
Damian Adelard telah sampai di sebuah hotel berbintang lima di kota Kudus. Letaknya tidak jauh dari makamnya Dona. Sahabat yang begitu dia sayangi itu telah meninggal dunia dan esok harinya adalah hari peringatan meninggalnya Dona, sahabat terbaiknya.
Kenzo Julian menginap di hotel yang sama dengan Damian Adelard tanpa dia ketahui. Kenzo mandi, makan di dalam kamarnya lalu keluar dari kamar itu untuk mencari udara segar. Dia kemudian naik mobil dan turun dari mobilnya untuk berjalan di sebuah taman. Taman itu saksi buta ketika dia melamar Dona secara pribadi.
Kenzo terus berjalan di sekitar taman itu dengan penuh kesedihan. Dona seorang wanita yang cantik, lembut, ceria, dan baik hati, adalah cinta pertamanya. Cinta yang begitu indah saat itu merasuki hati, pikiran, dan jiwanya. Seluruh tubuhnya penuh dengan pesonanya Dona. Kenzo kemudian menengadahkan wajahnya ke langit saat butiran lembut mulai memburamkan netranya, kesedihannya hanyut terapung di kedua pelupuk matanya.
"Kenapa kau meninggalkan aku sayang. Aku masih begitu mencintaimu. Jika aku merindukanmu dengan sangat, aku hanya bisa menatap Aksa karena, putra kamu itu, putra buah cinta kita itu, sangat mirip denganmu. Tapi, bahkan Aksa pun tidak mau dekat denganku. Apa sebenarnya yang salah denganku? apa aku tidak pantas untuk dicintai?" gumam Kenzo pada dirinya sendiri sambil terus berjalan di sekitar taman itu.
Damian Adelard, rebahan di atas kasur dengan bertumpu tangan. Dia menatap langit-langit kamar itu dan bergumam, "seandainya kita tidak bertemu saat itu di acara Akbar para seniman dan pengusaha kala itu maka, tidak akan ada kesalahpahaman diantara kita bertiga. Persahabatan kita jadi hancur karena kesalahpahaman itu dan pernikahanmu juga ikut hancur. Maafkan aku, Dona!"
Kedua pengusaha tampan dan ganteng itu terhanyut terbawa rasa penyesalan dan kesedihan yang begitu dalam setiap kali mereka mengingat almarhum Dona, mama cantiknya Aksa.
Sementara itu Theo uring-uringan di saat dia mencari keberadaannya Aksa kemudian mengetahui kalau Aksa telah menyelesaikan semua kewajibannya lebih cepat dan pulang tanpa pamit padanya
"Dasar Pulgoso tengil, seenak hati pergi tanpa pamit sama abangnya. Papa juga gitu sih Aksa diijinkan begitu aja pulang" ucap Theo dengan mengerucutkan wajahnya.
David, papanya Theo langsung tertawa terbahak-bahak, "lha kalau emang udah selesai, untuk apa Aksa aku tahan di sini, dasar aneh kamu ini, ya, hmm"
Iya kalau dia pulang duluan, dia bisa ketemuan dengan Binar lebih dulu dari aku, Pa. Itulah kenapa aku kesal. Batin Theo.
"Terus aku gimana nih?" Theo mendengus kesal ke papanya.
"Kamu kan bergerak di periklanan, ya selesaikan secepatnya kerjaan kamu mengiklankan hotel barunya papa ini maka kamu pun aku ijinkan pulang" ucap Davi Revano dengan santainya.
"Huufftt, sabar Theo" ucap Theo lalu pergi meninggalkan papanya begitu saja.
David tergelak geli sambil menggeleng-nggelengkan kepalanya menatap kepergiannya Theo.
Theo menelepon Hendra. Theo mengetahui soal Hendra menculik Binar dari Aksa. Setelah diberitahu Binar lewat telepon kalau Hendra menculik Binar maka Aksa langsung melesat ke kamarnya Theo dan meminta nomer ponselnya Hendra namun, Theo tidak memberikannya. Theo berucap singkat ke Aksa malam itu, "soal Hendra biar aku yang mengurusnya"
Hendra mengernyit saat menatap layar ponselnya tertera nama kak Theo. Dia lalu menggeser layar ponselnya ke kanan dan, "halo?"
