
Binar menengok ke.arah dapur dan melihat Aksa masih asyik memasak. Binar kemudian berbisik ke Bronzo yang berada di dalam gendongannya, "kita pergi saja ya, sepertinya hujan mulai mereda, sssttt" Binar mengendap-endap, memakai sepatunya dan keluar dari apartemennya Aksa tanpa bersuara.
Binar berlari sekencang-kencangnya ke lift yang berada di ujung selasar itu, masuk segera dan turun ke parkiran mobilnya. Dengan berlari pula, dia menuju ke mobilnya, dia taruh Bronzo di jok sampingnya, dia pakai sabuk pengamannya dan meluncurkan mobilnya pergi dari apartemen mewah itu.
"Fiuuuhhh, aku akhirnya bisa menghindari Aksa hari ini. Kalau kami berduaan lagi di hawa sedingin ini bisa-bisa setan lewat dan aku memerkosa Aksa........no,no,no!" Binar berucap sambil menggeleng-nggelengkan kepalanya.
Aksa selesai memasak dan celingukkan mencari bos cantiknya, dan dia tidak menemukan keberadaan bos cantiknya itu. Aksa kemudian terkekeh, "dasar aneh. Cantik tapi aneh"
Binar menuju ke resto tempat di mana Damar sudah menunggunya. Binar melambaikan tangan ke Damar yang tengah duduk sambil menyesap cangkir tehnya.
Binar duduk di depannya Damar dan memesan makanan yang sama dengan yang telah dipesan oleh Damar.
"Kita ternyata masih satu selera soal makanan ya?" Damar tersenyum ke Binar.
"Iya, sama-sama suka yang manis, padahal aku nggak perlu yang manis-manis lagi kan?" tanya Binar.
"Kenapa? apa kamu sakit?" tanya Damar penuh dengan kekhawatiran.
Binar terkekeh dan melambaikan tangan ke Damar, "bukan karena sakit. Tapi karena aku sudah manis, heeeee"
Damar langsung tergelak geli, "kamu masih konyol juga ternyata"
"Aku bisa mulai curhat? kamu apa masih mau mendengar curhatanku?" Binar menatap Damar penuh selidik.
Damar tersenyum dan menganggukkan kepalanya penuh semangat, "ceritakan! aku akan mendengarkanmu"
"Reuni kemarin membuatku jengkel ternyata Hendra Herlambang sudah memiliki tunangan, dan hari ini dua kali Hendra membuatku kesal. Dia menyatakan cinta ke aku dan menciumku dengan paksa"
"What?! aku akan kasih dia pelajaran kalau bertemu dengannya nanti" Damar langsung mengepalkan tangannya di atas meja.
Binar kembali melambaikan tangannya ke Damar, "nggak usah! aku sudah kasih Hendra pelajaran kok. Yang membuatku tambah bingung ada anak muda yang usianya jauh di bawahku, menyatakan keinginannya agar aku mau menjadi pacarnya"
"Hah?!" Damar langsung ternganga.
Padahal saat ini aku juga ingin menembakmu, Bin. Batin Damar.
"Lalu bagaimana perasaanmu? berapa jarak umurmu dengan bocah itu?" tanya Damar kemudian.
"Sepuluh tahun. Dia masih berumur dua puluh tahun dan belum lulus kuliah. Dia masih magang di kantorku" ucap Binar.
"Hah?!" Damar langsung menepuk jidatnya dan Binar pun terkekeh geli dibuatnya.
"Aku memang biang masalah, ya?" Binar terkekeh.
"Apa cowok itu serius sama kamu? jangan-jangan dia hanya ingin main-main denganmu karena, kamu bosnya. Atau dia hanya ingin memanfaatkanmu?"
Binar mengangkat kedua bahunya, "entahlah. Tapi kulihat dia sangat serius bahkan dia telah memutuskan pacarnya dan dia cukup sopan padaku bahkan selalu menjaga, peduli, dan melindungiku"
"Kamu bisa mengetes dia apakah dia benar-benar serius atau tidak" kata Damar.
"Bagaimana caranya?" tanya Binar.
"Kami bilang kalau mau berpacaran dengannya tapi secara sembunyi-sembunyi. Tidak mengungkapkannya ke publik. Kalau dia hanya memanfaatkanmu maka dia akan menolak permintaanmu itu" ucap Damar serius.
"Kalau dia setuju?" Binar berucap sembari memakan makanannya.
"Iya kamu jalani berpacaran dengannya" ucap Damar.
"What?! dia masih anak-anak, bro!"
"Aku yakin dia akan menolaknya maka aku kasih ide itu ke kamu" ucap Damar.
"Huffttt, oke aku akan mencobanya"
"Apa dia tampan?" tanya Damar.
"Dia sempurna bro, bukan hanya tampan, dia juga cerdas dan pintar memasak. Aku merasa malu sebagai perempuan, aku tidak bisa memasak sama sekali, heeee" kata Binar.
"Kok kamu tahu dia pintar memasak?" tanya Damar.
"Aku tadi ambil anjingku yang aku titipkan ke dia. Aku ke apartemennya sebentar dan dia memasak" kata Binar.
"Oh. Aku kira kalian telah tinggal bersama"
Binar langsung melotot ke Damar dan Damar pun tergelak geli.
"Kamu memang sahabat terbaikku. Aku beruntung memiliki sahabat sepertimu" ucap Binar.
