
Theo mencium Binar dengan penuh kerinduan saat Aries tertidur pulas dan Mada masih berada di lantai bawah. Theo berbagi kegalauannya melalui ciuman karena, ia masih belum mampu untuk berkata-kata terkait dengan tumor yang bersarang di otaknya.
Binar segera menarik Theo masuk ke kamar mandi dan mereka menyatu di dalam bath-up. Mencium, mencengkeram, menggigit, menghisap, berbarengan dengan bara gairah dan percikkan aliran cinta, membuat sepasang suami istri itu terus bergulat seolah tak ingin terpisahkan.
Setelah penyatuan cinta yang penuh gairah itu, Theo mencium keningnya Binar cukup lama untuk mencari kekuatan batin dan raganya di sana. Binar tersenyum lalu menarik diri dari pelukannya Theo dan segera keluar dari dalam bath-up. Binar membersihkan diri di bawah guyuran shower, dan Theo berkata dari dalam bath-up sambil terus memandangi tubuh istrinya, "wow! lihatlah dirimu, kau sangat seksi dan indah"
Binar menoleh ke Theo yang masih bermalas-malasan di dalam bath-up, "seksi apa? mana ada seksi, tua iya" kekeh Binar.
"Mana ada kamu tua, kamu tidak ada tanda-tanda menua sama sekali. Tubuhmu masih terlihat begitu menggoda, sempurna sayang, dan sangat indah, memesona, menawan, seksi" Theo terus memandangi Binar yang masih tampak polos dan berdiri di bawah shower, sambil mengulas senyum sambil terus mengusap bibirnya dengan ibu jarinya, "rasa manis kamu bahkan belum hilang dari bibirku ini" tambah Theo dengan seringai khas-nya.
Binar kembali terkekeh, ia segera memakai baju, berjalan mendekati Theo untuk mengecup bibirnya Theo lalu ia melangkah keluar dari dalam kamar mandi untuk menjaga Aries.
Theo mendesah panjang di dalam bath-up dan ia mulai terisak menangis, hatinya sudah menyerah untuk terus menjaga air matanya dan di hari itu tumpahlah sudah air matanya Theo tanpa bisa Theo kendalikan lagi. Di saat Isak tangisnya mulai tidak terbendung lagi, Theo segera menghidupkan keran, ia tidak ingin suara Isak tangisnya melesat keluar dan mendarat di kedua indra pendengarannya Binar.
Aksa masuk ke dalam lift untuk menuju ke lantai 6 sambil terus menggandeng tangan mungilnya Mada. Ada lima orang di dalam lift yang melempar komentar yang sama ke Aksa dan Mada, "kalian pasti papa dan anak" bahkan ada komentar yang mempertegas kecurigaannya Aksa, "kalian sangat mirip" dan Aksa.hanya melempar senyum menanggapi semua komentar itu.
Ting, pintu lift terbuka dan ada seorang wanita paruh baya yang memberikan sebungkus biskuit ke Mada dan berkata, "kamu mirip cucu nenek yang memiliki wajah sama persis dengan papanya" lalu wanita paruh baya itu menatap Aksa, "jaga selalu putra tampan anda!"
Aksa sekali lagi hanya bisa melukis senyum di wajah tampannya.
Mada tersenyum ke wanita paruh baya itu dan berkata, "terima kasih, Nek"
Wanita paruh baya itu mengusap puncak kepalanya Mada sambil tersenyum lalu melangkah pergi meninggalkan Mada dan Aksa.
"Kamar kamu nomer berapa?" tanya Aksa.
Hanya ada tiga kamar di lantai enam di Diamond Hotel itu karena, lantai itu khusus untuk tipe kamar di atas superior.
Mada menunjuk ke kamar paling ujung, "di sana Om, kamar 610"
Aksa memasang kembali maskernya lalu berkata, "masuklah! bunda kamu pasti udah menunggumu dengan cemas"
Mada menoleh ke Aksa, "Om nggak masuk? Mada kenalin ke Ayah dan Bunda, juga Aries adeknya Mada yang lucuuuuu banget"
Aksa berjongkok lalu mengusap kepalanya Mada dan berkata, "lain kali saja sayang, Om masih banyak kerjaan"
Mada tersenyum lalu melambaikan tangannya ke Aksa sambil berjalan menuju ke kamarnya.
Aksa terus menatap punggungnya Muda sambil menahan pintu lift yang terbuka, bertepatan dengan terbukanya pintu kamarnya Mada, Aksa segera melesat masuk ke dalam lift. Ia cukup puas bisa melihat sosok cantiknya Binar walaupun hanya sekilas.
