My Pretty Boss

My Pretty Boss
Abimana dan Camelia



Ratna menatap Aksa, "Sa, kamu pakai lipstick? terus kenapa sudut bibir kamu ada noda merah?"


Shit! aku belum melap bibirku sehabis berciuman dengan Binar tadi. Batin Aksa.


Aksa langsung menutup bibirnya dengan tangan kanannya dan berucap, "emm, tadi aku disuruh kak Binar menggambar desain mungkin kena spidol merah nih" Aksa lalu bangkit, berputar badan dan berlari kecil menuju ke toilet.


Boy menatap kepergiannya Aksa lalu mengalihkan pandangannya ke Ratna, "noda lipstick?"


Ratna mengangkat kedua pundaknya, "Aksa bilangnya spidol merah kan tadi, aku salah persepsi, heeeee" Ratna kemudian menatap kembali layar laptopnya.


Boy masih mengerutkan dahinya dan mengerucutkan bibirnya lalu bergumam, "hmm, spidol merah ya"


Aksa berdiri di depan wastafel sambil membasuh bibirnya di depan sebuah kaca, "dasar bodoh kau Aksa, kok bisa lupa mengusap bibir kamu sendiri setelah berciuman tadi, hufffttt, semoga Ratna dan Boy percaya dengan omonganku"


Setelah bibirnya bersih sempurna dari noda lipsticknya Binar, Aksa tersenyum dan melangkah keluar dari toilet, kembali ke meja kerjanya.


Boy menoleh ke Aksa dan terus melekatkan pandangannya ke wajah tampannya Aksa dengan penuh rasa penasaran.


Aksa menoleh ke Boy, "ada apa? ada yang salah dengan wajahku?"


Boy mengerutkan dahinya dan pandangannya melekat di bibirnya Aksa, "kamu pakai spidol merah untuk memulas bibir kamu? terus noda spidolnya diusap air bisa hilang dengan begitu mudahnya?"


Glek


Aksa langsung kesulitan menelan salivanya dan meringis ke arah Boy.


"Sa?" Boy makin penasaran melihat ekspresinya Aksa.


"Tadi aku makan permen strawberry bibirku memerah karena warna permen itu, aku dikasih sama kak Binar permennya. Kalau noda merah di sudut bibirku tadi barulah itu kena spidol pas aku menggambar desain tadi. Aku hilangkan pakai sabun tadi, bisa kok" ucap Aksa terpaksa berbohong ke Boy dan dia berikan penekanan di setiap ucapannya agar terkesan nyata di pendengaran dan benaknya Boy.


Ratna yang mendengarkan percakapannya Boy dan Aksa kemudian menimpali, "kerja boys! jangan ngobrol terus!"


Boy akhirnya bisa menerima penjelasannya Aksa lalu tersenyum dan mulai menatap kembali layar laptopnya.


Fiuuuhhhhh. Aksa bernapas lega di dalam hatinya melihat Boy memercayai semua ucapannya.


Abimana membuka pintu kamar hotelnya di pagi hari setelah rapi mengenakan kemeja dan jasnya. Cowok tampan suaminya Mika itu menutup kembali pintu kamar hotelnya dan langsung mematung menatap Camelia yang ternyata ada di depan pintu kamarnya dan langsung tersenyum cantik di depannya Abimana, "pagi kakak tampan" sapa Camelia dengan santainya.


Abimana membalas senyumannya Camelia dan berucap, "pagi"


Camelia menyodorkan sebuah paper bag ke Abimana, "ini kemeja yang sama persis dengan yang kamu kenakan kemarin. Sebagai ganti kemeja kamu yang kena tumpahan kopiku, heeee. Terima ya! untuk menghilangkan rasa bersalahku biar aku bisa tidur nyenyak nanti malam"


Abimana menerima paper bag tersebut dan tergelak geli lalu membuka kembali pintu kamarnya, "terima kasih dan sebentar kamu tunggu di luar ya, aku taruh paper bag ini di dalam sebentar!" Abimana segera menutup pintu kamarnya dan dalam dua menit dia muncul kembali di hadapannya Camelia.


