
Aksa akhirnya diajak Darren masuk ke kamarnya karena, Darren tertarik dengan bakatnya Aksa di dalam desain. "Kamu tolong gambarkan sebuah desain sederhana untukku di meja ini!" Darren mempersilakan Aksa duduk di sebuah meja khusus yang Darren miliki untuk menggambar sebuah desain.
Aksa duduk dengan wajah datar lalu memulai membuat sketsa desain sederhana yang lahir secara murni dari benaknya.
Darren yang berdiri di sebelah meja khusus itu, tersenyum puas melihat hasil kerjanya Aksa, "kamu benar-benar berbakat dan cerdas, emm, tunggu sebentar aku angkat telpon dulu" Darren melangkah lebar keluar dari kamarnya sambil menempelkan ponsel di atas telinganya.
"Iya sana angkat lama-lama telponnya. Aku memang sengaja memancingmu tadi untuk membawaku masuk ke dalam kamarmu ini karena, aku ingin menyelidiki tentang kamu" gumam Aksa sembari mulai membuka beberapa laci di meja khusus itu.
Aksa tercengang saat dia menemukan desain-desainnya Binar. Aksa hapal betul hasil karya Binar dan Aksa kenal betul sense of art (cita rasa kesenian) yang Binar miliki. "bagaimana bisa dia dapatkan desain ini? ini kan punyanya Binar? ini karya orisinalnya Binar, kok bisa ada di Darren?" Aksa melengkungkan alis sambil bergumam dan dengan segera dia menutup laci meja tersebut ketika dia mendengar langkah kakinya Darren terdengar semakin dekat ke arahnya.
"Aku sungguh-sungguh menginginkanmu bekerja untukku, aku akan menggajimu dengan sangat besar" kata Darren sambil memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.
Aksa berkata, "sebelum aku menjawab permintaanmu, katakan dulu harga untuk desainku ini! berapa kau akan membayarnya?" sambil menunjuk gambar desain yang paling fresh yang baru saja dia buat dan masih menggelepar manis di atas meja khusus miliknya Darren.
"Hahahaha, kau pandai berbisnis juga ya, emm, desain ini sangat bagus dan fresh" Darren mengelus desainnya Aksa lalu menoleh ke Aksa dan berkata, "bagaimana kalau aku bayar sepuluh juta rupiah tapi, desain ini aku kontrak dan aku klaim miliknya Darren Desain"
Aksa melotot menatap hasil karyanya lalu dia menurunkan rahang bawahnya ke Darren. Dia benar-benar tidak percaya kalau coretan asal yang dia bikin bisa dihargai dengan begitu mahalnya. Aksa kemudian menatap Darren dan berkata, "baiklah! tapi, aku minta uangnya sekarang, cash!"
Darren menggelegarkan tawanya lalu dia berjalan menuju ke lemari besinya dan dia mengambil uang sepuluh juta rupiah dalam bentuk dolar dan langsung dia serahkan ke Aksa lalu dia segera bertanya saat Aksa memasukkan uang itu ke dalam saku celananya Aksa, "lalu, apa jawabanmu atas permintaanku tadi? kau bersedia kan bekerja untukku?"
Aksa menatap Darren dengan sorot mata muak dan berkata di dalam hatinya, Cih! kau tidak punya karya dan selalu memakai karya orang lain selama ini tapi, pede betul kau dirikan sebuah perusahaan desain, cih! dasar nggak tahu malu.
Darren menatap lekat ke Aksa, "gimana?"
Aksa memberikan senyum simpulnya ke Darren lalu dia berkata, "aku masih ingin fokus kuliah. Maaf aku masih belum ingin mencari uang" Aksa kemudian menganggukkan kepalanya dan melangkah keluar dari kamarnya Darren dengan santainya.
Darren tersenyum lebar penuh kelicikkan menatap punggungnya Aksa yang tengah menjauhinya dan dia bergumam, "lihat saja nanti, aku akan menjadikanmu mesin gambarku"
Aksa masuk ke dalam kamarnya. Aksa menaruh uang hasil jerih payahnya ke dalam laci meja belajarnya. Aksa terus memikirkan perkataannya Darren tentang Binar dan benaknya terus terusik akan desain miliknya Binar yang telah jatuh di tangannya Darren.
