
Binar mengetikkan pesan ke email-nya Silver Butterfly, saya telah menerima anda menjadi karyawan online saya dan saya menunggu foto profil, biodata lengkap, dan nomer ponsel anda. Nomer ponsel anda penting karena, nomer ponsel anda akan saya masukkan ke grup karyawan saya.
Binar lalu memasukkan kembali ponselnya ke saku celana kainnya. Hari itu Binar mengenakan setelan celana kain longgar dan panjang berwarna cokelat muda dipadukan dengan blus longgar berkerah V berwarna biru muda, membuat Binar yang berwana putih bersih semakin terlihat cantik.
Tepat jam 2 siang di Indonesia, Aksa telah terlelap di dalam tidurnya karena, di Amerika waktu menunjukkan jam 2 dinihari dan Aksa belum mengetahui kalau Silver Butterfly telah diterima Binar menjadi karyawan online-nya Binar.
Theo menoleh ke Balkon untuk melihat istrinya. Tanpa Theo sadari dia mendesah berat, ada desiran aneh di dadanya yang kembali dia rasakan saat dia teringat semua tingkah lakunya Binar soal bau badannya Andik yang mirip dengan Aksa, steak, dan saat Binar menyingkirkan sayuran di nasi goreng yang dimakan Binar tadi siang.
Theo terus menoleh ke balkon untuk melihat Binar sambil berkata di dalam hatinya, Kenapa aku jadi sadboy gini sih? aku mencintai Binar apa adanya dan aku juga sangat menyayangi anak yang dikandung Binar tapi kenapa, aku harus cemburu saat Binar melakukan semua hal yang mengingatkanku akan Aksa. Andai Binar mual karena, bau badanku, aku akan sangat bahagia dan andai ia makan makanan kesukaanku atau ia menolak makanan yang aku nggak suka, aahhh! andai dan andai yang bisa kukatakan..........................
"Bos?" Andik memanggil Bosnya namun, Theo masih terpaku menatap Binar yang masih duduk di bangku yang berada di balkon, dari kursi kerjanya.
Andik lalu menjentikkan jari di depannya Theo sambil berucap, "anybody home, halo!?"
Theo tersentak dari lamunannya dan menoleh ke Andik, "ada apa? apa yang salah di laporannya?"
"Hmm, Bos kenapa melamun dan melihat ke balkon terus? nyonya nggak akan hilang diambil Alien, Bos, nyonya aman di sana" kata Andik.
Theo tersenyum dan berkata, "hehehehe, sori Bro. Yuk kita lanjutkan, sampai mana tadi?"
Andik menghela napas panjang lalu kembali menerangkan laporan yang dia buat ke Theo.
Setelah selesai, Theo memberikan parfum yang kemarin dia beli ke Andik dan berkata, "ganti pakai parfum ini. Wanginya sama dengan wangiku dan Binar menyukainya"
Andik menerima parfum pemberiannya Theo yang masih tersegel rapi lalu berkata, "makasih Bos. Emm, kalau pakai parfum ini, bisakah ya saya menjadi setampan dan sekeren, Bos?" Andik kemudian meringis ke Theo.
Theo segera menggelegarkan tawanya mendengar celotehannya Andik lalu dia berkata, "kamu itu udah tampan dan keren. Buktinya banyak yang naksir kamu bahkan Miko pun naksir kamu, hahahahaha"
Andik langsung merengut dan langsung pamit keluar dari ruangannya Theo, pergi meninggalkan Theo. Theo kembali menggelegarkan tawanya. Lalu Theo merapikan mejanya, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan berjalan menuju ke balkon.
Theo duduk di atas bangku dan langsung merangkul bahu istri cantiknya itu. Binar menoleh dan memberikan senyum manisnya ke Theo, "sudah selesai?"
"Hmm" Theo mencium keningnya Binar. Lalu dia berkata, "kita mau di sini dulu, apa mau pulang, atau kamu pengen ke mana? mau makan apa?" Theo lalu meraih tangannya Binar yang terkulai manis di ayas pangkuannya Binar. Theo genggam lalu dia ciumi tangannya Binar itu.
