My Pretty Boss

My Pretty Boss
Kenapa Sulit Untuk Jujur



"Aksa sudah tahu kalau papanya menuduh almarhum mamanya dan papa kamu selingkuh dari buku harian mamanya. Karena itulah Aksa memilih untuk menyendiri saat ini, dia tidak berniat balik ke Indonesia lagi karena, ia pikir sudah tidak ada lagi yang harus ia perjuangkan" kata Dara.


Binar terus menangis mendengarkan ucapannya Dara dan saat pintu kamarnya terbuka, ia segera memalingkan muak untuk menghapus air matanya. Dara juga menghapus air matanya sambil bangkit dan berkata, "kami menangis karena, melepas rindu"


Theo semakin mendekap Mada dan tersenyum menanggapi ucapannya Dara. Embun kemudian berlari memeluk mamanya dan berkata, "Ma, Embun boleh bobok di sini malam ini? Embun pengen bobok bareng dek Mada karena........"


"Dek Mada sangat lucu dan menggemaskan, iya kan, Embun?" Theo segera menutup kalimatnya Embun dengan kalimatnya karena, Theo takut Embun akan mengatakan kemiripan wajahnya Aksa dengan Mada.


Embun segera memutar badan menghadap ke Theo lalu tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "iya, dek Mada sangat lucu dan menggemaskan"


Dara memeluk Embun dari arah belakang dan berkata, "sayang, kalau kamu bobok di sini, nanti merepotkan om Theo dan Tante Binar"


"Kak Binar. Bukankah kak Aksa menyuruhku untuk memanggil kakak ke kak Binar? kenapa sekarang harus ganti Tante?" protes Embun.


"Itu karena......." Dara menggantung kalimatnya sembari menoleh ke Binar.


Binar hanya bisa mengangkat kedua pundaknya.


"Karena, kak Binar udah punya dedek bayi jadi kamu harus memanggilnya Tante mulai dari sekarang" sahut Kenzo dengan sangat cepat.


"Okelah kalau begitu" ucap Embun sambil tersenyum lebar ke papanya.


Binar bersitatap dengan Theo dan Binar menangkap banyak tanya di kedua manik hitamnya Theo. Binar menghela napas panjang lalu berkata, "Mas, letakkan Mada di box-nya! kamu capek nanti kalau Mada kamu gendong terus"


Theo menggelengkan kepalanya ke Binar sambil berkata, "aku nggak capek kok karena, aku masih ingin menggendong Mada" lalu ia melempar senyum tampannya ke Binar.


Dara segera melangkah mendekati Theo dan secara refleks, Theo melangkah mundur.


Dara menautkan alisnya laku segera bertanya, "kenapa anda terus mundur pak? saya cuma ingin melihat putra anda dan kalau diijinkan, saya ingin menggendongnya"


Theo menghentikan langkah mundurnya dan segera menjawab, "anak saya tidur saat ini jadi maaf kalau saya tidak ijinkan anda untuk melihat atau menggendongnya"


Binar melempar mimik wajah penuh tanya ke Theo namun, ia tidak kuasa untuk mengeluarkan kata tanya, kenapa suaminya bersikap aneh seperti itu.


Embun menarik ujung blus mamanya dan kembali bertanya, "boleh nggak nih Embun bobok di sini, semalam aja?"


Dara menunduk untuk menatap wajah cantik putrinya, "sayang, nggak boleh dong. Kasihan om Theo dan Tante Binar nanti kerepotan ngurus kamu dan ngurus dek Mada"


"Kata om Theo nggak apa-apa, kok" protes Embun sambil memonyongkan bibirnya.


"Kamu juga belum bawa baju ganti, kan? jadi pulang aja ya? besok kita ke sini lagi"


"Besok kita sudah pulang" sahut Theo dengan senyum tampannya dan masih mendekap Mada dengan erat.


"Kalau gitu, besok Embun bobok di rumahnya Tante Binar dan Om Theo, boleh?" Embun melonjak-lonjak riang menunggu kata iya dari mamanya.


"Kita bahas di rumah ya? kita pulang dulu sekarang! Tante Binar dan dek Mada biar istirahat dulu" Dara lalu mengambil bingkisan berupa stroller bayi berwarna biru, sekotak kue besar kesukaannya Binar dan keranjang buah yang ia taruh di depan pintu dengan dibantu oleh Kenzo.


