
Gerak isyarat yang lembut mengancam keseimbangannya Binar dan dia berjuang untuk tidak bereaksi saat Theo mengusap rambutnya Binar. Binar melihat buli-bulu halus di lengan bawah Theo menimbulkan tusukan sensasi dan Binar secara tidak sadar menaikkan tatapannya. Binar melihat ekspresi mata Theo membuat napasnya terhenti. Binar segera menatap kancing bajunya Theo kembali.
Theo bergerak pelan dan lembut mencubit dagunya Binar. Dia kemudian mengangkat wajah cantiknya Binar. Kedua bola matanya menembus manik hitamnya Binar dengan penuh cinta dan damba. Bukanlah gairah yang dia rasakan namun, lebih ke mendamba, mengagumi, dan memuja.
Binar menatap Theo dengan kedua tangannya masih memegang kancing kemejanya Theo yang belum selesai dia kancingkan dengan sempurna. Binar kemudian bertanya, "ada apa?"
Glek!.......Theo menelan salivanya dengan susah payah untuk bisa berucap, "bolehkah aku mencium kamu?"
Binar tertegun dan meminta keseriusan dari kedua sorot matanya Theo tanpa sebuah jawaban.
"Binar, bolehkah?" tanya Theo dengan suara serak-serak basah.penuh dengan keseriusan.
Binar semakin mematung dan diam seribu bahasa.
"Aku akan mencari jawabannya sendiri kalau begitu" ucap Theo kemudian menempelkan bibirnya di bibirnya Binar. Hanya menempel selama dua menit. Theo menunggu Binar mendorongnya atau menamparnya namun, Binar justru mematung.
Theo mencoba mulai menggerakkan bibirnya menyapu bibirnya Binar dan Binar tidak mendorongnya. Theo kemudian mendesah, memeluk pinggangnya Binar dengan tangan kirinya dan tangan kanannya menangkup rahangnya Binar. Theo mulai mencium bibirnya Binar dengan penuh kelembutan dan perasaan namun, Binar tidak membalas ciuman itu. Binar membeku dengan tangan terkulai lemas di kedua sisi tubuhnya.
Theo kemudian melepaskan ciumannya lalu menangkup kedua pipinya Binar. Dia mengecup kedua matanya Binar yang masih terpejam. Setelah itu, dia berkata, "maafkan, aku!"
Binar membuka kedua matanya, "seharusnya aku yang meminta maaf karena, sebagai istri kamu, aku tidak membalas ciumanmu"
"Kenapa kamu tidak menolaknya? kenapa kamu tidak mendorong dan menamparku tadi?" tanya Theo sambil mengelus pipinya Binar.
"Karena, kamu suamiku. Kamu berhak atas diriku" ucap Binar.
Theo kemudian memeluk Binar dan berkata, "maafkan aku! lain kali jika aku melakukannya lagi, dorong aku, tampar dan bentaklah aku! jangan diam saja! kamu berhak menolakku kalau kamu belum bisa memberikan hati kamu sepenuhnya untukku"
Binar melepaskan diri dari pelukannya Theo lalu berkata, "kita bahas soal ini nanti malam, ya?! kita ditunggu oleh Indira dan semua baju yang kamu coba, bagus! aku belikan semuanya untuk kamu, oke?" Binar kemudian berbalik badan.
"Eits!" Theo menggaet lengannya Bjnar, "aku yang akan membelinya. Kok jadi kamu yang mau membelikannya, sih?"
"Ijinkan aku membelikan baju untukmu. Kamu bayar ketiga bajuku tadi dan aku bayar ketiga kemeja kamu ini, titik" ucap Binar sembari menarik Theo, dia ajak untuk keluar dari kamar mereka.
Theo tersenyum dan menggelengkan kepalanya sembari mengiringi langkahnya Binar. Tanpa sadar mereka menuruni satu demi satu anak tangga dengan bergandengan tangan.
Setibanya di lantai bawah, Indira langsung bangkit dan berkacak pinggang sambil berkata, "wah! wah! wah! pengantin baru, coba baju tiga potong aja sampai satu jam lebih, hadeeehhh!"
Binar terkekeh dan berucap, "maaf kalau lama"
"Mending cuma itungan jam nggak sampai besok, kan" Theo mencebikkan bibirnya ke Indira.
Indira dan Binar kemudian tertawa lepas melihat tingkah konyolnya Theo.
Theo kemudian membayar dress yang dipilih Binar lewat dompet digitalnya. Begitupun dengan Binar.
Indira tersenyum lebar, "wah! kalian ini so sweet banget sih! saling membelikan baju kayak gini, aiihhhh! bikin iri!"
Binar dan Theo tersenyum lebar ke Indira.
Tidak begitu lama Miko keluar dengan mengenakan, kaos putih polos dipadukan dengan kemeja denim yang terbuka semua kancingnya, lalu celana denim yang senada dengan kemejanya, dan sentuhan akhir sepatu sneakers bermerk berwarna putih, membuat Miko terlihat begitu tampan dan macho.
Theo menatap Miko dan berkomentar, "kamu pantas berpenampilan begini. Keren dan macho, sip!"
Binar terkekeh dan berucap, "iya benar! kamu kelihatan ganteng, tampan, dan keren, Ko!"
"Cakep mana nih, bos Theo apa Miko?" tanya Miko sambil terkekeh geli dan hampir keluar kemayu-nya.
