My Pretty Boss

My Pretty Boss
Aksa dan Binar



Aksa akhirnya berjalan ke arah selasar rumah sakit tersebut yang menuju ke ruang operasi. Tetapi Aksa tidak berani mendekat. Ia hanya bisa mengawasi Binar dari balik tembok. Aksa melihat Binar menangis tiada henti di dalam pelukannya Abimana dan Arga yang sudah yang sudah berumur sepuluh tahun, duduk di sebelahnya Binar dan terus menepuk-nepuk punggungnya Binar.


Papanya Theo, David Revano terus mondar-mandir di depan kamar operasi dengan wajah penuh kekhawatiran.


Semoga operasinya berjalan dengan lancar dan Theo nggak kenapa-kenapa. Batin Aksa sembari terus memperhatikan Binar dari kejauhan.


Tiba-tiba pundaknya Aksa ditepuk oleh seseorang, Aksa menoleh dan Boy langsung menarik tangan Aksa menuju ke kantin. Mereka kemudian duduk berhadapan dan Boy berkata, "ngapain kamu di sini?"


"Aku tadi ada keperluan di Diamond Hotel dan secara nggak sengaja aku melihat Theo dimasukkan ke dalam ambulance jadi secara hati nurani aku mengikuti ambulance itu sampai di sini" ucap Aksa dengan senyum yang dipaksakan.


Lebih baik aku tidak usah menceritakan perihal Mada ke Boy. Batin Aksa.


"Kau mengikuti ambulance atau mengikuti kak Binar?" tanya Boy dengan senyum usilnya.


"Entahlah. Aku hanya mengikuti kata hatiku dan inilah aku, aku di sini sekarang" ucap Aksa.


"Aku mau minta tanda tangan ke kak Binar tapi sepertinya kak Binar masih belum bisa diganggu" ucap Boy.


"Iya. Binar masih sangat sedih saat ini lebih baik jangan kau ganggu dengan kerjaan dulu" Aksa berucap sembari menganggukkan kepalanya.


"Kau sendirian? kau belum punya pacar?" tanya Boy.


Aksa merapatkan bibir dan menggelengkan kepalanya.


"Kenapa? bukankah seorang yang kaya raya, tampan, dan keren kayak kamu main tunjuk tangan aja maka akan mendapatkan pacar" sahut Boy.


"Jari jemariku terlalu berharga kalau hanya sekadar aku pakai untuk menunjuk cewek, jadi ya......aku belum punya pacar sampai sekarang"


"Sombong amat" Boy langsung mencebikkan bibirnya ke Aksa dan Aksa terkekeh geli, "thank you Boy, kau sudah menghiburku"


"Kenapa aku menghiburmu? eh salah, kenapa kau perlu dihibur? emangnya kau kenapa?"


Aksa mengeluarkan dompet, mengambil tiga lembar uang ratusan ribu dan ia taruh di atas meja lalu ia bangkit sembari memasukkan kembali dompetnya ke saku celananya kemudian berkata, "aku masih banyak urusan, maaf aku tinggal ya" Aksa lalu berputar badan.


Boy segera bangkit dan berteriak, "woooiii! uangnya kebanyakkan nih, Sa!"


Aksa melangkah ke depan sambil melambaikan tangan.


"Dasar gila, hehehe. Wow! rejeki nomplok nih" gumam Boy sembari memasukkan uang pemberiannya Aksa ke dalam saku kemejanya ia terus menatap punggungnya Aksa sampai Aksa menghilang dari pandangannya. Lalu Boy membayar kopi yang ia pesan dan memutuskan untuk kembali ke kantor.


Aksa kembali ke selasar yang menuju ke ruang operasi. Binar duduk sendirian bersandar di bangku yang terbuat dari alumunium tahan karat.


Aksa nekat melangkah lalu duduk di sebelahnya Binar. Dia hanya bisa diam melihat Binar masih memejamkan kedua matanya.


Dia masih aja ceroboh. Bisa-bisanya tertidur di tempat umum seperti ini. Batin Aksa sembari secara perlahan ia merapikan rambutnya Binar.


Aksa kemudian membuka jasnya lalu ia selimuti tubuh Binar dengan jas itu. Lima menit berikutnya, Binar membuka mata. Ia menunduk melihat jas berwarna krem lalu mengangkat jas itu dan secara spontan menoleh ke samping kanannya.


Binar menghunus tatapan tajamnya ke Aksa dan sambil melipat tangan ia bertanya, "kamu......kapan kamu sampai di Indonesia? dan untuk apa kamu berada di sini?"


Aksa tetap duduk di tempatnya dan menatap Binar sambil merogoh saku jasnya ia mengeluarkan secarik kertas lalu berdiri dan menyerahkan kertas itu ke Binar "Aku cuma mau penjelasan dari kamu terkait dengan hasil tes ini. Maaf jika waktunya kurang tepat tapi aku sudah nggak bisa menahannya lagi"


Binar menerima surat itu lalu membuka secarik kertas itu dan langsung terperangah. "Apa mau kamu? tolong jangan ambil Mada dari kami"


Aksa tidak mampu berkata-kata. Dia mengambil kembali hasil tes DNA dari tangan Binar lalu mengangkat kedua pundaknya.


