My Pretty Boss

My Pretty Boss
Hendra dan Binar



Binar berjalan memasuki kantornya dengan jalan yang tertatih-tatih sambil memegangi terus pinggangnya.


Shit! semalam sebenarnya siapa sih yang brutal? aku apa Aksa? badanku sampai remuk redam begini dan pangkal pahaku nyeri. Batin Binar.


Binar tidak menghiraukan semua mata yang tertuju kepadanya. Mulai dari satpam, resepsionis, sampai kesepuluh anak buahnya, semua memandang heran ke Binar namun, tidak berani bertanya karena, tampangnya Binar kala itu sungguh menakutkan.


Binar bersyukur dan lega bisa berhasil sampai di kursi kerjanya. Dia kemudian duduk dengan pelan-pelan dan.........."Kak! kakak harus menandatangani berkas-berkas itu secepatnya!" suara Lela bak petir menggelegar di siang bolong.


"Astaga! Lela! mau aku cekik kau? mengagetkan saja. Biarkan aku duduk dulu dan menghela napas sebentar, oke?!" Binar melotot tajam ke Lela sambil duduk secara perlahan di atas kursi kerjanya.


Lela berkata "maaf!" lalu mengamati tingkahnya Binar, "kak? kakak bisulan apa kena ambeien?" tanya Lela kemudian.


Binar membuka setumpuk berkas yang ada di hadapannya satu per satu lalu menjawab asal pertanyaannya Lela, "bisulan" tanpa menoleh sedikit pun ke Lela karena, dia fokus mempelajari berkas yang ada di depannya.


"Kakak kan nggak pernah makan telur kok bisa bisulan?" tanya Lela.


"Penyebab bisul tuh beragam nggak cuma karena makan telur. Kamu browsing di internet deh penyebab bisul tuh beragam" ucap Binar dengan asal.


"Aku sejak kecil sering bisulan kan, itu karena aku suka makan telur. Aku tahu obatnya, aku belikan dulu di apotik dekat kantor, ya?" kata Lela hendak memutar badan rampingnya namun, langsung dicegah oleh Binar, "nggak usah, aku udah kasih salep. Emm, tiga berkas ini sudah aku tanda tangani dan serahkan ke anak buah kita untuk segera ke lapangan. Lalu tiga berkas ini aku pelajari dulu, butuh waktu lama jadi kamu keluar aja, kalau udah selesai aku akan memanggil kamu"


Lela menerima tiga map berisi berkas yang sudah ditanda tangani oleh Binar lalu keluar dari ruangannya Binar.


Binar terus mempelajari berkas-berkas tersebut sambil melirik ponselnya. Dia menunggu pesan chat dari Aksa yang mengabarkan kalau Aksa sudah sampai dengan selamat di Bali tapi, ponselnya belum nyala juga.


Binar berkali-kali membetulkan letak duduknya karena, dia masih merasa tidak nyaman akibat dari penyatuan cintanya dengan Aksa semalam.


Ternyata nyeri ya? tapi kenapa di luar sana, banyak anak di bawah umur bisa sampai hamil dengan pacarnya......shit! kemarin aku dan Aksa sama-sama tidak pakai pengaman, kalau aku hamil gimana? Batin Binar.


Binar mempelajari berkas itu dengan cepat lalu dia browsing di internet tentang pil KB yang aman, bagus dan terpercaya bisa mencegah kehamilan. Setelah mendapatkan salah satu merk dari pil KB dia kemudian melangkah keluar dari ruangannya sambil menyambar tasnya.


Dia menyerahkan ketiga berkas tadi ke Lela lalu dia pamit untuk keluar makan siang. Lela pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Binar kembali berjalan tertatih-tatih sambil memegangi pinggangnya.


Lela menatap heran lalu bergumam, "bisulan di mana ya? kok dia pegang pinggang tapi jalannya kayak orang habis melahirkan?" Lela kemudian menggelengkan kepalanya dan berjalan kembali ke meja kerjanya.


Binar sampai di apotik bertepatan dengan panggilan Video Call dari Aksa, "Hai! lho kamu kok di toko obat? kamu sakit?"


