
Keesokan harinya Binar berangkat ke kantor pagi-pagi buta untuk mampir sarapan di rumah kakaknya dan hendak mengembalikan baju kakaknya yang kemarin dia pinjam.
"Apa ini?" tanya Mika sambil menerima paper bag yang diberikan oleh Binar.
"Buka aja, heeeee" Binar meringis dan bersiap-siap menerima omelan kakaknya karena baju itu terkena genangan air hujan, sangat kotor dan belum sempat dia cuci.
"Binaaarrrrr!!!!! huffftttt" Mika langsung mengelus-elus dadanya dan melotot ke Binar sambil memperlihatkan baju kesayangannya yang sangat kotor dan noda yang melekat di bajunya bisa dipastikan tidak akan mungkin bisa hilang, "ini kenapa jadi seperti ini? dan belum kamu cuci? hufffttt....huuuffttt" Mika berkali-kali menghela napas.
"Heeee, aku kemarin lembur kak jadi pulang ke rumah langsung tidur. Baju itu kotor juga nggak aku sengaja. Ada yang mencipratkan genangan air hujan dari ban mobilnya pas aku jalan di trotoar. Aku akan ganti bajunya kakak" kata Binar sambil melangkah pergi begitu saja meninggalkan kakaknya yang masih menghela napas. Binar langsung duduk di meja makan dan mencomot tempe goreng.
Mika merengut dan langsung menuju ke belakang dan memasukkan baju itu ke mesin cuci lalu melangkah mendekati Binar, "asal kamu tahu ya, baju itu tuh limited edition. Sudah nggak ada lagi di luaran sana dan baju itu hadiah ulang tahun dari suamiku"
"Lalu kenapa kakak ijinkan aku pakai baju itu kemarin?" Binar berucap santai sambil mengunyah tempe goreng.
"Hufffttt, iya aku pikir kamu akan menjaganya dengan baik. Lagian kamu pakai kerja kan jadi aku pikir baju itu akan aman" ucap Mika kesal.
"Aku akan carikan gantinya sampai dapat. Tenang aja, jangan marah-marah terus di pagi hari! nggak baik untuk kesehatan kulit, heeee" Binar meringis ke Mika.
"Dasar gila" Mika kemudian berbalik badan dan naik ke. lantai atas untuk menyiapkan baju kerja suaminya dan membangunkan putranya.
Selang beberapa menit kemudian Abimana, Arkan turun dari lantai atas dengan baju rapi. Arkan langsung berlari memeluk Binar, "Tante wangi sekali dan cantik. Arga suka kalau Tante ke sini untuk sarapan sama kita"
"Aaaahhh, manis sekali sih kamu. Kamu tuh cowok paling manis dan baeeekkkk sedunia, mmuuaaahh" Binar mencium kedua pipinya Arkan. Arkan tertawa lebar lalu duduk di kursinya untuk memulai sarapannya.
"Arga
suka kamu sarapan di sini nah kakak yang eneg" ucap Mika disambut tawa renyah suaminya.
"Jangan gitu sayang. Binar kan di rumah sendirian, dia juga nggak bisa masak jadi ya nggak ada masalah kalau dia sarapan bareng kita" sahut Abimana.
"Senangnya aku mendapatkan banyak dukungan, heeeee" Binar meringis ke Mika dan Mika hanya bisa terkekeh.
Arga memilih pergi ke sekolah dengan Binar. Binar dengan senang hati mengantarkan Arkan ke sekolahnya.
"Tante, turun dulu yuk!" pinta Arkan.
"Tapi kenapa tante harus turun?" Binar menautkan alisnya menatap Arga.
"Turun dulu pokoknya, Ayuk!" Arga bersikeras meminta Binar untuk turun dan dengan wajah bingung, Binar pun turun.
Arga menggenggam tangan Binar dan menariknya masuk menuju ke kelasnya. Binar tersenyum lebar dan mengikuti keinginannya Arga. Binar berucap dalam hatinya, apa dia mau mengenalkan cewek yang dia taksir ke tantenya? pfffttt, lucu benar keponakanku ini.
"Pak guru, Arga udah ajak tante Binar" Arga mengenalkan Binar ke gurunya Arkan yang botak, gendut dan tingginya sebelas dua belas dengan Binar.
