My Pretty Boss

My Pretty Boss
Kita Akan Menua Bersama



Aksa menginginkan galerinya ada taman bermain untuk anak-anak jadi, ketika mama-mama muda atau keluarga muda datang berkunjung ke galerinya, mereka bisa merasa tenang menaruh putra dan putri mereka di taman bermain. Untuk itulah Aksa kemudian mengambil keputusan untuk mengunjungi salah satu taman bermain yang tengah viral dan kebetulan letaknya tidak jauh dari lokasi rumah yang baru saja ia beli.


Aksa masuk ke dalam taman bermain yang cukup luas dan terbuka itu sambil mengamati, kira-kira akan seperti apa taman bermain mini-nya nanti. Aksa menemui seseorang yang bersetelan jas dan bertanya kepada orang itu, "apa anda manajer taman ini?"


"Iya benar sekali, apa yang bisa saya bantu?"


"Darimana anda dapatkan wahana permainan di sini? emm, apa saya bisa bertemu dengan pemilik wahana permainan ini?" tanya Aksa.


Laki-laki muda bersetelan jas dan menggenggam sebuah walkie talkie berwarna biram itu lalu menyerahkan sebuah kartu nama ke Aksa, "anda bisa menemui beliau di alamat itu di jam kerja, besok"


"Baiklah, terima kasih banyak" Aksa tersenyum, menganggukkan kepalanya ke laki-laki muda yang berdiri tegap di hadapannya itu lalu, ia pamit.


Aksa memasukkan kartu nama itu ke dalam saku kemejanya lalu, ia menggulung kedua lengan panjang kemejanya lalu berkacak pinggang mengamati seluruh wahana yang ada di taman bermain itu. "akan sangat menarik kalau aku bisa mewujudkan taman bermain mini di halaman galeriku nanti"


Mada keasyikan berlari mengejar kupu-kupu. Dia bermaksud menangkap kupu-kupu berwarna kuning keemasan yang terbang melintas di sebuah wahana permainan dan ia ingin memelihara kupu-kupu itu. Namun, kupu-kupu itu segera terbang menjauh tepat di saat Mada melangkah mendekati kupu-kupu itu. Mada lalu mengejar kupu-kupu itu dan terus berlari ke arah perginya kupu-kupu itu dan tidak menyadari kalau ia terpisah dari keluarganya. Dan......Bruk! Mada menabrak seseorang.


Mada mendongakkan wajah tampan nan mungilnya dan bersitatap dengan wajah tampan nan keren miliknya Aksa yang tengah menunduk. "Mada?" kata Aksa.


"Om, hai! Om masih ingat sama Mada?" tanya Mada.


Aksa langsung panik karena, ia tidak memakai topi dan masker saat itu, aduh, kalau Binar dan Theo melihatku gimana nih?


Aksa mengedarkan pandangannya di sekeliling taman itu lalu berjongkok di depannya Mada, "kamu sendirian, lagi? nggak sama mama dan papa kamu?"


"Mada ke sini sama opa dan keluarganya om Hendra tapi, Mada tadi mengejar kupu-kupu dan terpisah dari mereka. Untuk itu Mada mau ke bagian infomasi, mau minta tolong bagian informasi memanggilkan opa Mada untuk ke sini"


Aksa menoleh ke belakang dan menangkap sebuah ruangan kecil bertuliskan Bagian Informasi di pintu masuknya. "Kamu udah bisa membaca? umur kamu berapa? trus kelas berapa sekarang?"


"Mau masuk SD dan iya, Mada dari playgrup udah bisa membaca, diajari sama ayah" kata Mada.


Aksa kembali menatap Mada dengan sorot mata penuh kekaguman, "kamu cerdas ya, tangguh dan berani juga, sip! Om suka banget sama kamu. Ayok Om temani masuk ke ruang informasi!" Aksa lalu menggandeng tangan Mada.


