My Pretty Boss

My Pretty Boss
Mada dan Embun



Keesokan harinya, setelah Binar dimandikan dan disuapi oleh suaminya, Binar lalu berkata, "bawa Mada ke sini, Mas. Aku ingin menyusuinya"


Theo meraih Mada dari dalam box bayi lalu mendekap dengan penuh kasih sayang dan merebahkan Mada di atas pangkuannya Binar dengan penuh kehati-hatian. Theo mencium keningnya Mada lalu ia berkata, "aku mandi sebentar nggak apa-apa?"


Binar menganggukkan kepalanya sambil terus menyusui Mada. Tidak begitu lama kemudian, pintu kamarnya diketuk oleh seseorang. "Masuk!" sahut Binar dari dalam kamar VVIP-nya.


Dokter dan tim medis melangkah masuk dengan tersenyum lebar, "waaahh! udah segar nih mama baru kita" ucap dokter Wulan.


Binar tersenyum bahagia dan berkata, "terima kasih, dok, terima kasih semuanya udah membantu persalinan saya kemarin malam"


"Sama-sama" sahut dokter Wulan dan tim medis-nya secara bersamaan.


"Emm, maaf nyonya, posisi anda menyusui kurang benar. Sebentar saya betulkan ya" salah seorang perawat segera melangkah mendekati Binar dan membetulkan cara Binar menyusui putranya.


Dokter segera memeriksa Binar dan berkata, "ada keluhan?"


Binar melempar senyum dan berkata, "nggak ada, dok"


"Kalau begitu, besok anda sudah boleh pulang"


"Terima kasih, dok" sahut Binar.


Salah satu perawat tinggal di kamar itu, ia menunggu bInar selesai menyusui lalu ia mengajari Binar cara memijat yang benar agar air susunya bertambah banyak sambil berkata, "jika anda rutin memijatnya, maka anda akan terhindar dari stres, tidak akan kendor, dan merangsang produksi ASI"


Theo mendekat lalu berkata, "apa saya juga boleh mempelajarinya, kalau nanti istri saya capek, saya bisa menggantikan dia untuk memijatnya"


Suster tersebut terkekeh geli dan berkata, "boleh-boleh aja tuan tapi, sayangnya sesi pelajarannya sudah selesai. Saya permisi dulu" perawat tersebut segera keluar dari ruang rawat inapnya Binar dengan sisa senyum geli di wajahnya.


Binar segera mendelik ke Theo dan Theo meringis, "lho aku tulus ingin belajar memijat untuk membantu kamu kok malah dipelototin"


"Hmm, benarkah? bukannya mau modus?"


Theo segera menggelegarkan tawanya lalu dengan secepat kilat ia menutup mulutnya saat melihat Mada tengah tertidur di dalam box bayi dengan posisi terlentang, dan sangat pulas. Theo segera mengelus pipinya Mada dan berkata lirirh, "maafkan papa ya Mada, papa ketawa nggak lihat sikon"


Binar terkekeh lirih lalu berucap, "sarapan dulu, Mas!"


Brak! tiba-tiba pintu kamarnya Binar terbuka dan keluarga besar mereka masuk bergantian ke kamar itu dan terakhir yang masuk adalah Miko dan Dita. Mika segera berucap, "Sarapan dulu, aku udah masak ayam goreng, capcay, dan nasi goreng nih" Mika meletakkan dua rantang makanan di atas meja lalu ia segera menuju ke box bayi untuk melihat keponakannya, "Aihhhih cakepnya! mirip aku ya?"


Arga berjinjit dan menjulurkan lehernya untuk melihat adiknya, lalu berkata, "nggak mirip kok sama mama, emm, mirip sama Arga kayaknya"


Abimana ikutan melongok ke dalam box bayi dan segera berucap, "fix, ketampananku terpampang nyata di wajahnya"


Mika dan Arga segera mencebikkan bibir mereka berdua secara kompak ke Abimana. Abimana terkekeh geli dan semua yang ada di kamar VVIP itu segera menggelegarkan tawanya dan Theo segera menaruh jari telunjuk di atas bibirnya, "sssstttt! jangan keras-keras ketawanya, Mada baru aja tertidur"


Semua langsung berkata, "maaf" dengan volume suara yang paling rendah.


Theo meluangkan waktu untuk sarapan dan berkata, "kak Mika sangat pandai memasak kenapa nggak mengajari Binar memasak?"


Mika duduk di sebelah bed-nya Binar sambil memangku Arga lalu berucap, "adik aku ini, dari kecil hobinya main bola, latihan taekwondo, dan nggak pernah tertarik soal masak memasak"


Binar tersenyum lebar dan berkata, "aku udah punya dua Chef hebat sekarang, chef Miko dan chef Theo, jadi nggak ada pentingnya juga kan, belajar memasak, hehehehe. Daripada nanti dapur kebakaran dan satu rumah keracunan masakanku, hehehehe"


"Huh! emang dari dulu kamu tuh pinter banget ngeles"sahut Mika.


