
Theo meluangkan waktu menemui dokter keluarganya sebelum ia menjemput Binar di kantornya Binar. Mada dan Aries aman dijaga oleh kedua opa mereka. Damian dan David mengajak Mada dan Aries pergi ke taman bermain bersama dengan keluarga kecilnya Aulia.
"Hasil CT-Scan kamu menunjukkan kalau kamu memiliki tumor di otak kamu, kamu harus bersyukur tumor itu tidak seganas milik almarhum mama kamu. Kamu dapatkan tumor itu karena, faktor genetik, turunan dari almarhum mama kamu" ucap dokter Hendrik, dokter keluarganya Revano, sejak Theo masih kecil.
"Lalu, apa saya akan meninggal seperti mama saya?"
Dokter Hendrik melepas kacamatanya lalu menaruh kacamata itu di atas mejanya. Kemudian direktur rumah sakit swasta itu berpangku tangan, menatap Theo dan tersenyum, "kamu akan baik-baik saja jika kamu segera menjalani operasi pengangkatan tumor. Pengobatan sekarang makin canggih dan tumor kamu nggak ganas jadi kamu akan aman cuma......."
"Cuma apa Dok?" Theo berucap sambil mencondongkan wajahnya ke dokter Hendrik.
"Letak tumor kamu di area otak dan sedikit sulit untuk diambil jadi akan menimbulkan........"
"Menimbulkan apa Dok?" tanya Theo dengan tidak sabar.
"Menimbulkan banyak hal yang belum bisa diprediksi secara pasti tergantung kondisi si pasien. Efek samping dan komplikasi yang akan timbul setelah operasi pengangkatan tumor itu, sangat kompleks. Bisa jadi setelah dioperasi nanti kau akan hilang ingatan untuk waktu yang cukup lama, bisa juga mengalami kelumpuhan tapi bisa disembuhkan dengan rutin menjalani fisioterapi, dan........."
"Dan apa Dok?" Theo bertanya dengan mulut bergetar.
"Dan kalau kamu tidak sadar selama tiga hari setelah menjalani operasi maka kamu akan koma untuk waktu yang sangat lama"
"Jadi, walaupun saya tidak akan mati seperti almarhum mama saya tapi........" Theo melempar napas frustasinya ke udara dan kembali berucap, "efek dan komplikasinya sungguh mengerikan dan nggak ada satu pun yang enak untuk didengarkan, hehehehe"
"Karena tempatnya di otak jadi efeknya memang seperti itu. Tapi, kalau dibiarkan saja dan tidak segera diangkat maka lama-lama tumor itu justru akan terus menyiksa kamu dan membunuhmu secara pelan" sahut dokter Hendrik.
Tatapan Theo yang berbalut keraguan, kekhawatiran dan ketakutan menusuk tajam kedua netranya dokter Hendrik. Ketakutan dan kekhawatiran Theo lebih mengarah ke Binar dan kedua anaknya. Andai dia masih sendiri maka tanpa berpikir panjang, ia akan menjalani operasi pengangkatan tumor saat itu juga.
"Kalau kamu takut dan tidak percaya melakukan operasi di sini aku akan rujuk ke rumah sakit di Singapore? di sana peralatannya lebih canggih dan.........."
"Bukan karena saya nggak percaya dengan dokter dan rumah sakit ini tapi, saya akan menerima rujukan dari dokter, saya akan memilih melakukan operasi di Singapore agar istri saya tidak terbebani. Saya nggak ingin istri saya tahu soal tumor ini, saya nggak ingin istri saya sedih dan mengasihani saya" ucap Theo.
"Tapi istrimu berhak tahu, bukankah kalian menikah dengan janji bahwa kalian akan saling menjaga dan selalu bersama di dalam suka dan duka, di dalam sakit dan sehat?" tanya dokter Hendrik.
Theo langsung mengerjapkan kedua matanya karena, ucapan dari dokter Hendrik telah membuatnya menyadari pentingnya hubungan istri dan suami di dalam suatu pernikahan, "Anda benar Dok" Theo menghela napas panjang dan berkata lagi, "Saya akan memberitahu istri saya kalau gitu. Tetapi, nggak hari ini. Berapa waktu yang saya punya untuk mulai menjalani operasi?" tanya Theo.
"Satu Minggu. Lebih dari itu akan terlambat" kata dokter Hendrik.
"Baiklah, beri saya waktu tiga hari saya akan mencari cara memberitahukan istri saya soal tumor ini lalu, saya akan menghadap anda kembali dan siap untuk dioperasi" kata Theo.
Dokter Hendrik bangkit lalu menyalami Theo dan berkata, "jaga kesehatan kamu, jangan minum es, jangan minum alkohol, jangan begadang atau lembur, dan jangan stres! Pokoknya kamu harus fit saat operasi nanti. Sampai ketemu lagi tiga hari ke depan"
Theo melepas genggaman tangan dokter Hendrik, menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lalu memutar badan dan melangkah keluar dari ruang pribadinya dokter Hendrik dengan muka masam.
Theo masuk ke dalam ruang kerjanya Binar dengan senyum ceria seperti biasanya. "Udah selesai cantik?"
