My Pretty Boss

My Pretty Boss
Aksa Sampai di Indonesia



"Saya siap mendapatkan ganjaranMu, Tuhan jika keputusan egoisku ini, membuatMu kecewa" gumam Theo kala itu di saat ia terisak di dalam kesunyian, seorang diri.


Lima tahun kemudian..........


Theo membisikkan kata-kata erotis tentang fisiknya Binar yang masih tampak sempurna di umur Binar yang genap menginjak tiga puluh lima tahun di hari itu. "kau bisa menggodaku di setiap waktu dan bisa berubah drastis menjadi seorang ibu dari dua orang anak. Kau berubah drastis saat kau mengasuh Mada Tobias Revano dan Aries Tobias Revano kedua putra kita"


Binar memutar kepalanya ketika Theo menyentuhkan hidungnya di kulit lehernya Binar, hingga wajah Binar menghadap Theo. Lalu mereka berciuman dengan ciuman yang manis. Dengan mengunci kedua bibir mereka, Theo mengelus tengkuknya Binar dan membenamkan lidahnya sedalam-dalamnya. Lidah itu bergerak dengan gesit sementara jari-jarinya terus mengelus, ibu jarinya menggoda, dan telapak tangannya menyusuri setiap jengkal tubuh istri tercintanya itu.


Sambil mengerang, Theo memeluk Binar erat-erat sambil membenamkan wajahnya pada leher Binar, Theo bergumam, "selamat ulang tahun cantik" Lalu Theo merogoh kantong piyamanya, mengeluarkan seuntai kalung berliontin kupu-kupu bertahtakan berlian dan memakaikannya di leher cantiknya Binar.


Binar tersenyum manis, "terima kasih, Mas"


Theo menatap Binar dengan senyum dan tatapan penuh cinta lalu ia berucap, "kau istriku, ibu dari kedua putraku. Kau dengar itu? kau istriku dan......"


Binar tersenyum bahagia lalu ia segera memeluk erat suaminya dan berkata, "aku dengar Mas dan kau suamiku. Suami terbaik di dunia ini"


Ketika Theo melepaskan Binar, tatapannya telah dipenuhi kabut gairah. Theo lalu mengelus bahu Binar lalu masuk ke dalam piyamanya Binar. Dengan terpukau, mereka berdua mengamati tangan Theo yang kuat yang tengah menyentuh Binar. "Kau terasa ....Ya ampun! Kau terasa begitu luar biasa, istriku" pekik Theo.


Sentuhan Theo begitu yakin, tanpa malu-malu, tegas, dan terasa begitu hangat dan bahan tipis berenda yang menutupi dada Binar tidak mampu menjadi penghalang kehangatan dari sentuhannya Theo. Tangan Theo dengan lembut meremas, membelai, dan mengusap dada Binar. Daging kenyal nan lembut itu memenuhi telapak tangannya Theo.


Di saat Theo melihat kedua netra Binar menggelap karena gairah, ia meneruskan belaian-belaiannya, lalu dengan pelan Theo merebahkan tubuh Binar di atas ranjang untuk melakukan penyatuan cinta dan raga mereka.


Ketika Theo hendak melanjutkan ke ronde berikutnya dengan ciuman-ciuman kecil di bibirnya Binar tiba-tiba, ada suara tangis bayi yang memekakkan telinga mereka. Putra kedua mereka yang bernama Aries yang masih berumur satu tahun terbangun dari tidurnya dan langsung menangis di dalam box bayinya.


Theo segera bangun, memakai kembali celana kolornya dengan cepat lalu melesat menuju ke box bayi untuk mengecek Aries.


Binar membetulkan piyamanya lalu ia duduk sambil bersandar di ranjang, "haus mungkin, sini biar aku susui!"


"Bersihkan dulu badanmu, mandilah! biar Aries aku yang urus dan pergilah ke kamarnya Mada siapa tahu Mada sudah bangun juga saat ini"


Binar segera bangkit dan melesat ke kamar mandi. Lima belas menit kemudian, Binar keluar dari dalam kamar mandi dan melihat Theo sedang menyusui Aries dan Mada yang sudah tampak rapi berbaring di samping adiknya.


Binar lalu memegang botol susu yang masih dihisap Aries lalu berkata ke Theo, "mandilah Mas! malu sama Mada tuh, Mada udah cakep dan wangi"


Theo mencium keningnya Mada lalu mencium keningnya Aries dan bangkit untuk melesat ke kamar mandi.


Mada yang pendiam mengelus pipi adiknya dengan penuh kasih sayang. Lalu Mada menatap Binar dan berkata, "Bunda, selamat ulang tahun dan ini kado dari Mada" ia bangun, duduk bersila dan memberikan sebuah buku sketsa gambar ke Binar.


Binar menaruh botol susu yang telah kosong dsn telah tercabut dari dalam mulutnya Aries di atas nakas lalu menerima buku sketsa gambar itu sambil terus menatap wajah tampannya Mada.


"Sayang, kenapa harus pakai hadiah segala, sih?"