What?! apa maksudnya nih? kata Binar di dalam hatinya.
"Tante ini pak guruku. Dia suka sama tante dan ingin berkenalan sama Tante" Arga berucap lalu pergi meninggalkan tantenya berdua saja dengan bapak gurunya.
Bapak gurunya Arga langsung mengelus kepala botaknya dan tersenyum canggung ke Binar dengan rona merah di wajahnya, "nama saya Darmakno, saya meminta Arga untuk mengenalkan saya ke anda sejak lama. Saya mengagumi keanggunan dan kecantikan anda dan saya dengar anda masih single. Saya juga masih single jadi apa salahnya kalau kita............"
"Maaf saya sudah punya tunangan dan sebentar lagi akan menikah" Binar terpaksa berbohong untuk melenyapkan rasa suka dari pria botak itu untuk dirinya, "saya permisi" Binar kemudian berbalik badan dan pergi begitu saja meninggalkan bapak gurunya Arga yang melongo dengan rasa kecewa di hatinya. Pupus sudah harapannya untuk bisa berpacaran dengan wanita idamannya.
"Dasar guru gila! memanfaatkan kepolosannya Arga untuk berkenalan denganku, cih! besarkan terus tuh perut kamu jangan kamu besarkan harapanmu untuk mendapatkanku, cih!" Binar terus mengumpat kesal sambil melajukan mobilnya menuju ke kantornya.
Binar datang ke kantornya dan suasana masih lengang, sepi karena belum nampak satu pun anak buahnya yang datang. Binar menaruh tas kerjanya di dalam ruangannya lalu melangkah ke gudang tempat penyimpanan alat tulis untuk mengambil kertas HVS.
Binar menaruh kursi di depan rak bersusun dan dia hendak naik ke kursi itu untuk mengambil kertas HVS yang ada di rak paling atas. Tiba-tiba entah kenapa dia menjadi limbung dan terjatuh...........di dalam pelukannya Aksa.
"Kakak ini benar-benar ceroboh ya, pfffttt" kata Aksa.
Binar mendengus kesal dan langsung menarik diri dari pelukannya Aksa. Aksa kemudian mengambilkan kertas HVS untuk Binar lalu mendekap kertas itu dan menatap Binar, "kenapa kemarin kakak pergi dari apartemenku tanpa pamit?"
"A....a...aku pamit kok tapi kamu nggak dengar" ucap Binar sambil mengalihkan pandangannya.
"Benarkah? tapi kenapa kakak tidak berani menatapku saat ini?" Aksa tersenyum tipis.
Binar kemudian menatap Aksa, "mana kertasnya" Binar menengadahkan tangannya di depan Aksa.
"kau!" Binar menarik tangannya namun tidak berhasil lepas dari genggaman tangannya Aksa.
"Katakan dulu yang jujur! kenapa kakak pergi tanpa pamit kemarin?"
"I...i..itu karena, aku takut memerkosa kamu lagi jika kita berduaan" ucap Binar sambil menundukkan wajah cantiknya.
Aksa langsung menggemakan tawanya lalu berucap di sela tawanya, "mana ada cowok diperkosa sama cewek, kak"
"Lha buktinya pas aku mabuk, katamu aku mencium kamu dan nembak kamu jadi aku takut kalau........."
"Kalau takut Kita jadikan beneran aja" kata Aksa.
"Apanya?" Binar langsung menatap wajah Aksa yang terus mengulas senyum lebar di wajah tampannya.
"Pacaran" ucap Aksa serius dan Binar langsung membungkam mulutnya Aksa dengan tangan kirinya yang masih bebas, "jangan bicara keras-keras! kalau ada yang dengar bisa bahaya" ucap Binar dengan wajah pias.
Aksa tersenyum lebar kemudian melepaskan tangannya Binar dari genggaman tangannya lalu memegang tangan Binar yang membungkam mulutnya dan dia cium tangan itu.
Binar seketika menarik tangannya dan berlari pergi meninggalkan Aksa begitu saja. Binar melupakan kertas HVSnya. Aksa tertawa lebar melihat tingkah konyolnya Binar. Cowok tampan itu kemudian menyusul Binar yang terus berlari dengan sangat kencang dan masuk ke ruangannya.
