My Pretty Boss

My Pretty Boss
Kado Untuk Mantan



Aksa dan Monica sampai di rumah yang berhasil dibeli oleh Aksa dari hasil jerih payahnya sendiri. Aksa segera menaruh kopernya di kamarnya yang terletak di lantai atas lalu dia bergegas turun sambil membawa kotak berwarna merah dari bahan beludru. Aksa mengetuk kamarnya Monica karena, Monica memilih kamar di lantai bawah dari rumah berlantai dua itu.


Monica membuka pintu kamarnya dan langsung bertanya, "ada apa?"


"Emm" Aksa menggaruk-nggaruk kepalanya sambil meringis, "aku boleh minta tolong?"


Monica melangkah keluar dari kamarnya lalu menutup pintu dan bertanya, "minta tolong apalagi?"


"Kalau kamu bersedia menolongku, aku akan kabulkan apapun permintaanmu" ucap Aksa.


"Oke katakan!" Monica langsung berkacak pinggang di depan Aksa.


"Hari ini adalah hari ulang tahunnya Binar dan aku sudah mendesain gelang dengan hiasan kupu-kupu satu tahun yang lalu. Aku lalu mengeksekusi desain itu sendiri dan jadilah gelang ini" Aksa menyerahkan kotak perhiasan yang ia pegang ke Monica.


Monica menerima kotak itu lalu membukanya dan ia langsung tertegun melihat karya yang digarap sendiri tanpa sadar ia pun bergumam, "indah sekali" lalu ia menatap Aksa dan bertanya ke Aksa, "lalu kenapa kau kasih ke aku?"


"Rumah suaminya Binar dua puluh langkah dari sini, ke arah timur. Rumah nomer 28, blok C. Tolong kamu ke sana sebagai Silver Butterfly dan kamu kasih gelang ini ke Binar" Aksa tersenyum lebar ke Monica.


"Hah?! kau gila ya? kau beli rumah dekat dengan rumah suaminya mantan kamu? kau bilang nggak mau mengusik hidup mantan kamu lagi dan ini?" Monica menaruh kotak perhiasan itu di atas tangannya dan mengangkatnya di depan Aksa, "kenapa kamu kasih mantan kamu hadiah se-spesial ini untuk ulang tahunnya?"


Aksa mengelus tengkuknya, "aku akan jelaskan soal rumah nanti. Emm, maaf jika tanpa persetujuanmu, aku sudah bilang ke Binar di email kalau kau, Silver Butterfly akan tiba di Indonesia hari ini karena, Binar terus menginginkan bertemu dengan Silver Butterfly secara langsung maka aku pikir ini saat yang tepat dan aku pikir jika kau bawa kado untuk ultahnya, Binar akan bisa cepat akrab denganmu dan......."


"Oke aku akan ke sana tapi, aku pegang janji kamu tadi, kamu akan mengabulkan apapun permintaanku jika aku ke rumahnya Binar kasih ini"


"Hmm" Aksa menganggukkan kepalanya dengan wajah riang gembira.


Monica masuk kembali ke dalam kamarnya untuk berganti baju dan Aksa menunggu Monica di ruang tamu.


Sepuluh menit kemudian Monica keluar dengan baju formal dan sedikit berdandan. Aksa sejenak tertegun menatap Monica yang tampak lain dari biasanya lalu berucap, "kamu cantik kalau berdandan kayak gini kenapa tidak setiap hari kamu seperti ini?"


Alih-alih menjawab komentarnya Aksa, Monica melempar tanya ke Aksa, "lalu, aku jalan kaki ke sana? dua puluh langkah itu lumayan melelahkan lho"


Aksa tersenyum lalu menyerahkan sebuah kunci mobil ke Monica, "sahabatku Boy, udah membelikan sebuah mobil untukku dan ia memaketkan kunci rumah ini bareng sama kunci mobil ini beberapa bulan yang lalu. Kamu bisa pakai mobil ini ke rumahnya Binar"


Monica langsung meraih kunci mobil itu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun lalu melangkah lebar menuju ke garasi dan masuk ke dalam mobil itu Ia lalu menjalankan mobil itu dengan pelan ke arah timur untuk mencari rumah di blok C dengan nomer 28.