Semua terkekeh geli lalu secara serentak berkata, "ssstttt" saat mereka menatap box bayi.


Damian dan David melangkah pelan untuk melihat cucu mereka dan senyum lebar penuh kebahagiaan langsung menghiasi wajah ganteng mereka. Kedua kakek itu kemudian beradu pandang dan tertawa lirih lalu berucap secara kompak, "aku udah jadi kakek" lalu mereka berdua berpelukkan saking bahagianya.


Binar menoleh ke Miko dan Dita lalu menautkan alis ketika melihat tangan Miko dan Dita tertangkap kedua netranya Binar, saling terpaut. "Terima kasih Dit, udah meluangkan waktu menengok aku dan anakku" Binar berucap sambil tersenyum jahil ke Miko. Miko segera melepas tangannya Dita yang sedari tadi berada di dalam genggaman tangannya lalu Miko berucap, "kok Miko dicuekkin?"


Binar berkata, "udah sering lihat kamu, cuss ngapain mesti sapa menyapa?"


Miko mencebikkan bibirnya, Dita terkekeh geli lalu melangkah mendekati Binar dan memberikan paper bag yang ia bawa, "ini tanda kasih dari saya dan Miko untuk putra tampan anda"


"Lho putra anda kok nggak diajak?" tanya Binar.


"Tadi mau saya ajak tapi tidur jadi saya tinggal di rumah bersama baby sitter-nya"


"Oh!" sahut Binar lalu Binar berkata, "terima kasih untuk bingkisannya ya Ko, Dit, dan tolong taruh di atas nakas, Ko" Binar menyerahkan paper bag dari Dita ke Miko.


Miko segera menaruh paper bag itu di atas nakas. Lalu berbisik ke Binar, "Bos, aku dan Dita udah jadian baru aja. Doakan langgeng ya, biar Miko bisa merasakan cinta yang sempurna kayak Bos sama suami Bos, hehehehe"


Binar terkekeh geli lalu mengacungkan jempolnya Ke Miko.


Beberapa jam kemudian semua keluarganya Binar meninggalkan ruangannya Binar karena, mereka mau ke rumah sakit menunggui Aulia yang akan melahirkan di hari itu.


Theo nampak ragu lalu Dara segera berucap, "kami datang dengan damai. Suami saya ingin meminta maaf sama Binar mumpung suami saya memperoleh keberaniannya untuk meminta maaf hari ini maka saya pikir........"


Theo segera berkata dengan senyum lebar, "silakan masuk?" lalu membuka pintu ruang VVIP itu dengan lebar.


Binar yang tengah menimang Mada segera mematung melihat Kenzo Julian melangkah pelan menuju ke ranjangnya. Tanpa Binar sadari ia mendekap Mada dengan sangat erat sampai Mada terbangun dan menangis sekencang-kencangnya.


Theo segera berlari dan segera meraih Mada ke dalam dekapannya. Theo menimang Mada dengan lengan kirinya dan tangan kanannya dia pakai untuk menggenggam tangannya Binar. Theo mentransfer kekuatannya ke Binar melalui genggaman tangannya.


Kenzo berdiri di samping bed-nya Binar dan berkata dengan suara bergetar, "om, datang ke sini untuk meminta maaf atas semua perkataan om, atas semua hinaan om, atas........" rangkaian kata itu tersendat karena, Isak tangisnya Kenzo.


Theo lalu mengusap kepalanya Binar dan berbisik, "aku akan ajak Mada dan Embun keluar sebentar"


Theo lalu melepas kepalanya Binar dan berkata ke Embun, "anak cantik, mau ikut om jalan-jalan di taman depan?"


Embun yang sedari awal nampak tegang, langsung menganggukkan kepala lalu tersenyum ke Binar, "Kak, Embun boleh ajak dedek bayinya jalan-jalan?"


Binar tersenyum dan berkata, "iya sayangku, boleh kok"


Theo lalu menggendong Mada dan mengajak Embun keluar dari kamar VVIP itu lalu duduk di taman yang mengelilingi kamar VVIP itu. Embun lalu duduk di sebelahnya Theo dan bertanya, "Embun boleh lihat dedek bayinya?"


Theo tersenyum lebar dan berkata, "boleh" lalu Theo memperlihatkan wajah Mada ke Embun.


Embun memekik senang, "cakep banget dedek bayinya, boleh Embun cium?"


Theo tersenyum lebar, "boleh dong"


Embun mencium Mada lalu bertanya, "namanya siapa om?"


"Namanya Mada Tobias Revano" jawab Theo.


Gadis kecil berumur sembilan tahun itu bertanya lagi, "artinya apa?"