Mada hanya tersenyum membalas ucapan bundanya.


Aries bangun dan merebahkan kepalanya di atas pangkuannya Mada. Mada tersenyum geli sambil mengelus kepala adiknya dengan penuh kasih sayang. Aries bergumam, "tak...tak.....ya ....ya...da....da...da" dan Mada semakin melebarkan senyumannya lalu bertanya, "kamu udah pinter ngomong ya Dek?"


"Ya...ya" sahut Aries tanpa beranjak dari atas pangkuannya Mada. Mada tertawa renyah sambil mengelus kepalanya Aries.


Binar segera memangku Aries lalu menarik Mada untuk ia peluk erat-erat putranya itu, "makasih sayang, ini kado terindah yang belum pernah bunda dapatkan sebelumnya"


Theo muncul dari dalam kamar mandi dan tertegun melihat Binar memeluk erat kedua putranya sambil terisak menangis.


"Ada apa?" tanya Theo.


Binar melepaskan Mada lalu berkata sambil mengusap air matanya, "ini hadiah dari Mada, bukalah! aku akan memandikan Aries dulu"


Theo memangku Mada lalu mulai membuka buku sketsa gambar yang diberikan oleh bInar. Theo mencium kepalanya Mada dan bertanya, "ini beneran ayah? wah! Ayah tampak tampan sekali di gambar ini? apa Ayah setampan ini?"


Mada memutar kepalanya lalu berhadapan dengan papanya. Mada tersenyum dan berkata, "Ayah bukan hanya tampan tapi ayah adalah ayah terbaik dan terhebat di dunia ini" sahut Mada.


Theo segera meletakkan buku sketsa gambar itu di atas ranjang lalu ia peluk Mada dengan erat, "terima kasih Mada udah menjadi putra terbaik dan terhebatnya Ayah"


Mada terkekeh senang dan membalas pelukan ayahnya dengan sangat erat.


Tiga Puluh Menit kemudian keluarga kecil nan bahagia itu turun ke lantai bawah untuk menikmati masakannya Miko yang akhirnya berhasil menikah dengan Dita namun, ia masih bekerja sebagai chef pribadinya Binar.


Semua keluarga besar ternyata telah menunggu di lantai bawah sambil membawa hadiah untuk Binar sambil terus menyanyikan lagu happy birthday mengiringi langkah Binar yang tengah menggendong Arie, Theo, dan Mada, menuruni anak tangga.


Aksa dan Monica telah sampai dengan selamat di bandara dan Monica memekik girang, "akhinya aku bisa menginjakkan kakiku dan menghirup udara di Indonesia"


Aksa tersenyum melihat tingkah polosnya Monica.


Aksa telah berhasil menjadi CEO muda yang bergerak di bidang desain aksesoris dan bisnisnya sukses menjamur di seluruh negara Eropa dan di hari itu, Aksa mulai merambah pasar Asia dan ia berniat memulainya di Indonesia. Gaji yang ia dapatkan dari Binar selama ia menjadi karyawan online-nya Binar, ia kumpulkan dan berhasil ia jadikan modal untuk memulai bisnis kecilnya tiga tahun silam dan bisnisnya itu pun bisa berkembang dengan pesat dan seketika itu pula merubah Aksa menjadi CEO muda berbakat, tampan, kaya raya, dan digilai oleh kaum hawa.


Mereka naik taksi online menuju ke rumah yang berhasil Aksa beli via online setahun silam setelah ia memiliki niat untuk mengembangkan bisnisnya di Indonesia. Monica memberanikan diri untuk bertanya, "kenapa akhirnya kau memutuskan untuk menginjakkan kakimu kembali di Indonesia?"


Aksa mendesah panjang laku berkata, "karena, aku sudah bisa berdamai dengan masa lalu dan berdamai dengan diriku sendiri dan besok aku akan mengunjungi keluargaku lalu lusa aku akan ke Kudus untuk menjemput kakek dan nenekku. Aku akan ajak mereka tinggal bersamaku"


Monica lalu bertanya dengan penuh semangat, "kau sudah berdamai dengan masa lalu kamu berarti kau sudah bisa move on? kau sudah mau membuka hati kamu untuk wanita lain?"


Aksa mengusap kepalanya Monica lalu menggelengkan kepalanya, "aku belum bisa mencintai wanita lain aku masih menyimpan cinta yang begitu besar untuk Binar Adelard"


Monica yang saat itu sudah mulai mencintai Aksa hanya bisa berkata, "oh!" lalu diam membisu.


"Tapi aku nggak akan mengusik kehidupannya. Dia sudah punya dua anak dan dia sudah bahagia. Aku bahagia jika ia bahagia" ucap Aksa.


"Lalu kau sendiri? kau tidak ingin bahagia dengan menemukan cinta yang lain?"


"Hatiku terlalu penuh dengan kenangan saat aku masih bersama dengan Binar Adelard dan tidak ada tempat untuk kenangan baru" ucap Aksa dengan santai.


Andai kau bisa mencintaiku sedalam itu, Sa. Batin Monica.