
"Yeeeaayyy, MU menang" Binar langsung bangun dan........Dug!! Tanpa sengaja menyundul hidungnya Aksa karena, sedari awal Binar merebahkan kepala di atas pangkuannya Aksa, cowok itu terus mengumpulkan keberanian dan mencari waktu yang tepat untuk bisa mencium Binar. Di saat keberanian dan waktu yang dia rasa tepat untuk menahan napas, menunduk dan bersiap mendsratkan ciuman di bibirnya Binar, tanpa dia duga, Binar justru menegakkan kembali kepalanya dan hidung mancungnya Aksa menjadi korban sundulan kepalanya Binar.
"Aduh!!!" Aksa langsung mengaduh dengan sangat keras dan menutup hidung sembari mendongak ke atas karena sepertinya hidungnya Aksa mimisan terkena sundulan kepalanya Binar.
Binar langsung menoleh dan mengucapkan kata maaf berulangkali sembari membuka tangannya Aksa untuk memeriksa kondisi hidungnya Aksa. Saat melihat ada darah menetes sedikit dari hidung mancung pacarnya itu, Binar langsung menjumput tissue dan dia masukkan tissue itu ke dalam lubang hidungnya Aksa yang sebelah kiri dan dia rebahkan kepalanya Aksa secara perlahan di sandaran sofa.
"Masih sakit?" ucap Binar sambil mengelus-elus keningnya Aksa.
Aksa menggelengkan kepalanya, "udah nggak apa-apa"
"Maaf, aku nggak sengaja" Binar terus mengelus mesra keningnya Aksa dan mengerucutkan bibirnya, "aku ini memang selalu bikin masalah, kenapa juga kamu memilih aku untuk kau jadikan pacar? apa yang kamu suka dariku ini?"
Aksa mengusap rambutnya Binar dan sambil tersenyum dia berucap, "semuanya aku suka"
Binar langsung memukul pelan dadanya Aksa dan merona malu, "jawab yang benar jangan asal kayak gitu jawabnya!"
Aksa terkekeh dan mulai mencabut tissue dari lubang hidungnya lalu duduk tegak dan menghadap ke Binar, "aku serius, aku menyukai semua yang ada pada dirimu. Cerobohnya kamu, cengengnya kamu, judesnya kamu, semau guenya kamu, impulsifnya kamu......."
Binar menepuk bahunya Aksa dengan kesal "kok jelek semua?"
"Hahahaha" Aksa tegelak geli lalu berucap, "iya harus yang jeleknya dulu dong, baru aku bilang, aku suka cantiknya kamu, imutnya kamu, baik hatinya kamu,........."
Binar langsung mendaratkan ciuman di pipinya Aksa. Aksa merekah bahagia lalu balik bertanya, "lalu kamu? kenapa kamu mau menerima aku sebagai pacarmu?"
Binar tersenyum lalu berkata, "kasih tahu nggak ya?"
Aksa langsung menggelitik kedua pinggangnya Binar dan Binar langsung memekik sambil tertawa, "hahahaha, geli hentikan! oke aku jawab tapi jangan digelitikin lagi, stop!"
Aksa terkekeh lalu menghentikan gelitikannya dan menatap Binar untuk menunggu jawaban Binar atas pertanyaannya.
Binar tersenyum lalu menjawab, "aku menerimamu karena, kamu......tampan"
Sedetik, dua detik, tiga detik, Aksa menunggu kelanjutan dari ucapannya Binar namun Binar tersenyum lebar alih-alih menambahkan alasannya kenapa dia menerima Aksa menjadi pacarnya.
Aksa menautkan alisnya, "hanya itu? hanya karena aku tampan?"
"He em" sahut Binar dengan santainya.
"Huuffttt, kamu akan menanggung beban yang sangat berat ke depannya Aksa karena, pacar kamu hanya menyukai ketampananmu, huuffttt" ucap Aksa sembari melipat tangan, merengut dan menghenyakkan tubuhnya ke sofa.
