My Pretty Boss

My Pretty Boss
Hatiku Hangat Karena, Kamu



Theo mengajak Binar membeli cincin pernikahan untuk mereka. Theo mengajaknya ke toko berlian milik sahabatnya yang adalah seorang wanita yang sangat cantik dan anggun.


"Theo! apa kabar?" wanita cantik yang bernama Kimberly itu langsung memeluk Theo dengan sangat erat kemudian memegang kedua bahunya Theo untuk mencium pipi kanan dan pipi kirinya Theo.


Theo mematung kaku dan Kimberly terkekeh geli, "kenapa kaku? sama aku kok canggung gini sih? dan......ini siapa?" tanya Kimberly sambil menoleh ke Binar yang tersenyum lebar ke Kimberly dengan rasa kesal di dalam hatinya.


Theo langsung merangkul bahunya Binar, "ini istriku. Mulai sekarang tiap kali aku ke sini nggak usah main peluk dadakan dan cium-cium kayak tadi"


Kimberly langsung menarik tangannya Binar sehingga Binar terlepas dari rangkulannya Theo lalu memeluk Binar dengan sangat erat dan dia juga mencium pipi kiri dan pipi kanannya Binar lalu memekik girang, "AW! Theo! kau beruntung menemukan wanita secantik, seimut, dan sewangi ini" ucap Kimberly.


Binar tersenyum lebar dan menatap Kimberly dengan rasa geli.


"Saya Kimberly. Saya teman kuliahnya Theo di Amerika. Saya sudah menikah dan memiliki satu putra yang masih berumur dua tahun" ucap Kimberly sambil merangkul Binar dan mengajak Binar berjalan meninggalkan Theo lalu mereka duduk di atas sofa.


"Oh" rasa kesal dan cemburu seketika menguap lepas dari dalam hatinya Binar.


Theo menggelengkan kepalanya lalu menyusul dan duduk di sebelahnya Binar, "dia itu sudah menganggapku sebagai adiknya. Dia seniorku ketika aku ambil S2 di Amerika. Dia ya...... seperti itu"


"Hahahaha, seperti apa? ayok katakan!" sahut Kimberly.


"Hehehehe, biar istriku yang menilainya sendiri. Aku takut salah omong dan kena hukuman nanti di rumah, hehehehe" ucap Theo. Binar langsung tertawa dan secara tidak sadar dia mengusap pipi kirinya Theo.


Theo tersontak lalu meraih tangannya Binar dan dia genggam tangannya Binar. Binar tersenyum ke Theo dan mengijinkan tangan cantiknya digenggam oleh Theo, membuat Theo girang bukan kepalang.


Kimberly tersenyum bahagia melihat kemesraannya Theo dengan istrinya lali bertanya, "ada perlu apa kemari?"


"Mau wedangan" sahut Theo.


"Hah?!" Kimberly langsung menarik dagunya ke bawah dan Binar kembali tertawa lirih lalu menoleh ke Theo. Theo tersenyum ke Binar sambil mengangkat kedua alisnya.


Lalu Theo mengalihkan pandangannya ke Kimberly, "kamu sih pakai nanya ngapain ke sini. Iya tentu saja mau pesan perhiasan"


Kimberly terkekeh lalu menggelengkan kepalanya, "nyonya Theo, anda harus bersabar menghadapi sikap santainya itu yang terkadang sangat menjengkelkan"


Binar berucap, "saya juga bukan orang yang serius kok. Makanya kami cocok, hehehehe"


"Baguslah! saya senang kalau akhirnya Theo menikah dan bahagia. Jaga dia dengan baik ya nyonya Theo, saya tidak ingin adik saya itu sedih" ucap Kimberly.


Binar menoleh ke Theo lalu menatap Kimberly, "pasti. Saya akan membuatnya bahagia"


"Hei! harusnya yang bilang seperti itu tuh aku kok kamu lagi sih, Bin?" sahut Theo.


Binar dan Kimberly tertawa lepas secara bersamaan kemudian Kimberly berucap, "aku lirik di jari manis kalian berdua belum ada cincin maka aku yakin kalau kalian ke sini mau membeli cincin pernikahan, betul?"


"Hmm kamu betul dapat nilai seratus, hehehehe. Kasih lihat ke aku dan istriku ini model paling baru dan paling romantis" sahut Theo.


"Oke!" Kimberly lalu bangkit untuk mengambil desain terbaru dari tokonya dan dia pilihkan beberapa model yang menurut dia romantis.


Selang lima belas menit Kimberly kembali dan memperlihatkan tida desain terbaru dan paling romantis. Ada model dua hati terikat menjadi satu, setengah hati terpisah dan kalau kedua cincin digabungkan setengah hati itu menjadi satu dan baru bisa terbentuk sebuah hati yang sangat manis, dan yang terakhir, berbentuk hati dan gembok yang terikat. Gemboknya penuh dengan berlian sedangkan bentuk hatinya berlubang.


