My Pretty Boss

My Pretty Boss
Tanda Kecil



Theo Revano menurunkan tatapannya dari wajah cantiknya Binar namun justru hal itu membuatnya mengumpat di dalam hati karena, dari jarak dekat pakaian dalam yang dipakai Binar terlihat menembus gaun seksi yang dipakai Binar.


Sejak dari pesta dan selesainya acara berbagi kasih di panti asuhan yang mereka kunjungi tadi, Binar memang belum mengganti gaunnya.


Theo kembali menatap wajahnya Binar yang nampak canggung dan masih tertegun menatap wajah tampannya Theo. Theo melirik kembali gaunnya Binar dan hal itu membuat Binar merona merah tepat di saat Theo kembali menatapnya.


Entah bagaimana secara naluriah, Binar bisa merasakan apa yang ada di dalam pikirannya Theo dan apa yang dirasakan oleh Theo. Tanpa bergerak sedikit pun, Binar mengamati dan menunggu.


Binar mengamati tatapan panas penuh gairah dari Theo dan sepertinya Theo belum berhasil memadamkannya.


Secara naluri sebagai seorang laki-laki normal dan sehat, Theo ingin melakukan lebih dari sekadar memandang. Theo ingin melakukan yang jauh dari itu dan apapun alasannya, Binar segera menyadari ketegangan yang menahan menusuk detak jantungnya yang sedari tadi belum mau berhenti karena, efek sensual yang dia rasakan dari tatapan panasnya Theo.


Binar mengakui kalau dampak visual memang sangat dahsyat, mampu membuat seseorang terperangkap di dalam gairah yang begitu panas.


"Bin......aku......." Theo akhirnya bersuara dengan suara serak.


"Apa?" Binar hanya mampu mengucapkan kata itu karena seluruh indra-nya melemah namun, tubuhnya terasa kaku.


Theo mengelus pipinya Binar kemudian menyusupkan wajahnya di lehernya Binar. Dia mencium, menghirup wanginya Binar, dan memberikan tanda di sana. Lalu Theo mengangkat kembali wajahnya. Dia melihat Binar memejamkan kedua matanya dan menggigit bibir bawahnya.


Theo mencium sudut bibirnya Binar dan Binar gemetar karena, ciumannya Theo berbeda, ciuman keduanya Theo itu lebih menuntut karena, didorong oleh semua hal manis yang ada di dirinya Binar. Theo semakin membenamkan bibir ke bibirnya Binar. Binar terkunci dalam dekapannya Theo dan bibirnya semakin ditekan bibir suami tampannya itu.


"Tidak!......." tiba-tiba Theo berhenti dan menjauhi Binar. Theo melihat tanda kecil yang telah mengkhianatinya di leher putih mulus Binar kemudian dia mengusap kasar wajahnya.


Theo kembali menatap Binar yang masih memejamkan kedua matanya. Theo menatap Binar dan dirinya seolah terbelah menjadi dua, antara kebutuhannya akan Binar yang adalah istri sahnya dan harga dirinya yang lebih menginginkan hatinya Binar.


Theo lebih menginginkan Binar berkata cinta, memberikan hati binar sepenuhnya untuk dia, dan memujanya seolah hanya dia laki-laki paling berharga di mata Binar. Bukannya memuaskan hasrat semata sebagai seorang suami yang berhak atas istri sahnya.


Theo mengacak-acak rambutnya dan kembali duduk di tepi ranjang. Dia memegang pipinya bInar dan berucap dengan penuh penyesalan, "maafkan aku! sekali lagi bertindak ceroboh. Mandilah! aku tunggu di bawah" Theo mencium keningnya Binar kemudian bangkit dan bergegas keluar dari dalam kamar untuk menyegarkan pikirannya.


Theo berdiri di depan pintu yang telah dia tutup rapat dan menghela napas berkali-kali. Setelah merasa tenang dan mulai merasa adem, dia pun turun ke bawah dan langsung menenggak satu gelas besar air mineral dingin kemudian dia duduk di depan meja makan.


Miko menghampiri bos tampannya, "makasih Bos untuk oleh-oleh kaosnya. Pak Samin juga nitip terima kasih untuk Bos"


"Iya sama-sama" sahut Theo dengan suara lemas. "Miko ke belakang dulu, Miko udah siapkan makanan kesukaannya bos Binar steak, kentang goreng, dan Miko masak sayur asem untuk Bos"


"Hmm, makasih" ucap Theo sambil tersenyum ke Miko dan Miko segera meluncur ke belakang.


Binar bangun lalu duduk di tepi ranjang untuk menenangkan dirinya. Binar menyesali kebodohannya belum bisa membuka hatinya untuk Theo. Binar sungguh merasa kasihan pada suaminya itu dan Binar merasa kacau saat itu.


Dengan desahan panjang, akhirnya dia bangkit dan masuk ke kamar mandi. Binar mengusap tanda kecil hasil karyanya Theo di atas lehernya. Binar bergumam, "maafkan aku Theo, aku membawamu ke penderitaan ini. Kamu harus menahan diri demi aku karena, aku belum bisa mencintaimu. Maafkan aku!" Binar kemudian menangis sejadi-jadinya di depan cermin besar yang ada di dalam kamar mandi mewah itu.