Dara dan Kenzo menaruh keranjang buah dan kotak kue di atas meja sofa dan strollernya mereka taruh di samping bed-nya Binar. "Ini tanda kasih dari kami" ucap Kenzo.


"Selamat untuk kelahiran putramu" Kenzo lalu melangkah ke Theo dan menepuk pundaknya Theo, "selamat, kau sudah jadi papa sekarang"


Binar dan Theo berucap kata terima kasi secara bersamaan.


Dara memeluk Binar dan berkata, "selamat untuk kelahiran putramu"


Embun naik ke bed dan memeluk Binar, "Embun kangen sama Tante Binar, besok Embun main ke rumah ya?"


Theo lalu menidurkan tubuh mungilnya Mada ke dalam box lalu duduk di tepi ranjang. Ia meraih tangannya Binar, ia genggam, ia cium tangan itu penuh dengan kasih sayang lalu ia menatap Binar, "kenapa kau menangis?" Theo lalu mencium kedua pipinya Binar, menempelkan dahinya ke dahinya Binar dan mendesah panjang.


Binar mengelus bagian belakang kepalanya Theo sambil berucap, "maafkan aku, Mas. Aku telah menyusahkanmu"


Theo menarik dahinya lalu memegang kedua bahunya Binar dan bertanya, "kenapa meminta maaf dan kenapa kau menangis tadi?"


Binar menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan-pelan, "Aksa tahu kalau papanya salah paham pada papaku dan Aksa.......dia.......dia......" Binar tiba-tiba merasa sesak napas.


"Sayang, tenanglah! jika kau belum bisa bercerita sekarang, jangan dipaksakan!" Theo memeluk Binar.


Binar semakin merasa bersalah. Kepada Theo juga kepada Aksa. Sikap gegabahnya telah membuat dua orang laki-laki yang begitu berharga baginya, menderita. Maka, pecahlah tangisnya di dalam pelukannya Theo.


Theo mengelus-elus punggungnya Binar dan berkata, "jangan seperti ini, kasihan Mada. Kalau kamu sedih dan menangis terus, produksi ASI kamu akan terganggu"


"Seharusnya aku tidak melakukan semua itu" kata Binar di sela isak tangisnya.


Theo bertanya, "melakukan apa?"


Binar menarik diri dari dalam pelukannya Theo lalu menatap Theo, "memintamu untuk menikahiku.


Theo menatap Binar dengan sorot mata tanya penuh kesedihan, "kau menyesal menikah denganku? kau menyesal mencintaiku?"


"Bukan begitu, Mas. Aku mencintaimu aku sungguh-sungguh mencintaimu dan aku tidak pernah menyesalinya. Aku cuma, kasihan sama kamu, kamu telah berkorban begitu banyak demi aku dan Mada. Aku tahu di dalam hati nuranimu yang paling dalam, kau berharap Mada adalah anak kandungmu. Kau pasti memiliki angan-angan, Mada mirip denganmu secara fisik tapi tidak dan itu membuatmu sedih kan Mas? kecewa, kan? Andai kamu tidak menikahiku, kamu saat ini pasti sudah bebas merdeka, kamu bisa memacari gadis lain di luar sana yang jauh lebih baik dari aku dan........hufftt! aku juga kasihan sama Aksa. Aku didera rasa bersalah karena, aku........hufft!tanpa aku sadari, aku juga sudah membuat Aksa kecewa dan menderita. Aksa hancur saat ini, ia menjauhi papanya dan ia tidak ingin kembali lagi ke Indonesia karena, ia pikir tidak ada lagi yang ia perjuangkan di sini. Andai Aksa tahu soal Mada, andai........" Binar menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu tangisannya pecah kembali.