Binar bangkit, memakai blazer kerjanya, meraih tas kerjanya lalu melangkah lebar dan masuk ke dalam pelukan hangat suaminya, "udah sayang, anak-anak gimana?"
Theo mencium pucuk kepalanya Binar sambil mempererat ciumannya ia berkata, "anal-anak bersama dengan kedua opa mereka. Papa kita mengajak semua cucunya berjalan-jalan ke taman bermain"
"Oh! bersama James juga?" tanya Binar. James adalah nama putranya Aulia dan Hendra.
Theo kemudian merangkul Binar dan mengajak Binar berjalan meninggalkan ruang kerjanya Binar. Binar melangkah seiring dengan langkah suaminya sambil mendongakkan wajah cantiknya ia bertanya, "kau baik-baik saja kan?"
Mereka masuk ke dalam mobil dan segera memasang sabuk pengaman mereka. Theo meluncurkan mobil mewahnya ke Palma Resto yang berjarak tidak begitu jauh dari kantornya Binar.
Binar menoleh ke Theo, "kalau capek, gimana kalau kau ambil cuti, aku juga ambil cuti lalu kita ajak anak-anak berlibur?"
Theo melirik ke Binar dan dengan sumringah ia berkata, "oke, besok kita berlibur, aku akan bilang ke Andik sekarang juga"
"Eh tapi......" Binar menatap Theo yang sudah mulai memarkirkan mobilnya ke area parkir Palma Resto.
Theo membuka sabuk pengamannya dan bertanya, "kenapa, kamu masih repot?" sambil mengetikkan pesan text ke Andik, ia memberitahukan ke Andik kalau akan cuti selama satu Minggu.
Binar membuka sabuk pengamannya lalu tersenyum, "nggak kok. Okelah! besok kita berlibur dengan anak-anak" Lalu ia membuka pintu mobil itu dan melangkah keluar.
Theo berlari kecil untuk menyusul langkahnya Binar dan langsung memeluk bahunya Binar.
Mereka kemudian duduk di sebuah kursi panjang sambil terus berpelukkan. Binar lalu bertanya, "kita akan berlibur ke mana?"
"Ke hotel di sekitar sini aja yang lengkap fasilitasnya, ada kolam renang yang penting karena, Mada dan aku suka banget berenang"
"Hah? hanya ke hotel di sekitar sini? kenapa nggak ke Bali atau ke Jepang lagi?"
Theo terkekeh geli lalu mencium tangannya Binar dan berucap, "anak-anak masih terlalu kecil kalau kita ajak jalan-jalan di tempat yang jauh. Tunggu sampai mereka besar dikit lagi, aku akan ajak kalian ke Jepang. Untuk saat ini yang penting kita bisa family time bebas dari kerjaan jadi aku pikir kita ke hotel di sekitar sini saja"
Binar melingkarkan tangannya di pinggang suaminya lalu tangan yang satunya lagi ia pakai untuk mengusap dada bidang suaminya, "baiklah! aku ikut kata suami tercintaku saja"
Theo mencium bibirnya Binar dengan singkat namun terasa lembut bagi Binar. Binar menepuk dadanya Theo, "kok main cium sih, ini tempat umum kalau ada yang lihat kan malu"
Theo terkekeh geli, "untuk apa malu? aku mencium istriku sendiri. Biar semuanya tahu kalau aku sangat mencintaimu"
Binar merona malu lalu mencium bibirnya Theo. Theo tersenyum lebar dengan mimik wajah penuh tanya. Binar tersenyum dan berkata, "biar imbang karena, aku juga ingin mereka semua tahu, aku sangat mencintai suamiku"
Theo langsung menggelegarkan tawa bahagianya ke udara lalu mulai menyuapi Binar, sup iga makanan kesukaannya Binar dengan penuh kasih mesra.
Binar juga ikutan menyuapi Theo sayur asem, makanan kesukaannya Theo. Untuk sejenak mereka bisa meluapkan cinta mereka berdua tanpa diganggu kedua anak mereka.
Theo kemudian berkata soal Mada ke Binar dan Binar berkata, "gimana kalau Mada tetap bersekolah di kelas reguler biar bisa bergaul dengan teman-temannya. Biar Mada bisa belajar bersosialisasi dengan baik karena, Mada itu sangat pendiam kalau homeschooling aku takut ia nggak punya teman dan aku nggak suka itu. Tapi, kita juga akan datangkan guru privat yang baik dan menyenangkan untuk Mada biar Mada juga tidak merasa terbebani harus berkutat dengan pelajaran melulu"
Theo tersenyum, "aku setuju"
"Hmm, hanya sampai Mada lulus SD nanti pas SMP kita akan cari sekolahan yang sesuai dengan kecerdasannya Mada, gimana?"
Theo tersenyum lebar, ia kecup bibir istrinya lalu berucap, "aku setuju"
"Kok setuju-setuju aja sih?" Binar mencebikkan bibirnya ke Theo.
Theo menyentil hidung mancungnya Binar dengan mesra sambil berucap, "karena, aku suka dengan pemikiran cerdas kamu. Pantas kalau Mada cerdas, ia dapat kecerdasan itu dari bundanya ternyata"
Binar tersenyum lebar dan berkata dengan mimik jenaka, "terima kasih untuk pujiannya"