"Arti nama dedek bayi ini adalah kegembiraan pemberian Tuhan" Theo tersenyum lalu ia mengusap kepalanya Embun, "kamu sama ceriwisnya seperti om dan om suka duduk di sini ditemani kamu, hahahahaha. Kamu nggak kayak kak Aksa kamu yang super pendiam itu"


Embun tertawa kecil lalu berkata, "walaupun kak Aksa itu pendiam tapi kalau sama Embun, dia bisa tertawa dan Embun kangen banget sama kak Aksa saat ini"


Tejo tersenyum lebar dan berkata, "om yakin kakak kamu pasti juga kangen banget sama kamu"


Embun lalu berdiri di depannya Theo untuk melihat Mada lebih dekat lagi dan dengan kepolosannya Embun berkata, "kok aneh ya om, kenapa Embun lihat, dek Mada mirip banget dengan foto kak Aksa waktu masih bayi. Rambutnya, hidungnya, bentuk jidatnya, dan bibirnya, mirip banget"


Deg! Jantung Theo berdegup karena, cemburu. Theo segera mendekap erat Mada, mengangkat Mada untuk dia cium dalam-dalam lalu ia menatap ke Embun, "benarkah? mirip dengan kakak kamu waktu masih bayi, ya?"


Embun menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat lalu berkata, "Embun beberapa bulan ini bobok dengan album foto yang penuh dengan fotonya kak Aksa. Mulai dari kak Aksa masih bayi sampai foto kak Aksa wisuda. Embun jadi hapal wajah kak Aksa dan dek Mada mirip banget dengan fotonya kak Aksa waktu masih bayi"


Theo lalu tersenyum dan berkata, "semoga nanti pas dek Mada besar bisa tinggi, pintar, dan cakep seperti kak Aksa kamu"


"Umm, setuju! Embun ikut berdoa semoga dek Mada pas besar nanti mirip kak Aksa jadi Embun kalau kangen sama kak Aksa bisa ke rumah om untuk ketemu sama dek Mada" pekik Embun dengan riang sambil mengelus pipinya Mada, "emm, om, apa boleh Embun pinjam dek Mada sehari aja untuk Embun bawa pulang, untuk menemani Embun bobok malam nanti? atau Embun boleh bobok semalam aja di sini menemani dek Mada?"


Theo segera melepas tawa renyahnya lalu berkata, "kalau dipinjam dibawa ke rumah tentu saja nggak boleh sayang, kalau kamu mau bobok di sini, om bolehin tapi, harus minta ijin sama papa dan mama kamu dulu"


Embun melompat sambil bertepuk tangan, "Embun akan minta ijin ke mama nanti. Kalau mama kasih ijin maka papa juga akan menyetujuinya, assyiiikkk!"


Theo tertawa renyah melihat kepolosannya Embun.


Kenzo kembali berkata setelah ia berhasil menguasai emosinya, "om terlambat menyadari semuanya, om telah kehilangan Aksa. Aksa nggak mau bertemu lagi dengan om. Tapi, om nggak menyalahkan Aksa, om akan kasih waktu sama Aksa untuk bisa memaafkan om dan saat ini jika kamu pun belum bisa memaafkan om maka om pun akan mengerti karena........"


"Saya sudah memaafkan om dari dulu" ucap Binar di dalam Isak tangisnya.


Kenzo menatap Binar dengan sorot mata penuh rasa terima kasih lalu ia berkata, "bolehkah om menjabat tangan kamu?"


Binar justru merentangkan kedua lengannya dan Kenzo pun memeluk Binar dan berkata di sela isak tangisnya, "terima kasih, nak" lalu Kenzo melepaskan Binar, memundurkan langkah dan berkata ke Dara, "aku akan mengajak Theo masuk"


Dara tersenyum dengan wajah penuh air mata keharuan. Dara lalu duduk di tepi ranjang dan memeluk Binar. Dua wanita cantik itu menangis untuk melepas semua rasa yang menyesakkan dada mereka.


Dara lalu melepas Binar, mengusap pipi Binar yang penuh air mata dan berkata, "Aksa sudah tahu semuanya tapi, dia memilih untuk menjauh dan menghindarimu sebagai wujud permintaan maafnya ke kamu karena, ia nggak ingin merusak kebahagiaan rumah tangga kamu dengan Theo"


Binar kembali menangis dengan hebatnya. Ada rasa penyesalan yang dalam namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menambal penyesalannya itu dan ia hanya bisa menelannya mentah-mentah untuk melanjutkan jalan hidup yang sudah ia pilih.


Kenzo berdiri di depannya Theo dan Embun, "masuklah! kami sudah selesai berbicara"


Theo bangkit sambil tersenyum dan melangkah menuju ke kamarnya Binar sambil terus mendekap Mada. Theo terus berharap di dalam hatinya semoga Papa dan mamanya Aksa tidak menyadari kemiripan Mada dengan Aksa seperti Embun tadi.