
Aksa terhalang ijin keluar dari pak satpam dan dengan kesal dia berkata, "saya nggak bawa surat ijin dari Bu bos karena, Bu bos sedang pergi dan saya hendak menjemputnya"
Kedua satpam penjaga kantornya Binar itu itu salin melempar pandang dan akhirnya mereka pun mengijinkan Aksa pergi, meninggalkan kantornya Binar.
Belum jauh meninggalkan kantor, hujan tiba-tiba turun dengan sangat derasnya. Aksa merasa malas untuk minggir dan mengenakan jas hujannya. Aksa memilih tetap melajukan motornya menuju ke rumah sakit terdekat. Aksa berharap guyuran air hujan bisa meredakan sedikit panas yang dia rasakan di dalam hatinya.
Tiga puluh menit kemudian di sampai di rumah sakit dan langsung berlari ke UGD setelah dia memarkir motornya. Dalam keadaan basah kuyup dia tidak diijinkan memasuki UGD tersebut. Aksa mendengus kesal lalu berkata, "oke kalau begitu tolong cek, pasien yang bernama Binar Adelard ada di kamar berapa?" kata Aksa ke pak satpam yang berjaga di depan UGD rumah sakit tersebut. Pak satpam itu masuk dan selang sepuluh menit dia keluar lagi dan mengatakan kalau tidak ada pasien uang bernama Binar Adelard di sana.
Aksa melangkah pergi ke mottonya lagi setelah mengibas-ngibaskan rambut basahnya dia kembali melajukan motornya, menuju ke rumahnya Binar.
Sesampainya di rumahnya Binar, Mimi mengatakan kalau Binar baru saja tiba di rumah tapi pergi lagi setelah menaruh seekor anjing pudel berwarna putih.
Aksa bertanya, "apa bos kamu bilang dia akan pergi ke mana?"
Mimi menggelengkan kepalanya.
Aksa melepas kekesalannya ke udara sambil mengacak-acak rambut basahnya.
"Emm, mas tampan, ganteng, dan keren. Mas sebaiknya ganti baju dulu deh, basah semua tuh, kalau nggak ganti baju, entar demam lho" ucap Mimi.
Aksa menatap Mimi lalu menggelengkan kepalanya, "aku akan cari bos kamu sampai ketemu" dan langsung melajukan motornya keluar dari halaman rumahnya Binar.
"Apa Binar makan siang ya? tapi ke mana dia pergi makan siang dengan serigala tua itu?" gumam Aksa di atas motornya yang tengah melaju kencang menembus hujan dan keramaian ibu kota.
Tiba-tiba Aksa merasakan pusing yang begitu hebat, lalu dia meminggirkan motornya di trotoar. Dia memijit kedua pelipisnya sambil sesekali menggelengkan kepalanya, "shit! kenapa pusing banget, nih"
Boy yang tengah melintas menangkap keberadaannya Aksa, dia lalu meminggirkan mobil dinas kantornya dan berlari mendekati Aksa yang hampir jatuh dari atas motornya. Boy langsung menegakkan motornya Aksa sambil memegang tubuhnya Aksa, "Sa, kamu kenapa? lalu ada urusan apa kamu keluar kantor?"
Aksa menoleh ke Boy lalu........Bruugghhh. Aksa pingsan di dalam pelukannya Boy. Dengan dibantu orang yang melewatinya, Boy memapah Aksa masuk ke dalam mobil dinas dan tidak lupa mencabut kunci motornya Aksa.
Setelah berterima kasih kepada orang yang telah membantunya memapah Aksa, Boy masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil dinas itu menuju ke apartemennya Aksa.
Boy mengetahui alamat apartemennya Aksa tapi belum pernah masuk dan main ke sana. Setelah sampai dengan dibantu satpam apartemen itu, dia memapah Aksa sampai di dalam apartemennya Aksa. Boy dan satpam itu merebahkan Aksa di atas kasurnya. Boy mengernyit heran saat melihat ada blus wanita di pinggir ranjangnya Aksa dan Boy pun bergumam, "apa Aksa punya pacar dan mereka telah tinggal bareng? tapi kata Aksa kemarin, dia telah putus dengan Rita lalu......."
"Bukan non Rita" sahut pak satpam yang belum beranjak pergi dari kamarnya Aksa.
Boy menoleh ke satpam itu, "bapak kenal dengan Rita?"
"Kenal, non Rita beberapa kali main ke sini tapi yang kemarin diajak mas Aksa tuh orangnya sangat cantik, berambut pendek, tapi kelihatan lebih tua dari mas Aksa, mungkin tantenya" jawab satpam itu lalu satpam itu pamit meninggalkan Boy dan Aksa.