Lima menit berselang, Aksa mengetuk pintu ruangannya Binar dan tersenyum ke Lela yang sudah datang dan menyapa Aksa.
Setelah mengetuk sebanyak tiga kali dan tidak ada jawaban, Aksa langsung masuk ke ruangannya Binar dan melihat Binar tengah menaruh keningnya di atas meja kerja. Aksa mengulum bibir menahan geli.
"Kak" Aksa berucap sambil duduk di depan mejanya Binar.
Binar langsung mengangkat wajah cantiknya dan menatap Aksa, "kenapa kau bisa masuk, kenapa tidak ketuk pintu dulu?"
Aksa kembali mengulum bibir menahan geli, "aku sudah ketuk pintu dan......."
"Kenapa sekarang kamu berbicara informal padaku?" Binar melotot ke Aksa.
"Aku akan berbicara informal sama kakak kalau kita cuma ber.....dua....an" ada kesan menggoda dari ucapannya Aksa dan Binar tanpa sadar kembali merona malu.
"Ada apa kemari?" Binar berucap ketus untuk menutupi rasa ambigu di dalam hatinya.
"Kakak lupakan kertas HVSnya" Aksa kemudian menaruh kertas HVS itu di atas meja kerjanya Binar.
"Terima kasih dan kamu boleh pergi" ucap Binar.
Aksa menggelengkan kepalanya dan tersenyum ke Binar, "aku masih menunggu jawabannya kakak. Aku nggak akan keluar dari ruangan ini sebelum mendapatkan kepastian dari kakak"
"Jawaban apa? kepastian apa?" Binar berucap dengan sangat kesal ke Aksa.
"Kakak udah menciumku. Kakak udah nembak aku dan aku bilang oke bukankah itu berarti kita sekarang ini sepasang kekasih?"
"Huuuffttt! kamu gila jika kamu menganggap serius omongannya orang mabuk" ucap Binar.
"Oke kakak bilang begitu dari kemarin aku maklumi dan aku mengabaikan ucapan kakak di saat kakak mabuk. Itulah kenapa aku yang gantian nembak kakak kan, dari kemarin. Aku nunggu jawabannya kakak, sekarang" Aksa tersenyum penuh arti ke Binar.
"Berhenti senyum-senyum seperti itu! berhenti menatapku! berhenti menggodaku dan berhentilah terlihat begitu tampan seperti itu!" Binar mulai terisak karena frustasi dengan rasa ambigu yang dia miliki untuk seorang Aksa.
Aksa langsung terkekeh, "kenapa? kenapa dengan senyuman, tatapan, dan wajah tampanku ini? kenapa ini semua kakak artikan sebagai godaan? asal kakak tahu, aku tidak menggoda kakak lho. aku serius menyukai kakak"
Aksa mendekati Binar dan memeluk Binar yang semakin deras tangisnya, "maafkan aku sudah bikin kakak menangis. Tapi kenapa kakak menangis?"
Binar tanpa sadar membalas pelukannya Aksa lalu menghela napas dan berucap, "aku akui beberapa hari ini aku tidak bisa tidur dan selalu bangun di pagi-pagi buta karena bayanganmu selalu ada di atas ranjangku dan mengucapkan selamat pagi kak, apa kakak tidur nyenyak semalam?"
Aksa langsung melepaskan pelukannya dan tertawa terpingkal-pingkal. Binar langsung bangkit dan berkali-kali memukul bahunya Aksa sambil merona malu dia berucap, "berhenti tertawa! aku serius dan kamu malah tertawa"
Aksa kemudian menatap Binar dan menghentikan tawanya, "oke! aku nggak akan tertawa lagi. Apa itu berarti kakak sudah mengijinkan aku menjadi pacar kakak?"
"Keluarlah dulu! kita ketemu nanti pulang kerja, di resto Bambu. Aku akan kasih kepastian ke kamu nanti di sana" ucap Binar.
Aksa kemudian tersenyum lebar dan mengecup keningnya Binar dan melangkah keluar dari ruangannya Binar dengan penuh kebahagiaan dan harapan.