Camelia tersenyum, "kita ke ruang meeting bareng yuk! tapi sebelumnya kita sarapan dulu masih ada waktu satu jam sebelum meeting dimulai"


Abimana mengiringi langkahnya Camelia sambil menganggukkan kepalanya dan tersenyum, "kamu berbeda pagi ini. Memakai setelan kerja seperti ini seolah kamu bukan Camelia yang kemarin bertemu denganku"


"Hahahaha, ini pujian atau ejekan ya?" Camelia menoleh ke Abimana dengan tawa renyahnya.


Abimana ikutan tertawa lalu berucap, "jawabannya disesuaikan saja dengan suasana hati kamu, kalau kamu senang ya itu pujian kalau kamu kesal ya berarti itu ejekan"


Camelia melepas tawanya ke udara sambil menepuk bahunya Abimana, "aku suka cowok humoris namun cool kayak kamu"


"Terima kasih untuk pujiannya" sahut Abimana.


"Hei! itu tadi ejekan bukan pujian" Camelia terkekeh dan kembali menepuk bahunya Abimana.


Abimana berucap, "aku merasa bahagia jadi aku anggap itu pujian"


Kenapa cowok ini begitu menyenangkan untuk diajak ngobrol. Paham betul selera humorku dan tampan banget. Sayangnya dia ini suami orang. Batin Camelia sembari sesekali melirik Abimana.


Mereka akhirnya sarapan di meja yang berada di restoran hotel tersebut. Hotel kepunyaannya papanya Camelia. Mereka makan dengan saling berhadapan dan bercanda ringan diselingi beberapa gurauan receh ala Camelia yang masih terhitung muda.


"Kamu paham juga ya guyonan receh anak muda jaman now?" tanya Camelia dengan senyum cantiknya.


Abimana terkekeh, "aku seorang dosen tentu saja paham guyonan-guyoannya anak muda jaman now"


"Apa kamu masih menerima pendaftaran mahasiswa baru? aku mau mendaftar menjadi murid kamu. Kalau dosenku tampan, cerdas dan humoris kayak kamu, aku akan rajin masuk kuliah dan tidak pernah absen" ucap Camelia dengan santainya.


"Hahahaha, kamu belum kenal betul siapa aku. Aku terkenal galak dan tegas. Aku bukanlah dosen favorit bagi anak-anak didikku" ucap Abimana.


"Benarkah? aku tidak percaya itu. Kamu memiliki selera humor yang oke kok dan ramah. Nggak mungkinlah kalau kamu ini galak dan tegas sama murid-muridmu" ucap Camelia.


"Beneran, serius, aku nggak bohong. Murid-muridku takut sama aku dan sangat jarang yang berani mengajakku ngobrol dan bercanda kayak gini, sesantai ini, heeeee. Justru Mika, istriku, dia dosen idola di kampus tempat kami mengajar. Selain cantik, cerdas dan ramah juga suka bercanda dalam batasan yang wajar, Mika sangat baik hati, suka menolong siapa saja. Itu yang membuat istriku menjadi dosen idola dan terkadang membuatku cemburu jika ada mahasiswa yang nekat memberikan surat cinta ke istriku"


Shit! dia kembali membanggakan istrinya di depanku. Camelia mengumpat kesal di dalam hatinya tapi mengulas senyum di wajah cantiknya.


"Istri kamu pasti sangat luar biasa ya. Dia beruntung memilikimu sebagai suaminya" Camelia tersenyum dengan semburat cemburu dia berucap.