Aksa bergumam, "pantas saja jika Binar menjadi tumpul dalam berkarya karena, desainnya dicuri oleh Darren. Binar pasti stress berat saat ini. Emm, cara apa yang bisa aku pakai untuk menolongnya?" Aksa terus berpikir sambil terus mengusap-usap rambutnya.
Laki-laki tampan itu kemudian membuka laptopnya dan menatap layar ponselnya.
Dia kemudian berkata, "bingo!" sambil mengayunkan jari telunjuknya ke udara. Aksa berhasil mendapatkan ide untuk menolong Binar dengan cara mendaftar sebagai karyawan freelance di perusahaannya Binar dan bekerja via email. Aksa kemudian membuat surat lamaran pekerjaan dengan nama samaran Silver Butterfly, dan membuat CV, untuk gender dia isi perempuan, untuk umur dia isi sesuai dengan umurnya dan dia melamar menjadi freelance desainer ke perusahaannya Binar. Aksa tidak lupa melampirkan salah satu gambar desainnya yang belum pernah dilihat oleh Binar.
Dia kirim surat lamaran beserta gambar desainnya itu dengan nama Silver Butterfly, dengan gender perempuan dan berumur dua puluh tahun itu, ke emailnya Binar. Aksa kemudian melipat tangan menatap akun barunya itu lalu bergumam, "aku tinggal tunggu balasan dari Binar dan semoga saja Binar menerima Silver Butterfly sebagai freelance desainernya jadi aku bisa membantu dia membuat desain-desain baru yang fresh.
Aksa melupakan satu hal yaitu foto profilnya namun, Aksa pikir itu bisa menyusul karena, Aksa hanya memiliki foto tiga foto perempuan di dalam ponselnya yaitu Embun,mama Dara, dan mama Dona. Dia belum memiliki foto perempuan lain yang tidak pernah dikenal dan belum pernah dilihat oleh Binar.
Aksa lalu menutup laptopnya dan bangkit untuk berjalan menuju ke ranjangnya. Aksa merebahkan diri sambil menatap langit-langit kamarnya, dia terkekeh lalu bergumam, "jika Binar menerima lamaranku berarti Binar menjadi my pretty boss lagi" Aksa menghela napas panjang lalu memejamkan mata.
Theo dan Andik sampai di lokasi syuting. Selama dua jam lebih Theo memantau dan mengawasi jalannya syuting dengan penuh keseriusan dan penuh dengan tanggung jawab. Ketika Theo memutar badan hendak meraih cangkir kopinya, wajahnya melekat di wajahnya Binar dan Theo secara spontan memundurkan wajah dan langkahnya lalu, dia menatap Binar, "sayang, kok di sini?"
Binar tersenyum lebar dan berkata, "surprise!"
Theo memekik riang dan langsung memeluk Binar lalu mendaratkan ciuman di wajah cantiknya Binar secara menggebu-nggebu saking bahagianya mendapatkan kejutan manis dari istrinya. Saat bibirnya Theo hendak mendarat di bibirnya Binar, lengannya tiba-tiba ditarik oleh Frida.
Theo menoleh ke Frida dengan wajah kesal dan Frida segera berucap, "maaf, ini tempat umum banyak orang melihat kalian, nggak etis kan kalau kamu mencium istri kamu di sini?" Frida tidak melepaskan tangannya dari lengannya Theo bahkan, dia semakin menarik Theo ke arahnya.
Binar yang tengah hamil dan menjadi lebih garang dan gampang merasa sensitif, dengan segera menarik lengan kirinya Theo dan menepis tangannya Frida dari lengan kanannya Theo sambil melotot Binar berucap, "jangan sentuh suamiku!"
Theo segera menempel ke Binar, menjauhi Frida dan memeluk pinggangnya Binar, "aku setuju, mulai dari sekarang, kamu jangan pernah menyentuhku lagi" Theo melempar senyum lebar ke Frida.
"Kenapa?" Frida melipat tangan dan menatap tajam ke Theo dan Binar.
"Karena nyonya Theo Revano tidak suka kalau ada wanita menyentuhku, hehehehe" Theo melempar senyum lebarnya lagi ke Frida dan Binar menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Frida merapatkan bibir, menautkan alis dan menatap Binar dengan sorot mata penuh kecemburuan juga kebencian. Dia sangat membenci Binar sampai ke tulang-tulangnya karena, Binar telah merebut Theo karena, Theo bagi Frida adalah segala-galanya. Theo bukan hanya sekadar teman, sahabat, tapi juga pujaan hatinya. Frida sudah terbiasa ke mana-mana berdua dengan Theo namun, sejak Theo menikah, Theo menjauhinya dan itu karena, Binar.
