
Binar sampai di rumahnya. Ia segera menyiapkan makan malam untuk Aries dan Mada. Binar membeli lauk pauk dan sayur matang di sebuah restoran lalu ia memanaskan semuan.makanan yang ia beli. Setelahnya, ia memasak nasi sambil menggendong Aries yang tengah merajuk dan nggak mau lepas darinya
Mada masuk ke kamarnya. Berganti baju lalu mengerjakan tugas yang diberikan oleh bapak dan ibu gurunya.
"Sudah tinggalkan saja! biar papa yang lanjutkan" Ucap Damian.
"Ayok sini Aries sama Opa, ya?" Damian merentangkan kedua tangannya di depan Aries namun, Aries menggelengkan kepalanya dan menyusupkan wajah tampannya di dada bundanya.
"Sayang, Bunda harus segera balik ke rumah sakit, ditunggu sama Om Miko dan Ayah"
"Ya ya tu" Aries segera menegakkan wajahnya dan menatap Binar.
"Iya, Bunda mau menjemput Ayah. Kamu sama Opa dulu ya? Nanti Bunda suruh Om Miko untuk membelikanmu dan kak Mada mainan"
Aries akhirnya menganggukkan kepalanya dan masuk ke dalam gendongan opa tampannya.
"Papa yakin bisa mengurus Mada dan Aries?" tanya Binar.
"Bisa. Sebentar lagi David datang dan David akan bawa asisten rumah tangga dan chef untuk membantu kita selama Miko masih kau beri giliran menjaga Theo" David berkata sambil mengelus punggung Aries dan mengayun tubuh mungil cucunya ke dalam buaiannya. Aries langsung tenang dan merasa damai.
"Saya naik dulu sebentar. Mau pamit sama Mada" Binar berucap sambil menciumi Aries.
"Hmm" sahut Damian.
Binar masuk ke dalam kamarnya Mada dan melihat Mada tengah memasukkan kembali buku-bukunya ke dalam tas sekolahnya.
Binar duduk di sebelah meja belajarnya Mada lalu ia meraih kedua tangan mungilnya Mada, ia genggam erat tangan itu dan ia letakkan di atas pangkuannya. "Ada yang sulit nggak tugasnya? Bunda bisa membantumu dulu mengerjakannya sebelum Bunda balik ke rumah sakit"
Mada menggelengkan kepalanya.
"Ada yang menganggu kamu di sekolah?"
Mada kembali menggelengkan kepalanya.
Binar mengusap kepalanya Mada dan tersenyum, "kamu sudah punya teman baru? mereka baik-baik, kan?"
Mada menganggukkan kepalanya.
Binar mendesah panjang karena, Mada memang tidak banyak bicara kalau dengannya. Mada hanya mau bercerita dengan Theo.
"Mada, ada yang ingin Bunda katakan ke kamu tapi........mungkin besok Bunda akan ceritakan sebuah cerita ke kamu dan Bunda harap kamu bisa mengerti dan memaafkan Bunda, ya? Besok kan kamu libur, Bunda akan pulang pagi dari rumah sakit dan Bunda akan seharian bersama kamu dan Aries" kata Binar.
Mada segera masuk ke dalam pelukannya Binar dengan mata berkaca-kaca dan saat ia mendekap tubuh bundanya, tangisnya pun pecah.
"Hei? ada apa dengan jagoannya Bunda?"
