
"Saya selaku ketua di sini mengucapkan selamat datang kepada kesepuluh dewan terhormat pemegang saham. Terima kasih banyak untuk dukungan yang diberikan kepada saya selama ini dan saya ingin bertanya kepada bapak Theo Revano apa kontribusi anda di sini?" Binar tersenyum sambil menoleh ke Theo yang duduk di sebelah kanannya.
Theo tersenyum lebar, "selamat siang eh pagi menjelang siang, semuanya, heeee. Perkenalkan saya Theo Revano, perusahaan saya bergerak di bidang periklanan dan saya tertarik untuk bekerja sama dengan nona Binar Adelard untuk itu saya invest di sini"
Semuanya langsung bertepuk tangan menyambut hangat kedatangannya Theo Revano kecuali Binar. Binar melotot ke Theo karena, Binar sungguh tidak menyangka kalau Theo berinvestasi di perusahaannya tanpa memberitahunya terlebih dahulu dan Theo meringis ke Binar lalu mendekatkan wajahnya ke Binar. Theo berbisik, "jika kau terus melotot, aku akan katakan kalau kamu adalah calon istriku saat ini juga"
Binar langsung menutup mulutnya Theo dengan tangannya dan semua pasang mata langsung memandang ke Binar dengan heran.
Lela berdeham dan Binar langsung menarik tangannya, mengalihkan pandangannya dari Theo, lalu berkata, "hahahaha, maaf! bapak Theo menguap tadi dan sepertinya dia habis makan jengkol jadi saya secara spontan menutup mulutnya karena baunya, hmm! minta ampun sedapnya, hahahaha"
Semua pemegang saham yang hadir langsung menggemakan tawa mereka termasuk Lela.
Theo langsung menendang kakinya Binar tetapi yang meringis kesakitan justru Lela. Lela langsung membeliak ke Binar dan berbisik, "kak, kenapa menendangku?"
Binar menautkan alis ke Lela dan berkata, "siapa yang menendangmu?"
Lela menatap heran ke Binar lalu mengelus-elus kakinya.
Theo memandang Binar dan Lela lalu menundukkan wajah tampannya sambil mengelus tengkuknya. Dia takut ketahuan Binar dan Lela kalau dia yang sebenarnya mendaratkan tendangan itu.
Rapat pemegang saham terselesaikan dengan lancar. Ruangan meeting hanya tertinggal Binar dan Theo.
"Wwaahh! kamu benar-benar ya bikin malu aku. Bilang aku habis makan jengkol tadi, gila kamu, hmm. Kalau aku nggak memikirkan muka kamu di depan para kolega kamu, udah aku balas tadi, huh!" Theo bersandar di kursinya, bersedekap dan menatap tajam ke Binar.
Binar terkekeh, "salah sendiri kenapa mengucapkan kata calon istri tadi. Kalau ada yang dengar kan bisa berabe"
"Memangnya kenapa, aku berkata benar kan. Kamu memang calon istriku" ucap Theo dengan santainya.
"Hanya pura-pura kan, hanya sampai Hendra menikah" Binar pun berucap santai di depannya Theo.
Theo tersenyum tipis dan menghela napas mendengar ucapannya Binar. Dia tidak bisa menimpali ucapan itu karena, memang itu yang menjadi kesepakatan mereka berdua.
Tapi aku serius ingin menikahimu, Binar. Aku akan berjuang terus untuk mendapatkan hatimu. Batin Theo.
"Ada apa? kenapa kamu menatapku terus?" Binar mengerutkan dahinya ke arah Theo.
Theo berkata dengan senyum tipisnya, "aku nggak bisa memerintah kedua bola mataku ini untuk berhenti menangkap paras cantikmu itu"
"Berhenti ngegombal. Kenapa kau belum pergi?" tanya Binar, "ada lagi yang bisa kubantu? dan terima kasih banyak sekali lagi aku ucapkan untuk investasi kamu di perusahaanku ini"
Theo tersenyum lebar, "sama-sama nona cantik. Emm, aku pengen ajak kamu beli anjing sekalian makan siang" ucap Theo.
"Aku repot. Nggak bisa" kata Binar.
"Aku akan tunggu di sini sampai kamu nggak repot" jawab Theo dengan santainya.
"Theo Revano!"
"Iya Binar Adelard, aku hadir, heeee" sahut Theo sembari terkekeh.
Tiba-tiba, Aksa masuk ke dalam ruang meeting itu dan menatap tajam ke arah Theo Revano.
"Apa meetingnya belum selesai?" tanya Aksa ke Binar.
Theo menoleh ke Aksa dan menautkan alisnya.
