkata di dalam hatinya, bagaimana bisa dengar telponmu semalam kak, aku kan kemarin melayang-layang ke langit ketujuh dengan kelasihku, Aksa, hihihihi.


Lalu Binar membuka pesan text dari Theo yang berisi :


Aku udah sampai di Bali dan inginnya ada kamu menemaniku di sini😁😍😘❀️


Binar mencebikkan bibirnya saat membaca pesan text dari Theo yang ter-stempel tanda emotikon aneh bagi Binar. Lalu Binar berucap kesal di dalam hatinya, cih, ngapain kasih emotikon lope lope kayak gini, hmm, dasar gila.


Kamu ke mana? aku telpon nggak kamu angkat? kamu nggak apa-apa, kan? segera telpon aku jika sudah di rumah.


Binar tersenyum lebar penuh cinta lalu memeluk ponselnya setelah dia membaca pesan text dari Aksa.


Damar yang terus fokus menyetir tidak memperhatikan semua ekspresinya Binar. Hingga akhirnya mereka sampai di depan ruang IGD sebuah rumah sakit swasta terdekat dari vila-nya Hendra. Rumah sakit tersebut tidak terlalu besar tapi cukup terpercaya.


Damar melihat Binar dengan penuh tanda tanya, "kenapa kamu peluk ponsel kamu dan tersenyum lebar seperti itu?"


Binar tersentak dan secara spontan memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas kerjanya lalu menoleh ke Damar, "emm, itu, aku baca pesan text dari pacarku, heeeee"


Senyum Damar yang mengandung kecemburuan merekah terpaksa ke Binar saat dia mendengar kalau Binar sudah memiliki pacar. Damar kemudian berucap, "ayok turun! kamu bisa jalan sendiri atau perlu aku ambilkan kursi roda?"


"Emm, kursi roda boleh deh dan terima kasih sebelumnya" ucap Binar.


Damar kemudian keluar dari dalam mobil dinasnya menemui seorang petugas medis yang berjaga di IGD rumah sakit swasta tersebut lalu petugas medis tersebut membawa kursi roda dan membantu Binar untuk duduk di kursi roda tersebut lalu membawa Binar masuk untuk diperiksa.


Binar menjalani serangkaian pemeriksaan hingga harus di-rontgen.


Binar duduk di sebelahnya Damar sambil menunggu hasil rontgen keluar.


Damar memberanikan diri untuk bertanya, "siapa pacar kamu?"


Binar menoleh ke Damar, "pemuda yang usianya jauh di bawahku, yang terpaut sepuluh tahun lebih muda dariku. Aku pernah cerita ke kamu, kan?"


"Ooooo. Kalian akhirnya jadian?" tanya Damar.


"Iya. Dan hanya denganmu aku berani jujur kalau aku berpacaran dengan pemuda yang umurnya jauh lebih muda dariku. Istilah anak jaman now, aku pacaran dengan berondong, heeeee" ucap Binar sambil meringis.


"Jadi dia mau merahasiakan hubungan kalian?" tanya Damar.


"Iya. Dia tipe penurut. Dia selalu saja mengiyakan apa saja kemauanku. Dia lebih muda, jauh lebih muda dariku tapi, selalu mengalah, heeeee" Binar kembali memamerkan gigi putih cantiknya di depan Damar.


"Lalu di mana pacarmu sekarang? kenapa kamu tidak meminta tolong ke pacar kamu tapi kamu malah menghubungiku?" tanya Damar.


"Dia di Bali. Baru sampai di Bali siang tadi" ucap Binar.


"Oh" sahut Damar singkat.


"Menurutmu dia gimana? pacarku? apa dia benar-benar mencintaiku dari penggambaran ku tadi ke kamu?"


Damar tersenyum, "Iya dari penggambaran mu tadi berarti dia memang benar-benar mencintaimu"


Binar langsung mengulas senyum bahagia penuh cintanya sambil membayangkan wajahnya Aksa.


Syukurlah kalau Binar sudah menemukan cowok yang mencintai dia dan Binar pun mencintainya. Walaupun aku harus gigit. jari menyerah kalah pada cintaku sebelum sempat ku perjuangkan. Batin Damar.


Damar kemudian menepuk-nepuk pelan pucuk kepalanya Binar, "terima kasih ya udah memencet nomer ponselku tadi sehingga aku bisa menyelamatkanmu secepatnya kalau enggak.........aku akan sangat menyesal dan sangat sedih jika hal buruk menimpamu"


Binar kemudian mengangkat tangan dan menepuk-nepuk pelan pucuk kepalanya Damar, "terima kasih juga kamu sangat cerdas mengetahui maksudku tadi dan langsung mengambil tindakan untuk mengejar Hendra dan menyelamatkanku"


Kemudian mereka berdua tertawa lepas secara bersamaan.


Aksa menjadi tidak tenang karena, dia mendengar kata pil KB tadi dan Binar tidak mengangkat panggilan teleponnya. Bahkan Binar juga tidak membalas pesan text yang dia kirimkan. Cowok tampan itu berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya tiada henti, menunggu telepon balik dari Binar.


Theo juga mengalami hal yang sama, dia menatap ponselnya terus. Dia mengharapkan balasan pesan text dari Binar namun, Binar belum juga membalas pesan textnya.