Binar menoleh ke Theo dan Theo berkata, "pilihlah yang kamu suka!"


Binar kemudian menarik tangannya dari genggaman tangannya Theo dan dengan sangat terpaksa Theo melepas tangan cantiknya BInar karena, Binar ingin memegang cincin pilihannya. Binar memilih desain gembok dan hati yang terikat lalu menyerahkannya ke Kimberly, "saya pilih yang ini"


"Kenapa anda memilih yang ini?"" tanya Kimberly sambil memegang cincin berdesain gembok dan hati yang terikat.


Binar menoleh ke Theo, "itu tanda kalau hati saya udah digembok sama Theo, hehehehe dan saya lihat desainnya cukup unik, cantik, anti mainstream. Jadi saya pilih yang itu saja"


Theo berbisik ke Binar, "pilihan yang bagus. Aku suka"


Binar merona malu dan Kimberly tersenyum bahagia, "oke! berapa ukuran lingkar jari kalian?"


"Saya 7" sahut Binar lalu menoleh ke Theo dan Theo menyahut, "aku 12,5"


"Oke! aku siapkan dan aku akan ukir nama di cincin ini. Mau nama apa?" tanya Kimberly.


"Binar dan Theo saja" ucap Binar.


"Jangan! terlalu biasa itu!" sahut Theo.


"Lalu?" Kimberly menatap Theo.


"Ukir tulisan Teddy Bear di cincinnya Binar dan ukir tulisan Bee di cincinku"


"Hah?!" Kimberly kembali ternganga.


Binar menatap ke Theo dengan tersenyum dan muka penuh tanda tanya.


"Hehehe, huruf awal namaku kan T, kalau diukir T aja kan lucu makanya aku kepikiran Teddy Bear. Terus nama kamu berawalan B jadi aku kepikiran Bee, hehehehe, keren kan? aku Teddy bear kamu dan kamu Bee-ku"


Binar tersenyum lebar dengan rasa geli lalu berucap, "baiklah, ukir aja seperti itu kak!"


"Oke!" Kimberly bangkit sembari mengukir senyum lebar ke Theo dan menggelengkan kepalanya.


"Kamu romantis juga ya?" ucap Binar sambil menghadap ke Theo.


Setengah jam kemudian mereka keluar dari toko berliannya Kimberly dan menuju ke sebuah butik.


"Untuk apa ke sini?" tanya Binar.


"Aku ada pertemuan dengan Kenzo Julian sebentar lagi. Apa kamu bersedia menemaniku?" tanya Theo.


"Aku istri kamu jadi aku harus menemani kamu" sahut Binar.


"Nah! sekarang coba beberapa baju dan kasih lihat ke aku. Aku ingin kamu nampak anggun di depannya Kenzo Julian"


Binar terkekeh lalu berucap, "oke suamiku"


Setelah mencoba beberapa potong baju, pilihan Theo jatuh ke dress dengan atasan putih polos berkerah dengan lengan sampai siku dan berpita kecil di ujungnya. Kemudian, bawahannya terbuat dari kain brokat berwarna hitam, dari pinggang sampai ke lutut dengan model klok.


Pemilik butik dan Theo mengagumi kecantikan dan keanggunan Binar memakai dress itu.


Kemudian mereka keluar dari butik dan menuju ke restoran tempat pertemuan bisnisnya Theo dengan Julian grup.


Kenzo berdiri dengan didampingi asisten pribadinya dan mendengus kesal ketika melihat Theo datang dengan menggandeng Binar Adelard.


"Maaf om, saya ke sini mengajak istri saya" ucap Theo sembari sengaja memamerkan cincin pernikahan dia dan Binar di depannya Kenzo.


Theo sengaja mengajak Binar agar Kenzo tidak merendahkan Binar lagi dan untuk mematahkan anggapan Kenzo kalau Binar wanita yang nggak tahu malu yang masih mengejar-ngejar Aksa.


"Ahhh! selamat untuk kalian berdua. Tapi, om kasih saran sama kamu. Kami harus berhati-hati dengan wanita ini, dia mantan kekasih anak saya dan jarak umur dia dengan anak saya.........."


"Saya tahu om. Binar mantannya Aksa dan Aksa jauh lebih muda dari Binar. Saya tahu" ucap Theo sambil menggenggam tangan Binar untuk menenangkan perasaannya Binar.


"Oh! kau sudah tahu ya? tapi kau harus tetap berhati-hati karena........."


"Cukup om. Binar istri saya dan saya nggak ingin anda memandang rendah istri saya. Kalau anda tidak bisa menghormati Binar maka kita putuskan saja kerja sama kita mulai dari sekarang dan selamanya"


Binar langsung menoleh ke Theo kalau menatap ke Kenzo hendak berucap jangan namun dicegah oleh Theo dengan bisikan, "kamu jangan berbicara sepatah kata pun!"