Binar tersenyum canggung ke Theo dan Aksa.
"Dia siapa?" ucap Theo dan Aksa secara bersamaan.
"Emm" Binar langsung menggaruk puncak kepalanya dan menatap ke Aksa lalu ke Theo secara bergiliran dengan senyum lebarnya.
Kalau aku kenalkan Aksa ke Theo sebagai pacarku, pasti Theo akan menatapku dengan aneh karena, aku berpacaran dengan anak ingusan, tapi kalau aku bilang Aksa karyawanku, maka Aksa akan kecewa dan sedih, hiks. Aku harus gimana nih, hiks. Ucap Binar di dalam hatinya.
"Binar?" Theo dan Aksa kembali berucap secara secara bersamaan.
Binar tersentak dari lamunannya, bangkit dan langsung berucap secara tidak sadar, "dia Aksa pacarku dan dia Theo laki-laki yang dijodohkan denganku" lalu Binar terduduk lemas di kursinya, seperti seorang terdakwa yang siap untuk dijatuhi hukuman seberat-beratnya.
"Apa?!" Aksa dan Theo berucap berbarengan dan pandangan penuh kecemburuan yang tersorot tajam dari kedua manik hitam cowok tampan itu pun saling bertubrukan.
Binar menundukkan wajah cantiknya semakin dalam hingga akhirnya melekatkan dahinya di atas meja meeting nan panjang sepanjang waktu yang akan dia dapatkan untuk mendengarkan ocehannya Theo dan Aksa.
"Binar tatap aku!" ucap Aksa tegas.
Theo menoleh kesal ke Aksa, "hei bocah, berani benar kamu memerintah calon istriku?!"
"Cih! calon istri? bahkan Binar tidak pernah menyukaimu" ucap Aksa tidak kalah kesalnya.
"Kamu kelihatannya masih sangat muda. Justru Binar yang tidak serius ke kamu" ucap Theo dengan polosnya.
"Biar Binar yang mengatakannya sendiri! Binar tatap aku dan jelaskan!" ucap Aksa tegas sembari mengunci pintu ruangan meeting itu dan duduk di sebelah kirinya Binar tepat di depannya Theo Revano.
Untung ruangan ini kedap suara jadi nggak akan ada yang bisa mendengarkan percakapan kami. Batin Binar sembari mengangkat wajah cantiknya secara perlahan.
Binar menoleh ke Theo lalu beralih ke Aksa. Kedua cowok tampan itu menatap tajam ke Binar dengan wajah kaku mengeras karena, kesal dan terpercik api cemburu.
"Aku nggak mau mengucapkan kebohongan di depan kalian. Dia Theo Revano adalah cowok yang dijodohkan papaku, aku menyetujui perjodohan itu dan aku menjalani perjodohan hanya sampai Hendra Herlambang menikah dengan adiknya Theo setelah itu aku akan putuskan perjodohanku dengannya" ucap Binar ke Aksa.
Aksa hanya bisa menghela napas panjang menanggapi ucapannya Binar.
Theo yang nampak sangat kecewa. Pujaan hatinya ternyata sudah memiliki pacar dan laki-laki yang menjadi saingannya masih sangat muda, tampak cerdas, dan nampak begitu mandiri dan bertanggung jawab.
Sainganku berat ternyata. Cih! baru kali ini seorang Theo Revano tak berkutik soal cinta. Batin Theo kesal.
"Katakan sesuatu jangan diam saja!" ucap Binar ke Aksa.
Alih-alih menanggapi ucapannya Binar, Aksa bertanya ke Theo, "apa itu benar?"
Theo mengangguk lemah karena, terpaksa. Semua yang dikatakan Binar memang benar dan dia tidak bisa menyanggahnya di depan Binar. Theo benar-benar tidak berkutik saat itu.
"Walaupun kami menyetujui perjodohan kami hanya untuk sementara dan berencana untuk putus tiga bulan ke depan setelah Hendra menikahi adikku tapi, kami tetaplah harus nampak serius di depannya Hendra Herlambang, Aulia Revano adik perempuanku dan di depan papa kami. Agar supaya mereka semua tidak curiga kalau kami menyetujui perjodohan hanya untuk menyelamatkan Binar dari gangguannya Hendra" ucap Theo kemudian.
Aksa tidak menggubris pidato panjang lebarnya Theo. Aksa menoleh ke Binar, "kenapa tidak memakai status kita yang sah sebagai sepasang kekasih dan serius berpacaran untuk menghindari gangguannya Hendra? kenapa harus menyetujui perjodohanmu dengannya?"