"Dasar Aksa gila!" gumam Monica kesal.


"Nah ini sepertinya rumah suaminya Binar. Iya benar, blok C nomer 28. Tapi kenapa banyak sekali mobil? aku masuk nggak ya?" Monica memarkirkan mobilnya di seberang jalan rumah itu lalu memutuskan turun dari mobil dan melangkah masuk ke halaman rumah itu setelah meragu selama sepuluh menit.


Monica dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu. Gadis manis adik angkatnya Aksa itu menunggu dengan gugup karena, ia akan bertemu dengan wanita yang sangat dicintai Aksa.


Selang lima menit kemudian Binar keluar dengan senyum ramah lalu menjabat tangannya Monica dan langsung memekik riang, "anda, Silver Butterfly?"


Monica tersenyum canggung sambil menganggukkan kepalanya, "iya benar Kak, senang akhirnya saya bisa bertatap muka dengan kakak secara langsung seperti ini" dan Binar langsung memeluk Monica dengan sangat erat.


Setelah melepas pelukannya, Binar berteriak memanggil suaminya, "sayang, sini sebentar!"


Theo berlari kecil lalu berhenti di sampingnya Binar. Theo tersenyum ramah ke tamu yang ada di depannya.


Monica tertegun menatap Theo dan bergumam di dalam hatinya, tampan, matang, dan ramah sekali. Kalau aku belum mengenal Aksa dan belum jatuh hati pada Aksa maka aku akan meleleh saat ini, melihat sosok sesempurna ini.


Theo merangkul bahunya Binar dan bertanya ke Binar, "ada apa memanggilku dengan penuh semangat?" lalu Theo mencium pelipisnya Binar.


Dan ia sangat mencintai istrinya. Beruntung sekali wanita yang bernama Binar ini ya. Batin Monica.


"Ini Silver Butterfly, karyawan online-ku yang tinggal di Amerika, ia baru saja tiba dan langsung ke sini. dan aku nggak nyangka, nona Silver Butterfly ini, sangat fasih berbahasa Indonesia" ucap Binar dengan wajah riang.


Theo lalu mengulurkan tangan kanannya untuk membalas uluran tangannya Monica lalu berucap, "selamat datang di Indonesia dan terima kasih atas kunjungannya"


Setelah melepas jabat tangan mereka, Theo mempersilakan Monica untuk duduk kembali dan ia ijin pamit kembali ke dalam karena, keluarganya masih menunggunya di dalam dan Monica tersenyum mengiyakan.


Monica menatap Binar dan segera berkata, "selamat ulang tahun kak Binar dan ini hadiah kecil dari saya"


Binar menerima kotak pemberian dari Monica dan langsung mengucapkan kata terima kasih lalu bertanya, "boleh saya membukanya?"


Monica melempar senyum sambil menganggukkan kepalanya.


Monica segera berucap, "di budaya saya, jika seseorang menolak hadiah dari seseorang maka ia telah menghina orang tersebut"


Binar segera berucap, "maaf bukan maksud saya untuk menghina anda tapi......."


"Kalau anda tidak ingin menghina saya, maka tolong anda terima, Kak"


Binar akhirnya mengalah dan sekali lagi mengucapkan kata terima kasih.


Lalu Monica bangkit karena, sedari awal ia datang, ia tidak ingin berlama-lama di rumahnya Binar. Monica takut salah ucap maka ia pun segera pamit, "Kak, maaf saya masih banyak urusan yang harus saya selesaikan karena, dari bandara saya langsung ke sini untuk mengucapkan selamat ulang tahun ke kakak jadi sekarang saya pamit pulang dulu, saya akan main ke sini lagi, lain waktu"


Binar tersenyum dan berkata, "terima kasih banyak untuk hadiah dan kunjungannya, emm, kita akan lanjutan obrolan kita via email nanti dan kita akan bahas soal kontrak kerja sama kita selanjutnya lewat email juga, ya"


Monica menganggukkan kepalanya laku berkata, "anda nggak usah mengantar saya sampai keluar, keluarga anda masih menunggu anda. Saya bisa keluar sendiri"


"Ah! baiklah! sekali lagi terima kasih"


Monica akhirnya masuk kembali ke dalam mobil dan mengelus dadanya yang sedari tadi berdebar kencang karena, canggung, sedikit cemburu, dan tegang. Monica takut kalau Binar mengetahui, jarak rumah mereka hanya dua puluh langkah saja.