Binar langsung menepuk bahunya Miko dengan segepok uang berwarna biru muda. Miko kembali macho dan tertawa senang sambil berucap, "thank you bos!"
Binar tertawa dan langsung mendorong Miko untuk segera berangkat kencan dengan Indira.
"Naik mobilku aja nanti aku antarkan kamu balik ke sini" ucap Indira.
"Kenapa kamu memilih Miko untuk jadi asisten rumah tangga kamu?" tanya Theo sembari mengajak Binar menuju ke ruang makan.
"Karena, Miko nggak ceriwis, nggak kepo, nggak suka main ke tetangga untuk bergosip, dan pandai menyimpan rahasia" ucap Binar.
"Oh" sahut Theo singkat.
Binar dan Theo makan malam dalam diam. Mereka masih merasa canggung satu sama lain soal ciumannya Theo.
Setelah makan malam, Theo mengajak Binar ke ruang keluarga sambil membawakan air putih dingin untuk Binar.
Mereka duduk bersebelahan sambil menonton televisi.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Theo secara tiba-tiba.
Sesuatu di dalam nada Theo itu membuat Binar memandang wajah tampan suaminya itu. Wajah Theo nampak kehilangan semangat dan di matanya bersembunyi bayangan-bayangan samar yang tidak bisa Binar gapai.
"Aku.....aku....." tenggorokan Binar terasa kasar, sehingga dia menghentikan ucapannya.
"Ini, minum air sedikit" Theo mengulurkan gelas dan menunggu beberapa detik sampai Binar selesai menyeruput beberapa teguk air putih dingin itu.
Binar menaruh gelas di atas meja kemudian memandang Theo, "Theo......"
"Sebelum kamu mengucapkan sesuatu, aku ingin memberitahukan ke kamu terlebih dahulu. Ciumanku tadi bukan ciuman seorang laki-laki brengsek yang melakukannya untuk sekadar coba-coba, aku.........."
"Theo aku........"
"Ijinkan aku selesaikan dulu kalimatku, Bin! oke?"
Binar menganggukkan kepalanya.
Theo menghela napas panjang dan kembali berkata, "aku mencium kamu dengan kelembutan, aku yakin kamu bisa merasakannya kan?"
Binar kembali menganggukkan kepalanya.
"Aku melakukannya penuh kelembutan karena, kamu spesial bagiku. Kamu wanita pertama yang aku cium di bibir dan itu benar" ucap Theo saat melihat Binar mengulum bibir dengan sorot mata tidak percaya akan pengakuannya Theo.
"Oke aku percaya. Teruskan!" ucap Binar dengan masih mengulum bibirnya.
Theo tersenyum melihat tingkahnya Binar dan kembali berucap, "kamu spesial bagiku bukan karena, kamu istriku tapi, aku akan mengaku sama kamu kalau aku jatuh cinta kepadamu tepat di saat kamu menjatuhkan aku di atas aspal"
"Hah?! Theo jangan bergurau!" sontak Binar membeliakkan matanya.
"Itu benar. Itulah kenapa aku rela melakukan apapun demi kamu. Kalau misalnya kamu ambil keputusan mengejar Aksa sampai ke Amerika pun, akan aku temani tapi, kamu malah ambil keputusan menikah denganku"
Binar menatap Theo dengan penuh keprihatinan. Dia merasa sangat bersalah karena, Theo melakukannya atas dasar cinta dan dia seperti wanita egois yang tidak tahu apa-apa dan mengambil keuntungan dari rasa cinta yang Theo miliki untuknya.
"Kamu nggak perlu merasa bersalah. Kita melakukannya karena, kita sama-sama mau menikah. Kita suami istri sekarang ini dan aku nggak akan pernah menceraikanmu. Aku mengatakan semuanya, rasa cintaku ke kamu, agar kamu tidak menilai ciumanku sebagai hal yang merendahkanmu. Nggak! aku nggak berniat merendahkanmu, aku melakukannya murni atas dasar cinta yang suci. Aku sungguh-sungguh mencintaimu dengan tulus, Bin. Ciumanku pun tulus dan suci"
"Terima kasih sudah mencintaiku dengan tulus. Terima kasih sudah banyak berkorban untukku tapi, maaf.......aku belum bisa membalas perasaanmu saat ini"
"Nggak apa-apa. Aku paham kita baru saja menikah selama seminggu. Aku paham kalau kamu belum bisa mencintaiku tapi aku mohon belajarlah untuk mencintaiku, kamu mau kan?"
Binar tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "aku mau belajar untuk mencintaimu dan semoga gurunya tidak galak, tidak bosan mengajariku, dan sabar"
Theo tertawa kemudian berkata, "Aku akan bersabar dan aku akan terus mengajarimu untuk mencintaiku tanpa bosan" Theo melempar senyum ke Binar dan melanjutkan ucapannya, "aku juga akan membuat kamu dan anak kamu bahagia di dalam kasih sayangku selamanya"
"Amin" Binar berkata lirih dan tanpa sadar menitikkan air matanya. Dia terharu dengan semua ketulusan dan kesabarannya Theo untuk dia dan untuk anak yang ada di dalam kandungannya.
Theo menggeser letak duduknya lalu menarik Binar masuk ke dalam dekapannya, "jangan sering menangis! kasihan anak kamu" ucap Theo sambil mengelus-elus bahunya Binar.
Binar semakin terisak dan tanpa sadar memeluk pinggangnya Theo dan membenamkan wajah ayunya di dada bidangnya Theo.