"Hahahahaha, kamu lucu kalau cemberut. Oke aku kasih alasanku yang lain deh tapi entar" ucap Binar lalu dengan santainya cewek cantik itu, menempatkan kedua kakinya di atas pangkuannya Aksa. Aksa menoleh dan menghunus tatapan penuh tanda tanya ke Binar.
"Pfffttt, Kok malah bengong? pijit kakiku! hidung kamu udah sembuh, kan? MU menang jadi sekarang pijit kakiku!" ucap Binar sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Yeeeaahhh, inilah derita pacarnya Binar Adelard, habis disundul hidungnya sampai mimisan, terus sekarang disuruh mijitin kaki, huufftttt, sabar Aksa" Aksa mendesah panjang sembari mulai memijit kakinya Binar.
Binar terkekeh lalu berucap, "aku nggak nyuruh lho, kan perjanjiannya kalau MU menang kamu harus mijit kakiku dan soal sundulan tadi, ppffttt, aku kan nggak sengaja"
Aksa menoleh ke Binar, tersenyum, dan kembali mendesah panjang, "terlalu keras nggak pijitanku?"
"Pas, oke, sip!" Sahut Binar.
Aksa mencebikkan bibirnya ke Binar dan berucap, "kalau ada maunya aja, bilang pas, oke, sip"
Aksa menoleh dan tersenyum penuh cinta melihat Binar telah terlelap dengan begitu cantiknya di sandaran sofanya, "bisa-bisanya dia tidur dengan nyaman dan santai seperti itu, di apartemen cowok, hmm" Aksa kemudian bangkit secara perlahan lalu membopong tubuh rampingnya Binar dan dia bawa masuk ke dalam kamarnya. Aksa kemudian menghidupkan AC, menyelimuti Binar, mencium keningnya Binar, lalu keluar dari kamar itu meninggalkan Binar tidur sendirian di kamar dia yang bernuansa merah darah.
Aksa kemudian kembali ke ruang keluarga untuk mematikan televisi, membereskan meja, lalu menuju ke dapur sambil membawa mangkok dan cangkir yang habis dia dan Binar pakai lalu dia cuci semuanya di wastafel. Setelah selesai, dia kembali ke ruang keluarga dan membuka laptopnya untuk mulai mengeksekusi draft kerja samanya dengan Hotel Revano karena, lusa dia harus ke Bali untuk mengerjakan desainnya itu.
Tiba-tiba....Tingtong.....Bel pintunya berbunyi.
Aksa bangkit dan melangkah lebar menuju ke luar mini yang terpasang di atas tembok di sebelah pintunya, "Rita? ngapain dia ke sini?"
Rita melambai di layar mini itu dan berucap, "aku tahu kau ada di rumah jadi buka pintunya! Ada hal yang sangat penting yang ingin aku bicarakan sama kamu"
Aksa merasa ragu untuk membuka pintunya namun Rita terus memencet bel pintu itu. Akhirnya Aksa membuka pintunya karena, dia tidak ingin jika Binar menjadi terbangun mendengar suara bel secara terus menerus.
Rita melangkah masuk dan langsung mematung ketika dia menangkap keberadaan sepasang sepatu wanita high heels berwarna krem yang nampak mahal dan elegan, "siapa wanita ini?" Rita bertanya sembari mendongak untuk menatap Aksa.
"Pacarku" ucap Aksa.
Rita mematung lalu tertawa tipis, "kamu bohong, kan? aku tahu kalau kamu belum melupakan aku" Rita kemudian melepas sepatu sneakers-nya lalu melangkah masuk u tuk duduk di ruang tamunya Aksa.
