My Pretty Boss

My Pretty Boss
Kesabaran Aksa



Aksa masih sengaja menunggu Binar keluar dari ruangannya setelah semua koleganya pulang. Aksa merasa kalau Binar kesal padanya namun dia belum memahami hal apa yang membuat Binar merasa kesal padanya.


Begitu melihat Binar melangkah keluar dari ruangannya, Aksa langsung menutup laptopnya dan bangkit. Binar menatapnya dan melangkah mendekati Aksa.


"Kamu kenapa belum pulang? ini sudah lebih dari jam enam dan jam kantor sudah selesai dua jam yang lalu" ucap Binar.


"Aku menunggumu. Aku mau nanya, apa kamu marah sama aku? kesal sama aku? sejak makan siang tadi kamu tidak keluar dari ruanganmu dan pesan text-ku tidak kamu balas"


Binar menarik napas dan berucap, "aku kesal sama anak Bu kantin dan sama Lina. Bisa-bisanya mereka menggoda pacarku di depanku"


Aksa mengulum bibirnya lalu berucap, "itu salah kamu sendiri kenapa kamu tidak mempublikasikan hubungan kita. Tapi aku senang melihatmu cemburu" Aksa menunduk untuk melihat secara dekat wajahnya Binar.


Binar menepuk dadanya Aksa, "siapa yang cemburu" lalu berjalan mendahului Aksa untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya.


Aksa berlari kecil sembari menyambar tas selempang dan jaket jins-nya. Cowok tampan itu lalu mengiringi langkahnya Binar, "kita mau ke mana?"


Binar langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke Aksa, "kita?"


"Iya kita? ini hari kedua kita jadian, apa yang kamu ingin kita lakukan di hari ini?" tanya Aksa sambil tersenyum ke Binar.


Binar memutar badan untuk berhadapan dengan Aksa, "aku ingin makan malam, makan ramen di dekat kantor lalu pulang dan nonton bola. Ada pertandingan Chelsea versus MU, aku ngefans sama MU jadi aku harus lihat pertandingannya" ucap Binar lalu berputar badan dan kembali melangkahkan kakinya.


"Kok nggak sebut kita? kamu nggak ingin aku temani?" Aksa berjalan lebar dan menghentikan langkah di depan Binar. Aksa memblokir langkahnya Binar dengan mengerucutkan bibirnya.


Binar terpaksa mengulas senyum cantiknya ke Aksa, "kalau aku ajak kamu, bisa ketahuan dong kalau kita ada hubungan. Makan ramennya kan di dekat sini, masih di area kantor, kalau ada yang lihat gimana?"


"Apakah dua orang yang makan bersama akan dikira pacaran? belum tentu juga setiap orang yang melihat kita berduaan langsung berpikiran kita ini sepasang kekasih" ucap Aksa dengan nada sedikit kesal.


"Lalu apa? mereka akan mengira aku kakak kamu? bibi kamu? Tante kamu? atau lebih gilanya lagi mereka akan mengira kalau aku ibumu?" Binar menyingkirkan tubuh Aksa dari hadapannya lalu kembali melangkahkan kakinya.


Aksa berlari kecil menyusul Binar, "kalau kamu nggak mau dikira begitu, maka gampang aja, begitu kita masuk kedai ramen, aku akan langsung bilang, kenalkan semuanya, ini pacar cantikku jangan dilirik dan jangan digoda karena, Binar pacarku ini hanya milikku seorang"


Binar menghentakkan kakinya dan menoleh ke Aksa, "hentikan leluconmu! aku serius kalau aku belum pede berjalan di sampingmu apalagi kau kenalkan sebagai pacarmu"


Aksa langsung memegang kedua bahunya Binar, "maafkan aku sudah buat kamu kesal. Oke, sekarang apa solusinya? aku pengen menemanimu makan dan pengen menemanimu nonton bola"


Binar sebenarnya ingin menyendiri saja saat itu. Dia merasa butuh berpikir ulang soal hubungannya dengan Aksa namun, melihat wajah Aksa begitu memelas ingin menemaninya maka dia akhirnya menghela napas dan berucap, "kita bungkus aja ramennya dan kita makan di apartemen kamu, kita makan ramen di apartemen kamu sambil nonton bola"


Aksa langsung memekik girang dan mencium kedua pipinya Binar, "solusi yang keren! pacarku memang keren!"


