
Theo terus menempel ke Binar karena, dia todak ingin Binar berada di dalam zona berbahaya lagi jika ia lepaskan pandangannya.
Miko berjalan mendekati kedua bosnya lalu berkata, "maaf Bos, ai ketiduran, heeeee"
Theo dan Binar secara serempak menoleh ke Miko, "tidur aja lagi" ucap Binar dan Theo secara bersamaan pula.
Miko terkekeh geli, "Bos emang jodoh nih selalu kompak dalam segala hal, heeeee. Babang tamvan ai mana, nih?"
"Tuh" tunjuk Theo.
Miko melihat arah jari telunjuknya Theo lalu dia tersenyum, "Babang tamvan ai emang keren ya"
"Bukan yang sedang dishoot tapi, yang berdiri di pojokkan tuh. Kalau yang sedang dishoot itu modelnya ai, eh, Gue kok ikutan bilang ai, nih, heeeeee" Theo terkekeh geli lalu mendengus kesal ke Miko.
Binar tertawa lepas, "Miko emang gampang banget nularin virus ai-nya ke orang lain, hahahahaha"
"Enak aja dibilang ai punya virus, ihhhh, sebel! Bos, ai tahu yang mana babang tamvan ai, jadi nggak usah diperjelas" Miko mencebikkan bibirnya ke Theo dan Theo langsung menggelegarkan tawa macho-nya.
Andik menoleh ke Bos besarnya sambil menghela napas panjang dan bergumam, "kalau udah nempel ke istrinya, lupa deh ama kerjaan"
Andik kemudian melangkah mendekati Theo dan berkata, "Bos, sutradara tanya, propertinya mau ditambah lagi apa sudah cukup seperti awal tadi?"
Theo hendak menjawab pertanyaannya Andik namun, dia segera memeluk Binar saat dia mendengar Binar memekik "Hoooeekkk....hoooeeekkk!"
Theo mempererat rangkulannya sembari mengusap-usap bahunya Binar dengan panik, "sayang, kamu kenapa?"
Binar segera menutup hidungnya dan mundur ke belakang untuk menjauh dari Andik, "aku nggak tahan dengan baunya Andik. Jangan mendekat kemari!" Binar mengibas-ngibaskan tangan kirinya ke Andik.
Andik melengkungkan alisnya lalu melangkah mundur tiga langkah untuk menjauhi Binar dan Miko tertawa renyah lalu berkata, "Babang tamvan ai pakai minyak si nyong-nyong ya, sampai bos ai mual, hihihihi"
Andik melotot ke Miko dan Miko segera melempar tawa renyahnya ke Andik
Theo menoleh ke Andik, "kamu habis makan apa sih?"
"Kan kita belum makan siang, Bos. Jadi ya, saya belum makan apa-apa" sahut Andik dengan wajah penuh tanda tanya.
"Bau parfumnya Andik yang aku nggak suka. Aku langsung merasa mual" sahut Binar.
Theo menoleh ke Binar dan deg......jantungnya berdegup kencang karena, kecemburuan. Wangi parfumnya Andik sama persis dengan wangi parfumnya Aksa. Apa Binar ingat kembali sama Aksa dan dia merasa kesal sampai merasa mual kayak gini. Batin Theo.
Theo kemudian menoleh ke Miko, "ajak Binar ke mobil! Sebentar lagi aku menyusul kalian, aku akan menemui sutradara dulu sebentar" Theo mencium singkat pipinya Binar dan segera melangkah lebar mengajak Andik menemui sang sutradara. Tetapi sebenarnya, Theo ingin menghindari Binar, dia tidak ingin Binar mendengar degup jantung yang berdetak karena, kecemburuannya pada Aksa.
Binar menatap punggungnya Theo dengan heran. Rasa sensitif yang dia miliki semenjak dia hamil, membuat Binar bisa merasakan kalau Theo pergi untuk menghindarinya namun Binar tidak mengetahui alasannya.
Miko kemudian menuntun bos-nya untuk masuk ke dalam mobil. "Masuklah, Bos!" Miko membukakan pintu mobil untuk Binar namun, Binar malah menutup pintu mobil itu dan memilih untuk bersandar di mobilnya.
