
Theo yang sudah membeli seekor anjing pudel berwarna putih bersih sengaja membawa anjingnya itu berjalan-jalan di sekitar rumahnya Binar dia ingin memberi Binar kejutan tapi yang diharapkan, gadis pujaan hatinya tidak keluar juga dari dalam rumahnya. Theo berdiri cukup lama di depan gerbang rumahnya Binar tapi, dia tidak berani untuk masuk ke dalam karena ada Mimi. Theo melongok dan melihat di halaman depan rumahnya Binar tidak nampak mobil sedan merah miliknya Binar.
Theo kemudian melangkah lunglai kembali ke rumahnya. Cowok tampan pewaris Revano grup itu kemudian duduk di teras depan rumahnya melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul delapan malam.
"Apa dia lembur ya?" gumamnya.
Lalu dengan penuh semangat Theo masuk ke dalam mobilnya dan mengemudikan mobil itu ke perusahaannya Binar. Sesampainya di sana, Theo langsung bertanya kepada satpam kantor dan satpam itu mengatakan kalau kantor telah sepi, baik Binar maupun semua karyawan telah pergi meninggalkan kantor sejak jam enam sore.
Theo kembali masuk ke dalam mobil dan memakai kembali sabuk pengamannya, "Binar ke mana ya? apa ke rumah kakaknya? tapi aku belum tahu di mana rumah kakaknya. Apa aku tanya ke papanya Binar aja ya? aaaa, no, no, no, kalau aku tanya terus ternyata Binar nggak ada di sana nanti malah jadi pikiran papa dan kakaknya"
Theo kemudian menelepon Binar tapi karena, keasyikan melihat pertandingan sengit antara Chelsea dan MU, Binar tidak mendengar suara ponselnya berdering. Aksa yang mendengarnya. Aksa meraih ponsel itu dan berbisik ke Binar, "boleh aku angkat telponnya?"
Binar yang tengah berkonsentrasi ke layar televisi hanya mengangguk tanpa mencerna dengan baik ucapannya Aksa.
Aksa kemudian bangkit dan melangkah keluar dari ruang keluarga untuk mengangkat panggilan masuk di ponselnya Binar. Aksa mengernyit saat menatap layar ponsel itu tertera namanya Theo Revano.
"Cih! ngapain serigala tua itu nelpon pacarku?" gumam Aksa.
Aksa kemudian menggeser layar ponsel itu ke kanan dan, "halo?"
Theo mendengar suara laki-laki langsung mengernyit, "ya halo. Ini benar nomornya Binar kan?"
"Iya benar" sahut Aksa.
"Anda siapa?" tanya Theo dengan hati-hati takutnya kalau papanya Binar atau kakak iparnya Binar yang mengangkat panggilan teleponnya.
"Aku Aksa. Pacarnya Binar" sahut Aksa dengan mempertegas kata pacar.
"Ooooo, ternyata si serigala muda ya. Binar mana?" Theo berucap kesal karena, cemburu.
"Kenapa cari pacarku? kalau ada yang perlu ditanyakan aku bisa mewakili pacarku. Katakan saja apa keperluanmu?" jawab Aksa.
"Binar mana?" Theo mempertinggi nada suaranya.
"Binar sedang sibuk nggak bisa diganggu" dan Klik.......... Aksa mematikan begitu saja panggilan teleponnya Theo lalu melangkah kembali ke ruang keluarga.
Binar tidak menghiraukan Aksa, dia terus asyik melihat pertandingan bola.
"Yes! satu kosong untuk Chelsea. Benar kan kataku, kalau Chelsea itu lebih solid permainannya. Anthoni martial itu pemalas, striker kok seolah nggak butuh bola jadi ya.........."
Binar langsung menoleh ke Aksa dan melotot kesal, "jangan menghina pemainnya MU! lihat aja nanti pasti Chelsea akan kalah"
"Ppfftttt, kamu tambah cantik kalau melotot" Aksa mengulum bibirnya dan Binar langsung memukul bahunya Aksa.
"Tapi bagiku permainannya Drogba lebih baik, dia rajin mencari bola dan tidak egois bisa bekerja sama dengan Timo Werner jadi bisa mencetak gol dan......."
"Ssstttt! lihat aja Markus Rashford akan membalasnya" ucap Binar kesal.
"Pppfftt, oke kita lihat saja skor akhir nanti. Kalau Chelsea menang kamu harus menginap di sini kalau MU yang menang, aku akan menginap di rumahmu" ucap Aksa kemudian dengan santainya sambil tersenyum penuh arti.
Binar langsung menoleh ke Aksa, "kok kedengarannya tidak menguntungkan bagiku? kalau MU menang, kamu menginap di rumahku, What?! No! kamu gila, ya?"
Aksa langsung memeluk binar dan menggelakkan tawa riangnya, "kamu itu lucu sekali sih. Selalu berhasil dengan sukses membuatku semakin gemas" Aksa berucap sambil mempererat pelukannya.
Binar menepuk dadanya Aksa lalu merebahkan kepalanya di atas pangkuannya Aksa sambil terus menatap layar televisi itu.
"Oke aku setuju jadi secara nggak langsung kamu juga setuju dong kalau Chelsea menang kamu menginap di sini" ucap Aksa sambil menjumput rambutnya Binar, memainkannya di sela-sela jemarinya lalu mencium harum rambut itu dengan penuh perasaan.