Binar kemudian berucap, "sebentar lagi kita keluar kantor. Kamu berjalanlah dulu di depanku!" ucap Binar sambil mengulurkan tangan menyuruh Aksa untuk berjalan keluar dari kantor.


Aksa menatap ke Binar, "kenapa? apa tidak boleh kita terlihat berjalan berdampingan seperti ini?"


"Bukannya tidak boleh tapi aku nggak pede jika dilihat orang berjalan berdampingan dengan cowok muda dan tampan kayak kamu" ucap Binar.


Aksa mendesah panjang dan kembali mengalah, dia melangkah mendahului Binar keluar dari kantor dan mulai menyusuri trotoar beberapa langkah di depannya Binar.



Di saat Aksa hendak menoleh ke belakang, Binar langsung berucap, "jangan menoleh dan jalan terus! kedai ramennya dua puluh langkah lagi di depanmu dan jangan menoleh ke belakang! kita pesan ramennya satu-satu biar tidak ketahuan kalau kita datang bersama"


Aksa kembali mendesah panjang lalu melanjutkan langkahnya. Setelah sampai di depan kedai ramen dia melirik Binar yang ternyata telah menghentikan langkahnya begitu jauh darinya. Seketika itu pula Aksa menoleh dan hendak menghampiri Binar namun Binar melotot dan melambaikan tangan ke Aksa sebagai kode ke Aksa untuk jangan menghampirinya.


Binar kemudian mengirim pesan text ke Aksa dari jarak sepuluh langkah ke tempat Aksa yang tengah berdiri di depan kedai ramen tersebut. Binar mengetik, "pesankan ramen seafood level dua pedasnya, aku tunggu di parkiran mobil" lalu Binar berbalik badan dan berbelok ke parkiran mobil yang berada di area paling bawah di dalam kantornya.


Aksa membaca pesan text-nya Binar lalu menarik napas panjang untuk kembali bersabar dan mengalah. Setelah rmembayar dan menerima ramen pesanannya, Aksa kemudian melangkah menuju ke parkiran mobilnya Binar.


Aksa memasang sabuk pengaman, menaruh dua bungkus ramen ke jok belakang dan bertanya ke Binar saat Binar mulai melajukan mobilnya, "kok pindah mobilnya?"


"Aku sengaja memindahkannya ke black spot, bebas dari kamera CCTV biar kebersamaan kita tidak terlihat satpam dan tidak terekam" sahut Binar.


Aksa hanya bisa tersenyum dan kembali mendesah panjang.


Kapan rasa nyaman berpacaran denganmu bisa aku rasakan, Binar? dua hari kucing-kucingan kayak gini, aku udah merasa capek dan waktu tiga bulan terasa sangat lama bagiku. Batin Aksa.


Mereka akhirnya sampai di dalam apartemennya Aksa. Sepanjang perjalanan menuju ke apartemennya, Aksa memilih untuk diam dan tidak mengajak Binar mengobrol. Aksa paham situasinya, pulang kerja, belum mandi, dan belum makan, jika mengobrol maka hanya akan menimbulkan perdebatan panjang dan akan menimbulkan percikan api perselisihan.


Sesampainya di apartemennya Aksa, Aksa menyuruh Binar untuk mandi dan memberikan kaos juga celana kolornya sebagai baju gantinya Binar namun Binar menolak, "aku nggak butuh mandi, aku terbiasa mandi sebelum tidur pakai air hangat jadi aku mandi nanti saja di rumah" ucap Binar sambil menaruh Ramen ke dalam mangkok.