Theo mendesah panjang lalu memeluk Binar, "aku tidak ingin menjadi orang yang merdeka laku memacari gadis di luar sana karena, aku mencintaimu. Aku tidak menyesali pernikahan ini, sungguh. Walaupun iya jujur aku akui, ada sedikit rasa cemburu dan kecewa karena, Mada secara fisik mirip Aksa, aku tahu dari Embun. Embun bilang kalau Mada mirip dengan foto Aksa waktu bayi dan jujur itu membuatku cemburu. Tapi rasa cintaku ke Mada jauh lebih besar dari rasa cemburuku dan itu membuatku kuat. Jadi jangan kau pikirkan lagi soal perasaanku! Aku akan baik-baik saja selama aku masih ada cinta untuk kamu dan Mada di hatiku, selama masih ada cinta di sinar mata kamu, aku akan baik-baik saja"


Binar menarik diri dari pelukannya Theo lalu berkata, "aku sangat mencintaimu, Mas" lalu mencium bibirnya Theo dengan penuh cinta, kelembutan, dan penuh damba.


Mereka kemudian merebahkan diri mereka secara pelan dan mulus di atas ranjang tanpa melepaskan pagutan bibir mereka berdua. Mereka berciuman di atas ranjang dengan intens lalu Theo menarik bibirnya, mengecup keningnya Binar dan segera memeluk Binar. Binar merebahkan kepalanya di atas dada bidangnya Theo.


Theo mengelus punggungnya Binar dan ingin sekali saja bertanya, apa Binar masih mencintai Aksa ataukah hanya merasa kasihan pada Aksa namun, ia tidak mampu mengeluarkan kata itu dan akhirnya ia telan kembali kata tanya itu di dalam hatinya.


Binar kemudian bertanya, "Mas, aku takut kalau aku bilang soal Mada ke Aksa maka ia akan merebut Mada dariku. Lalu bagaimana dengan om Kenzo dan mbak Dara. Mereka pasti akan memandang rendah ke aku dan keluarga kita akan kecewa lalu............"


"Sssttt! jangan dipikirkan dulu soal itu karena, terus terang aku pun nggak rela kalau Mada harus diambil dari sisiku. Aku sudah mencintai Mada sejak Mada masih berada di dalam kandunganmu dan waktu Mada lahir, aku langsung menjadi egois, aku ingin memiliki Mada sepenuhnya. Maafkan aku!" kata Theo.


Binar diam mematung mendengar kata-katanya Theo.


"Biarkan takdir yang mengambil bagiannya. Biarkan takdir yang menuntun langkah Aksa ke Mada. Karena, untuk saat ini keegoisanku dan rasa cintaku yang amat besar pada Mada membuatku tidak mampu untuk berpikir jernih. Aku hanya ingin memiliki Mada sepenuhnya andai bisa untuk selamanya, andai Aksa tidak pernah tahu kalau Mada anaknya tapi, itu nggak adil juga untuk Aksa jadi, biarkan takdir yang bekerja menuntun Aksa.menuju ke Mada dan kita pasrah saja menunggu waktu itu tiba"


"Baiklah biar takdir yang mengambil bagiannya mulai dari sekarang" sahut Binar.


Huffftt! ternyata sulit sekali untuk bisa jujur padamu Aksa, soal anak kandungmu. Maafkan aku! Maafkan mama juga, Mada! Batin Binar.


Theo semakin erat memeluk Binar dan berkata, "tapi jika takdir telah sukses menuntun langkah Aksa sampai ke Mada, maka siap nggak siap kita harus katakan kebenarannya ke Aksa dan Mada. Jika waktu itu telah tiba berarti takdir sudah berkata cukup! untuk keegoisan kita dan kita harus menyerah" ucap Theo.


"Lalu apa yang akan terjadi nanti?" Binar mendesah panjang lalu diam membisu di dalam dekapan hangat suaminya.


"Entahlah, kita hanya bisa menunggu dengan pasrah. Sekarang tidurlah, kamu harus stabil secara emosional dan bugar secara fisik karena, kamu harus menyusui Mada"


"Iya Mas. Terima kasih untuk semua cintamu"


Theo mengecup keningnya Binar dan terus mengelus-elus punggungnya Binar sampai Binar pulas tertidur.


Theo lalu bangun dan melihat ke dalam box bayi, Mada pun masih pulas. Theo kemudian duduk di sofa memandang Mada dan Binar lalu laki-laki tampan itu menangkup wajahnya dengan kedua tangannya dan terisak menangis sambil bergumam, "maafkan aku Aksa dan maafkan papa, Mada"