"Oh! hahahahaha, baiklah! maafkan om! om minta maaf untuk semua ucapannya om tadi dan mari kita mulai bahas bisnis kita saja, oke?"


ucap Kenzo Julian.


"Jangan minta maaf sama saya om. Minta maaf sama istri saya" ucap Theo tegas.


Kenzo takut kehilangan kesempatan bekerja sama dengan perusahaan periklanan miliknya Theo Revano yang terkenal hebat itu. Kenzo menjadi berpura-pura ramah kepada Binar demi kerja samanya dengan Theo Revano dan berucap, "maafkan saya, nyonya Theo Revano"


Binar berucap, "saya sudah memaafkan om, dari tadi"


Binar merasakan kehangatan di hatinya saat Theo memulihkan harga diri dan martabatnya di depan Kenzo Julian. Binar menoleh ke Theo dengan penuh rasa terima kasih di saat Theo mulai membahas bisnis dengan Kenzo Julian.


Satu Minggu kemudian...................


Aksa berada di dalam perpustakaan kampus barunya yang berada di Amerika. Kegiatan Aksa hanyalah kuliah, ke perpustakaan, makan siang, pulang mengerjakan tugas dan belajar, makan malam, kemudian lembur belajar lagi. Tiada minat untuk bersosialisasi dan tiada daya untuk berjalan-jalan keluar. Aksa cukup puas dengan masakan chef pribadi yang disediakan oleh papanya.


Berlian mengeluarkan isi hatinya ke papanya, "Pa! aku hidup dengan seorang robot. Aku jenuh nih. Aksa nggak pernah menyapa aku, kalau aku ajak bicara jawabnya hanya singkat dan tidak pernah mengajakku jalan-jalan"


"Begitulah Aksa kata papanya. Aksa memang pendiam dan kalem. Kamu harus bisa lebih bersabar dalam mengambil hatinya. Katanya kamu mencintai Aksa, baru segitu aja udah nyerah" ucap papanya Berlian.


"Huuffttt! iya udah deh. Berlian akan lebih bersabar demi cinta ini, hehehehe"


"Dasar anak manja!" sahut papanya Berlian.


"Oke Pa! aku tutup dulu telponnya" Klik. Berlian menutup Sambungan Langsung Internasional dengan papanya.


Kemudian Berlian keluar dari dalam kamarnya. Dia celingukkan mencari Aksa tapi tidak dia temukan di meja makan padahal sudah waktunya untuk makan siang.


"Aksa mana Bi?" tanya Berlian ke asisten rumah tangganya Kenzo Julian yang dipekerjakan Kenzo di sana untuk mengurus Aksa.


"Di kamar Non. Sejak pulang dari kampus, tuan muda Aksa langsung masuk kamar tidak keluar dari kamarnya sama sekali"


"Oh" Berlian kemudian berjalan ke kamarnya Aksa. Dia ketuk pintu itu beberapa kali namun, tidak ada jawaban dari dalam. "Sa? makan siang, yuk! chef Anna masak steak kesukaanmu, kentang goreng dan ada susu cokelat kocok juga. Pokoknya mantull"


"Aku belum lapar!" Aksa berteriak dari dalam kamarnya. "Dan jangan pernah menggangguku lagi!"


Berlian mendengus kesal lalu pergi meninggalkan kamarnya Aksa.


Aksa tertegun dengan hasil coretan tangannya Sendiri. Tanpa dia sadari, dia telah melukis wajah ayu seorang bInar Adelard. Ketika dia sadar dan ingin menyobek sketsa wajah ayunya Binar, tangannya bergetar tidak berdaya dan matanya seolah enggan untuk lepas dari sketsa wajah ayunya Binar itu.


"Hal tersulit untuk bisa berjalan menjauh dari kamu adalah..........saat aku sadar kalau kamu tidak akan pernah mengejarku. Kamu sudah meminta putus dengan santainya lalu menikahi Theo Revano setelah itu. Aku hanya sebuah permainan untukmu, benar begitu, Binar?" Aksa mengusap pelan dengan penuh perasaan hasil karyanya itu. Sketsa wajah yang sangat ayu dari seorang wanita yang sangat dia cintai namun juga telah menorehkan luka di hatinya dengan begitu dalam, yakni Binar Adelard.


Aksa kemudian menutup dengan kasar buku sketsanya lalu menyeringai, "aku pikir kita bisa saling menyempurnakan satu sama lain tapi, nggak ada yang sempurna di dunia ini ternyata"


Aksa kemudian melempar pensil gambarnya dengan asal di atas meja belajarnya kemudian dia bangkit dan melompat di atas tempat tidur mewahnya.


Aksa menutup kedua matanya dengan lengan kanannya dan mendesah berulang-ulang. Rasa itu masih ada di pojokan hatinya namun, terus dia dorong untuk semakin tersudut dan itu membuatnya merasa nyeri. Darahnya berdesir bukan karena, gairah namun karena, kecewa.