"Kamu sudah tahu kalau aku menyetujui perjodohanku dengan Theo Revano dengan semua alasannya. Semua alasannya sudah aku utarakan ke kamu kemarin dan kamu bilang tidak masalah, kan?" ucap Binar lirih.
"Itu sebelum aku bertemu dengan serigala tua macam dia. Aku tidak bisa memercayainya. Dari matanya aku bisa lihat dia punya niat sama kamu" ucap Aksa sambil menunjuk ke Theo.
"Hei serigala muda! enak aja bilang aku serigala tua. Kalau aku memang punya niat atas Binar wajar aja kan, hubungan kami sudah direstui kedua orang tua kami sedangkan kamu, aku yakin papanya Binar belum tahu kalau kamu adalah pacarnya Binar, iya kan?" Theo tersenyum santai ke Aksa.
Aksa tanpa sadar mematahkan pensil yang dia pegang sambil melotot tajam ke Theo. Binar bergidik ngeri, baru pertama kali dia melihat Aksa dipenuhi amarah dan nampak begitu menakutkan.
"Putuskan perjodohan kalian sekarang juga dan pakai status kita untuk menghindari Hendra lalu kenalkan aku ke papa kamu!" Aksa menatap tajam ke Binar.
"Nggak bisa seperti itu" Theo mulai melancarkan protesnya.
"Diam kamu!" Aksa menoleh sekilas ke Theo lalu kembali menatap Binar.
Binar menatap Aksa dan lidahnya terasa Kelu. Binar benar-benar tidak bisa menyetujui permintaanya Aksa karena, Aksa jauh lebih muda dari dia. Apa kata Hendra dan kata papanya nanti jika dia kenalkan Aksa sebagai pacarnya. Segala ragu menari-nari di dalam benaknya Binar.
"Binar?" Aksa mempertegas nada suaranya dan membuat Binar tersentak.
"A...aku sepertinya masih perlu mengkaji ulang perihal hubungan dua insan yang memiliki perbedaan umur yang begitu jauh seperti kita, barulah aku bisa ambil keputusan soal hubungan kita. A....aku rasa belum saatnya untuk aku umumkan ke publik. Bu....bukankah kesepakatan kita kalau kita akan jalani masa magang selama tiga bulan dulu? kenapa ti...tiba-tiba kamu.........." Binar mencoba berucap di tengah kekeluan lidah dan keruwetan benaknya.
Aksa mengeraskan wajahnya lalu bangkit, membuka kunci pintu ruang meeting tersebut dengan kasar lalu pergi meninggalkan Binar dan Theo begitu saja.
Binar menatap punggungnya Aksa lalu dia mengacak-acak rambutnya karena, frustasi. Binar kemudian menoleh ke Theo, "apa yang harus aku lakukan?"
"Putuskan daun muda itu dan kita menikah hari ini juga" ucap Theo sambil meringis.
Binar berucap, "dasar gila!" lalu bangkit dan berlari menyusul Aksa.
Theo menghela napas panjang kemudian bangkit dan di saat dia sampai di penghujung pintu, langkahnya dihentikan oleh Lela.
"Kak Theo, nggak nyangka Lela bisa bertemu kembali dengan kakak. Apa Lela boleh mengajak kakak makan siang?" tanya Lela dengan senyuman yang penuh dengan harapan.
"Maaf aku harus cari jodoh untuk Bronzo" ucap Theo dengan santainya.
"Maksudnya?" Lela langsung mengerutkan keningnya.
"Bronzo butuh pacar kayaknya dan aku akan beli anjing betina untuk aku jodohkan sama Bronzo, permisi" Theo kemudian melangkah pergi begitu saja meninggalkan Lela yang masih belum bisa mencerna dengan baik ucapannya Theo.
"Dia masih sama seperti dulu, tampan bahkan semakin tampan dan humoris. Mana ada cari jodoh untuk Bronzo, hmm, dasar kak Theo ada-ada aja, heeee" gumam Lela sembari melangkah kembali menuju ke ruangannya.
Aksa kembali ke kursinya dan menghenyakkan diri di kursi itu dengan kesal. Tidak begitu lama, Binar menghampirinya, "masuk ke ruanganku! sekarang!" Binar kemudian berjalan mendahului Aksa.
Semua pasang mata memandang ke arah Aksa yang bangkit dan langsung mengikuti langkahnya Binar.
"Boy, ada apa? sepertinya bos kita marah besar sama Aksa" tanya Ratna ke Boy.
"Nggak tahu" sahut Boy tanpa menoleh ke Ratna karena, pandangannya tertuju ke arah langkahnya Theo.
Shit! kenapa kak Theo muncul lagi di depannya Lela. Hancur sudah harapanku untuk mendapatkan Lela. Batin Boy kesal.