Aksa hanya tersenyum lalu meninggalkan Binar menuju ke kamar mandi untuk mandi. Menyegarkan kembali segala lelah jasmani dan lelah hati yang dia rasakan karena, menuruti keinginannya Binar yang sebenarnya bertentangan dengan hati nuraninya.


Binar menaruh kedua mangkok berisi ramen di depan meja yang berada di ruang keluarga lalu mulai menyalakan televisinya Aksa.


Binar kemudian melangkah ke dapur, dia memasak air dan berencana untuk bikin kopi. Namun dia tidak menemukan kopi instant alih-alih dia menatap beberapa toples mungil yang berjejer dan dia tidak tahu apa saja isi toples itu.Tiba-tiba Binar terlonjak kaget saat Aksa merangkul bahunya, "kamu mau bikin apa?" tanya Aksa sambil mengeringkan rambutnya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya merangkul bahunya Binar.


"I..i..itu, emm, kopi. Aku mau bikin kopi tapi biasa bikin yang instant tinggal sobek bungkusnya, tuang ke cangkir lalu kasih air panas jadi deh. Nah, ini kok nggak ada kopi instant ya, heeee"


Aksa tersenyum geli lalu mengambil salah satu toples yang berisi kopi bubuk, menaruhnya di depan Binar, setelah itu mengambil satu toples lagi yang berisi gula dan menaruhnya di depan Binar.


Binar menengadahkan wajah cantiknya untuk menatap Aksa, "perbandingan kopi dan gulanya berapa sendok? heeeee. Aku belum pernah bikin kopi yang model beginian. Aku nggak suka yang ribet"


Aksa langsung bergumam, "nggak suka ribet tapi hubungan kita, kamu bikin ribet"


"Apa kamu bilang?" tanya Binar.


"Nggak apa-apa. Emm, satu sendok kecil kopi dan dua sendok kecil gula kalau suka kental kalau enggak suka kental, kopinya satu pucuk sendok kecil aja" ucap Aksa.


"Oke! aku udah ngerti, pergilah ke ruang TV aku akan menyusulmu dengan kopi sebentar lagi" ucap Binar sambil mulai membuat dua cangkir kopi sesuai dengan instruksinya Aksa.


Aksa mencium pipinya Binar lalu melangkah menuju ke ruang keluarga dan duduk di depan televisinya. Tidak begitu lama Binar datang sambil membawa dua cangkir kopi hasil karyanya.


Binar menaruh kedua cangkir kopi itu di atas meja lalu duduk dan mulai menyendok ramennya.


Aksa menoleh ke Binar, "kamu nggak pakai sumpit? biasanya orang makan ramen pakai sumpit"


Binar menggelengkan kepalanya, "aku tidak suka ribet, hidupku sudah cukup rumit dan ribet jadi untuk masalah makan aku mau yang nggak pakai ribet"


Aksa tersenyum geli dan kembali menghela napas panjang kemudian mulai menyumpit ramennya.


"Aaaaaa, udah mulai pertandingan bolanya" Binar memekik senang.


Aksa tersenyum menatap tawa ceria dari wajah cantiknya Binar lalu mengusap sudut bibirnya Binar, "kalau makan jangan banyak bicara, belepotan nih"


Binar menoleh ke Aksa lalu menepis tangannya Aksa karena dia masih merasa malu dan canggung setiap kali Aksa menyentuhnya lalu Binar berucap, "aku bisa mengusapnya sendiri"


Tiba-tiba.......Cup....Aksa mengecup bibirnya Binar lalu berucap dengan santainya, "ada mie tertinggal di bibir kamu, sayang kalau dibuang jadi aku ambil dan aku masukkan aja ke mulutku, heeee"


Hatinya Binar langsung meronta ingin keluar dari tempatnya saat Aksa mengecup bibirnya dan berkata seperti itu. Binar langsung membeku dan menatap layar televisi tanpa berani menoleh lagi ke Aksa.


Aksa menoleh ke Binar dan tersenyum bahagia. Kesabarannya Aksa yang sedari tadi diuji langsung terbayar lunas di saat dia menatap wajah Binar yang merona malu karena kecupannya.