Boy menautkan alisnya, "Aksa bilang dia tidak punya Tante, hmm, sudahlah untuk apa aku memusingkan hal ini" Boy kemudian melepas kaosnya Aksa yang basah dan celana panjangnya Aksa yang basah lalu menyelimuti Aksa dengan selimut tebal. Setelah itu dia menelepon kantor dan memintakan ijin untuk Aksa karena, Aksa sakit.
Boy kemudian membuatkan minuman hangat untuk Aksa. Aksa tersadar dari pingsannya dan langsung menyadari kalau dia telah berada di apartemennya. Aksa bangun secara perlahan untuk mengambil kaos dan celana kolor lalu memakainya. Setelah itu dia berjalan pelan keluar dari kamarnya, dia melihat Boy tengah membuat minuman di dapurnya.
"Boy, terima kasih ya udah nyelamatin aku" ucap Aksa sambil merebahkan diri di atas sofa ruang tamunya.
Boy langsung menoleh ke Aksa, "lho udah bangun? kamu tiduran aja sana biar aku bawakan minumnya!"
Aksa berucap, "nggak apa-apa. Kamu balik ke kantor aja gih, entar dimarahi kak Binar kalau kelamaan berada di luar kantor dan nggak balik tepat waktu"
"Kamu yakin nggak apa-apa aku tinggal sendirian? emm, oh iya, aku udah ijinkan kamu nggak masuk karena sakit"
Aksa tersenyum, "terima kasih Boy. Tinggal aja nggak apa-apa"
"Baiklah! aku tinggal ya. Emm, ngomong-ngomong, orang tua kamu sangat kaya ya, kamu bisa tinggal di apartemen semewah ini" Boy berucap sembari memakai sepatunya dan hendak membuka pintu untuk pergi meninggalkan Aksa.
Aksa hanya tersenyum lalu melambaikan tangan menanggapi ucapannya Boy.
Binar telah selesai menemani Theo makan siang dan berbelanja lalu dia kembali ke kantornya. Theo pun langsung balik untuk berkemas karena, besoknya dia akan pergi ke Bali. Sesampainya di kantor, Binar menoleh ke kursinya Aksa dan kosong, "Aksa ke mana?"
"Aksa sakit kak, tadi Boy menemukan Aksa pingsan di jalan di atas motornya Aksa. Untung Boy menemukannya kalau enggak entah apa yang terjadi..........." Ratna menoleh dan Binar sudah menghilang, "lho, kak Binar mana?"
Mendengar Aksa sakit, Binar secara ajaib bisa berlari dan tidak merasakan sakit di pinggangnya lagi. Dengan segera dia masuk ke dalam mobilnya dan dengan kecepatan di atas biasanya, dia menuju ke apartemennya Aksa.
Sesampainya di dalam apartemennya Aksa, Binar melihat Aksa tertidur di atas sofa. Binar meletakan tasnya lalu mendekati Aksa, dia bersimpuh di samping sofa lalu menyentuh keningnya Aksa dan secara refleks dia berteriak, "astaga! panas sekali" di saat dia merasakan kening Aksa sangat panas.
Binar menarik tangannya, "sebentar! aku akan buatkan minuman hangat laluengambilkan obat penurun demam untuk kamu. Di mana kamu menyimpan obat-obatanmu?"
"Di lemari atas sebelah kiri kompor" ucap Aksa
Binar kemudian berdiri dan bergegas membuatkan minuman hangat untuk Aksa lalu membawakan semangkuk bubur yang dia beli di dalam perjalanannya menuju ke apartemennya Aksa dan menaruh obat penurun demam di dalam mangkuk kecil. Semua dia tata secara apik, di atas nampan lalu dia bawa ke ruang tamu.
Binar duduk bersila di samping sofa dan menyuapi bubur ke Aksa, "kenapa kamu keluar kantor dan naik motor? kamu pasti kehujanan, nggak pakai mantol dan dalam keadaan perut kosong, kan?"
Aksa mengunyah buburnya dan menganggukkan kepalanya.
"Kenapa kamu begitu bodoh. Untuk apa kamu keluar kantor?" Binar kembali bertanya.
"Mencarimu" jawab Aksa dengan suara lirih.
"Untuk apa mencariku? aku udah tua begini, nggak akan hilang dan nggak akan diculik, jadi nggak perlu kamu cari" ucap Binar dengan santainya sambil terus menyuapi Aksa bubur penuh dengan ketelatenan dan kasih sayang.
"Aku takut kamu dibawa pergi sama serigala tua dan kamu meninggalkan aku" Aksa berucap dengan suara lemas.