Sesampainya di rumah, Monica segera melesat keluar dari dalam mobil dan langsung mencari Aksa. Aksa berteriak, "aku di ruang makan"


Monica menuju ke ruang makan dan mendapati Aksa tengah duduk di sana sambil berpangku tangan.


Monica duduk dan melihat di dapur sudah ada dua orang wanita yang memasak dan bersih-bersih di sana, "siapa mereka?"


"Boy yang mengirim mereka untuk memasak dan bersih-bersih di sini. Namanya Bi Ijah dan Bi Par"


""Oh!" Monica lalu meneguk habis segelas air putih lalu menatap Aksa, "aku sudah bertemu dengan mantan kamu, udah aku kasih kadonya dan suaminya. Kau tahu, suaminya sangat tampan, matang, dan ramah"


"Gimana dengan mantanku? ia masih cantik?" tanya Aksa.


"Mantan kamu masih terlihat muda. Ia imut dan nampak lebih muda dari umur dia yang sebenarnya dan iya, aku akui kalau mantan kamu itu cantik banget. Kulitnya putih bersih dan sempurna. Selera kamu tinggi juga, ya"


Monica tersenyum lebar untuk menutupi kecemburuannya.


Aksa tersenyum dan berkata, "aku memiliki selera tinggi tapi, bodoh"


"Itu masa lalu Sa. Lupakanlah! aku lihat mantan kamu sangat bahagia dan suaminya sangat mencintainya"


"Iya aku tahu. Aku nggak akan mengusik mereka. Aku hanya akan menjaga rasa cintaku ini dalam diam" Aksa melempar senyum ke Monica. "Terima kasih udah kasih kadonya ke Binar. Lalu apa yang kamu inginkan?"


"Aku juga ingin kau buatkan gelang yang spesial dan harus kamu sendiri yang menggarapnya"


"Baiklah! kamu mau gelangnya nanti berhiaskan apa? atau berbentuk apa?"


"Terserah kamu, pokoknya harus spesial dan harus mencerminkan diriku"


Aksa tersenyum, "oke"


"Kenapa kamu membuat gelang untuk mantan kamu dengan hiasan kupu-kupu?"


"Karena, di malam pertama kami berkencan, kami melihat kupu-kupu di sebuah taman dan Binar sangat menyukai kupu-kupu. Aku pun saat itu melihat Binar cantik dan menarik seperti kupu-kupu jadi aku pun menjadi suka sama kupu-kupu"


"Apa menariknya kupu-kupu?" Monica menautkan alisnya.


"Kupu-kupu itu terlihat jinak, indah, dan cantik namun, jika kita dekati dengan gegabah dan penuh semangat, ia akan terbang menjauhi kita. Tetapi, jika kita diam dan hanya mengaguminya dari kejauhan, kupu-kupu justru akan mendekat dan hinggap di bahu kita. Itulah yang kulihat di diri Binar"


"Oleh karena itu, kau pun memakai nama Silver Butterfly di alamat email baru kamu?"


Aksa tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Kenapa Silver Butterfly? Lalu kenapa kamu beli rumah yang dekat dengan mantan kamu terus kenapa kamu kasih kado ulang tahun untuk mantan kamu?"


"Kenapa Silver Butterfly? karena, siver itu ringan, nggak bisa berkarat, walaupun hanya ada di urutan kedua dari deretan logam mulia, silver itu murni dan aku tidak pantas mengatakan kupu-kupu di hatiku sebagai gold karena kebodohanku, maka aku hanya bisa menempatkan kupu-kupu di hatiku ini layaknya silver. Kalau soal rumah ini, emm, rumah ini dulunya rumahnya Binar. Boy mengabariku kalau Binar menjual rumah ini jadi aku suruh Boy untuk membelinya. Boy mengatakan ke Binar kalau saudaranya yang membeli rumah ini. Soal kado, yang ngasih kan kamu, bukan aku, hehehehehe"


Monica tertegun menatap Aksa dan berkata di dalam hatinya, lalu kapan kamu akan memandangku se-spesial itu Sa?