My Pretty Boss

My Pretty Boss
Kami Merestui



Theo duduk di tepi ranjangnya sambil menopang wajah tampannya dengan kedua telapak tangannya. Kemudian laki-laki tampan keturunan Revano itu bergumam, "semoga apa yang menjadi keputusanku hari ini tidak membuat Binar menderita di kemudian hari. Aku hanya ingin dia selalu bahagia, itu saja"


Theo kemudian menghempaskan tubuhnya di atas ranjang menopang kepalanya dengan kedua tangannya dan menatap langit-langit kamarnya yang berwarna biru tua dan ada lukisan pesawat tempur nan apik di sana, "aku berasa jadi pesawat itu, siap mengangkasa tanpa tahu tujuannya akan ke mana, heeee" Theo terkekeh tanpa makna.


Theo melakukannya demi cinta. Dia hanya ingin melindungi Binar dan anak yang dikandung Binar karena, dia juga pernah memiliki seorang mama. Dia memang tipe lelaki yang tidak bisa melihat seorang wanita menderita apalagi jika itu seseorang yang berarti baginya.


"Tidak! aku tidak bodoh dan buta karena, cinta. Aku hanya mencintai dengan tulus dan di dalam rasa ini, aku rasakan sebuah empati yang begitu besar, aku nggak rela jika orang yang aku kasihi dan aku cintai hidup sendirian dan menderita. Semoga aku bisa membuat kamu dan anak kamu bahagia, Binar" ucap Theo pada dirinya sendiri.


Binar menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Wanita cantik nan imut itu mendesah panjang sambil mengelus-elus perutnya,


"maafkan mama, nak! kamu tidak mama kasih kesempatan untuk mengenal papa kamu. Papa kandung kamu. Mama cuma nggak ingin papa kamu hancur masa depannya, mama ingin papa kamu meraih masa depannya yang gemilang tanpa beban dan juga........." Binar kembali mendesah panjang, lalu bergumam kembali, "papa kamu mengecewakan mama. Papa kamu nggak percaya sama mama jadi, memang lebih baik jika mama tidak berhubungan lagi dengan papa kamu, untuk selamanya"


Keesokan harinya, Binar ke rumahnya Theo karena, Theo takut sama Mimi.


"Kita jadi ke rumah papa kamu?" tanya Binar.


"Yang seharusnya tuh, kita ke rumah papa kamu dulu, aku akan melamar kamu barulah kita ketemu dengan papaku" Theo tersenyum ke Binar.


"Kelamaan nanti. Lagian capek kita mesti wira-wiri ke sana kemari. Umm, bagaimana kalau kita kumpulkan semuanya di sebuah restoran?" ucap Binar dengan mata berbinar-binar.


"Bagus! aku setuju"


Theo akhirnya menelepon papanya untuk datang ke restoran. favorit keluarga mereka, Binar pun menelepon papa dan kakaknya untuk datang ke restoran favoritnya keluarga Theo.


"Oke kita meluncur ke sana"


Kakak kamu juga bisa datang, kan? ucap Theo sembari masuk ke dalam mobilnya dan langsung memasang sabuk pengamannya.


Binar melakukan hal yang sama lalu menoleh ke Theo, "bisa. Ini kan hari Minggu jadi kak Mika dan kak Abimana nggak ke kampus dan Arga libur sekolahnya jadi mereka bisa datang"


Theo menghela napas lega, "baguslah, aku lega jika semuanya bisa berkumpul jadi kita tidak perlu ke sana kemari untuk menemui semuanya satu per satu"


"Lalu adik kamu?" tanya Binar.


"Adikku masih tinggal dengan mama dan papaku jadi pasti lah ikut apalagi kalau dengar akan aku traktir makan secara kan, masakan chef pribadi papaku yang baru tidak begitu cocok di lidahnya Aulia jadi dia akan sangat senang jika ada yang mengajaknya keluar untuk makan, heeeee" ucap Theo.


"Mama kamu?" tanya Binar.


"Mama meninggal ketika aku masih remaja dan Aulia masih TK" ucap Theo, "karena, tumor otak"


"Aku ikut prihatin" ucap Binar.


"Terima kasih" sahut Theo.


Mereka akhirnya sampai di restoran favoritnya keluarga Theo. Restoran bambu nama restoran tersebut dan banyak pohon bambu di sana jadi berkesan adem, sejuk dan nyaman untuk melepas penat sekaligus makan di sana.


Mereka duduk di private room dan masih menunggu kedatangannya, Damian Adelard, David Revano, Aulia Revano dan Hendra Herlambang, yang masih di dalam perjalananan. Terjebak macet di hari Minggu.


Mika mencolek pinggangnya Binar dan berbisik, "ada apa? kamu nggak akan bawa kabar mengejutkan, kan?"


Binar menoleh ke kakaknya dan sambil tersenyum dia berucap, "sejak kapan Binar nggak pernah membawa berita mengejutkan, heeee"


Mika langsung menepuk pelan pundaknya Binar sambil berucap, "dasar kamu ini"


Mika kemudian mengalihkan pandangannya ke Theo yang duduk di sebelahnya Binar, "kapan kalian jadian? dan udah berapa lama?"


Theo menoleh ke Mika yang duduk di sebelah kanannya Binar lalu memberikan kode tatapan mata ke Binar agar Binar yang menjawab pertanyaan kak Mika Karen, Theo nggak siap dengan jawabannya.


"Oh" Binar langsung tanggap, "kami jadian baru saja dan sudah merasa saling cocok, Kak. Maaf jika nggak pernah aku ajak main ke rumah kakak karena, kami sama-sama sibuk" ucap Binar sambil menepuk-nepuk dagunya Theo dari arah bawah.