"Umm, aku masih kenyang. Aku ingin jalan-jalan ke taman Yang berada di sekitar restoran Palma Kitchen, boleh?" tanya Binar.
Theo menghirup dalam-dalam telapak tangannya Binar lalu berkata, "boleh dong, kita berangkat sekarang?"
Binar mengangguk senang. Mereka kemudian berdiri dan berjalan dengan bergandengan tangan meninggalkan ruangannya Theo. Theo berhenti sebentar di depan meja kerja sekretarisnya untuk berkata, "katakan ke Andik, aku dan istriku ke Palma Kitchen. Kalau Andik udah selesai suruh Andik menyusul ke Palma Kitchen dan tolong kamu kasih ke Andik jadwal kerjaku untuk besok"
Sekretarisnya Theo yang berdiri di depannya Theo segera berucap, "baik Pak"
Theo tersenyum lalu meninggalkan meja kerja sekretarisnya dan tetap bergandengan tangan dengan Binar. Binar berucap di dalam lift, "sekretaris kamu sangat cantik dan lembut ha wajahnya"
Theo tersenyum lalu menggamit pinggangnya Binar, Binar merasa geli dan langsung melempar protes dalam tawanya, "geli, Mas"
Theo segera memeluk pinggangnya Binar dan dia hold lift pribadinya itu, dia berkata, "persetan kita ada di mana saat ini, kamu membuatku ingin mencium kamu saat ini juga karena, kamu nampak menggemaskan kalau cemburu" lalu dia segera mencium bibirnya Binar.
Theo berbisik di sela ciumannya, "panggil namaku sayang"
Binar menyukai saat bibirnya mengulum bibirnya Theo dalam-dalam dan mengucapkan nama Theo. Theo tersenyum penuh cinta dan hasrat liat. Theo memperdalam ciumannya lalu beralih ke lehernya Binar, bibirnya membelai kulit Binar dan mendesah, "aku harus hentikan, maaf sayang jika tidak maka aku akan memaksamu melakukannya di sini"
Binar melemas di dalam pelukannya Theo. Lalu dia mendongakkan wajahnya dan mengambil saputangan dari dalam tas jinjing mungilnya untuk mengelap bibirnya Theo yang belepotan terkena noda lipstick-nya.
Theo tersenyum lalu mencium keningnya Binar dan memencet kembali tombol hold dan Lift segera meluncur ke lantai bawah. Binar menunjukkan saputangan yang masih dia pegang ke Theo dan bertanya, "kau masih ingat saputangan ini?"
Theo mencium pelipisnya Binar, dia tersenyum dan berkata, "tentu saja ingat. Saputangan itu milikku yang waktu itu aku pinjamkan untuk mengusap air mata kamu"
"Dan aku lupa mengembalikannya padahal saputangan ini selalu aku bawa ke mana pun aku pergi, hehehehehe"
Theo tertawa senang, "aku bahagia kamu menyimpan saputanganku dan membawa ke mana pun kamu pergi, terima kasih sayang"
Sesampainya di dalam mobil Theo segera meminta Miko untuk mengantarkan mereka ke restoran Palma Kitchen, dan Binar kembali bertanya, "siapa nama sekretaris kamu tadi? dia masih single atau sudah menikah?"
Theo tertawa lirih sambil menutup wajahnya dengan tangannya lalu menoleh ke Binar sambil mengelus pipinya Binar dan berkata, "serius kamu menanyakan hal itu? kamu sadar kan, kamu tuh menggemaskan kalau cemburu, apa mau aku cium sekarang juga, di depannya Miko?"
Miko segera menyahut, "cium aja Bos, Miko nggak lihat kok"
Binar mengembangkan hidungnya, mendorong Theo lalu sambil melipat tangan dia berkata, "jawab atau aku akan ngambek. Kamu belum pernah lihat aku ngambek, kan?"
"Jangan sampai Bos Binar ngambek, Bos. Itu akan sangat menyiksa" sahut Miko.
Theo tersenyum renyah lalu berkata, "oke jawab, sekretarisku namanya Rosa Marlinda, umur 35 tahun, sudah menikah dengan seorang dosen, dan sudah memiliki dua orang anak cewek dan cowok, komplit kan, jawabanku?"