Aksa menutup pintu lalu mengikuti langkahnya Rita dan berdiri cukup jauh dari tempat duduknya Rita, "katakan apa hal penting itu lalu pergilah"
"Di mana wanita itu? apa diam astaga! dia di kamarmu?" ucap Rita sambil bangkit dan melangkah lebar ke kamarnya Aksa. Aksa langsung memblokir Rita.
"Minggir! aku mau lihat seperti apa pacarmu yang sekarang? kamu bahkan sudah tidur denganny. Padahal saat kamu berpacaran denganku kita bahkan belum pernah sekalipun berciuman. Aku ingin lihat apa istimewanya wanita itu!" Rita mulai meninggikan suaranya karena, kesal.
"Pelankan suara kamu! jangan sampai pacarku terbangun! kalau kamu sampai bikin keributan dan membuatnya terbangun maka aku akan telpon satpam untuk menarikmu keluar secara paksa dari sini" ucap Aksa dengan masih berdiri di depan pintu kamarnya untuk menghalangi Rita membuka pintu kamarnya.
"Aku masih mencintaimu Aksa, sungguh! aku ke sini karena, aku dengar dari Dani kalau kamu masih memasang foto kita berdua di medsos kamu" ucap Rita dengan penuh percaya diri.
"Aku sudah lama tidak membuka medsosku sejak kita putus jadi aku lupa menghapus foto kita berdua" Aksa kemudian mengambil ponsel dari dalam saku celananya lalu membuka medsosnya dan menghapus semua foto dia dengan Rita kemudian menunjukannya ke Rita, "see! udah bersih sekarang medsosku dari semua kenangan kita dulu"
Rita menggigit bibir bawahnya untuk menahan tangis dan kesal selama sepersekian detik kemudian berucap, "aku ternyata berkencan dengan suami orang dan aku sungguh menyesal mengkhianati kamu demi dia. Aku tergoda akan kedewasaannya, kesabarannya, dan........"
"Uangnya" tambah Aksa.
Rita mendelik, "jangan bicara seperti itu! apa aku serendah itu di mata kamu?"
"Itu kenyataannya kan. Aku nggak pernah mengajakmu makan di restoran mewah, nggak pernah membelikanmu barang mahal, tapi cowok itu selalu mengajakmu makan di restoran mewah yang super mahal kan, membelikanmu apartemen, membelikanmu kalung berlian, sepatu bermerk dan......"
"Ba...bagaimana kau bisa tahu semua itu?" tanya Rita.
"Pokoknya aku tahu. Sebenarnya aku memilih untuk diam dan malas membahas soal semua tadi denganmu. Tapi kamu memaksa aku untuk akhirnya mengatakan semuanya. Bukankah kamu juga sudah meminta ketegasan dari hubungan kita, maka aku pun meminta kita untuk putus dan kamu sudah menyetujuinya, kan?" Aksa berkata dengan pandangan yang cukup menusuk ke Rita.
"Aku salah, maafkan aku! aku ingin kita mulai dari awal lagi. Aku masih mencintaimu, sungguh!" Rita memeluk Aksa dan dengan sekuat tenaga, Aksa mendorong Rita.
"Aku sudah memiliki pacar sekarang dan aku sangat mencintainya. Jadi pergilah dan lupakan aku!" ucap Aksa tegas.
Rita menatap Aksa dengan air mata yang mulai mengalir membahasi kedua pipinya, "aku nggak akan menyerah untuk memilikimu lagi. Aku akan mengalahkan wanita yang ada di dalam kamarmu itu, camkan itu, Aksa!" Rita kemudian berbalik badan dan pergi meninggakan Aksa.
Rita melangkah meninggalkan apartemennya Aksa sambil mengusap air matanya dan bergumam, "shit! aku gagal menjebak Aksa untuk tidur denganku. Aku sekarang ini hamil lalu siapa yang akan bertanggung jawab atas anakku ini padahal bapak dari anak ini telah memiliki istri dan anak. Aku memang bodoh terbuai dengan hartanya dan tidak berpikir panjang"