"Di mana kamu?" tanya Theo.
"Di rumah sama Aulia. Aulia baru aja pulang dari rumah sakit" ucap Hendra.
"Mana Aulia, aku ingin bicara dengannya"
"Aaahh, itu, emm, Aulia di kamar mandi" ucap Hendra gugup karena,.dia berbohong. Hendra sebenarnya berada di Kudus. Dia mengikuti ke Kudus saat tahu Binar pergi ke Kudus.
"Kamu membohongiku ya? berani benar kamu membohongiku" Theo langsung meninggikan nada suaranya.
"A...aku nggak bohong kak, aku....."
"Kalau nggak bohong, sekarang mana Aulia? aku mau bicara dengan adikku" ucap Theo tegas tanpa bisa ditawar lagi.
"Huuffttt, baiklah aku mengaku. Aku ada di Kudus saat ini" ucap Hendra dengan suara lirih.
"Ngapain kamu di Kudus? kita nggak ada proyek di Kudus" ucap Theo dengan nada penuh tanda tanya.
"Aaah, aku ada urusan bisnis dengan teman lama. Aku ingin buka kafe di sini" ucap Hendra kembali melempar kebohongannya ke calon kakak iparnya.
"Kafe? dari mana modalnya? selama ini perusahaanmu menyusu ke perusahaanku. Kalau aku hentikan aliran dana ke perusahaan kamu maka perusahaanmu akan mati dan kamu akan jadi gembel, cih!" Theo mendengus kesal.
"Kak! jangan tarik dana kakak. Kalau perusahaanku mati, aku akan kehilangan muka di depan Aulia dan papa juga sama keluargaku" ucap Hendra.
"Dasar menjijikkan! aku bersedia membantu perusahaanmu kala itu hanya karena, Aulia. Namun, Aulia tidak mengetahui kalau perusahaanmu itu kondisinya sangat parah. Aku diam demi menjaga Aulia karena, Aulia sangat mencintaimu. Tapi apa balasanmu? kamu mempermainkan perasaannya, dasar brengsek!" Theo berteriak kencang ke Hendra.
Hendra langsung menjauhkan ponsel dari telinganya. Beberapa detik kemudian dia tempelkan kembali ponselnya ke telinganya.
"Aku tidak mempermainkan Aulia, kak, aku memang tidak pernah mencintai Aulia tapi aku terlanjur terikat dengan keluarga Revano jadi....."
"Cih! dasar egois. Lalu kenapa kamu menculik Binar?" tanya Theo.
"Bagaimana kakak bisa tahu?" tanya Hendra.
"I...iya benar. Tapi Binar bukan tipe pengadu, dia nggak akan cerita kalau nggak ditanya karena, Binar itu cewek perkasa dan punya gengsi yang cukup tinggi dan......."
"Intinya aku tahu soal kamu menculik Binar dan aku sangat kecewa sama kamu. Jangan sampai kamu ulangi lagi! Jauhi Binar, jangan pernah mengganggunya lagi jika kamu nekat mengganggu Binar lagi maka aku akan hancurkan perusahaan kamu dan aku akan hancurkan nama baik kamu di kalangan pengusaha" ucap Theo tegas.
Hendra mendesah panjang dan berucap, "baik kak"
Klik. Theo langsung memutuskan sambungan ponselnya dengan Hendra lalu melempar begitu saja ponselnya di atas kasur karena kesal.
Keesokan harinya, Binar memasak di dapur dengan neneknya Aksa. Neneknya Aksa menyuruh bInar mencuci sayuran dan saat neneknya Aksa menoleh ke Binar dia pun terkekeh geli melihat bInar terus menghidupkan keran air dan mencuci kubis, tanpa dipotong, di bawah keran air itu, lalu dia melakukan hal yang sama dengan sawi hijau juga brokolinya.
"Nak, kalau mencuci sayur kubis dan Sawi harus dipotong dulu pangkalnya lalu diambil helai demi helai dan dicuci secara bersamaan di dalam baskom kalau langsung dicuci begini kan dalamnya nggak kecuci"
"Heeee, maaf nek, Binar belum pernah berurusan dengan sawi dan kubis" ucap Binar sambil menggaruk kepalanya.