Mada tersenyum riang karena, di sanubarinya yang terdalam ia merasakan kehangatan dan ia pun merasakan di hatinya ada debaran-debaran kecil yang ia rasakan begitu indah namun, Mada masih belum bisa mencerna dengan baik rasa itu. Yang pasti, Mada merasa sangat bahagia saat Om Aksa yang baru dua kali ia temui secara tidak sengaja, menggenggam tangan mungilnya.


Hal yang sama juga dirasakan oleh Aksa dan rasa indah, nyaman, hangat yang memeluk hatinya dengan sangat erat itu membuat Aksa terus menunduk menatap wajah cerianya Mada saat ia melangkah sambil menggandeng tangan mungilnya Mada menuju ke ruang informasi.


Aksa mengetuk pintu itu, seorang gadis muda berseragam kaos putih dan celana biru panjang yang bertuliskan nama taman bermain itu membukakan pintu untuk Mada dan Aksa. gadis itu tersenyum senang melihat dua laki-laki tampan berdiri di depannya dengan senyum manis mereka dan gadis itu langsung bisa menerka kalau kedua laki-laki tampan di hadapannya saat itu adalah anak dan papanya karena, wajah keduanya sangat mirip.


"Maaf, bisakah anda memakai pengeras suara untuk memanggil opa dari anak ini, emm, nama anak ini Mada Tobias Revano, ia terpisah dari keluarganya" kata Aksa.


Gadis berkepang dua pegawai taman bermain itu tampak mengerutkan dahinya dan langsung berkata dengan nada heran. "anda bukan papa dari anak ini?"


"Bukan" sahut Mada dan Aksa secara bersamaan.


"Kok aneh? kok bisa bukan? wajah kalian sangat mirip. Bukan papa dan anak? beneran bukan?" sahut gadis berkepang dua itu sambil menggaruk-nggaruk pucuk kepalanya.


Mada dan Aksa segera bersitatap lalu mereka menggelengkan kepala mereka secara kompak dan kembali berkata ke gadis berkepang dua itu, "bukan"


"Oke baiklah kalau begitu! memang banyak orang yang mirip di dunia ini. Maafkan ucapan saya, hehehehehe. saya akan memanggil opa dari Mada Tobias Revano, benar?" kata gadis berkepang dua itu dengan senyum mengarah ke Mada dan Mada langsung menganggukkan kepalanya.


Aksa secara naluri yang tidak bisa ia tahan, ia mengusap puncak kepalanya Mada dengan penuh kasih sayang lalu menggendongnya.


Mada nampak terkejut, "Mada udah gede Om. Jangan digendong!"


Alih-alih merespons ucapannya Mada, Aksa mencium kedua pipinya Mada lalu tersenyum hangat ke Mada.


Mada membalas senyumannya Aksa dan berkata, "Om, kalau ada waktu boleh kok main ke rumahnya Mada. Ayah Mada pandai memasak dan ada Om Miko juga yang jago bikin kue, nanti Mada kenalkan Om ke Ayah Mada dam Om Miko. Mada juga punya adik laki-laki namanya Aries, ia sangat lucu, Om pasti menyukainya, sama seperti Om menyukai Mada"


Aksa lalu menurunkan Mada dari gendongannya setelah itu ia berjongkok, "Om, senang atas undangannya tapi, untuk sementara waktu, Om belum bisa main ke rumah kamu karena, Om masih sangat sibuk"


Aksa lalu berdiri dan berkata, "sepertinya itu opa kamu"


Mada menoleh ke belakang lalu memutar badan dan melambaikan tangan ke Opanya.


Mada tersenyum lalu melepaskan diri dari pelukan opanya, "Mada baik-baik saja karena ada Om........"Mada menoleh ke belakang dan Aksa sudah tidak berada di sana. Mada mengedarkan pandangan di sekitar taman bermain itu tapi tidak menemukan sosok Aksa.


Hendra segera memeluk Mada dan mencium keningnya Mada, "syukurlah kamu segera lapor ke bagian informasi, Om dan semuanya panik mencari kamu tadi"


"Maafkan Mada!" sahut Mada dengan mimik wajah penuh dengan penyesalan.


