
Aksa dari bandara langsung menuju ke kantornya Binar Adelard untuk menandatangani dan mengambil surat rekomendasi magang. Aksa disambut ceria oleh Ratna dan teman-temannya yang lain namun, Lela, Boy dan his pretty Boss, nggak ada di kantor.
"Duduklah dulu, Aksa! kak Binar dalam perjalanan ke sini dari luar kota. Sudah seminggu ini kak Binar berada di Bali dan pagi tadi katanya udah sampai di sini, sebentar lagi paling sampai" kata Ratna.
Aksa mencoba untuk memberikan senyuman terbaiknya ke Ratna karena, terus terang hatinya terasa kecut dan sejujurnya dia sedang tidak ingin mengulas senyum di wajah tampannya saat itu. Aksa duduk di meja kerjanya Boy lalu bertanya, "Kalau Boy?"
"Boy sekarang ini lebih sering berada di lapangan" Sahut Ratna sambil terus fokus ke layar laptopnya.
Aksa mendesah panjang kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kantor itu, yang dulu pernah dia nikmati suasana kerjanya, keceriaannya dengan kolega-koleganya, dan percintaannya dengan bos cantiknya, cinta pertamanya, sekaligus wanita pertama yang paling dia benci.
Karena kelamaan menunggu bos cantiknya datang, Aksa pun ketiduran di atas meja kerjanya Boy setelah membaca buku desain miliknya Boy yang tergeletak di atas meja kerjanya Boy. Aksa merasa sangat mengantuk karena, kecapekkan setelah menempuh penerbangan yang begitu panjang dari Amerika ke Indonesia.
Ratna menoleh ke belakang dan tersenyum melihat Aksa jatuh tertidur dengan sangat polosnya. Ratna kemudian mengacuhkan Aksa dan kembali fokus bekerja.
Theo berkata dengan suara serak tanpa melepas pandangannya dari Binar Adelard, istri tercintanya, "bolehkah sekarang ini aku mengambil hak aku sebagai seorang suami?"
Binar bertanya dengan menautkan kedua alisnya, "hak apa?"
Theo mengelus pipinya Binar lalu berkata dengan senyum yang masih merekah indah di wajah tampannya, "mencium kamu, di sini" Theo mengusap bibirnya Binar dengan ibu jarinya.
Binar merona malu. Wajahnya langsung terasa panas dan jantungnya seolah ingin melompat keluar.
"Bolehkah, sayang?" Theo menatap lekat kedua bola mata Binar yang indah sambil menekan lembut bibirnya Binar dengan ibu jarinya.
Binar merapatkan bibirnya lalu menganggukkan kepalanya dengan pelan-pelan.
Theo segera menggeser tangannya ke tengkuknya Binar, menarik tengkuk itu sehingga bibir dia dan bibirnya Binar menempel sempurna. Ciuman di mobil pernah Binar lakukan dengan Aksa, dulu namun, ciumannya Theo dia rasakan sungguh-sungguh berbeda.
Aksa mencium dia dulu dengan penuh gairah, menggebu-nggebu, penuh rasa penasaran dan menuntut. Sedangkan ciumannya Theo lebih berhati-hati, berkesan ngemong dengan kata lain, menjaga atau memelihara rasa yang ada di Binar, dan hangat, sungguh-sungguh hangat dirasakan oleh Binar. Binar menjadi terbuai dan seolah tidak ingin terlepas dari ciumannya Theo.
Kuncian bibirnya Theo mengirimkan gelombang kejut ke otaknya Binar, desiran darah di sekujur tubuhnya Binar, dan perutnya Binar menjadi tegang. Theo secara perlahan membuat bibirnya Binar merekah indah lalu dia melepas ciumannya untuk sesaat, hanya untuk sekadar melihat reaksinya Binar.
Theo sungguh terkejut melihat Binar membuka mata dan menarik kerah kemejanya Theo sembari berkata, "jangan hentikan aku mohon mas!"
Theo tersenyum senang dan memiringkan kepalanya ke kanan membentuk sebuah sudut yang tepat untuk memulai ciumannya kembali dan mencoba untuk bermain lidah di sana. Binar dan Theo telah membentuk ikatan emosional yang dalam lewat penyatuan bibir mereka dan dengan lidah yang saling membelit dan menggoda, kedua sejoli itu, mengurai ketegangan dan meraih kebahagiaan mereka sebagai sepasang suami istri yang saling mencintai.
Tiba-tiba..........bunyi ponsel memekakkan telinga mereka. Theo melepas ciumannya namun, Binar menahannya sambil berkata, "jangan hentikan! biarkan saja ponsel kamu berdering terus!"
Theo terkekeh kemudian mendorong Binar pelan lalu berkata, "bukan ponselku yang berbunyi tapi, ponsel kamu yang berbunyi, sayang"
Binar membuka mata lalu mengerjapkannya dengan rona malu di wajahnya.
Theo tersenyum lebar kemudian mengusap bibirnya Binar dan berkata, "angkatlah! kita masih punya banyak waktu untuk melanjutkan ciuman kita, nanti" Theo lalu merapikan rambutnya Binar dan mengelus lembut kepalanya Binar.
Binar menepuk dadanya Theo dengan tersipu malu kemudian dia mengangkat ponselnya, "halo?"
"Kak? kakak masih lama ke kantornya?" tanya Ratna.
