
Selesai mandi, Binar bergabung dengan kakek, nenek, dan Aksa untuk sarapan.
"Cicipi bandeng presto bikinan nenek, nih" neneknya Aksa memberikan sepiring bandeng presto untuk Binar.
"Bandeng presto-nya nenek merajai penjualan di semua outlet oleh-oleh di kota ini lho" ucap Aksa.
Binar membeliak ke neneknya Aksa, "benar nek?"
"Laris lumayan, bukannya merajai, hmm, Aksa memang pintar melebih-lebihkan" ucap neneknya Aksa.
"Itu benar kok" sahut Aksa.
"Kakek jatuh cinta pada nenek itu karena, masakannya. Istri kakek ini selain dulunya bunga desa, dia ramah, baik hati dan pandai memasak. Dulu saingannya kakek banyak banget pakai mobil semua kalau main ke rumah nenek kamu, nih. Tapi, kakek berhasil meluluhkan papa mertuanya kakek dan kakek juga berhasil meluluhkan hati nenek kamu ini. Kakek sungguh beruntung" ucap kakeknya Aksa sambil mengelus rambut putih istrinya dengan penuh cinta.
"Aawwww! kakek so sweet banget sih" pekik Binar sambil mencuil bandeng presto hasil kreasinya neneknya Aksa lalu berucap sambil mengacungkan jempol kanannya, "hmm! numero ini nih bandeng, pantes kalau merajai di seluruh gerai oleh-oleh kota ini" Binar kemudian tersenyum dan meneruskan memakan bandeng presto-nya.
"Syukurlah kalau kamu suka. Besok kalau pulang, kamu bawa yang banyak untuk oleh-oleh" sahut neneknya Aksa sambil melempar senyum lebar ke Binar.
"Kek, nggak mencicipi soto Kudus-nya? Aksa ambilkan ya?" tanya Aksa.
"Nggak usah! kakek nggak begitu suka makan masakan yang bukan hasil karya nenek kamu" sahut kakeknya Aksa.
Binar mengangkat wajah cantiknya kemudian bertanya, "lho, sotonya bukan nenek yang masak?"
Aksa menggelengkan kepalanya.
"Itu yang masak si nenek lampir?" sahut kakeknya Aksa.
Neneknya Aksa langsung menepuk pelan bahu suaminya, "ssstt! nggak baik ngatain orang pas makan kayak gini"
Kakeknya Aksa mencium pipi istrinya dan berkata, "maaf ya sayang"
"Lalu siapa itu nenek lampir?" Binar masih melukis kebingungan di wajah cantiknya.
"Istrinya pak kepala desa. Dia itu pribadi yang aneh, egois, nggak bisa bersosialisasi dan watak jeleknya itu nurun ke putri tunggalnya" sahut kakeknya Aksa dengan kepolosannya.
"Tuh! baru aja minta maaf udah diulangi lagi ngatain orang" ucap neneknya Aksa dan sang kakek hanya bisa meringis sambil mengelus tengkuknya.
Binar dan Aksa pun dibuat geli melihat tingkah polos sang kakek di depan sang nenek.
"kalau egois Kok mau berbagi makanan?" tanya Binar.
"Itu karena permintaan putrinya. Putrinya itu teman sekolahnya Aksa dan..........."
"Uhuk!" Aksa langsung berdeham memberikan kode ke kakeknya agar kakeknya itu tidak mengutarakan kecurigaan kakek soal perasaan Jojo ke Aksa.
Binar mengelus punggungnya Aksa sambil memberikan segelas air ke Aksa sambil menatap kakek dan bertanya, "dan apa kek?"
"Aaahhh, hahahaha, nanti kamu juga akan tahu. Nanti Aksa akan ajak kamu ke rumahnya untuk memberikan oleh-oleh" sahut kakeknya Aksa.
Binar kemudian tersenyum dan mereka kembali meneruskan sarapan mereka dan tepat di jam tujuh pagi, mereka berangkat ke makam mamanya Aksa.
Binar duduk di samping pak supir yang tampan banget di pagi itu. Aksa memakai t-shirt berkerah dengan logo merk terkenal berbahan adem dan berwarna merah, warna kesukaannya Aksa selain warna putih Kakek dan neneknya Aksa duduk di jok tengah dari mobil tersebut.
Binar beberapa kali mencuri pandang ke pak supir dan Aksa pun terkekeh dibuatnya. Aksa melirik Binar dan bertanya, "ada apa? kok curi-curi pandang terus?"
