
Binar melakukan Video Call dengan Aksa di malam hari sebelum dia tidur dan berucap dengan nada senang, "aku bertemu dengan mama tiri kamu dan adik kamu"
"Lalu kamu kenalkan diri kamu sebagai tanteku ke mereka?" kata Aksa sambil terkekeh geli.
Binar ikutan terkekeh geli, "tentu saja tidak. AKu bilang kalau aku pacarmu tapi adik kamu memanggilku tante bukannya kakak"
"Hahahaha, Embun memang polos dan apa adanya anaknya, nanti kita kasih tahu pelan-pelan ke dia kalau kamu pacarku berarti dia harus memanggilmu kakak"
"Nggak usah! nggak apa-apa kok dia memanggilku tante" ucap Binar.
"Aku kangen kamu. Kamu?" ucap Aksa.
"Iya" Binar tersenyum ke Aksa.
"Iya aja?" Aksa langsung merengut.
"Iya kangen" Binar merona malu lalu menundukkan wajahnya di depan layar ponselnya dan Aksa langsung terkekeh geli lalu berucap, "Binar, kamu menggemaskan kalau merona seperti itu, bikin aku tersiksa menahan rindu nih"
Binar menatap kembali layar ponselnya dan tersenyum.ke pacar tampannya.
"Pinggang kamu sudah sembuh?" tanya Aksa.
"Sudah mendingan. Besok paling udah sembuh. Obatnya juga udah mau habis"
"Nggak kontrol lagi?"
"Males aku"
"Kenapa males?"
"Males aja, kalau obat udah habis dan udah nggak sakit aku nggak mau kontrol"
"Terserah kamu saja lah. OOO, iya, kemarin pas kamu di apotik aku dengar ada kata pil KB, siapa yang beli pil KB? kamu?" tanya Aksa.
"Bukan aku. Orang di sebelahku yang beli, buka. aku" Binar melotot sambil berucap untuk menyembunyikan kebohongannya.
Aaahhh! sial! aku lupa soal pil KB dan pil itu aku taruh di mana ya? apa udah telat kalau aku meminumnya besok? Batin Binar.
"Oh. Syukurlah kalau bukan kamu yang membeli pil KB itu. Aku nggak ingin kamu minum pil KB" ucap Aksa.
"Tapi kita sudah melakukan itu. Kalau aku hamil gimana?"
"Jangan-jangan kamu udah minum pil KB?" Aksa mulai nampak panik.
"Belum. Sungguh belum" ucap Binar dengan tampang penuh dengan kejujuran.
"Aku akan bertanggung jawab kalau kamu hamil. Aku akan segera menikahimu kalau kamu hamil" ucap Aksa penuh keseriusan.
"Mana bisa begitu saja kamu menikahiku. Papaku belum tahu soal kita, papa kamu juga belum tahu soal kita" ucap Binar.
"Aku nggak peduli dengan apapun dan siapapun. Pokoknya kalau kamu hamil, kita akan langsung menikah" ucap Aksa serius.
Binar hanya bisa tersenyum lebar ke Aksa lalu berucap, "aku ngantuk met tidur ya" ucap Binar dan Klik Binar memutus sambungan VC-nya dengan Aksa lalu menonaktifkan ponselnya.
Dia diserang rasa panik yang begitu besar mendengar soal kehamilan dan menikah dengan Aksa. Laki-laki yang usianya jauh di bawah dia. Apa yang akan dikatakan oleh keluarga, kolega-koleganya, rekan bisnisnya, dan dunia.
Binar benar-benar sulit untuk bisa memejamkan mata malam itu.
Keesokan harinya dia juga melupakan soal pil KB lagi karena, ada masalah rumit di kantornya dan Lela tidak bisa mengurusinya sendiri dan alhasil Binar harus turun dari pertapaannya dan mulai bergelut lagi dengan pekerjaannya selama tiga hari penuh.
Tiga hari kemudian............
Aksa pulang dari Bali tiga hari lebih cepat dari waktu yang seharusnya dan langsung menuju ke apartemennya dan mendapat sambutan selamat datang dari Binar, Dara, Embun, dan Mimi asisten pribadinya Binar. Mereka kemudian pesta kecil-kecilan dengan penuh rasa kekeluargaan dan kebahagiaan.
Setelah Dara dan Embun pulang, Mimi membereskan semuanya. Aksa mengajak Binar ke balkon dan berucap, "besok ikut aku ke Kudus ya, aku ingin mengenalkanmu ke nenek dan kakek ku"
"Tapi........"
"Tiga hari aja. Itulah kenapa aku menyelesaikan pekerjaanku di Bali lebih cepat agar aku bisa ke Kudus besok" ucap Aksa.
"Lusa hari peringatan kematiannya mama dan aku ingin kamu ikut mendampingiku. Kita akan ke makam mama dan aku akan kenalkan kamu ke mamaku" ucap Aksa.
Binar diam membisu di dalam pelukannya Aksa.
"Aku lihat pinggang kamu udah sembuh, urusan ijin kantor udah beres. Kamu kan bosnya, heeee. Lalu apalagi alasannya?" ucap Aksa sambil mengelus bahunya Binar.
"Huffftt, baiklah kalau begitu" ucap Binar dan Aksa langsung mencari bibirnya Binar dam dia cium penuh kelembutan, kerinduan, dan cinta. Bibir itu saling bertaut dengan intens dan Aksa seolah nggak akan pernah melepaskan ciumannya saking bahagianya, Binar bersedia ikut dengannya ke Kudus.