Theo tanpa sadar merona malu, dia sungguh merasa senang karena, akhir-akhir ini, Binar sering memberikan sentuhan kecil kepadanya namun, berasa besar dan hangat di hatinya Theo. Theo kemudian tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya ke kak Mika.


"Kakak senang kalau kamu akhirnya memiliki pacar, Bin" sahut Abimana.


"Heeeee, iya Kak" Binar meringis ke Abimana.


Theo tertawa lepas sembari mengelus-ngelus rambutnya Arga dia berusaha untuk menjawab, ",umm, i...itu, emm" namun, Theo bingung harus menjawab apa lalu dia mencolek bahunya Binar.


Binar terkekeh geli lalu menarik Arga untuk dia pangku dan Binar berucap, "tentu saja om Theo sangar mencintai Tante"


Arga menoleh ke Theo, "kok nggak jawab sendiri?"


Theo meringis dan mengusap tengkuknya lalu Binar menyahut, "om Theo pemalu sayang, jadi Tante yang mewakili dia untuk menjawab pertanyaan kamu. Lalu kenapa kamu tanya soal itu ke om Theo?"


Arga menatap tajam ke Theo dengan sorot mata posesif dia berucap, "aku sangat mencintai Tante Binar kalau sampai dia tidak sungguh-sungguh mencintai Tante maka, aku akan bikin perhitungan sama dia"


Abimana tertawa renyah mendengar celotehan polosnya Arga dan Mika langsung berkata, "Arga, nggak boleh begitu!"


"Nggak apa-apa Kak. Justru saya senang, Arga bisa bersikap terbuka seperti ini. Itu tandanya kalau Arga sangat cerdas. Benar begitu, Arga?" Theo kembali mengelus rambutnya Arga.


"Saingan kamu berat Theo, sangat berat" sahut David Revano yang nampak berjalan beriringan dengan Damian Adelard.


Semua tertawa menyambut kedatangan papa mereka lalu Theo menyahut, "iya Pa. Saingan Theo sangat berat. Masih sangat muda, tampan dan cerdas" Theo berucap sambil tersenyum lebar ke Arga dan Arga tersenyum bangga ke semuanya membuat semua yang hadir, kembali menggemakan tawa mereka.


Aulia dan Hendra menyusul di belakang Damian dan David kemudian, mereka duduk di depannya Theo dan Binar.


Theo kemudian berkata untuk mewakili Binar, "Pa dan semuanya yang hadir. Terima kasih sudah memenuhi undangan kami. Kami mengajak kita semua berkumpul saat ini selain untuk lebih mengakrabkan diri dengan keluarga kita masing-masing, ada hal penting yang ingin Theo sampaikan mewakili Binar"


"Apa itu?" tanya David Revano.


"Aku dan Binar sudah merasa cocok, kami juga sudah sangat matang secara umur, emm, aku udah tiga puluh dua tahun dan Binar udah tiga puluh tahun saat ini jadi, kami memutuskan untuk segera menikah"


"Bagus! papa setuju. Lalu kapan kalian akan menikah?" tanya David Revano.


"Hari ini juga" sahut Theo dan Binar secara.bersamaan.


Damian menarik dagunya ke bawah dan mulutnya ternganga lebar dan dia berucap, "what a surprise!"


"Well, papa senang mendengarnya tapi, kenapa harus hari ini? bukankah kita perlu menyiapkan semuanya? lihatlah Aulia dan Hendra mereka bahkan perlu waktu tiga bulan untuk menyiapkan pernikahan mereka" sahut David.


"Itu benar. Kakak setuju dengan om David dan kenapa harus hari ini?" tanya Mika dengan sorot mata penuh keseriusan, dia menatap Binar dan Theo.


"I....itu ka....karena......"


"Binar nggak hamil kan?" sahut Hendra dengan nada panik. Karena, terus terang Hendra nggak rela kalau Binar menikah dengan Theo dalam keadaan hamil di luar nikah.


Semua mata langsung tertuju secara tajam setajam pedang seorang Samurai, ke arah Binar dan Theo.


Theo mendengus kesal ke arah Hendra lalu mengalihkan pandangannya ke semua yang hadir, "tentu saja tidak. Kami hanya merasa sangat bersemangat untuk menikah di hari ini dan harus hari ini karena, saya takut kalau Binar berubah pikiran dan lari meninggalkan saya"


"Iya itu benar. Kami akan menikah di kantor pencatatan sipil dan untuk pesta resepsi bisa menyusul. Yang penting.........."


"Dia memang impulsif. Aku sih paham" sahut Abimana.


Binar menoleh ke Abimana dengan sorot mata penuh ucapan terima kasih karena, ucapannya Abimana telah menyelamatkan dia dan Theo dari tatapan penuh tanya dari semua yang hadir.


"Baiklah. Papa restui kalian" ucap David, lalu David menoleh ke Damian, "dan kamu gimana Bro?"


"Aku juga memberikan restuku. Aku paham kalau putriku ini memang impulsif" ucap Damian.


"Okelah! kalau kalian memang sudah mantap, kakak juga merestui kalian" ucap Mika dan Abimana secara kompak.


"Arga juga memberikan restu" sahut Arga dan semua kembali tertawa mendengar celotehan polosnya Arga.


Hendra dan Aulia pun terpaksa setuju dan hanya memberikan senyum mereka ke semuanya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Akhirnya mereka semua menuju ke kantor pencatatan sipil untuk mendaftarkan pernikahannya Binar Adelard dan Theo Revano.