Mada berkata di tengah Isak tangisnya, "Mada kangen banget sama Ayah. Mada hanya mau Ayah dan nggak mau Ayah yang lainnya. Mada hanya mau Ayahnya Mada"
Binar ikut menangis dan mendekap erat tubuh mungil putra tampannya itu. Sambil mengelus-ngelus punggungnya Mada ia berucap, "Bunda akan terus berjuang untuk membawa Ayah kamu balik lagi ke rumah ini dan tugas kamu setiap hari adalah mendoakan Ayah supaya Ayah cepat sembuh dan pulih lagi"
Mada melepaskan pelukannya, menghapus air matanya dengan kedua tangan mungilnya laku ia menghapus air mata di kedua pipi bunda cantiknya, "iya Bunda. Mada selalu berdoa untuk Ayah. Setiap malam dan setiap pagi, di sekolah tadi, Mada juga minta sama Ibu guru untuk mendoakan Ayah bersama dengan teman-teman sekelas Mada. Karena, kata Ayah kan, jika banyak yang mendoakan kita maka apa yang kita minta akan terkabul"
Binar tersenyum haru. Mada mengingat semua yang pernah dikatakan Theo kepada Mada. Binar mengelus pipinya Mada, "Iya apa yang dikatakan Ayah itu benar. Terima kasih ya sayangku, kamu selalu mengingat nasehat dan semua perkataan Ayah"
"Karena Mada sangat menyayangi Ayah dan Mada nggak mau Ayah yang lain lagi"
Binar langsung menyadari ada yang salah karena, Mada mengucapkan kata nggak mau ayah yang lain sebanyak dua kali dan itu langsung menggelitiknya untuk bertanya, "kenapa kamu berkata seperti itu sayang?"
Mada hanya menggelengkan kepalanya.
"Baiklah kalau kamu belum mau mengatakannya ke Bunda, Bunda nggak akan memaksa kamu" Binar mencium kedua pipinya Mada lalu ia bangkit, "Bunda ke rumah sakit dulu ya, Ayah udah menunggu Bunda"
"Apa Mada boleh ikut? Mada kangen sama Ayah"
Binar berjongkok di depan Mada lalu ia genggam kembali kedua tangannya Mada, "belum boleh, sayang"
Mada lalu berkata, "kalau gitu, Mada nitip surat . Bacakan ke Ayah ya Bunda. Jangan khawatirkan Mada, Mada akan nurut sama Opa dan Mada akan menjaga adek dengan baik"
Binar mengusap kepalanya Mada, ia cium lama sekali keningnya Mada untuk melepas keharuannya lalu ia berdiri sambil memasukkan surat pemberiannya Mada ke dalam saku blazer-nya. "Pasti, Bunda akan bacakan surat kamu ke Ayah. Pasti Ayah senang banget menerima surat dari kamu"
Mada tersenyum dan berucap, "terima kasih Bunda"
Binar merasakan kelelahan yang luar biasa baik secara fisik maupun psikis. Semalam ia tidak bisa tidur dengan baik. Di pagi harinya ia harus rapat dengan klien-nya, meninjau lokasi dan Aksa datang mengusiknya.
Binar menyetir dalam keadaan kantuk yang luar biasa dan hampir saja ia menabrak trotoar. Binar mengerem mobilnya dengan segera dan keningnya terbentur setir mobil. "Aduh!" Binar menegakkan wajahnya dan mengelus keningnya. Binar pantulan keningnya yang memar di rear mirror. "hmm, memar nih. Tapi, benturan tadi malah berhasil menghilangkan kantukku" Binar kemudian memundurkan mobilnya dan memutar setir untuk kembali meluncurkan mobilnya menuju ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Binar berpapasan dengan Aksa yang tengah berjalan dari arah ruang pembayaran rawat inap. Binar menyerahkan buket buah ke Aksa, "tolong kasih ke Nenek. Maaf aku nggak bisa mampir karena aku buru-buru"
Aksa menerima buket buah itu dengan tangan kanan dan tangan kirinya segera menyentuh keningnya Binar, "kenapa memar? kamu terjatuh?"
Binar segera menepis tangannya Aksa, "jaga sikap kamu"
"Kenapa kening kamu? duduklah di bangku itu! Aku akan obati dulu kening kamu"
"Nggak usah. Aku baik-baik saja" Binar segera melangkah menjauhi Aksa namun, tangan Aksa berhasil meraih pergelangan tangannya Binar dan Aksa menahan langkah Binar, "aku mohon duduklah dulu. Aku akan belikan obat memar dan kopi untukmu. Istirahatlah dulu!"
Binar menarik pergelangan tangannya yang masih digenggam Aksa, "Mas Theo menungguku"
"Aku yakin suami kamu pasti akan marah kalau kamu tidak menjaga diri kamu dengan baik apalagi sampai kening kamu memar begitu. Duduk dan tunggu aku sebentar!"
Binar akhirnya duduk dan Aksa menaruh buket buah di sampingnya Binar lalu dengan segera Aksa berlari kecil menuju ke apotik.