Binar langsung mengarahkan pandangannya ke depan dengan rona malu di wajah sambil bergumam, "habisnya pak supirku hari ini cakep banget"
"Hahahaha, tiap hari aku tuh emang cakep, benar kan, nek" Aksa menoleh sekilas ke belakang.
"Iya dong cucu siapa dulu" sahut neneknya Aksa sambil tertawa renyah.
"Mirip sama kakeknya kan?" sahut kakeknya Aksa.
"Iya benar mirip" sahut Binar.
Dan mereka pun secara bersamaan menggemakan tawa mereka.
"Habis dari makam kita mampir ke pantai dulu" ucap kakeknya Aksa.
"Nanti sore aja kek ke pantainya, kalau siang panas" sahut Aksa.
"Kita nanti jalan bareng-bareng ke pantainya? waaahhh! pasti asik banget jalan beramai-ramai" Binar memekik dengan kilatan cahaya semangat di kedua manik hitamnya.
"Kita naik mobil nanti" sahut kakeknya Aksa.
"Lho katanya kakek kemarin, pantainya dekat dari rumah, jalan kaki satu jam nggak akan terasa capek karena melewati banyak sekali pemandangan yang indah" ucap Binar sambil menoleh ke belakang.
"Kakek kamu ini memang suka melebih-lebihkan, jalan kaki selama satu jam ya tetap saja capek. Kamu mulai dari sekarang harus berhati-hati dengan ucapan kakek karena, ucapannya seringkali lebay kalau kata anak jaman sekarang, heeeee" neneknya Aksa terkekeh sambil mengelus mesra pipi renta suaminya.
Aksa tertawa geli ketika menoleh sekilas ke belakang dan menangkap wajah cemberut kakeknya. Binar ikutan tertawa dan berkata, "kek, mobil ini masih bagus banget ya kondisinya?"
Wajah cemberut sang kakek langsung berubah cerah ceria, "iya masih bagus kan. Kakek beli baru di tahun 2010. Kakek selalu mencucinya setiap pagi, kakek selalu rawat dan nggak pernah terlambat untuk servis dan lain-lainnya jadi masih berkilau kan?"
"Iya, kakek memang hebat! Binar salut deh!" ucap Binar sambil mengacungkan jempol ke kakeknya Aksa dan kakeknya Aksa langsung tertawa senang penuh kebanggaan pada dirinya sendiri.
Kenzo menaruh sebuket mawar putih, mawar kesukaannya Dona. Lalu bersimpuh dan merebahkan kepalanya di atas nisan almarhum istrinya itu lalu memeluk pusara itu. "Aku sangat merindukanmu, sayang" Kenzo mulai terisak menangis.
Tidak jauh dari tempat nisannya Dona, Damian berdiri dengan membawa seikat bunga mawar berwarna putih yang tidak kalah indah dan tidak kalah mahal dengan bunga yang dibawa oleh Kenzo.
Damian nampak ragu untuk melangkah mendekati sahabatnya itu. Bagaimanapun keras kepalanya Kenzo, Damian tetap menganggapnya sebagai seorang sahabat walaupun tidak demikian dengan Kenzo.
Kenzo terus merebahkan diri di atas pusara itu dengan punggung bergetar karena, tangisannya menjadi semakin hebat. Kenzo kemudian berteriak, "aaaaaaaa!!!" dengan sangat lantang untuk melepaskan sesak batinnya yang terjerat oleh rasa cinta, kerinduan dan penyesalan.
Damian langsung berlari dan memeluk sahabatnya itu sambil menaruh buket bunga yang dia bawa di atas pusara-nya Dona.
Kenzo menegakkan badan ketika merasakan dirinya dipeluk oleh seseorang. Dia kemudian menoleh dan langsung bangkit sambil mendorong jauh tubuhnya Damian dengan sangat kasar.
Damian terduduk di atas tanah dan dengan segera bangkit sambil terus menatap wajah ganteng sahabatnya itu.
Kenzo menghunus tatapan penuh dendam, kebencian, dan kemarahan ke Damian dan dia pun berteriak, "pergi kamu! pergiiiiiii!!!!"
"Kenzo kamu jangan seperti ini. Ingat! Kita di makamnya Dona" ucap Damian.
Kenzo menggertakkan gigi gerahamnya, "justru karena aku sadar betul kita di makamnya Dona, aku minta kau pergi!"
