My Pretty Boss

My Pretty Boss
Penyakit Yang Menggembirakan



Aksa meraih tas selempangnya lalu berucap, "Ma, Pa, Aksa pulang"


"Tunggu!" papanya Aksa meraih lengannya Aksa.


Aksa menghentikan langkahnya lalu menoleh ke papanya, "kamu ngga makan dulu?"


"Binar mana?" sahut Dara.


"Nggak tahu. Aku dan Binar udah putus. Maaf Pa, aku nggak ada selera untuk makan dan Ma, sampaikan sun sayangku untuk Embun" Aksa kemudian menepis tangan papanya dan melangkah pergi.


"Aksa tunggu! kamu naik apa ke sini tadi?" Kenzo mengejar putranya.


Aksa kembali menghentikan langkah dan berbalik badan, "aku ke sini sama Binar tadi. Naik mobilnya Binar"


"Kalau gitu kau bawa mobilnya papa. Biar papa pulang naik mobilnya mama kamu" Kenzo berucap sembari menaruh kunci mobil mewahnya ke dalam genggaman tangannya Aksa.


Aksa berucap "terima kasih" tanpa senyum dan bergegas pergi meninggalkan papanya.


Dara menatap kepergian Aksa dengan penuh kesedihan dan merasa prihatin atas nasib percintaannya Binar dan Aksa yang harus berakhir pada akhirnya.


Kenzo kembali duduk di samping istrinya dengan sumringah. Dia merasa lega telah berhasil memisahkan putra tunggalnya dengan putrinya Damian Adelard, "aku senang mereka akhirnya putus. Aku akan kenalkan Aksa dengan putri dari salah satu kolegaku. Dia seumuran dengan Aksa dan......"


Dara mendesah panjang lalu bangkit, "aku akan cari Embun" dan pergi meninggalkan suaminya begitu saja. Dara sangat kecewa dengan sikap suaminya yang egois dan tega membawa masuk Aksa ke dalam dendam pribadinya.


"Lho? hei! kok kamu tinggalkan aku sendirian nih, sayang!" Kenzo langsung berucap sambil mengikuti arah perginya Dara. Namun, Dara terus melangkah menuju ke teras belakang restoran tersebut dan mengabaikan panggilan dari suaminya itu.


Aksa mengemudikan mobil mewah milik papanya dengan kencang. Menekan peda gas sampai batas toleransi kecepatan sebuah mobil di dalam kota. Aksa ingin segera sampai di apartemennya dan mengurung diri di dalam kamarnya. Aksa masih belum bisa memahami perasaannya kala itu. Haruskah dia merasa sedih atau lega? Dia belum bisa mencernanya dengan baik.


Begitu sampai di apartemennya, dia membeku ketika dia menatap gelas dan piring berpasangan yang tadi pagi dia pakai sarapan dengan Binar. Aksa kemudian mengambil piring dan gelas itu lalu dia lemparkan semuanya ke dalam bak sampah dengan sangat kasar dan di saat itulah dia bersimpuh di depan bak sampah itu dan mulai menangis sesenggukkan. Hatinya hancur dan terasa nyeri sampai-sampai membuatnya ingin muntah karena, kenyataan dia telah putus dengan Binar, terasa begitu menyakitkan dan menyesakkan.


Binar memasuki halaman rumah mewahnya namun, belum berniat untuk keluar dari dalam mobilnya. Binar merasa seperti seekor kura-kura yang bersembunyi di dalam cangkangnya saat itu. Iya, Binar merasa mobilnya adalah sebuah cangkang dan dia merasa tenteram dan aman di dalamnya.


Air matanya masih belum mau keluar. Masih terkunci rapat seolah ikut merasa muak pada kenyataan hidup yang telah mengejek dan menghukumnya dengan begitu kejam.


Perlahan-lahan, dia menjatuhkan tangan dari kemudi mobilnya dan memandang ke depan melalui kaca depan mobilnya. Pandangannya menjernih dan memfokus pada bayangan seorang laki-laki yang sangat dia kenal. Binar menarik napas dalam-dalam lalu melangkah keluar dari dalam mobilnya.


Theo menatap Binar dengan heran, "ada apa?"


