My Pretty Boss

My Pretty Boss
Aksa dan Binar



Aksa membawa Mada ke rumahnya tanpa seijin Binar karena ia sangat ingin memamerkan dan menunjukkan sosok Mada yang begitu mirip dengannya ke kakek.dan neneknya. Setibanya di rumah, ia mendapati rumahnya sunyi senyap. Mada duduk di sofa ruang tamu karena, ia sudah diajak Aksa makan siang di sebuah restoran maka Mada hanya duduk-duduk saja di sofa ruang tamu.


Betapa kagetnya Aksa saat asisten rumah tangganya memberitahukan ke Aksa kalau neneknya Aksa pingsan tadi pagi dan di bawa ke rumah sakit.


Aksa segera mengajak Mada ke rumah sakit dan sesampainya di rumah sakit, Aksa terlebih dahulu memulangkan Mada ke kamarnya dan Aksa segera ditarik keluar oleh Binar. Binar menyuruh Mada masuk dan menutup pintu kamar itu.


Binar melipat tangan dan mendelik ke Aksa, "kamu bawa ke mana aja Mada sampai sesore ini baru pulang. Kamu tahu kalau kami sedang dilanda kesedihan saat ini karena suamiku belum sadar dan kamu malah membawa Mada........."


"Maafkan Aku!" Aksa meraih kedua bahunya Binar namun Binar segera memundurkan langkahnya dan masih melipat tangan.


"Oke aku salah sama kamu karena telah menyembunyikan soal Mada selama ini. Tapi bukan begini caranya, Sa. Kamu......."


Aksa mendesah panjang, "kita bicarakan lagi nanti, aku masih ada urusan. Nenekku dirawat di sini dan ia......."


"Nenek.........di sini?" tanya Binar.


"Hmm" Mada menganggukkan kepalanya.


Binar segera berucap, "aku ikut. Aku ingin menengok nenek"


"Suami kamu dan kedua anakmu siapa yang jaga?" tanya Aksa.


"Mada.dan Aries dijaga papaku. Mas Theo masih diobservasi karena, belum sadarkan diri sampai sekarang ini dan nggak boleh ditungguin. Aku bisa menengok nenekmu sebentar"


Aksa tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Binar dan Aksa masuk ke dalam ruang rawat inap neneknya Aksa dan ia terkejut melihat ada Monica di sana, "kamu di sini juga? kamu kenal dengan Aksa dan nenek?"


Monica mematung dan hanya bisa beradu pandang dengan Aksa.


Aksa lalu menoleh ke Binar, "aku akan jelaskan nanti" Aksa lalu melangkah mendekati neneknya yang masih terbaring lemah.


Binar ikut mendekati neneknya Aksa. Neneknya Aksa menoleh ke Binar dengan senyum senang, ia akhirnya bisa bertemu lagi dengan Binar. Binar menggenggam tangan keriputnya neneknya Aksa, "nenek sakit apa?"


"Demam berdarah dan berkat sumbangan darah dari Monica, nenek bisa selamat" Binar dan Aksa segera menoleh ke Monica yang masih berdiri mematung di pojok kamar VVIP itu. Aksa kemudian berucap ke Monica, "terima kasih"


Monica hanya bisa mengulas senyum.


Binar kemudian mengelus kening neneknya Aksa, "nenek cepat pulih ya, nanti Binar suruh asisten Binar untuk mengirim buah ke nenek, sekarang Binar pamit dulu, Binar harus balik ke ruang ICU untuk menjaga suami Binar. Doakan suami Binar cepat pulih ya, Nek"


Neneknya Aksa hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya karena, beliau masih lemas lalu memejamkan kedua matanya dan tertidur.


Binar lalu pamit ke Monica dan Aksa segera berkata, "aku antar!"


Binar menoleh ke Aksa, "nggak usah! kamu jaga nenek aja. O iya kakek mana?"