"Sepertinya masih. Aku akan pulang dulu ke rumah papaku dan papa mertua. Memangnya kenapa? ada masalah di kantor?"
Ratna hendak mengucapkan nama Aksa namun, Boy melarangnya dan akhirnya Ratna berkata, "ada tamu dari luar negeri yang menunggu kakak dari tadi"
"Oh! emm, sebentar......." Binar menoleh ke Theo.
"Ada apa?" tanya Theo.
"Oke! kita ini ke arah kantor kamu, kan? kita ke sana dulu. Aku nggak ikut turun ya, aku akan ajak papa kita dan keluarga kakak kamu, Aulia juga Hendra ke restoran. Setelah ngumpul semuanya, aku akan jemput kamu? gimana? kita akan mengumumkan kehamilan kamu di resto nanti" Theo berucap sembari mengusap lembut rambutnya Binar.
Binar menganggukkan kepala sembari tersenyum lalu Binar berkata ke Ratna melalui ponselnya, "aku menuju ke sana. Suruh tamu itu untuk menungguku. Sepuluh menit, paling lama lima belas menit, aku akan sampai"
"Baik kak" sahur Ratna dan klik. Sambungan ponsel.mereka pun terputus.
Theo segera memasangkan sabuk pengamannya Binar lalu memasang sabuk pengamannya sendiri dan meluncurkan mobilnya ke kantornya Binar.
Theo mengecup bibirnya Binar lalu terkekeh geli.
Binar mengerutkan keningnya lalu bertanya, "ada apa? ada yang lucu di wajahku?"
"Umm, itu....Hehehehe. Bibir kamu agak bengkak dan warna lipsticknya hilang, memudar. Aku rasa kamu perlu menambahkan lipstick di sana untuk menutupi bengkaknya" ucap Theo dengan senyum geli lalu kembali berucap, "jika tidak maka, klien kamu dari luar negeri itu akan berfantasi yang enggak-enggak dan aku nggak rela jika dia......"
"Stop!" Binar kembali tersipu malu dan langsung mengambil lip balm dari dalam tasnya lalu membubuhkan lipstick warna kalem di atas bibirnya kemudian menolah ke Theo dengan merengut, "ini ulah kamu. Bibirku bengkak dan......"
Theo kembali terkekeh geli, "oh! benarkah? lalu siapa yang bilang tadi ya, jangan hentikan mas?"
Binar semakin memerah wajahnya dan bergegas keluar dari dalam mobil suaminya. Theo mengikuti arah perginya Binar sambil mengusap-usap bibirnya dengan ibu jarinya sendiri sembari tertawa lepas melihat rona merah dan mimik malu-malu meong di wajahnya Binar.
Theo kemudian bergumam, "terima kasih sudah mencintaiku sayangku, istri cantikku, Binar Adelard" sembari mengemudikan kembali mobilnya.
Binar menemui Ratna dan langsung bertanya, "mana tamu-nya?"
"Nih!" Ratna menoleh ke belakang kursinya dan menunjuk ke Aksa yang masih tertidur pulas.
Binar langsung ternganga dan segera menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan tangannya.
Aksa? kenapa dia bisa ada di sini? batin Binar.
"Aksa ingin mengambil surat rekomendasi magang, Kak" sahut Boy dari arah belakang.
Binar memutar badan dan menatap Boy lalu berkata, "kenapa harus datang ke sini? dari Amerika? kan bisa aku kirim lewat email"
"Emm, itu, saya yang salah. Saya tahu kalau surat rekomendasi magangnya Aksa belum ditandatangani Aksa, jadi saya sarankan Aksa untuk datang secara langsung ke sini" sahut Boy.
Binar menghela napas dan berkata, "oke, nggak papa. Lagian Aksa sudah di sini" Binar memutar badan dan kembali menatap Aksa yang masih tertidur pulas di atas meja kerjanya Boy.
Kenapa aku harus berjumpa kembali dengan kamu di saat hatiku, rasa cintaku, dan segala jiwaku sudah aku pasrahkan ke Theo Revano. Apa kamu hidup dengan baik selama ini? Batin Binar sambil terus menatap Aksa.
"Kak!" Ratna menepuk pundaknya Binar.
Binar tersontak kaget dan spontan berkata, "aku baik-baik saja"
Ratna bersitatap dengan Boy dengan sorot mata penuh tanya, kemudian Boy berkata ke Binar, "aku tahu kakak baik-baik saja"
Binar menjadi salah tingkah karena, telah salah ucap lalu dengan segera berkata, "Oh, itu, anu...... Bangunkan Aksa dan suruh dia ke ruanganku!" Binar segera memutar badan dan masuk ke ruangannya.
Sepuluh menit kemudian pintunya diketuk seseorang dan Binar menyahut, "masuk!"
Aksa membuka pintu dengan langkah tegap dia masuk, menutup pintu dengan tanpa mengalihkan pandangannya dari bos cantiknya. Aksa kemudian duduk di depan meja kerjanya Binar dengan sorot mata menggelap penuh kekecewaan dan kebencian. Wajahnya mengeras dan rahangnya mengatup rapat.
Binar menatap Aksa dan menghela napas panjang untuk mengumpulkan semua akal sehatnya dan menetralkan segala rasa yang bercampur aduk di dalam dadanya. Mereka pun bersitatap dalam diam.