Selang lima belas menit kemudian Aksa datang. Aksa menyerahkan satu cup besar berisi kopi vanila less sugar kesukaannya Binar lalu ia membuka salep dan hendak mengoleskannya di kening Binar namun, Binar menahannya. Binar merebut salep itu dan bangkit, "aku akan oleskan nanti, terima kasih" lalu Binar segera berlari menuju ke ruang ICU.
Aksa menatap punggungnya Binar dengan perasaan campur aduk. Lalu ia bangkit sambil menenteng buket buah pemberiannya Binar.
Di malam hari, Aksa.keluar dari kamar rawat inap neneknya dan melangkah menuju ke ruang ICU. Aksa mondar-mandir di depan pintu ruang ICU setelah ia sampai di sana. Aksa ingin memencet bel dan memberikan sekotak permen kopi untuk Binar namun, ia meragu.
Tiba-tiba pintu ruang ICU terbuka. Aksa dan Binar sama-sama tersentak, beradu pandang, dan mematung.
"Kenapa kau di sini?" mereka secara bersamaan mengucapkan kata itu.
"Oh, emm, aku mau kasih kamu permen kopi. Bisa kamu makan permen itu pas kamu nyetir biar nggak ngantuk" kata Aksa.
"Nggak usah terima kasih. Aku harus bergegas ke ruangannya dokter Hendrik. Beliau ingin berbicara denganku"
"Aku temani, ya?"
"Untuk apa kamu menemaniku? nggak usah" Binar segera berlari meninggalkan Aksa dan Aksa menyusulnya tanpa Binar ketahui.
Sesampainya di depan ruangannya Dokter Hendrik seorang perawat menemui Binar, "maaf harap tunggu sebentar, dokter Hendrik masih berada di bangsal rawat inap. Salah satu pasiennya mencari beliau tadi"
Binar tersenyum, "baiklah" Binar lalu duduk di bangku di depan pintu masuk ruangannya dokter Hendrik.
Binar menoleh kaget saat Aksa tiba-tiba duduk di sebelahnya. "Ngapain kamu di sini?"
Aksa menaruh kotak permen di dalam tangan Binar, "kamu belum menerima permen ini jadi aku mengejar kamu sampai sini"
Binar mendesah panjang lalu berkata, "terima kasih. Oh iya, mumpung kita ada kesempatan mengobrol, aku mau nanya sesuatu ke kamu. Kamu ngomong apa sama Mada?"
"Memangnya Mada ngomong apa sama kamu?"
"Mada berkali-kali ngomong, ia nggak mau punya Ayah yang lain"
"Untuk itulah aku tadi siang ke kantor kamu. Aku frustasi Mada bilang itu juga ke aku. Padahal aku begitu ingin........."
Binar mendelik ke Aksa dan menatap Aksa dengan penuh kekesalan. "kamu ngomong apa ke Mada?"
Aksa menghela napas panjang, "aku hanya ngomong, banyak orang bilang wajah kita mirip bagaimana kalau ternyata Om adalah ayah kamu? dan Mada langsung memekik kencang kalau ia nggak mau Ayah yang lain"
"Sa! mendekati seorang anak tuh beda dengan cara kamu mendekati Monica. Nggak bisa to the point. Kita perlu waktu dan momen yang tepat"
"Itu karena kamu. Kamu menyembunyikan semuanya dariku dan membuatku kehilangan momen, banyak momen dengan anak kandungku"
"Oke ini bukan waktunya kita untuk saling menyalahkan tapi apa kamu lupa saat itu kamu marah besar dan pergi meninggalkan aku?"
"Iya aku akui aku salah besar, bodoh dan sudah egois saat itu tapi, kenapa tidak kau ceritakan ke aku kalau kamu hamil saat itu?"
"Untuk apa kita ungkit masa lalu yang nggak bisa kembali dan nggak bisa kita ubah? Aku minta maaf. Sungguh sepanjang hidupku sampai detik ini, diriku penuh rasa penyesalan dan rasa maaf untuk kamu. Aku........."
Aksa segera meraih kedua tangan Binar, ia genggam tangan itu dan ia beradu pandang dengan Binar penuh tatapan kerinduan. Binar segera menarik kedua tangannya dan masih beradu pandang dengan Aksa.