
Di dalam hitungan hari, Binar dan Aksa memang baru saling mengenal, tetapi dalam hal cinta dan rasa mendamba, mereka sudah saling mengenal sangat lama.
Sehingga wajah mendung nan sendu di wajahnya Binar tidak mampu menyembunyikan setiap emosi wanita itu, yang membuat Aksa merasa ingin menyelimutinya dengan cinta dan melindunginya dengan kasih sayang.
"Berhentilah menangis, aku mohon" ucap Aksa sambil mengusap air matanya Binar yang mengucur deras dari kedua pelupuk mata indahnya Binar.
Binar menundukkan wajahnya dan semakin deras tangisannya. Binar tidak bisa menahan tangisannya ketika dia membayangkan semua orang yang dia cintai akan kecewa karena cinta yang dia miliki untuk Aksa dan Aksa akan terluka karenanya.
Aksa mencubit dagunya Binar lalu mengangkat pelan wajahnya Binar kemudian dia tersenyum, "aku sepertinya punya cara untuk menghentikan tangisanmu itu"
"A....aku.....hmmmpptttt"
Aksa kembali mencium bibirnya Binar dan kali ini dengan menggebu-nggebu karena, Aksa didesak aroma hangat dan sensual dari seorang Binar yang sungguh memabukkan bagi Aksa. Mereka merasakan dampak yang sama kuatnya seperti yang dirasakan Aksa saat itu.
Aksa terasa berbeda saat itu bagi Binar. Terasa berbahaya sekaligus menggairahkan, dan Binar begitu terpikat pada pria itu dengan cara yang membuatnya terguncang sekaligus senang.
Ciuman menggoda dari Aksa membuat seluruh angan dan jiwa Binar membumbung tinggi ke angkasa.
"Kau tahu kita berdua sepakat ingin tetap menyimpan rahasia ini.......hubungan kita.....untuk sementara......." bisik Binar lirih di saat Aksa menarik bibirnya untuk meraup oksigen di sekitarnya
"Sampai aku wisuda dan selesai magang di kantormu. Aku akan mengumumkan hubungan kita ke publik dan aku akan menemui keluargamu. Aku akan melamar kamu" ucap Aksa penuh semangat sambil menempelkan pucuk hidungnya di pucuk hidungnya Binar.
"Kau yakin akan itu?"
"Aku yakin" ucap Aksa seraya mendesahkan kata-kaya itu di bibir Binar yang sensitif dan sedikit membengkak akibat dari ciuman menggebu-nggebunya tadi, di saat Binar terus terisak menangis tiada henti dan membuat Aksa berinisiatif untuk menghentikan tangisan kekasihnya itu dengan ciumannya.
"Bukankah lebih baik jika menyerah?" bisik Binar lirih.
Aksa menarik bibirnya dari bibirnya Binar dan angsung memeluk Binar, "jangan katakan kata menyerah! aku mohon, sayang, jangan pernah menyerah!?"
Binar mengulurkan dan melingkarkan lengan di tubuh Aksa dan mendesah panjang.
Aku bodoh di saat aku menerima Aksa menjadi pacarku. Aku terdorong rasa penasaran akan hal yang baru dan ingin hanya sekadar mencobanya. Aku tidak menyangka akan menjadi sedalam ini perasaannya Aksa ke aku. Dan perasaanku...........ucap Binar di dalam hatinya.
Aksa kemudian mendorong pelan tubuhnya Binar lalu dia tangkup wajah cantik kekasihnya itu dengan kedua tangannya, "sepertinya caraku untuk menghentikan tangisanmu cukup jitu ya, heeee. Mulai sekarang, kalau kamu menangis, aku akan langsung mencium kamu"
Binar terkekeh geli lalu memukul dada bidangnya Aksa.
"Berhasil tidak? kok malah dipukul sih?" Aksa meringis di depannya Binar.
"Iya berhasil. Ciuman kamu sehangat dan semanis lelehan cokelat dan mampu menceriakan hatiku lagi, heeee"
Aksa tertawa lepas dan kembali memeluk tubuhnya Binar lalu berucap, "sayang, apa makanan kesukaanmu? warna kesukaanmu?"
"Kamu jahat. Aku tahu semua makanan kesukaanmu, warna favoritmu, tapi kamu kok nggak tahu apa makanan dan warna favoritku?" Binar kembali menepuk dadanya Aksa.