Theo langsung menongolkan wajahnya, "kamu sakit apa?"


Aksa mendengus kesal dan mendorong tubuhnya Theo untuk menjauh darinya, "Binar, kamu sakit?"


"Aaaa, i....itu, anu, emm, aku beli pembalut" jawab Binar asal.


"Oooo, syukurlah kalau kamu nggak apa-apa dan......"


"Aku juga senang kamu nggak apa-apa sayang" pekik Theo dari jarak satu meter karena, Aksa tidak mengijinkannya mendekat.


"Kamu bareng sama Theo?" tanya Binar.


"Iya, bahkan satu bangku dan itu sangat menyiksaku" ucap Aksa sambil merengut.


Binar langsung tertawa lalu berucap, "syukurlah kamu sampai dengan selamat di Bali"


"Iya dan......."


"Nona ini pil KB-nya" apoteker di apotik tersebut berucap ke Binar dan Binar langsung menutup sambungan Video Call-nya dengan Aksa.


Aksa menatap ponselnya dan menautkan alis, "pil KB?" Aksa ingin menghubungi binar kembali tapi dia urungkan saat Theo melambai ke arahnya, "bro! mobil jemputan dari papaku udah datang nih"


Aksa menarik kopernya mendekati Theo. Menaruh kopernya di bagasi dan masuk ke dalam mobil jemputan yang disediakan oleh David Revano, papanya Theo.


Binar membayar sebotol air mineral dan pil KB-nya lalu buru-buru pergi meninggalkan apotik tersebut. Dia takut kalau salah satu karyawan atau kliennya memergoki dia membeli pil KB. Binar masukkan pil KB ke dalam tasnya lalu masuk ke dalam mobilnya.


Ketika dia hendak menelan pil KB tersebut, ponselnya berbunyi dan dia diharapkan berada di proyek yang mana dia adalah desainernya, dia adalah penanggung jawabnya. Binar masukkan kembali pil KB yang telah dia beli ke dalam tas kerjanya dan dengan segera dia meluncur ke proyek tersebut.


Sesampainya di proyek, Binar langsung fokus ke pekerjanya. Dia melupakan pil KB-nya bahkan dia lupa untuk makan siang. Di saat perutnya protes minta diisi, jarum jam di pergelangan tangan cantiknya berada di pukul dua siang.


"Pantas saja aku merasa sangat lapar" gumam Binar.


Binar berkata ke kepala proyek, "apa sudah bisa aku tinggal?"


Binar berkata "nggak apa-apa" lalu pergi meninggalkan lokasi proyeknya itu untuk menuju ke sebuah restoran terdekat karena, dia sudah merasa sangat lapar.


Binar segera memesan satu nasi goreng seafood jumbo dan segelas jus jeruk dan seporsi sate kambing. Binar terkekeh dengan sendirinya lalu bergumam, "ternyata setrlah bercinta habis-habisan semalam tuh bikin lapar, hihihihihi"


Begitu makanan pesanannya terhidang di depannya, dia langsung melahapnya tanpa sisa dan lalu bersendawa cukup keras saking kenyangnya dan membuat seorang laki-laki tertawa geli. Laki-laki tersebut langsung duduk tanpa permisi di depan mejanya Binar.


"Kamu itu cewek atau cowok sih? bersendawa sekeras itu" ucap laki-laki tersebut.


Binar langsung melotot, "Hendra? kau tidak pergi ke Bali?"


Hendra tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Aulia operasi usus buntu dijadwalkan hari ini jadi, kak Theo yang pak David utus ke Bali. Pak David, calon mertuaku dan calon mer-tua-mu!" ucap Hendra penuh penekanan di kata mertuamu.


Sial! tubuhku remuk redam gini, aku nggak akan bisa melawannya kalau dia macam-macam denganku. Batin Binar.


Binar kemudian tersenyum sambil memencet nomernya Damar, sahabatnya yang juga temannya Hendra semasa SMA. Hendra tidak mengetahui kalau Binar menghubungi nomer ponselnya Damar karena, ponselnya Binar ada di bawah meja, di atas pangkuannya Binar.