Aksa melempar pertanyaan yang sama lewat tatapan matanya ke Monica.


"Kakek, menebus obat" jawab Monica.


"Sampaikan salamku untuk kakek" sahut Binar.


"Aku akan antarkan kamu. Ada yang ingin kubicarakan dengan kamu. Nenek baik-baik saja dan Monica akan menjaganya"


Binar mendesah panjang lalu berkata, "baiklah! mungkin aku hanya punya waktu bicara denganmu hari ini karena, besok aku akan sangat sibuk"


"Tolong jaga nenek sebentar" ucap Aksa ke Monica dan Monica menganggukkan kepalanya.


Aksa berbicara dengan Binar di depan ruang ICU karena, di saat Binar memencet bel yang ada di samping pintu masuk dan perawat keluar, Binar belum diijinkan masuk untuk menjaga suaminya. Binar masih disuruh menunggu selama satu jam ke depan.


Aksa terus menatap Binar namun, Binar terus menatap pintu ICU.


"Maafkan aku" ucap Aksa.


Binar menoleh ke Aksa, "aku yang seharusnya meminta maaf padamu"


"Andaikan aku tidak marah, gelap mata, dan egois waktu itu, ini semua nggak akan terjadi. Kita akan hidup bahagia dengan Mada" ucap Aksa.


Binar hanya bisa tersenyum lesu karena, nasi sudah menjadi bubur dan dia tidak tahu harus berkomentar apa.


"Maksudmu? oh iya soal Monica, dia..........."


"Dia bukanlah Silver Butterfly. Silver Butterfly adalah aku. Aku memanfaatkan Monica selama ini, maaf aku sudah membodohimu"


Binar ternganga lalu dengan segera berkata, "jadi yang selama ini membantuku membuat desain, yang selalu menyemangatiku di saat aku merasa lelah dan muak, itu kamu?"


Aksa menganggukkan kepalanya.


"Apa maksudmu melakukan semua itu?"


"Karena, kalau aku mengaku sebagai Aksa, kau nggak akan menerima bantuanku dan aku lakukan itu semua lebih karena, aku masih sangat mencintaimu" keseriusan terdengar di nada bicaranya Aksa.


"Kau gila! kenapa kau masih mencintaiku? harusnya kamu membenciku atas semua perkataanku waktu itu, harusnya kamu melupakanku dan.........kau belum menikah? belum punya pacar?"


"Aku belum menikah dan belum punya pacar. Aku masih menggenggam erat rasa cintaku untuk kamu" Aksa menatap Binar dengan sorot mata syahdu.


Binar menyugar rambutnya dengan kasar dan Aksa bisa melihat gelang hasil karyanya melingkar manis di pergelangan tangan kanannya Binar dan Aksa tanpa sadar berucap, "itu desain pertamaku. Kau ingat, waktu kita masih berpacaran, aku membuat desain sebuah gelang dan aku bersyukur akhirnya bisa aku eksekusi desainku dan bisa kamu pakai"


Binar segera menurunkan tangannya lalu menatap gelang yang melingkar di pergelangan tangannya lalu ia menatap Aksa dalam kebingungan dan ketidakpercayaan. Binar akhirnya teringat kembali gelang yang ia pakai pernah ia lihat di buku sketsa gambarnya Aksa dulu, waktu ia masih berpacaran dengan Aksa.


"Ijinkan aku masuk lagi ke kehidupan kamu dan Mada!" ucap Aksa.


"Aku ijinkan kamu masuk ke kehidupannya Mada tapi tidak di kehidupanku. Aku sudah menikah dan aku sangat mencintai suamiku. Aku hanya bisa berjanji sama kamu, aku akan membantumu memberi penjelasan ke Mada kalau kamu adalah ayah kandungnya Mada. Mada juga berhak tahu soal ini dan hanya sebatas itu yang bisa aku lakukan untukmu, maaf!" ucap Binar.