"Hahahaha, iya nggak apa-apa. Emm, kalau gitu, kamu potong wortelnya aja. Udah nenek kupas dan nenek cuci. Wortelnya ada di atas meja makan"
"Siap" ucap Binar, lalu berjalan ke meja makan. Dia kembali menggaruk kepalanya, "emm, nek, potong wortelnya seberapa panjang? terus bentuknya gimana?"
"Kita mau bikin capcay jadi potong dadu sepanjang satu centimeter aja nggak papa" sahut neneknya Aksa dari arah dapur.
"Oke nek" lalu Binar melangkah masuk ke dalam kamar, merogoh tas kerjanya lalu membawa tempat pensilnya ke meja makan. Sesampainya di meja makan, dia duduk lalu mengeluarkan penggaris mini dari dalam tempat pensilnya. Dia taruh penggaris mini itu di atas meja lalu dia mulai mengukur wortel dan di setiap ukuran satu centimeter, dia potong wortel itu.
Aksa keluar dari kamar mandi menoleh ke neneknya dan di saat dia melihat neneknya tengah asyik memasak, dia mencuri kesempatan mengecup bibirnya Binar.
Binar terlonjak kaget dan langsung menepuk bahunya Aksa, "kebiasaan kamu nih, suka cium-cium. Kalau nenek lihat gimana" bisik Binar.
Aksa ikutan berbisik, "kalau nenek lihat paling kita langsung dinikahkan, heeee"
"Dasar gila" ucap Binar sambil terus mengukur wortel di depannya dan di ukuran tepat satu centimeter dia potong wortel itu.
Aksa langsung terkekeh geli melihat bInar, "kamu ngapain?"
"Kamu nggak bisa lihat ya? aku sedang memotong wortel" ucap Binar dengan kesal karena, Aksa mengganggu konsentrasinya dalam mengukur dan memotong wortel itu.
"Hahahaha, ngapain pakai penggaris segala?" tanya Aksa.
"Iya kata nenek ukurannya satu centimeter dan berbentuk dadu jadi harus pakai penggaris kan, gimana sih?" Binar mendengus kesal ke Aksa.
Aksa langsung mengambil pisau yang dipegang Binar dan mengambil wortel yang masih utuh. Dia kemudian memotong menjadi dua bagian wortel itu lalu dia berdirikan setengah potong dari wortel itu, dia belah jadi empat bagian lalu dia potong-potong wortel itu dengan cepat tanpa memakai penggaris dan dia lakukan hal yang sama pada setengah potongan dari wortel itu lalu berkata, "cepat kan? begini caranya"
Binar langsung mengerucutkan bibirnya, "cih! sok pamer"
"Hahahaha, diajari malah ngatain, mau aku cium lagi?"
Binar langsung menutup bibirnya dengan kedua tangannya.
Aksa langsung menggemakan tawanya lepas ke udara, "mandilah dan bersiap sana! biar aku yang potong wortelnya. Kalau kamu yang memotongnya, lusa baru kelar entar"
Binar bangkit sambil mencebikkan bibirnya ke Aksa dan Aksa langsung menarik tangannya Binar dan dia kecup lagi bibirnya Binar. Binar membeliak, menarik tangannya dan bergegas memutar badan berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Neneknya Aksa menoleh ketika mendengar Aksa kembali menggemakan tawanya, "ada apa?"
"Calon istriku lucu banget nek, masak dia memotong wortel pakai penggaris dan....."
"Sssttt! jangan diketawain kasihan, dia kan baru belajar"
"Hahaha, iya nek iya. Emm, sepertinya Aksa kalah saing nih sama Binar dalam hal memperoleh kasih sayangnya nenek, hahaha"
"Sama kok sama. Nenek menyayangi kalian sama besarnya" ucap neneknya Aksa.
Aksa bahagia bukan main melihat kakek dan neneknya sangat menyayangi Binar begitu juga sebaliknya, Binar juga sangat menyayangi nenek dan kakeknya.
Aku senang melihat Aksa bisa tertawa lepas seperti itu. Dona, anak kamu sudah bahagia sekarang ini dan itu berkat Binar calon menantu kamu. Restui mereka dari Surga sana ya Dona, putriku sayang. Batin neneknya Aksa lalu mengusap air mata yang secara tidak dia sadari menetes di atas pipi renta-nya.