Binar menunduk sekilas dan saat ponselnya udah terhubung dengan Damar dia langsung berucap, "Hendra jangan ganggu aku! Banyak restoran di kota ini, kenapa kamu makan di resto Bambu ini?"


Damar langsung paham dengan maksudnya Binar. Dengan terus mengaktifkan panggilan ponselnya Binar, Damar mulai meluncur ke resto Bambu.


"Aku akan terus mengganggumu sampai kamu putuskan perjodohan kamu dengan kak Theo. Bukankah kamu sudah punya pacar? putuskan juga pacarmu dan aku akan menikahimu saat ini juga"


"Hah! menikah? denganmu? aku bahkan sudah tidak tertarik lagi sama kamu bagaimana mungkin aku bersedia untuk menikah denganmu. Pikirkanlah Aulia Revano, calon is-tri kamu!" Binar memberikan penekanan di kata istri.


"Aku akan meninggalkan Aulia Revano. Aku tidak mencintainya sama sekali. Aku udah jengah juga dengan semua sikap manja dan posesifnya dan aku hanya mencintaimu" ucap Hendra.


"Tapi aku sudah tidak mencintaimu" ucap Binar kesal.


"Tapi aku masih sangat mencintaimu. Aku hanya mencintai satu wanita di dunia ini dari dulu sampai sekarang dan itu kamu, Binar. Hanya kamu!" Hendra mulai memekik kesal.


"Lupakan aku! kita tidak berjodoh jadi....."


Hendra kemudian berpindah duduk di kursi yang berada di dekatnya Binar. Binar secara spontan memasukkan ponselnya ke dalam tas kerjanya dan membiarkan tas itu terbuka lalu dia berucap nyaring, "jangan duduk sedekat ini denganku!"


Hendra menyeringai, "aku akan membawamu ke suatu tempat dan mengurungmu di sana sampai kamu bersedia menikah denganku"


"Ka...kamu berani?" Binar langsung berdiri dan langsung memegang pinggangnya. Pinggangnya masih terasa pegal dan belum nyaman digerakkan secara leluasa.


Hendra langsung memegang bahunya Binar, "kamu kenapa? kamu sakit?"


Binar menepis tangannya Hendra, "jangan menyentuhku!"


Hendra langsung menyeringai, "kamu tidak bisa melawanku kali ini jadi......" Hendra langsung membopong Binar sambil meraih tas kerjanya Binar.


Binar berteriak, "tolong!"


Namun Hendra langsung berucap ke semua pengunjung restoran itu, "mohon jangan ikut campur masalah rumah tangga kami, dia istri saya dan....."


"Saya bukan istrinya, saya......"


"Sayang, kalau kamu bukan istriku mana berani aku membopongmu seperti ini"


Aaaa sial! semua percaya omongannya Hendra brengsek ini. Batin Binar kesal ketika melihat semua pengunjung restoran itu mengacuhkannya.


Binar kemudian menggigit pundaknya Hendra dan Jendra segera berlari menuju ke mobilnya menahan nyeri gigitan Binar di pundaknya. Hendra kemudian Hendra melemparkan Binar ke dalam mobilnya dan di saat Binar hendak keluar lewat pintu sebelahnya, Hendra langsung mencekal tangannya Binar sambil menutup pintu mobilnya dan berkata, "jalan!" ke asisten pribadinya.


Binar meronta dan meringis saat pinggangnya


kembali terasa nyeri kemudian Binar memekik, "kau akan bawa aku ke mana?"


"Ke vila keluargaku, vila kenangan masa SMA kita. Dulu kita sekelas merayakan perpisahan kita di sana dan kamu mengecup pipiku saat itu" ucap Hendra.


"Aku nggak pernah mengecupmu" ucap Binar.


Dan Hendra hanya tersenyum lebar menanggapi ucapannya Binar.


Damar memukul kemudinya dengan kesal saat dia mendengar semua ucapannya Hendra ke Binar Damar pun semakin menekan pedal gasnya karena, dia tidak ingin terlambat menyelamatkan Binar dari sikap nekatnya Hendra. Damar menuju ke vila yang dimaksud Hendra karena, dia juga ada di sana saat perpisahan SMA jadi dia tahu letak vila itu.p