Aksa mengelus bahunya Binar lalu mengecup pucuk kepalanya Binar dan berucap, "hahahaha, aku bercanda. Tentu saja aku tahu apa makanan dan warna favoritmu. Umm.........kamu suka ramen pedas, kamu suka nonton bola, dan kamu suka warna putih dan hitam"
"Seratus buat kamu. Muuuuahhh, aku kasih ciuman karena, kamu benar" ucap Binar sambil mengangkat wajah cantiknya dan mengecup bibirnya Aksa.
"Hahahaha, lalu apa makanan dan warna favoritku?" tanya Aksa.
"Kamu suka steak, kentang goreng, roti tawar dibakar hanya dengan mentega saja, tanpa selai ataupun meses. Terus kamu suka warna merah" ucap Binar lalu mendongakkan wajahnya ke Aksa, "benar kan?"
"Mmuaaahh, kamu benar dan aku kasih kecupan juga" Aksa mengecup bibirnya Binar lalu tergelak geli dan bertanya, "kenapa kamu suka warna putih dan hitam?"
"Umm, warna hitam itu berkesan elegan dan mewah. Kalau warna putih, emm, aku suka karena, banyak orang yang bilang aku lebih cantik kalau pakai warna putih, heeeee"
Aksa tertawa renyah dan mengelus bahunya Binar, lalu mempererat pelukannya sambil berkata, "kamu memang menggemaskan"
"Kalau kamu kenapa suka warna merah?" tanya Binar.
"Karena merah itu juga punya kesan mewah dan kata orang, aku lebih tampan kalau pakai warna merah" ucap Aksa sambil terkekeh geli dan Binar langsung melepas tawa renyahnya lalu mencubit mesra kedua pipinya Aksa.
Aksa mencium keningnya Binar lalu dia bertanya, "kenapa kamu suka anjing?"
Aksa memang sengaja memberikan banyak pertanyaan untuk mengalihkan kesedihannya Binar sebelum mereka balik ke rumah kakeknya. Aksa ingin Binar kembali ceria dan tidak mengingat hal-hal yang membuat Binar khawatir dan sedih.
"Karena anjing lucu dan setia"
"Sama kayak aku dong. Aku lucu dan setia" sahut Aksa sambil.
Binar kembali melepas tawa renyahnya dan Aksa tersenyum lebar penuh cinta ketika dia menatap wajah ceria kekasihnya itu.
Kakek dan neneknya Aksa menyambut kepulangannya Aksa dan Binar dengan senyum ceria namun, neneknya Aksa bisa menangkap gurat kesedihan di wajah cantiknya Binar.
Binar tersenyum dia mencium punggung tangan kakeknya Aksa lalu memeluk neneknya Aksa. Neneknya Aksa mengelus punggungnya bInar dan bertanya, "kamu nggak apa-apa kan, nak?"
Binar menggelengkan kepala sembari melepas pelukannya lalu mencium pipi neneknya Aksa dan berucap, "Binar mandi dulu ya, nek" lalu Binar melangkah lebar masuk ke dalam rumah untuk mandi.
Aksa duduk di kursi yang mengelilingi meja bundar yang terletak di teras depan rumah kakeknya.
"Ada apa? ceritakan ke nenek dan kakekmu ini?" tanya kakeknya Aksa.
Aksa mendesah panjang lalu menceritakan semua kejadian yang dia dan Binar alami sewaktu mereka berada di restorannya Alex.
"Dari dulu, kakek udah nggak suka sama Jojo. Dia selalu aja nempel ke kamu, selalu aja minta diajari matematika, fisika, dan bukannya memerhatikan buku pelajarannya, dia malah terus memandangi wajah kamu, cih! dasar gadis nggak tahu malu dan nggak punya sopan santun"
"Nenek juga sama. Nenek sebenarnya tidak menyukai Jojo namun, nenek selalu bersikap baik ke dia karena, dia putri kepala desa dan dia teman sekolah kamu"
"Mulai sekarang, jangan berhubungan lagi dengan gadis manja dan nggak tahu malu itu" sahut kakeknya Aksa.
Tiba-tiba datanglah Jojo ditemani oleh mamanya. Seorang wanita seusia almarhum mamanya Aksa namun, wajahnya dipenuhi make-up tebal dan ceriwisnya minta ampun. Sangat jauh berbeda dengan sosok almarhum mamanya Aksa padahal mamanya Aksa dan mamanya Jojo berteman sedari mereka masih kecil.
"Aaaah, silakan masuk!" neneknya Aksa langsung berdiri diikuti Aksa dan kakeknya untuk menyambut tamu tak diundang mereka.
"Terima kasih nek, waaahhh, lagi pada ngumpul sambil minum teh dan makan pisang goreng, nih? asyik, dong" kata mamanya Jojo.