Aku akan membuatmu menderita dasar wanita jalang! Batin Frida sambil terus menghunus tatapan mematikan ke Binar.
"Kenapa menatapku seperti itu?" Binar membalas tatapan mematikannya Frida dengan sorot mata tajam.
Frida tersentak lalu meredupkan sorot matanya dan mencoba untuk tersenyum, "aku permisi kalau gitu. Maaf mengganggu kalian" Frida segera berputar badan dan dengan segera menghapus senyum di wajah cantiknya dengan seringai menakutkan penuh dendam.
Theo menoleh ke Binar, "kamu sendirian menyetir mobil ke sini? kan bahaya, sayang"
Binar memeluk pinggangnya Theo dan berkata, "aku tahu kalau sejak kejadian jatuhnya lampu beberapa bulan yang lalu dan mencelakai kamu, aku masih berada di dalam zona merah karena, pelakunya belum diketemukan maka dari itu aku mengajak Miko ke sini"
"Lalu mana dia?" tanya Theo sambil mengedarkan pandangannya mencari Miko.
"Ada di dalam mobil. Aku ke sini karena, bosan di rumah. Aku nanya ke Andik dan Andik bilang kalau kamu ada di sini. Karena lokasinya tidak jauh dari rumah kita, maka aku berinisiatif menyusulmu, hehehehe. Kamu marah?" Binar mendongakkan wajahnya untuk menatap wajahnya Theo.
Theo tersenyum lalu mencium keningnya Binar dan berkata, "marah? tentu saja aku nggak akan marah, justru aku senang kalau kerja ditunggui sama istri secantik kamu tapi, aku mengkhawatirkan kamu dan anak kita. Aku nggak mau kalau sampai kalian kenapa-kenapa"
"Aku bukan wanita lemah dan bodoh jadi........"
Cup....Theo nekat mengecup bibirnya Binar.
Binar membulatkan mata lalu tersenyum, "kenapa nekat menciumku? kita di tempat umum nih"
"Karena kamu tampak menggemaskan saat kamu ngeyel dan bikin aku nggak kuat untuk tidak mencium kamu" Theo berkata dan mengecup bibirnya Binar sekali lagi.
Binar menepuk bahunya Theo lalu berbisik, "jangan menciumku terus! dengar ya, sesampainya kita di rumah nanti, aku akan kasih kamu hukuman karena, kamu meladeni godaan wanita tadi"
"Hahahaha, mana ada seperti itu. Aku nggak meladeni Frida. Frida yang menarik lenganku tadi. Aku nggak ada hubungan apa-apa dengan Frida dan aku.........hmm, kamu bisa tanya ke Andik atau tanya sama siapapun di sini kalau kamu nggak percaya sama aku"
Binar mengerucutkan bibirnya lalu berucap dengan bibir monyong, "tapi dia sangat seksi, cantik, tinggi, sempurna, dan sangat agresif. Aku takut lama-lama kamu akan tergoda"
Theo tertawa lebar lalu berkata, "aku senang dicemburui sama istriku, hahahaha"
"Aku kesal kok malah ketawa sih?!" Binar masih merengut.
Theo mencium pelipisnya Binar dan berkata, "aku hanya milikmu. Aku akan jaga tubuh, jiwa, dan hatiku dari godaan semua wanita di dunia ini dengan sepenuh tenaga karena, aku hanya mencintaimu"
Binar kemudian menoleh ke Theo dan berjinjit untuk mencium pipinya Theo lalu berkata, "oke aku percaya sama kamu tapi hukuman untukmu nanti malam masih tetap berlaku"
"Hahahaha, bukankah seharusnya yang mengeluarkan kata seperti itu tuh si cowok ya? lha kok ini malah ceweknya yang ngomong akan memberikan hukuman?" Theo tertawa lepas dan memeluk Binar dengan erat karena merasa gemas.
Binar tersenyum lebar lalu berkata, "bodo amat! pokoknya hukuman akan tetap berlaku" dan ucapannya Binar itu membuat Theo semakin melebarkan tawanya.