Aksa.menyandarkan kepalanya, memejamkan kedua matanya di saat lift meluncur ke lantai satu. Aksa merasakan dentuman aneh di dadanya terkait dengan sosoknya Mada dan rasa yang ia miliki untuk Mada. Dadanya terasa penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum ada jawabannya dan itu membuatnya merasa sesak.
Aksa segera berlari menuju ke parkiran mobil setelah pintu lift terbuka dan dia segera melesatkan mobilnya ke rumah sakit. Ia menelepon sekretaris yang baru ia rekrut yang bertugas menjaga galerinya yang masih dalam tahap renovasi, Aksa memberitahukan ke sekretarisnya itu kalau jadwal.wawancara dengan semua calon karyawannya dimundurkan satu jam karena, ada urusan mendesak.
Aksa segera turun dari dalam mobilnya begitu ia memarkirkan mobilnya dengan manis di pelataran parkir sebuah rumah sakit swasta. Selang setengah jam kemudian, Aksa berhadapan dengan dokter kepala lab dari rumah sakit tersebut. Aksa bertanya, "saya ingin melakukan tes DNA atas sample rambut ini" Aksa.membuka sapu tangannya lalu menyerahkan sapu tangan itu ke tangan dokter kepala lab tersebut.
"Baiklah! saya akan lakukan tes DNA atas sample ini dan anda bisa pulang"
"Pulang? saya akan tunggu sampai hasil tes-nya jadi" Aksa menautkan kedua alisnya ke dokter kepala lab tersebut sebagai tanda kalau Aksa sangat serius dengan ucapannya.
"Tapi Pak, hasil tes DNA butuh waktu lama untuk melakukannya. Anda pulang dulu dan anda bisa kembali lagi dua Minggu ke depan" ucap dokter kepala lab tersebut.
"Lama sekali. Nggak ada yang lebih cepat?" tanya Aksa.
"Ada yang bisa dilakukan selama sehari tapi biayanya sangat mahal" kata dokter kepala lab tersebut.
"Saya nggak peduli berapa biayanya. Lakukan secepatnya karena, saya butuh hasil tes DNA itu secepatnya" sahut Aksa.
"Kalau hasil tes DNA yang keluar dalam dua Minggu ke depan, anda udah tahu kan kalau biayanya delapan juta rupiah? Nah yang sehari jadi, biayanya mencapai dua puluh juta rupiah"
Aksa mulai menggeram kesal, "saya nggak peduli berapa biayanya pokoknya saya minta yang paling cepat. Yang penting saya butuh hasil tes DNA itu keluar secepatnya karena, itu sangat berharga bagi saya" keseriusan terdengar di nada suaranya Aksa.
"Baiklah anda lakukan dulu pembayaran di kasir dan bawa ke sini struk pembayarannya lalu anda bisa mengambil hasil tes DNA-nya besok di jam yang sama"
Aksa segera melakukan instruksi dari dokter kepala lab tersebut lalu ia pulang untuk mulai mewawancarai satu per satu orang yang melamar untuk menjadi karyawan di galeri dan rumah produksinya.
Binar menepuk-nepuk pantatnya Mada yang menyusul Aries ke alam mimpi sambil terus menatap gelang pemberiannya Monica yang Binar kenal sebelumnya sebagai Silver Butterfly.
Theo merebahkan diri di sampingnya Binar dengan posisi miring lalu menaruh lengannya di pinggangnya Binar, "apanya yang nggak asing?"
"Gelang dari Monica ini. Aku seperti pernah melihat gelang ini tapi aku lupa di mana aku pernah melihatnya" gumam Binar.
Binar lalu memutar badan untuk berhadapan dengan suaminya dan ia bisa melihat mata sembab suaminya, "apa Mas habis menangis?" Binar menyentuh kedua kelopak matanya Theo yang terpejam lalu mencium keduanya, "ada apa?" tambah Binar.
Theo mendesah panjang lalu menarik Binar untuk bangun dan mengajak Binar menuju ke taman yang menghadap ke kolam renang.
Binar duduk lalu Theo menarik bangku taman untuk duduk di depannya Binar persis dan memangku kedua tangannya Binar, "ada yang ingin aku sampaikan tapi, kamu harus siap dan nggak boleh menangis. Kamu harus kuat demi anak-anak dan demi aku juga"
Binar langsung mengerucutkan bibirnya, "jangan bikin aku deg-deg an Mas, katakan ada apa?"
Theo lalu mengangkat tangan kanannya Binar dan ia taruh tangan itu di belakang kepalanya, "di dalam sini ada sesuatu yang harus diambil"
"Maksud Mas?" Binar mulai menautkan alisnya.
"Ada tumor dan harus diambil dan itu ......."