Binar mendesah panjang dan Miko menoleh ke Binar, "kenapa, Bos? masih pengen muntah? kenapa bau badannya babang tamvan ai bisa bikin Bos merasa mual?"
"Baunya mirip banget dengan bau badannya Aksa dan entah kenapa aku nggak suka dengan bau itu padahal dulu aku sangat menyukai bau badannya Aksa tapi sekarang nggak lagi, justru aku merasa enek dan mual dengan bau itu"
"Apa karena, babang tamvan ai yang makai parfum itu jadi Bos merasa mual? emm, secara ya, wajah tuan muda Aksa jauh lebih tampan daripada babang tamvannya ai, hehehehe"
"Bukan karena wajah tapi bau badannya yang bikin aku enek" sahut Binar.
Selang sepuluh menit, Theo melangkah mendekati Miko dan Binar lalu berkata, "Ko, kamu ikut ke mobilnya Andik, kita makan siang dulu"
Andik segera melajukan mobil yang dia kemudikan ketika dia melihat dari kaca spion, Miko melangkah mendekatinya. Miko menghentakkan kakinya lalu berputar badan menghadap ke Theo dan Binar, "ai ditinggal tuh sama babang tamvan ai"
Theo tertawa lepas lalu berkata, "oke masuklah ke sini!"
Miko segera membuka pintu mobil dan duduk di jok belakang lalu berkata, "Bos, biar ai yang nyetir"
Theo melajukan mobilnya Binar sambil berucap, "udah santai aja, siapa yang nyetir sama aja yang penting kita sampai di tujuan dengan selamat, ya kan?"
"Okelah, ai bisa bokci lagi nih" sahut Miko.
"Apa itu bokci?" tanya Theo.
"Bobok ciang, hehehehe" sahut Miko.
"Ooooo, hahaha, bergaul sama kamu lama-lama ai bisa jadi remaja lagi nih, hahahahaha" sahut Theo.
Miko membalas tawa renyahnya Theo dengan tawa membahana khasnya lalu dia menyandarkan kepala di jok mobil dan segera memejamkan kedua matanya.
Binar menoleh ke Theo dan terus menatapnya.
Theo menoleh sekilas ke Binar sambil melepas tanya "ada apa?"
Binar mengalihkan pandangannya ke depan sambil merapatkan bibirnya, ia menghela napas panjang dan berkata, "nggak apa-apa"
Theo meraih tangannya Binar untuk dia genggam dan dia taruh tangan itu di atas bibirnya. Dia menciumi tangannya Binar sambil terus fokus menyetir ia berkata, "aku sangat mencintaimu. Kamu pengen makan apa hari ini?"
"Lagi? terus nanti malam mau makan apa?" tanya Theo sambil terus menciumi tangannya Binar.
"Nasi goreng" sahut Binar dengan santainya.
"Nggak bosan makan nasi goreng terus dari kemarin?" tanya Theo.
Binar menoleh ke Theo dan berkata, "belum bosan, hehehehe. Entah kenapa aku cuma pengen makan nasi goreng aja, emm, sama rujak boleh?"
"Boleh dong, hmm, kalau gitu kita ke restorannya temanku, di sana makanannya lengkap, menyajikan makanan dari Sabang sampai Merauke, rujak juga ada di sana"
"Cewek apa cowok?" Binar mulai mengerucutkan bibirnya.
Theo menoleh sekilas ke Binar dan terkekeh, "cewek tapi dia sudah menikah dan anaknya udah gede, udah remaja"
Binar menghela napas lega dengan mimik wajah jenaka dan hal itu membuat Theo meminggirkan mobilnya sejenak. Theo menoleh ke jok belakang dan melihat Miko tidur dengan nyenyak lalu Theo melepas sabuk pengamannya.
Binar menoleh ke Theo, "kenapa berhenti di......."
Theo segera menarik tengkuknya Binar untuk mencium bibirnya Binar. Theo mencium Binar dengan menggebu-nggebu dan penuh gairah lalu dia melepas ciumannya, memasang kembali sabuk pengamannya, dan duduk tegak, saat jendela mobil itu diketuk oleh Andik. Theo membuka jendela mobilnya, "ada apa?"