Kakeknya Aksa langsung melangkah masuk tanpa permisi karena, kakeknya Aksa selalu merasa sakit kupingnya setiap kali mendengar keceriwisannya mamanya Jojo.
"Sudah di sini saja nek, adem, heeee" ucap mamanya Jojo sambil tersenyum dan mengajak Jojo untuk duduk di bangku teras tersebut.
Jojo duduk di sebelahnya Aksa, dia menoleh ke Aksa dengan senyum manisnya dan Aksa bergegas bangkit sambil berucap, "saya bikin minum dulu, permisi" lalu kekasihnya Binar itu melangkah masuk ke dalm rumah.
Aksa berpapasan dengan Binar yang baru keluar dari dalam kamar neneknya Aksa, "ada tamu?"
"Iya dan aku larang kamu untuk keluar!" ucap Aksa sambil mencekal lengannya Binar.
"Kenapa? memangnya siapa yang datang?"
"Jojo dan mamanya" ucap Aksa.
"Maka aku sarankan kamu juga jangan menemui mereka!" ucap Binar.
"Iya kalian nggak usah keluar daripada pendengaran kalian terkena polusi udara" sahut kakeknya Aksa yang muncul dari arah dapur sambil membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat dan sepiring pisang goreng hasil kreasi neneknya Aksa.
"Biar Binar yang bawa, kek" ucap Binar sambil meraih nampan yang dibawa oleh kakeknya dan Aksa pun berucap, "Aksa aja kek" namun, sang kakek menepis tangannya Aksa dan Binar, sang kakek terus berjalan menuju ke teras depan rumahnya sambil berucap, "jangan keluar di dalam saja! biar kakek dan nenek yang menemui mereka"
Kakeknya Aksa menaruh nampan di atas meja dan berucap, "silakan dinikmati dan dia duduk di sebelah istrinya.
"Terima kasih. Umm, emm, anu......kedatangan saya kemari berkaitan dengan ceritanya Jojo soal Aksa. Jojo bilang kalau Aksa pulang dengan calon istrinya dan calon istrinya itu tidak sepadan dengan Aksa jadi saya pikir.........."
"Kalau anda kemari hanya untuk membicarakan soal Aksa dan calon istrinya maka lebih baik anda pulang karena, saya tidak tertarik dengan pikiran dan pendapat anda" sahut kakeknya Aksa kesal.
Neneknya Aksa langsung menaruh tangan renta-nya di atas paha suaminya untuk memenangkan emosi suaminya atas ucapan tamu mereka. Kemudian neneknya Aksa berbicara dengan nada lembut, "maaf Bu, urusan Aksa dan calon istrinya biarlah menjadi urusan kami dan kami tidak membutuhkan pendapat dari anda. Bagi kami yang penting mereka saling cinta dan bahagia"
"Tapi nek, kek, calon istrinya Aksa jauh lebih tua dari Aksa dan bagaimana pandangan masyarakat tentang mereka nanti? apa tidak kasihan Aksa kalau......." Jojo langsung menghentikan ucapannya saat kakeknya Aksa mulai menggebrak meja secara pelan.
"Bagi kami yang terpenting adalah, Aksa bahagia bersama wanita pilihannya. Kami juga sudah mengenal dengan baik calon istrinya Aksa dan kami sangat menyayanginya. Dia juga menyayangi kami dengan tulus. Calon istrinya bukan hanya menyayangi Aksa, dia juga menyayangi keluarganya Aksa dengan tulus itu point plus-nya, dengar itu!" keseriusan terdengar jelas di nada bicaranya kakek.
Mamanya Jojo langsung bangkit menarik tangan anaknya sambil berucap, "kalau begitu kami permisi"
Mamanya Jojo dan Jojo akhirnya pergi meninggalkan rumah kakek dan neneknya Aksa dengan kesal.
Kakek dan neneknya Aksa pun saling melempar senyum penuh kelegaan karena, tamu mereka yang ceriwis seperti burung Cucak Rowo itu tidak bertamu lama di rumah mereka.
"Dasar ngeyel! dikasih tahu malah ngeyel. Aku jadi pengen tahu kayak apa calon istrinya Aksa" gumam mamanya Jojo dalam perjalanan pulang menuju ke rumahnya.
"Sangat cantik, elegan, dan wangi, Ma. Jagoan pula" sahut Jojo.
Mamanya Jojo menoleh ke Jojo dengan kesal, "kenapa kau malah memujinya?"
"Heeee, lha mama nanya seperti apa wanita itu, ya Jojo jawab apa adanya karena, dia memang sangat cantik dan elegan"
Mamanya Jojo mendengus kesal ke arah Jojo.