Damian mendesah panjang kemudian berucap, "ingat persahabatan kita. Aku sedih banget kita jadi seperti ini hanya karena, kesalahpahaman. Jangan keras kepala lagi, aku mohon"
Kakek dan neneknya Aksa langsung melangkah lebar ketika melihat Damian dan Kenzo saling berhadapan penuh dengan ketegangan
Binar yang berjalan bergandengan tangan di belakang kakek dan neneknya Aksa, langsung mengerem langkahnya, "Papa?"
Aksa menoleh ke Binar, "itu papa kamu?"
Binar mematung lalu menganggukkan kepalanya.
"Bagus dong, ayok kita temui beliau! ada papaku juga jadi kita........"
Binar langsung berputar badan tanpa melepas tangannya Aksa dia kemudian berlari kembali kembali ke parkiran mobil dengan sangat kencang.
Aksa terpontang-panting mengikuti laju larinya Binar sambi terus menggenggam dan menarik tangannya Aksa. Aksa memekik, "Binar, berhenti! berhenti!"
Binar langsung mengerem laju larinya di depan mobil kakeknya Aksa persis lalu melepas tangannya Aksa dan terengah-engah.
"Kenapa lari?" Aksa melotot tajam ke Binar.
Binar menoleh ke Aksa sambil terengah-engah dia berucap, "ya karena, ada papaku dan papamu"
"Lalu kenapa?" Aksa mulai berkacak pinggang.
"Ya karena, kita berpacaran dan aku........"
"Sampai kapan begini terus?" tanya Aksa dengan wajah serius dan nampak menakutkan bagi Binar.
Binar menundukkan wajah cantiknya, memainkan ujung kakinya di atas tanah dan berucap lirih, "sampai aku percaya diri dan merasa layak menjadi pacar kamu"
"Apa sekarang nggak layak? apa yang membuat hubungan kita ini nggak layak? coba ka........"
Binar kembali menarik tangannya Aksa dengan paksa ketika dia mendengar bunyi langkah kaki dan melihat papanya berjalan menuju ke parkiran mobil itu. Binar memaksa Aksa masuk ke dalam mobil dan dia dorong Aksa lebih masuk ke dalam lagi lalu dia melompat masuk di belakangnya Aksa. Wajah cantiknya Binar menempel di pantatnya Aksa.
Aksa hendak berputar tapi tangan Binar lebih gesit mengunci tubuhnya Aksa agar tetap pada posisi semula agar tidak terlihat dari luar dan tertangkap basah oleh papanya.
Binar terus menahan Aksa yang terus meronta ingin lepas dari kunciannya Binar. Sampai bunyi suara mobil papanya yang sangat dia hapal, telah menjauh, dia lalu melepaskan Aksa.
Aksa bangkit lalu duduk di jok tengah mobil kakeknya itu sedangkan Binar dari jongkok, dia bersila di depannya Aksa.
"Kenapa duduk di bawah? kotor itu. naik sini!" Aksa menepuk jok mobil itu, "aku sepertinya harus memberimu hukuman"
Binar langsung berputar badan, membuka pintu mobil dan melompat turun sambil berucap, "nenek dan kakek menunggu kita, ayok kita ke sana"
Aksa justru tertawa lalu berucap, "yakin mau ke sana?"
"Iya! ayok!" ucap Binar.
"Tapi papaku belum pergi. Papaku masih di sana" ucap Aksa.
Binar kembali melompat masuk ke dalam mobil itu dan duduk bersila kembali di depan Aksa.
"Sampai kapan kita akan seperti ini? kakek dan nenek sudah merestui kita. Mama tiriku dan Embun juga menyetujui hubungan kita lalu apalagi yang kamu khawatirkan? Aku nggak takut bertemu dengan papamu. Aku justru ingin segera bertemu dengan papamu lalu melamar kamu"
Binar menepuk pahanya Aksa, "melamar apa? aku belum siap me........."
Aksa langsung membuka pintu mobil dan melompat turun meninggalkan Binar sendirian di dalam mobil. Aksa menuju ke makam mamanya.
Satu detik, dua detik, sampai detik ketiga waktu melaju, Binar masih ragu untuk menyusul Aksa. Tetapi akhirnya di detik kelima, dia membuka pintu mobil itu melompat turun dan menyusul Aksa.
Aksa menghentikan langkahnya lalu berputar badan dan merentangkan kedua tangannya. Binar melompat masuk ke dalam pelukannya Aksa dan berucap, "oke! kita temui papa kamu dulu sekarang, baru nanti kita siapkan waktu dan hati kita untuk menemui papaku"
Aksa mencium pucuk kepalanya Binar lalu melepas pelukannya dan menggandeng tangannya Binar sambil berucap, "terima kasih, sayang"