Abimana tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "justru aku yang bersyukur bisa bertemu dengannya di saat aku rapuh dengan semua permasalahan yang ada di dalam keluargaku, di saat aku hancur mengingat papaku meninggalkan aku, ibu dan adikku demi wanita lain, di saat aku terpuruk dan enggan untuk sekadar bernapas, Mika hadir menguatkanku dan memberiku pengharapan"


Camelia hanya memberikan senyum untuk curhatannya Abimana. Hatinya benar-benar terbakar kesal dan cemburu mendengar Abimana terus menerus memuji Mika.


"Aku sudah selesai. Kita ke ruang meeting sekarang?" Camelia kemudian bangkit dan Abimana tersenyum lalu mengikuti langkahnya Camelia.


Lebih baik aku mengajaknya ke ruang meeting segera daripada aku terus menerus mendengar pujiannya Abimana ke istrinya itu, cih! Batin Camelia kesal sembari terus melangkah masuk ke dalam ruang meeting.


Camelia langsung duduk di dekat papanya dan Abimana langsung berdiri di depan semua yang hadir di dalam ruang meeting tersebut. Abimana memperkenakan dirinya kemudian memulai presentasi desainnya berikut anggaran yang dia tawarkan.


Anak buahnya Mister Herald yang memiliki calon lain mencoba menjatuhkan Abimana dengan mengatakan kalau anggaran yang ditawarkan Abimana tidak sebanding dengan desainnya Abimana yang terkesan sederhana.


Abimana hendak membuka suara namun Kalah cepat dengan Camelia, "kamu jangan asal mengkritik desainnya pak Abimana! kalau kamu punya pesaing ajukan di sini dan kita analisa bersama, mana desain yang lebih unggul dengan anggaran yang sama" pekik Camelia kesal ke anak buah papanya yang berani mengkritik Abimana itu.


Abimana terpana dan secara spontan dia tersenyum dan menatap Camelia. Abimana tidak menyangka kalau Camelia membelanya.


"Apa kamu punya kandidat lain selain pak Abimana?" tanya Mister Herald ke anak buahnya.


"Ada. Saya akan panggilkan" anak buahnya Herald bangkit dan selang sepuluh menit, dia kembali masuk ke dalam ruang meeting, bersama dengan seorang pria muda.


"Saya Prima dari Light Desain Grup, saya akan memperkenalkan desain saya semoga semuanya berkenan" ucap pria tersebut yang membuat Abimana mundur dan duduk di kursi di sebelahnya Camelia. Abimana memberikan kesempatan kepada laki-laki muda saingannya itu untuk mengutarakan ide-idenya di depan Mister Herald.


Prima telah menyelesaikan presentasinya dan duduk di depannya Abimana. Mister Herald membisu selama lima belas menit sambil mempelajari berkasnya Abimana dan Prima yang terpampang di depannya.


"Hmm, setelah aku melihat performanya mister Abimana and mister Prima, saya lebih memilih desainnya mister Abimana dan saya menyetujui semua anggarannya" ucap Mister Herald kemudian lalu bangkit untuk melangkah pergi meninggalkan ruang meeting diikuti oleh sekretaris dan semua anak buahnya.


Hanya tertinggal Abimana dan Camelia. Abimana bangkit dan menyalami Camelia, "terima kasih sudah membelaku tadi"


"Sama-sama. Asal kamu tahu, aku tidak membantumu tapi membantu papaku, heeee" sahut Camelia.


Abimana melepaskan tangannya Camelia lalu tergelak, "Hahahaha, baiklah! tapi aku tetap berterima kasih" ucap Abimana, "emm, bagaimana aku membayar kebaikanmu? biar aku bisa terbebas dari rasa bersalah dan bisa tidur nyenyak malam ini, heeee" Abimana meniru ucapannya Camelia sewaktu Camelia memberinya paper bag berisi kemeja.


Camelia membahanakan tawa cantiknya ke udara, "traktir aku makan siang lalu temani aku berenang"


"Okelah!" sahut Abimana sembari mempersilakan Camelia mendahului langkahnya.