"Untuk apa kau kemari?" tanya Binar di depannya Theo yang sedari tadi berdiri di depan mobilnya.


"Aku lihat mobil kamu masuk ke halaman rumah dan aku bergegas kemari. Mau kasih oleh-oleh dan mengambil anjingku, heeee. Maaf sudah merepotkanmu dan terima kasih udah mau aku titipin anjingku selama aku di Bali" ucap Theo.


Binar tersenyum tipis dan di saat dia hendak meraih paper bag yang disodorkan oleh Theo, tiba-tiba pandangannya menjadi buram, gelap, dan........Bruuuugghhh.


Binar jatuh pingsan dan dengan sigap Theo berhasil menangkap tubuhnya Binar ke dalam dekapannya. Theo kemudian menepuk pelan pipinya Binar, "Bin? kamu kenapa? Bin?"


Theo kemudian membopong tubuhnya Binar lalu memasukkan Binar kembali ke dalam mobilnya Binar dan dia langsung berlari menuju ke belakang kemudi dan meluncur ke rumah sakit terdekat.


Mimi berteriak di saat dia keluar dan langsung mendapati mobil bosnya meluncur keluar dari halaman, "Non! kok pergi lagi sih? hadeeehhh! Mimi bakalan sendirian lagi deh malam ini, hiks hiks hiks"


"Dok! tolong calon istri saya. Dia pingsan dan......" ucap Theo panik sambil merebahkan Binar di atas bed.


"Baik pak! mohon anda keluar dulu, kami akan memeriksa calon istri bapak" ucap dokter tersebut sambil menutup tirai di salah satu bilik yang ada di dalam ruangan UGD rumah sakit tersebut.


Theo melangkah mundur untuk keluar dari bilik itu sambil terus menatap Binar sampai tirainya tertutup rapat.


Theo berjalan mondar-mandir karena, dia sungguh mengkhawatirkan kondisi wanita yang sangat dia cintai itu.


Selang lima belas menit, tirai tersibak dan dokter menemui Theo, "pak, pasien harus dipindah ke ruang kamar rawat inap untuk menunggu hasil laborat keluar. Bapak mau di kamar apa?"


"Kamar VVIP dan ini kartu saya, gesek aja berapa pun biayanya!" ucap Theo.


Dokter itu tersenyum, meraih kartunya Theo lalu menyerahkannya ke perawat yang mendampinginya lalu berucap, "tolong disiapkan semuanya dan gesek kartu ini!"


"Baik, dok! mari pak ikut saya!" ucap perawat tersebut.


Theo langsung bangkit dan mengikuti perawat tersebut menuju ke bagian pembayaran pasien rawat inap. Setelah masalah administrasi terselesaikan dengan baik, Theo mengikuti bed-nya Binar yang didorong oleh dua orang perawat menuju ke kamar rawat inap VVIP.


"Calon istri bapak imut dan cantik banget ya? tidur seperti ini mirip boneka" ucap salah satu perawat yang mendorong bed-nya Binar.


"Iya. Anda benar Sus. Dia memang sangat cantik, imut dan menggemaskan"


"Baik Sus. Terima kasih banyak" sahut Theo sambil mengulas senyum di wajah tampannya.


Theo kemudian duduk di sebelah bed itu dan menggenggam tangannya Binar, "semoga kamu nggak apa-apa? Kamu ini jagoan kok bisa sampai pingsan sih?"


"Emang kalau jagoan nggak boleh tepar?" sahut Binar sambil secara perlahan membuka kedua matanya.


Theo langsung melepas tangannya Binar dan terlonjak kaget, "aaaahhh! syukurlah kamu sudah sadar" saking senangnya, Theo secara spontan memeluk tubuhnya Binar.


Binar mendorong tubuhnya Theo sambil berucap, "walaupun diinfus, aku masih bisa menendang kamu jika kamu berani macam-macam"


Theo menegakkan badannya sambil tertawa geli doa berucap, "fiuuuhh lega deh aku, kamu baik-baik saja"


"Harusnya nggak usah dibawa ke rumah sakit" ucap Binar dengan suara lemas.