David berkata sambil mendekap Aries, "sudahlah! Mada udah tahu kesalahannya dan pasti nggak akan mengulanginya lagi. Ayok kita pulang saja!"


"Setuju" sahut Aulia sambil terus mendekap anaknya.


Damian menggandeng Mada dan bertanya, "Om siapa yang kamu maksud tadi?"


"Om baik hati dan tampan. Om itu yang menemani Mada untuk melapor ke bagian informasi"


"Siapa namanya? kalian sempat berkenalan kan?" tanya Damian.


"Umm, Om Aksa namanya"


Hendra langsung menoleh ke Mada, "Aksa siapa?"


"Aksa saja" sahut Mada.


Apa mungkin Aksa yang sama? apa Aksa yang bertemu dengan Mada adalah Aksa mantannya Binar? Batin Hendra.


Mereka kemudian masuk ke dalam mobil dan meluncur pulang ke rumahnya Theo terlebih dahulu.


Theo dan Binar menunggu kedatangan kedua anak mereka bersama kedua opa dan Hendra sekeluarga di teras depan rumah mereka. Binar tiba-tiba nyeletuk, "Mas, aku boleh duduk di pangkuanmu?"


"Boleh aja asalkan kamu nggak malu dilihat kedua papa kita nanti" sahut Theo sambil terkekeh riang.


Binar segera bangkit lalu duduk di atas pangkuannya Theo, "untuk apa malu duduk di atas pangkuan suamiku sendiri"


Theo segera memeluk pinggang rampingnya Binar lalu menempelkan wajah tampannya di punggung hangatnya Binar dan berkata, "aaahhh! nyamannya bisa bersandar di punggung kamu"


Binar mengelus tangannya Theo yang mendarat manis di atas perut rampingnya, "hahahaha, aku nggak tambah berat kan?"


"Kamu masih ringan seperti dulu" sahut Theo yang masih menempelkan wajahnya di punggung istri tercintanya.


"Nggak gombal kan?" sahut Binar sambil terus mengelus-elus tangannya Theo.


"Mana pernah aku ngegombal. Aku selalu serius kalau itu berkaitan dengan kamu dan anak-anak" sahut Theo lalu ia mencium punggungnya Binar.


Binar tersenyum senang dan berkata, "aku sangat bersyukur memilikimu Mas. Kamu harus terus sehat dan jangan pernah sakit ya, aku nggak sanggup lihat kamu sakit dan menderita, aku nggak akan kuat melihatmu sakit dan menderita, jangan pernah sakit, ya?! karena, jika kamu sakit maka aku pun akan jatuh sakit" Binar lalu menarik salah satu tangannya Theo dan ia ciumi tangan itu dengan penuh cinta.


Deg! kesedihan dan kebingungan kembali menyergap Theo. Dia sangat ingin mengatakan soal tumor di otaknya ke Binar namun, ucapan Binar membuatnya meragu kembali. Theo diam mematung dan semakin erat mendekap Binar sembari menyusupkan wajahnya semakin dalam di punggung hangatnya Binar, Theo mencari penghiburan di sana.


"Mas, kenapa? kok diam dan malah memelukku erat seperti ini?" Binar hendak memutar badan dan Theo langsung menahannya, "Sssttt! jangan banyak tanya dan jangan banyak gerak! aku hanya ingin memelukmu seperti ini lebih lama lagi sebelum anak-anak datang karena, aku sangat merindukanmu" sahut Theo.


Binar tersenyum dan kembali mencium tangan kanannya Theo yang masih ia genggam.


Theo lalu berkata, "kamu juga harus terus sehat demi anak-anak"


"Kok cuma demi anak-anak. Demi kamu juga dong" sahut Binar.


"Iya......demi aku juga" sahut Theo yang masih menaruh wajahnya di punggung hangat istrinya.


"Aku janji aku akan terus sehat karena, kita akan menua bersama" sahut Binar.


"Hmm" sahut Theo. Theo menahan tangisnya dengan sekuat tenaga di dalam hatinya dan ia berhasil menyimpan air matanya untuk tetap di tempatnya dan tidak keluar untuk membebani Binar.