Binar mencebikkan bibirnya lalu menghambur masuk ke dalam pelukannya Theo dan berkata, "kamu harus sabar menghadapi wanita hamil, moodnya suka berubah-ubah, suka aneh-aneh, dan......"
Theo menyentuh bibirnya Binar dengan jari telunjuknya, "dan aku akan selalu sabar untuk kamu karena, aku sangat mencintai kamu dan anak kita, hmm"
Binar mendongakkan wajahnya dan mencium pipinya Theo, "makasih Mas"
Tiba-tiba Binar memekik, "Ko, mampir ke supermarket dong, kamu turun belikan aku alpukat madu ya, aku tiba-tiba pengen bikin alpukat kocok"
Miko menjawab, "lho alpukat? Bos kan nggak doyan alpukat selama ini?"
Theo segera menunduk untuk melihat wajah cantik istrinya. Binar tersenyum, "iya, tapi entah kenapa tiba-tiba aku pengen bikin alpukat kocok, dikasih susu cokelat , hmm, pasti enak banget"
"Nanti kalau muntah?" sahut Miko sambil membelokkan mobil ke supermarket.
"Nggak akan muntah kayaknya" sahut Binar.
"Beli dua kilo aja dulu Ko! paling cuma dapat 2 atau empat buah tergantung besar kecilnya. Entar kalau ternyata Binar doyan banget, kita beli lagi besok" sahut Theo.
"Siap" Miko menerima uang dari Binar dan melangkah turun dari dalam mobil.
Selang dua puluh lima menit Theo kembali sambil menenteng satu kantong palstik yang penuh dengan buah alpukat madu.
Miko segera meluncurkan kembali mobilnya Binar menuju ke Palma Kitchen.
Setelah sampai di Palma Kitchen, Binar turun dan langsung menarik Theo menuju ke taman yang berada tidak jauh dari restoran tersebut. Taman itu adalah taman di mana untuk pertama kalinya Binar dan Aksa berkencan dan entah kenapa, Binar ingin berjalan-jalan di taman itu dan duduk di bangku yang sama yang pernah dia pakai duduk bersama dengan Aksa dulu sewaktu mereka pertama kali jadian.
Binar duduk sambil merebahkan kepalanya di atas bahunya Theo dan berkata, "aku menyukai suasana taman ini, teduh, sepi, asri, dan ada kolam ikan yang bersih, dan di sini ada banyak kupu-kupu"
"Kamu suka kupu-kupu atau ikan?" tanya Theo sambil memainkan jari jemarinya di dalam ikatan jari jemarinya Binar.
"Aku suka semua binatang, aku bahkan pernah memelihara ular piton kecil berwana oranye tapi Miko takut, terus aku kasih ke temanku, ular pitonku itu. Dan sekarang ular kecil nan imutku itu udah tumbuh besar dan panjang banget" ucap Binar sambil menatap kupu-kupu yang terbang kian kemari di taman itu mengitari sekumpulan bunga mawar merah yang ada di taman itu.
Theo tertawa kecil dan bertanya, "kamu itu memang unik itulah kenapa aku jatuh cinta padamu"
Binar mengunci rapat-rapat kenangannya bersama Aksa di taman kenangan itu karena, dia tidak ingin merusak momen kebersamaannya dengan Theo dan tidak ingin menyakiti perasaannya Theo.
"Kamu juga unik dan aku mencintaimu" sahut Binar. Lalu Bina berdiri, dan menarik tangannya Theo. Theo lun berdiri dan bertanya, "mau japan-jalan lagi?"
Binar tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "aku lapar, kita ke restoran sekarang ya?"
Theo terkekeh geli lalu berkata, "siap tuan putri"
Mereka bergandengan tangan menuju ke restoran dan di saat mereka masuk, Andik sudah duduk di sebuah meja bersama dengan Miko. Andik sudah mandi, berganti baju dan memakai parfum yang diberikan oleh Theo tadi siang. Binar duduk di meja itu dengan senyum lebar dan berkata, "nah! wangi ini aman untukku"
Semuanya langsung tertawa riang menyambut celotehannya Binar dan tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang memandang mereka dengan senyum penuh dengan kecemburuan.