Tiba-tiba ponselnya Damar berbunyi dan beberapa saat setelah menerima panggilan ponselnya Damar menatap Binar, "maaf, aku harus pergi meninggalkanmu. Aku ada panggilan dadakan nih. Tapi aku pinjam ponselmu bentar, aku akan masukkan nomerku di ponselmu"
Binar menyerahkan ponselnya ke Damar dan tidak berapa lama Damar mengembalikan ponselnya Binar lalu Damar berucap, "nggak apa-apa aku tinggal sendirian?"
"Iya nggak apa-apa" ucap Binar.
"Aku akan bayar makanannya dan maaf sekali lagi, aku harus meninggalkanmu sendirian" Damar berucap lagi sembari bangkit dan mencium pipinya Binar lalu pergi begitu saja meninggalkan Binar.
Binar memegang pipinya, "kenapa Damar mencium pipiku? dia sadar nggak tadi? aaahh, biasa kali ya mencium pipi seorang sahabat" ucap Binar pada dirinya sendiri lalu melanjutkan makanannya.
Tiba-tiba kursi di depannya diisi seorang laki-laki yang langsung mengulas senyum tampannya dan menatap Binar dengan penuh arti.
"Uhuk!" Binar langsung tersedak dan meraih gelas yang berisi air mineral.
"Kau! ngapain kau di sini? kau mengikutiku?" tanya Binar panik.
"Ngapain aku mengikutimu? Aku hanya kebetulan makan di sini dan melihat seorang kenalan maka aku berniat menyapanya" ucap laki-laki tersebut dengan santainya.
"Kenalan kepalamu! aku bahkan tidak tahu nama kamu dan aku nggak mau kenal sama cowok yang tidak punya sopan santun dan arogan kayak kamu" ucap Binar kesal.
"Benarkah? tapi aku ingin berkenalan denganmu untuk minta ganti rugi biaya pengobatan punggungku yang kamu banting tadi siang" ucap laki-laki itu.
"Cih! dasar lemah! cengeng! gitu aja periksa ke dokter" Binar mencebikkan bibirnya ke laki-laki itu.
"Oh begitu ya? oke kalau kamu tidak mau ganti rugi, aku akan melaporkanmu ke kantor polisi, aku akan menuntutmu dengan pasal berlapis yakni, penghinaan, pencemaran nama baik, dan pelecehan" kata laki-laki itu.
Binar langsung menoleh ke kanan dan ke kiri lalu memajukan tubuhnya ke arah laki-laki itu, "jangan keras-keras bicaramu! dikira orang nanti aku beneran melecehkanmu" lalu Binar memundurkan lagi tubuhnya.
Laki-laki itu tersenyum tipis, "gimana? mau ganti rugi nggak?"
"Iya oke! harusnya aku yang minta ganti rugi ke kamu karena sudah membuat kotor bajuku"
"Itu tidak aku sengaja sedangkan kau membantingku dengan sengaja" pekik laki-laki itu.
"Sssttt! oke, aku bayar! berapa habisnya?" tanya Binar sambil mengeluarkan dompet dari dalam tasnya.
"Aku tidak minta uang" jawab laki-laki itu.
Binar mendengus kesal lalu menatap tajam ke laki-laki itu dengan perasaan yang sangat kesal.
"Hahahaha, kamu makin cantik kalau pasang wajah garang seperti itu, hahahaha. Aku cuma ingin tahu nama kamu, di mana rumahmu, dan berapa umurmu? kamu ganti rugi ke aku dengan cara itu"
"Mana ada ganti rugi seperti itu. Nggak mau! katakan saja berapa nominalnya!" ucap Binar kesal.
"Nggak mau! kamu beritahu aku semua tentangmu atau aku akan berteriak kalau kamu telah........."
"Namaku Binar Adelard, umurku tiga puluh tahun dan aku tinggal di Elok Residence blok B. Puas?"
Laki-laki itu pun tersenyum senang dan berucap, "namaku Theo Revano, umurku tiga puluh dua tahun dan aku tinggal di Elok Residence juga, di blok C. Nggak nyangka kita tetanggaan ya. Kita memang berjodoh"
"Berjodoh kepalamu! aku berharap ini terakhir kali kita bertemu" ucap Binar sembari bangkit.
"Eits! tunggu dulu Binar!" ucap Theo.
Binar langsung menatap tajam ke Theo saat Theo memanggil namanya tanpa embel-embel nona.
"Apa? kamu kaget aku panggil Binar? apa mau aku panggil sayang?" Theo tersenyum penuh arti ke Binar.
Ada apa dengan hari ini. Kenapa aku sial banget di hari ini. Batin Binar kesal.
Binar mendengus kesal dan memutar badan hendak pergi namun pergelangan tangannya berhasil dicekal oleh Theo, "jangan pergi dulu! tolong temani aku. Aku di rumah sendirian dan malas untuk pulang"
Binar menepis kasar tangannya Theo, "aku bukan waitress" lalu Binar pergi meninggalkan Theo begitu saja.
"Hahaha wanita yang galak dan liar. Aku menyukaimu dan aku akan mendapatkanmu, Binar. Hmm, Binar nama yang unik sama uniknya dengan pemilik namanya, hahahaha" Theo berucap dan tergelak geli dengan sendirinya.