"Oke! siapa takut" ucap bInar penuh semangat dengan masih merebahkan kepalanya di pangkuannya Aksa.
Sementara itu di Hotel Andez-Amsterdam Belanda, Abimana terus menghindar untuk bertemu dengan Camelia. Sampai dia akhirnya berhasil masuk kembali ke dalam kamarnya tanpa bertemu kembali dengan Camelia. Abimana bahkan memesan layanan kamar untuk makan malamnya dan berniat tidak akan membukakan pintu lagi jika pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.
"Bodo amat! aku nggak akan buka pintu lagi jika pintu itu diketuk orang. Aku takut jika yang muncul sundel bolong lagi, hiiihhhh! agresif sekali si Camelia itu, dasar cewek gila nggak ada akhlak" Gumam Abimana sembari menyendok makan malam yang dia pesan.
Sesekali dia menepuk pelipisnya saat dia kembali teringat ciumannya dengan Camelia dan dia hampir saja terjerumus ke dalam permainannya Camelia, "bodoh! aku memang bodoh! hmm! memang benar ya, iman selalu kalah dengan Imron jika dihadapkan dengan seorang cewek seksi, cantik, dan agresif. Tapi, nggak! aku nggak akan tergoda lagi! aku nggak akan tergoda lagi!" Abimana kemudian meraih ponselnya dan menerima panggilan VC dari istri cantiknya.
"Papa" wajah tampannya Arga langsung muncul di layar ponsel itu dan Abimana memekik kegirangan melihat putranya, "hai tampan, jagoannya papa. Papa kangen banget sama Arga, Arga kangen nggak sama papa?"
"Kangen dong. Kangennya Arga lebih besar daripada kangennya papa ke Arga" ucap Arga dengan kepolosan dan kelucuan seorang anak seusianya.
"Aaaa benarkah? seberapa besar tuh kangennya?" Abimana tersenyum jahil ke Arga.
"Sama seperti cintanya mama ke papa, seribu kali lebih besar, heeeee"
Abimana langsung melepas tawa ke udara, "waaahhh! makasih sayangku. Emm, udah bener belum jagain mama selama papa nggak ada?"
"Udah dong. Arga temani mama tidur tiap malam, Arga temani mama sarapan dan menyuapi makanan kesukaannya mama kalau mama sibuk kerja dan lupa makan, memijat pundak mama kalau mama lihat TV. Sama persis dengan yang sering dilakukan papa ke mama kan?" Arga tersenyum bangga untuk dirinya sendiri dan membuat Abimana kembali tergelak geli. Abimana tidak menyangka kalau semua perlakuannya ke Mika diperhatikan oleh Arga.
"Waaah pinter anak papa. Lalu Arga mau minta hadiah apa? kan Arga udah pinter jagain mama jadi papa merasa perlu untuk kasih hadiah ke Arga" ucap Abimana sambil terus tersenyum.
"Nggak usah dikasih hadiah dong. Kan sudah tugasnya Arga menjaga mama jadi nggak perlu dikasih hadiah" ucap Arga dengan mimik wajah serius.
Abimana terkekeh lalu berucap, "top deh anak tampannya papa. Emm, kalau gitu papa akan kasih hadiah untuk nilainya Arga di sekolah. Tadi dapat bintang berapa? satu apa lima? terus matematikanya dapat A atau D?"
"Dapat bintang lima terus dong. Matematikanya ini tadi dapat B karena, Arga mengantuk, kemarin nggak bisa tidur soalnya Arga kangen banget sama papa" ucap Arga dengan mimik wajah memelas.
"Uluh uluh, iya papa minta maaf ya belum bisa pulang cepat. Tapi, kata mama besok Sabtu Arga sama mama akan ada di sini menemani papa. Arga nanti boleh minta apa aja pas kita jalan-jalan di sini"
Arga nampak menoleh ke samping kanan dan berucap, "benarkah ma?"
Mika tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Arga langsung berteriak, "horreeeeee" dan menyerahkan ponselnya ke mamanya karena, dia langsung berjoget riang menyambut kabar gembira itu.
Mika tertawa renyah di depan ponselnya, "lihat mas, anak kamu sangat pintar, lucu dan menggemaskan ya"
Abimana tertegun menatap layar ponselnya. Abimana memang selalu menyukai tawa lepasnya Mika, "kamu cantik kalau tertawa lepas seperti itu dan kau selalu menyukainya. Aku semakin merindukanmu, sayang dan aku inginkan kamu saat ini juga"
"Sssttt! ada Arga" Mika terkekeh lalu berucap, "iya, aku secepatnya akan menyusulmu"
"Aku sangat mencintaimu" ucap Abimana.
"Aku lebih mencintaimu seribu kali, heeee" ucap Mika.
"Udah istirahatlah mas! besok mas kan sudah mulai bekerja mendesain hotel itu nanti bangun kesiangan kalau tidurnya terlalu malam"
"Baiklah! besok pagi aku VC lagi ya" ucap Abimana. Mika tersenyum dan menganggukkan kepala lalu Klik. Abimana mematikan sambungan VC-nya itu kemudian dia mulai merebahkan diri dan memejamkan mata.