Theo membenamkan diri dengan laptopnya. Dia bekerja di ruang makan sembari menunggu Binar turun. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, Theo mengusap layarnya ke kanan dan suara papanya langsung menggebu-nggebu menyerang pendengarannya, "Kamu tolong jemput Hendra! Hendra mabuk di kafe Bintang"


"Mabuk? tapi kenapa? harusnya dia bersama Aulia kan?"


"Sepertinya mereka bertengkar, ini papa ditelpon sama asistennya Hendra dan papa nggak bisa ke sana karena, adik kamu pingsan"


"Huuuffttt! ada-ada aja. Oke Pa, Theo ke sana sekarang" Klik. Theo mematikan sambungan teleponnya dengan papa tersayangnya kemudian, dia berlari menuju ke kamarnya. Theo membuka pintu kamar dan tidak mendapati Binar di sana. Theo kemudian melangkah lebar dan mengetuk pintu kamar mandi, "Bin, kamu nggak apa-apa? kenapa lama sekali di kamar mandi?"


Ceklek, Binar membuka pintu kamar mandi. Theo melangkah mundur dan Binar melangkah keluar dari dalam kamar mandi, "aku nggak apa-apa"


"Maaf aku tinggal sebentar, barusan papa telpon kata papa, Hendra mabuk di kafe Bintang dan menyuruh aku untuk membawanya pulang karena, Aulia pingsan di rumah"


"Hah?! aku ikut boleh?"


"Nggak boleh! kamu lagi hamil. kamu tunggu aja di rumah aku akan pulang secepatnya" Theo mengecup keningnya Binar kemudian bergegas pergi hanya mengenakan kaos dan celana santai.


Theo mengerem langkahnya dan menoleh ke Binar, "ada apa?"


"Kamu pakai itu keluar rumah?"


Theo menunduk memandang kaos dan celana santai yang dia pakai kemudian memandang Binar, "kenapa emangnya?"


"Kamu kan CEO, pimpinan perusahaan terkenal masak keluar rumah sesantai itu?"


"Hahahaha,.aku kira kenapa. Aku biasa kayak gini, lebih santai dan nyaman. Aku pergi dulu ya, nggak lama kok" ucap Theo lalu pergi meninggalkan Binar.


Binar tersenyum, "kamu memang selalu santai dan karena aku, kamu harus menanggung bebas yang sangat berat. Maafkan aku!" gumam Binar sembari duduk kembali di tepi ranjang. Dia memencet internal phone dan meminta Miko membawakan air putih dingin karena, dia malas untuk turun tanpa adanya Theo.


Theo menepuk pundaknya Hendra, "ayok pulang! istrimu menunggu di rumah"


Hendra menepis tangannya Theo dan mencoba meraih gelasnya namun, Theo jauhkan gelas itu dari jangkauannya Hendra, "cukup minumnya! ayok pulang!" Theo segera memapah Hendra dibantu oleh asistennya Hendra. Theo memasukkan Hendra ke dalam mobil dan langsung meluncur ke rumah papanya.


"Binar, dasar wanita murahan. Kamu menolak aku tapi kami berganti-ganti cowok, dasar brengsek!" pekik Hendra di dalam pengaruh minuman beralkohol.


"Aiiisshhh! kalau kamu terus menghina Binar, aku akan turunkan kamu di sini" Theo berteriak kesal sambil terus menyetir.


"Kamu siapanya Binar? Cowok barunya Binar ya? aku kasih tahu.....Binar itu......punya banyak koleksi cowok jadi......."


Theo mengerem mobilnya dan keluar dari dalam mobil dengan sangat kesal. Asistennya Hendra yang sedari awal mengikuti Theo dengan mobilnya Hendra akhirnya turun dan berjalan ke arah depan mendekati Theo, "kenapa tuan turun?"


"Jangan panggil aku tuan. Panggil aja pak atau kak, mas, apalah asal jangan tuan!" ucap Theo.


"Aaaah, baik pak. Kenapa anda turun?"


"Bawa aja bos kamu itu pulang. Aku risih mendengarkan omong kosongnya. Pindahkan dia ke mobilnya!"


"Baik, Pak" asistennya Hendra segera memapah Hendra masuk ke dalam mobil yang dia kendarai lalu melajukan mobil dan membunyikan klakson ke Theo saat melintas di depannya Theo.


Theo sampai di rumah dan melihat Binar masih menunggunya di dalam kamar, "sudah makan?"


"Belum" jawab Binar, "dan kamu?"


"Belum juga, heeee. Kita makan dulu, yuk!" Theo mengajak Binar ke lantai bawah.


"Bagaimana Aulia?" tanya Binar.


"Entahlah. Aku hanya membantu asistennya Hendra membawa Hendra pulang dan aku tidak ikut pulang karena, aku masih malas mendengar ocehannya Hendra" ucap Theo.


"Aku mengkhawatirkan Aulia" ucap Binar.


"Kita ke rumah besok, gimana? aku ingin bicara panjang lebar dengan Hendra besok kalau malam ini percuma, dia mabuk berat"


"Baiklah. Besok kita ke rumah papa dulu kebetulan besok aku tidak ada jadwal meeting sampai siang. Meeting-ku sore"


"Di mana? dengan siapa? aku antarkan, ya?" kata Theo.


"Iya. Makasih" ucap Binar sambil tersenyum.


"Sama-sama" sahut Theo.


Dan, mereka melanjutkan makan malam mereka dalam diam.