"Aku cuma pergi menaruh anjingnya Theo ke rumahku, Theo nitip anjing lalu mampir maka. siang. Aku nggak ngapa-ngapain sama Theo. Kamu cemburu ya?" Binar berucap sembari menaruh mangkuk yang telah kosong lalu membantu Aksa untuk meminum obat penurun demam.
Aksa mendengus kesal dan berucap, "iya aku cemburu karena aku sangat mencintaimu"
Binar merebahkan kepalanya Aksa kembali di atas sandaran sofa lalu menatap Aksa, "apa benar, kamu sudah mulai mencintaiku?"
Aksa mengelus pipinya Binar, "iya, aku si bodoh ini begitu percaya diri dan berani mencintai putri secantik kamu"
Binar terkekeh mendengar ucapannya Aksa, "iya kamu bodoh, mencintai nenek peyot kayak aku. Aku jauh lebih tua dari kamu kok bisa-bisanya kamu bilang kalau aku ini putri cantik"
Aksa masih mengelus pipinya Binar dan terkekeh lirih, "nenek peyot mana ada yang secantik kamu"
"Besok kamu harus ke Bali dan sekarang sakit. Sebentar aku akan ambil air untuk mengompresmu, biar demam kamu cepat hilang" ucap Binar sambil bangkit dan Aksa menahannya.
Binar menoleh dan menatap Aksa, "ada apa? kamu pengen apa?"
"Aku tahu cara meredakan demam dengan cepat" ucap Aksa sambil tersenyum penuh arti ke Binar.
"Bagaimana? katakan cepat! aku pengen demam kamu cepat turun" Binar menatap Aksa dengan penuh semangat.
"Kita berpolos ria dan saling berpelukkan di dalam selimut. Cara itu sangat efektif menurunkan demam" Aksa tertawa lirih ke Binar.
Binar langsung menarik tangannya dan bergegas pergi ke dapur sambil berucap "dasar mesum"
Aksa melepas tawanya ke udara dan kembali berucap, "kok mesum sih? itu salah satu cara pengobatan juga. Kamu tuh yang mesum"
Binar langsung menyahut ucapannya Aksa dari arah dapur "dasar gila! sakit masih saja bisa menggodaku" sambil mengisi baskom dengan air hangat tanpa sadar Binar merona senang mendapatkan godaan dari Aksa.
Binar kembali duduk bersila di samping sofa dan mulai mengompres keningnya Aksa. Beberapa menit kemudian akibat dari obat penurun demam, Aksa pun ketiduran Binar menelepon Mimi mengatakan kalau di hari itu dia kembali lembur di kantor dan tidak pulang ke rumah. Binar berencana akan menjaga Aksa sampai Aksa benar-benar pulih karena, keesokan harinya, Aksa harus pergi ke Bali.
Binar kemudian mandi dan berganti baju, memakai kaos putih dan celana kolornya Aksa. Sambil menunggu Aksa bangun, dia mencuci blus dia yang dia tinggalkan pagi tadi bersama dengan bajunya Aksa yang basah kena hujan di dalam mesin cuci. Dia kemudian duduk kembali di samping sofa dan kerena kelelahan tanpa dia sadari, Binar tertidur di atas dadanya Aksa.
Aksa terbangun dan melihat Binar tidur di atas dadanya. Dengan pelan, Aksa kemudian bangun dan membopong tubuhnya Binar menuju ke kamarnya, dia rebahkan bInar di atas ranjangnya lalu dia keluar kamar untuk mandi. Badannya lengket semua kena keringat. Demamnya pun sudah turun berkat Binar.
Selesai mandi, Aksa kembali ke kamarnya. Aksa memandang Binar dan terkekeh geli, Binar telah berganti baju, mengenakan kaos dan celana kolornya. Aksa duduk di tepi ranjang sambil terus memandangi wajah cantiknya Binar, dia bergumam, "apa dia berencana menginap lagi di sini?"
Binar membuka matanya dan bersitatap dengan Aksa. Keduanya mematung, membisu dan secara perlahan Aksa mendekatkan wajahnya ke wajahnya bInar. Aksa mencium keningnya Binar, pucuk hidungnya Binar, lalu kedua pipinya Binar.
Aksa memandang Binar yang kembali memejamkan mata dan kedua tangannya mencengkeram seprei ranjangnya Aksa. Aksa terkekeh tanpa suara lalu mengusap pipinya Binar, "kamu berharap aku mencium bibir kamu, ya?"
Binar membuka matanya lalu kedua mata itu membulat sempurna, "hah?! apa? aku tidak........."
Cup......Aksa mengecup bibirnya Binar lalu tersenyum lebar ke Binar.
Binar membeliak dan Aksa langsung menempelkan kembali bibirnya di atas bibirnya Binar, dengan gerakan pelan, lembut, dan penuh perasaan dia menciumi bibir itu, semakin dalam dan.................