"Aku panik dan aku takut masuk ke dalam rumah kamu karena ada makhluk jadi-jadian di sana jadi........"


Binar tergelak geli mendengar kata makhluk jadi-jadian lalu berucap, "Mimi maksud kamu?"


"Iya itulah. Namanya aja kalau pagi dan malam beda, hiiihhh! untuk itulah aku bawa aja kamu ke rumah sakit" ucap Theo dengan gaya khas-nya dan bisa membuat Binar tertawa lepas.


"Dia baik kok. Mimi itu baik dan kamu nggak perlu takut sama dia" ucap Binar.


"Aku phobia sama cowok feminin macam asisten rumah tangga kamu itu, emm, si Mimi itu, bukannya takut" ucap Theo.


Binar kembali tergelak geli bertepatan dengan ketukan di pintu kamar rawat inapnya itu. Theo menyahut, "masuk!"


Dokter dan sala seorang perawat melangkah masuk ke dalam kamar itu dan mendekati Binar, "waaaahhh! anda sudah bisa tertawa dan pastinya berita yang saya bawa ini, akan membuat anda semakin gembira" ucap dokter wanita itu sambil tersenyum lebar ke Binar dan ke Theo.


Theo menautkan alisnya dan Binar langsung memasang raut muka penuh tanda tanya.


"Memangnya penyakit apa yang bisa membuat seseorang itu semakin gembira? aneh nih dokter" sahut Theo dengan polosnya.


Dokter wanita dan perawat yang mendampinginya secara spontan terkekeh geli mendengar celotehannya Theo. Lalu dokter itu berucap, "penyakit kehamilan pak. Selamat ya, calon istri bapak, hamil dan usia kehamilannya masih sangat muda masih satu Minggu dan harus dijaga dengan baik dan........"


"Hamil?" Theo dan Binar melayangkan tanya itu ke dokter yang menangani Binar secara bersamaan.


Kemudian Binar dan Theo saling bersitatap.


"Iya. Hamil. Selamat untuk kalian berdua dan permisi kami tinggal dulu, kalau kelamaan kami di sini akan mengganggu waktu bahagianya kalian merayakan kehamilan ini" dokter wanita dan perawat yang mendampinginya dengan segera pergi keluar dari kamar rawat inapnya Binar.


Theo meraup kasar wajah tampannya lalu menatap Binar dengan tajam kemudian bertanya, "siapa yang menghamili kamu? si Pulgoso eh maksudku Aksa?"


Binar mengganggukkan kepalanya dengan lemas ke Theo.


"Aku akan meneleponnya untuk menjemputmu di si......."


"Jangan! jangan telpon dia"


Theo langsung menoleh ke Binar, "kenapa? dia harus tahu dan dia harus bertanggung jawab"


Binar menggelengkan kepalanya, "dia jangan sampai tahu" suara Binar mulai bergetar menahan tangis.


Theo menautkan alisnya, "kenapa? ada apa sebenarnya?"


"Aku dan Aksa udah putus dan sepertinya aku dan Aksa tidak mungkin bersatu lagi"


"Tapi ada anak. Anak kalian akan mempersatukan kalian lagi apapun masalah yang ada diantara kalian pasti akan luntur dan cair dengan adanya anak di rahim kamu. Anakmu dan Aksa" ucap Theo.


"Biarkan aku berpikir dulu. Aku nggak ingin Aksa tahu saat ini dan kumohon jangan telpon dia dulu. Biarkan aku tenang dulu malam ini" ucap bInar.


"Baiklah! aku akan menemani kamu" ucap Theo.


Binar kemudian memunggungi Theo sambil memegang perutnya.


Jika besok aku menemui Aksa dan mengatakan soal kehamilanku, apa reaksi yang akan Aksa berikan? Apapun reaksinya, aku akan menemui Aksa besok dan mengatakan kalau aku hamil. Batin Binar.


Theo menatap punggung Binar dengan rasa kecewa.


Yeaaahh, kalau memang bukan jodohku, mau berusaha sekuat apapun juga, dia akan menjauh dariku. Semoga Aksa bisa membahagiakanmu karena, di saat Aksa mau menerima kehamilanmu maka aku akan membatalkan perjodohan Kita. Batin Theo