Setelah menempuh perjalanan yang begitu panjang, akhirnya sepasang kekasih itu pun sampai di Kudus dengan selamat. Mereka disambut dengan tangan terbuka oleh kakek dan neneknya Aksa. Bahkan kakek dan neneknya Aksa langsung akrab dengan Binar dan Binar pun bisa langsung merasakan rasa sayang yang membuncah untuk kakek dan neneknya Aksa.
Tanpa sepengetahuan mereka berdua, papanya Binar dan papanya Aksa juga menuju ke Kudus. Kedua laki-laki tampan, pengusaha sukses yang masih saling bermusuhan itu, juga ingin menyambangi makamnya Dona, mamanya Aksa. Karena, bagaimana pun juga, Dona adalah sahabatnya Damian dan Kenzo semasa mereka kuliah dulu.
Binar banyak belajar menggoreng tahu dengan neneknya Aksa dan neneknya Aksa langsung tertawa terbahak-bahak melihat cara Binar memasukkan tahu ke dalam wajan.
Binar menaruh tiga potong tahu yang sudah dibumbui di atas susuk penggorengan lalu dia lemparkan tahu itu ke dalam wajan yang sudah berisi minyak panas. Karena, dia takut terciprat minyak panas dia pun menggunakan tutup panci untuk dijadikan tameng.
Neneknya Aksa sampai terpingkal-pingkal melihat tingkahnya Binar itu lalu dia mendekati Binar dan berucap, "goreng tahu tuh, jangan dilempar dari atas susuk penggorengan kayak tadi tapi, diambil satu potong pakai tangan lalu tempelkan tahu di sisi penggorengan dan luncurkan pelan ke minyak. Nah seperti ini. Nggak terciprat ke mana-mana kan minyaknya dan nggak perlu tameng, hahahahaha" neneknya Aksa menoleh ke Binar dengan tawa riangnya.
Binar terkekeh dan menggaruk kepalanya, "heeee, baik nek! saya sudah mengerti. Makasih untuk tips-nya. Biar saya saja yang selesaikan menggoreng tahu ini, nenek duduk lagi aja di depan"
Neneknya Aksa terkekeh geli lalu menganggukkan kepala dan meninggalkan Binar sendirian di dapur.
Aksa melangkah masuk ke dapur dan berpapasan dengan neneknya, "ada apa nek? nenek kok ketawa terus?"
"Kamu lihat aja sendiri pacar kamu itu. Dia lucu sekali" ucap neneknya Aksa kembali terkekeh dan menepuk pundaknya Aksa.
Aksa melihat Binar yang tengah menggoreng tahu dengan tutup panci yang dijadikan tameng sambil bergumam, "jangan sakiti aku ya tahu ya, ahhh! aku takut kena minyak panas nih, hiks, hiks, hiks"
Aksa mengulum bibir lalu memeluk pinggangnya Binar dari arah belakang kemudian memegang tangannya Binar yang tengah memegang susuk penggorengan dan berkata, "cara menggoreng tuh begini. Jangan takut! kalau takut malah kena minyak entar"
Binar terlonjak kaget dan langsung berucap, "cara mengajarinya nggak usah pakai peluk bisa nggak? nanti kalau dilihat nenek kan malu"
"Ssstt, nenek dan kakek ada di depan nggak akan melihat kita" Aksa berucap lalu mencium pipinya Binar.
Binar langsung berucap, "malah pakai cium segala"
Aksa terkekeh geli kemudian berucap, "Nanti kamu tidur dengan nenek nggak apa-apa?" tanya Aksa.
"Nggak apa-apa" jawab Binar sambil mengangkat semua tahu dari dalam penggorengan.
"Apa mau tidur denganku?" ucap Aksa sambil mencuri kesempatan mengecup bibirnya Binar.
Binar langsung menepuk bahunya Aksa dan melotot sambil membawa tahu ke teras depan untuk mereka nikmati bersama sambil menatap langit malam dan menghirup aroma pantai yang terletak tidak jauh dari rumah neneknya Aksa.
Jika berjalan kaki selama satu jam, mereka akan sampai di pantai itu.
"Besok setelah kita ke makam mama kamu, kita makan siang bersama di rumah seperti biasanya lalu ajak Binar melihat pantai" ucap neneknya Aksa.
"Iya, pantai sangat baik untuk melepas kepenatan hati dan pikiran setelah bekerja keras" sahut kakeknya Aksa.
"Baik nek, kek" sahut Aksa.
"Dekat ya pantainya?"
"Sangat dekat nak" sahut kakeknya Aksa, "jalan kaki hanya satu jam dan nggak akan terasa capek, karena jalan kaki sambil menikmati pemandangan yang sangat indah apalagi kalau bejalan bersama dengan kekasih hati, heeee"
Binar tertawa lirih dan langsung merasa sangat nyaman berada di tengah-tengah keluarga kecilnya Aksa. Nenek dan kakeknya Aksa memang pribadi yang santai, menyenangkan, dan berpikiran modern walaupun mereka dari generasi tahun tujuh puluhan.
Mereka terus bercengkerama, bersendau gurau sambil memakan tahu goreng kreasinya Binar.
"Bagaimana nek, tahu goreng ala Binar?" tanya Binar.
"Bagi seorang pemula, ini terbaik. Top!" ucap neneknya Aksa dan Binar langsung memekik girang dan langsung memeluk neneknya Aksa dengan penuh kasih sayang lalu berucap, "yang top itu gurunya" Binar kemudian mencium pipi renta neneknya Aksa dan kembali berucap, "makasih udah ajari Binar cara bikin tahu goreng"
Neneknya Aksa tertawa senang lalu memeluk Binar dengan sangat erat.
Aksa memandang kemesraan Binar dan neneknya dengan hati bersyukur dan dengan rasa yang begitu hangat sehingga membuatnya semakin mencintai kekasihnya itu.