Andik melihat bibir Theo yang belepotan terkena noda lipstick-nya Binar. Andik kemudian berucap, "lanjutkan saja Bos, saya akan tunggu sampai selesai" lalu Andik meninggalkan Theo dan melangkah ke belakang untuk kembali masuk ke mobil yang dia kendarai.
Theo mengerutkan alis mendengar ucapan anehnya Andik lalu dia menoleh ke Binar, "Andik gila tuh, kenapa dia bilang begitu?"
Binar menatap bibirnya Theo lalu dia mengusap bibirnya Theo untuk membersihkan noda lipstiknya yang menempel di bibirnya Theo sambil berkata dengan senyum geli, "pantas kalau Andik bilang gitu tadi, lha ini, bibir Mas belepotan kayak gini kena lipstick-ku"
Theo segera merona malu lalu tertawa renyah, "habisnya kamu tuh kalau cemburu begitu menggemaskan"
"Nah, dah bersih sekarang" ucap Binar sambil tersenyum geli.
Theo tertawa lirih lalu melajukan kembali mobilnya dan Andik segera mengekornya.
Sesampainya di restoran milik temannya, Theo menyuruh Miko dan Binar duduk terlebih dahulu. Theo menghampiri Andik yang duduk di meja lain karena, Binar tidak menyukai bau badannya Andik. Theo berkata ke Andik, "kita tadi sempat menemui salah satu kliennya Binar kan, kliennya Binar pernah melihat Lela makan siang dengan Darren. Aku mencurigai Lela, setelah makan siang, tolong kamu mulai taruh orang untuk mengawasi Lela, oke?"
"Oke Bos" sahut Andik.
"Jangan bilang sama Binar soal ini? kalau udah dapat bukti dan pasti Lela adalah pengkhianatnya, barulah kita kasih tahu ke Binar"
"Siap Bos" Andik mengacungkan jempolnya ke Theo
"Bagus! maaf kamu nggak bisa bergabung di mejaku dan maaf aku nggak temani kamu makan siang. Kamu tahu kan kalau istriku tidak menyukai bau badan kamu. Emm, mulai besok, aku akan kasih kamu parfum dengan wangi yang sama denganku jadi aman untuk istriku"
"Nggak papa Bos, saya makan sendiri di sini dan makasih Bos" sahut Andik.
Miko kemudian duduk di mejanya Andik saat Theo berputar badan dan pergi meninggalkan mejanya Andik.
"Kenapa kemari?" Andik melotot ke Miko.
"Iya karena, ai nggak mau jadi obat nyamuk di mejanya Bos. Mending ai di sini menemani babang tamvan ai, hehehehe" Miko tersenyum lebar ke Andik.
Andik hanya bisa menghela napas panjang, "kamu boleh duduk di sini tapi jangan macam-macam! jangan lakuin hal yang aneh-aneh!"
"Siap!" sahut Miko dengan senyum riangnya.
Karena rasa penasaran yang tinggi, Aksa belum juga bisa memejamkan kedua matanya. Akhirnya Aksa memutuskan untuk menelepon Boy, "kamu pasti lagi makan siang"
"Dan kamu pasti otewe tidur, hehehehe, ada apa nelpon aku?"
"Kamu pernah ketemu dengan orang dari Darren Design?" tanya Aksa.
"Belum pernah. Kenapa emangnya?"
"Lalu siapa yang membocorkan desainnya kak Binar ke Darren?"
"Hah?!" Boy memekik kaget.
"Siapa kira-kira yang tega mengkhianati bos cantik kita?" tanya Aksa.
"Bosku kali, kamu kan udah nggak magang lagi di sini. Emm, aku mencurigai Lela yang telah mengkhianati kak Binar"
"Kak Lela? tapi kenapa? bukankah kak Lela dan kak Binar saling percaya dan saling menyayangi?"
"Iya kalau tidak ada kekecewaan karena, cinta" sahut Boy dengan desahan panjang.
"Maksudnya apa nih?" tanya Aksa.
"Lela mencintai kak Theo dari sejak dia masih kuliah"
"Hah!?" Aksa memekik kaget.