Binar langsung memeluk Theo dan berkata dengan gemetar, "kamu jangan bercanda Mas! ini sama sekali nggak lucu"
Theo mendorong pelan tubuhnya Binar lalu ia mencengkeram kedua pinggangnya Binar untuk memberikan kekuatan pada Binar agar Binar tetap kokoh, "ini nggak bercanda, sayang. Aku beneran harus menjalani operasi pengangkatan tumor besok lusa dan.........."
"Sejak kapan Mas punya tumor? pasti dokter salah diagnosa. Ini pasti nggak benar, iya kan Mas!?" pekik Binar.
Theo menghela napas panjang dan kembali berucap, "aku nggak tahu sejak kapan aku punya tumor ini tapi kata dokter Hendrik, ini faktor genetik turunan dari mamaku dan untungnya ini jinak nggak seperti milik almarhum mamaku. Dan dokter Hendrik tidak salah diagnosa, aku beneran harus.........."
Binar segera membungkam mulutnya Theo dengan bibirnya. Ia lalu menguncinya rapat-rapat karena, Binar nggak sanggup mendengar Kelanjutan dari berita yang keluar dari mulutnya Theo.
Theo mendorong kembali tubuhnya Binar dan berkata, "aku harus sampaikan ke kamu karena, kamu istriku kamu berhak tahu. Ingat janji pernikahan kita kan, dalam sehat dan sakit kita harus saling berbagi"
Binar menatap Theo penuh dengan kesedihan. Kedua matanya mulai memerah menahan tangis, "apa akan baik-baik saja setelah operasi?" Binar berkata dengan mulut bergetar.
"Mau berita baik atau berita buruknya dulu?" tanya Theo sambil mengulas senyum, ia mencoba sedikit bercanda untuk melepas ketegangan dan kesedihan yang tergurat nyata di wajah istri tercintanya.
"Katakan saja Mas!" jerit Binar tanpa sadar sebagai luapan kegelisahannya yang sangat mendalam. Lalu Binar menatap Theo, "maaf, aku membentakmu, maafkan aku, Mas, aku......."
Theo segera menarik tubuhnya Binar untuk ia peluk dan ia usap rambutnya Binar terus dan terus sampai ia berhasil mengeluarkan kata, "aku tidak akan mati itu berita baiknya tapi, akan ada efek sampingnya dan itu berita buruknya"
Binar lalu terkulai lemas di dalam pelukan suaminya dan berkata lirih, "apa efek sampingnya?"
Theo semakin mendekap erat tubuh Binar, "kamu harus kuat demi anak-anak dan aku mau, kan?"
"Apa efek sampingnya Mas?" tanya Binar lagi dengan nada suara yang makin melemah
Theo mengusap rambutnya Binar, "aku akan mengalami hilang ingatan atau koma untuk waktu yang tidak bisa ditentukan"
Binar lalu mendekap erat suaminya lalu pecahlah tangisannya, "kenapa harus kamu Mas kenapa bukan aku? aku lebih banyak dosa dari kamu, kenapa bukan aku?"
Theo mengusap punggungnya Binar, "Sssttt! jangan menangis sayang, kasihan anak-anak kalau kebangun dan mereka kebingungan melihatmu" Theo mendorong kembali tubuhnya Binar dan ia usap air matanya Binar dengan bibirnya kemudian ia tempelkan keningnya di kening Binar, "kita harus bikin kenangan indah untuk anak-anak selama tiga hari ini. Kita nggak boleh sedih, oke?"
Binar menghela napas panjang dan menganggukkan kepalanya.
Theo lalu menatap Binar, "tersenyumlah!"
Binar terpaksa tersenyum demi suami tercintanya.
Aksa sampai di halaman rumahnya dan segera mengunci diri di dalam kamarnya.
Monica tidak berani mengetuk pintu kamarnya Aksa saat ia melihat Aksa memasang muka kusut dan langsung mengunci diri di kamar.
Aksa bergumam, "jika Mada beneran anak kandungku, maka aku harus mengambilnya, aku berhak memiliki dan mengasuhnya tapi, jika ingin mendapatkan hak asuh Mada, aku harus menikah. Shit! siapa yang harus aku nikahi? tapi jika Mada ternyata bukan anak kandungku, aku pun akan kecewa dan aku bingung harus bagaimana karena, aku terlanjur menyayangi Mada dan seperti ada magnet tak tampak antara aku dan Mada. Aku ingin terus menempel ke Mada. Kegilaan macam apa yang sudah kau perbuat di hidupku, Binar?"
Aksa terus menatap langit-langit kamarnya dengan muka kucel dan benang kusut di benaknya.