"Aksa, aku mohon" Binar mengatupkan kedua tangannya di depan Aksa.


"Aku berhak marah, protes, dan membentak kamu saat ini tapi, aku paham waktunya tidak tepat untuk itu. Aku cuma ingin bertanya kenapa kamu tega sekali menyembunyikan masalah sebesar ini dariku dan........."


Deg! jantung Binar mulai berdegup kencang saat itu di saat masa lalu kembali tergambar nyata di benaknya, "Maafkan aku! tapi apa yang bisa kulakukan saat itu? kamu pergi meninggalkanku begitu saja ke Amerika dalam keadaan marah besar. Aku panik dan nggak bisa berpikir jernih saat itu"


Aksa memejamkan kedua matanya sejenak lalu mendesah panjang kemudian melepas pandangannya untuk ia lekatkan pandangannya itu ke wajah cantiknya Binar. Lalu ia berkata, "ijinkan aku mendekati Mada kalau begitu. Mulai dari sekarang. Aku berhak mendekati Mada karena, aku ayah kandungnya" ucap Aksa sambil memasukkan kembali kertas itu ke dalam saku jasnya lalu ia memakai kembali jasnya di depan Binar.


Binar hanya mampu menganggukkan kepalanya. Dia teringat kata-kata suaminya, jika takdir mendekatkan Aksa ke Mada maka dia dan Theo harus menyerah pada prosesnya.


Aksa terus menatap Binar. Asa-nya memberontak ingin mengusap rambut Binar, atma-nya membuncah ingin keluar dari raganya untuk memeluk Binar namun, akal budinya mampu menahan semua Itu sehingga ia hanya mampu berucap, "terima kasih" lalu berputar badan dan pergi meninggalkan Binar begitu saja.


Dada Binar berdetak kencang di saat ia menatap punggungnya Aksa yang menjauh dari dia. Binar mencengkeram dadanya dengan isak tangis. "kenapa kamu hadir di saat mas Theo sakit. Bagaimana aku bisa menghadapi kamu tanpa mas Theo, Sa?"


Setelah masuk ke dalam mobil, Aksa mengirim pesan text ke Monica kalau dia baik-baik saja karena, di saat ia membuka ponselnya, di layar ponselnya ada lima belas panggilan tak terjawab dari Monica. Aksa juga memberitahukan ke Monica lewat pesan text itu kalau dia akan pulang untuk menyambut kedatangan kakek dan neneknya yang datang di hari itu.


Binar terkulai lemas dan hampir terjatuh, Mika segera berlari dan menangkap tubuhnya Binar. Mika lalu membimbing Binar untuk duduk di atas bangku.


"Kamu harus kuat demi anak-anak" Ucap Mika sambil mengelus-elus punggungnya Binar.


Binar memeluk erat Mika lalu berkata lirih, "kenapa operasinya lama sekali, Kak? apa mas Theo akan baik-baik saja? ini sudah dua jam mas Theo berada di dalam ruang operasi"


Mika mengelus punggungnya Binae dengan penuh cinta kasih, "kita kirim doa untuk Theo. Theo orang baik, aku yakin Theo nggak akan kenapa-kenapa. Jangan penuhi pikiran kamu dengan hal-hal yang nggak akan terjadi, oke? kita berdoa aja terus"


"Anak-anak gimana, Kak?" tanya Binar di dalam pelukan kakak tercintanya


"Anak-anak baik-baik saja. Kamu juga nggak usah lagi menyusui Aries, Aries udah mau minum susu formula tadi. Aku yakin ASI kamu untuk saat ini dan beberapa hari ke depan nggak akan lancar jadi kakak pikir sudah waktunya bagi kamu untuk menyapih Aries. Aries anak yang cerdas ia nggak rewel kok tadi dan mau minum susu formula. Mada dan Aries baik-baik saja jadi kamu fokus dulu aja ke suami kamu" kata Mika


Binar lalu melepaskan pelukannya dan berdoa bersama dengan Mika. Mereka terus berdoa untuk keselamatannya Theo.


Aksa sampai di rumahnya dan tertegun melihat keakraban Monica dengan kakek dan neneknya. Nenek dan kakeknya Aksa menoleh ke pintu masuk dan mereka tertawa bahagia melihat sosok tampan cucu kesayangan dan kebanggaannya mereka.


Aksa meneteskan air mata kerinduan lalu berlari dan segera memeluk kakek dan neneknya. Aksa mengucapkan kata, "terima kasih kakek dan nenek terus sehat selama ini dan mau bersabar menunggu Aksa pulang ke Indonesia. Aksa kangen banget sama kakek dan nenek"


"Nenek dan kakek juga kangen banget sama kamu" mereka terus berpelukkan sampai mereka puas melepas kerinduan mereka yang begitu besar akan satu dengan yang lainnya. Monica berdiri dan menatap mereka dengan penuh haru.