"Baiklah! tapi jangan suruh aku menjauh dari kamu! aku nggak akan lelah menunggumu, aku nggak akan........"


"Sa! lupakan aku!" Binar lalu berdiri dan memencet bel di sebelah pintu ruang ICU. Tidak begitu lama seorang perawat keluar dan Binar segera bertanya, "boleh saya masuk sekarang? saya mohon, saya berdiri dulu di ruang ganti baju, nggak apa-apa"


Akhirnya perawat itu menganggukkan kepalanya dan menyuruh Binar untuk masuk. Binar melangkah masuk ke dalam ruang ICU tanpa menoleh kembali ke Aksa.


Aksa menatap kepergiannya Binar dengan penuh kesedihan dan kekecewaan. Lalu dengan langkah gontai ia berjalan menuju ke kamar rawat inap neneknya.


Sesampainya di dalam kamar, Kakeknya Aksa segera menarik Aksa menuju ke taman yang mengelilingi kamar VVIP tersebut. Monica masih menyuapi neneknya Aksa, bubur.


"Sa! nenek berkata kalau Binar tadi ke sini, apa kamu menjalin hubungan lagi dengan Binar? bukankah Binar udah menikah? kenapa kamu bisa ke sini bareng Binar?" Aksa langsung dibombardir pertanyaan oleh kakeknya.


Aksa mendesah lesu lalu berkata, "Aksa nggak berhubungan lagi dengan Binar, Kek. Tapi, ada rahasia besar yang Binar sembunyikan dari kita selama ini dan Aksa rasa sudah waktunya kakek tahu"


"Rahasia apa itu?"


"Aku dan Binar memiliki seorang putra"


"Hah?!" gigi palsu kakeknya Aksa hampir melompat keluar saking kagetnya.


"Iya. Hasil tes DNA udah keluar dan anak sulungnya Binar adalah anak kandungku. Aku menyesali kebodohanku di masa lalu dan penyesalanku itu membuat aku semakin ingin dekat dengan anakku"


"Kamu boleh dekat dengan anak kamu. Kapan-kapan kamu ajak anak kamu main ke rumah, kamu kenalkan ke kakek dan soal nenek kamu biar kakek yang kasih tahu soal ini nanti, kalau nenek kamu sudah sehat. Tapi, soal Binar, jangan kamu dekati lagi Binar! jangan bermain api dan jangan hancurkan pernikahannya!"


Aksa hanya bisa menghela napas panjang.


"Lihatlah Monica. Dia tidak kalah cantik dengan Binar. Dia juga baik dan lembut bahkan kakek lihat ia hampir mirip dengan Binar. Kenapa tidak kau coba berpacaran dengannya? kakek lihat Monica sangat mencintaimu. Kakek bisa lihat dari sorot matanya Monica saat ia menatapmu, dan dari perhatiannya Monica, kurang apa coba?"


"Kurang cinta, Kek. Aku tidak mencintai Monica"


"Maka cobalah mencintainya dengan mencoba berpacaran dengannya. Dia bahkan tanpa ragu mendonorkan darah untuk nenek kamu. Dia tulus dan baik hati" keseriusan terdengar di nada bicara kakeknya Aksa.


"Apa harus seperti itu?" tanya Aksa.


"Hmm. Percuma kau genggam terus kenangan akan masa lalu kamu dan Binar, rindu itu, cinta itu. Jika kau mau jujur, kau hanya menggenggam debu dan bahkan debu itu telah lama hilang tersapu angin, percuma" ucap kakeknya Aksa.


"Tapi apakah adil bagi Monica jika aku berpacaran dengannya tapi hatiku masih belum bisa lepas dari bayang-bayangnya Binar?"


"Kakek pernah patah hati dan obat patah hati itu ya harus berpacaran lagi, hehehehehe" kekeh kakeknya Aksa.


"Baiklah! aku akan coba berpacaran dengan Monica" sahut Aksa.