My Pretty Boss

My Pretty Boss
Kecurigaan Aksa



Keesokan harinya keluarga kecilnya Theo pergi ke hotel untuk family time. Theo semalam sebelum sang mentari tersenyum memberikan semangat dan kehangatan di hatinya, Theo menelepon asisten pribadinya dan menyerahkan segala urusan bisnisnya ke Andik karena, untuk waktu yang tidak bisa ditentukan ia akan rehat dari kesibukannya selama ini dan mengatakan kondisi kesehatannya yang sebenar-benarnya ke Andik. Andik segera berucap, "serahkan semuanya ke saya, Bos. Anda fokus dulu saja ke proses penyembuhan anda dan saya doakan operasinya lancar, saya juga mendoakan semoga efek sampingnya tidak berat dan anda cepat pulih, Bos"


"Amin" sahut Theo semalam.


"Kapan Bos akan menjalani operasi?"


"Tiga hari lagi"


"Semangat Bos, Andik akan terus mendoakan keselamatannya Bos mulai dari sekarang dan Andik akan menemani Bos saat Bos dioperasi nanti" ketulusan terdengar di nada bicaranya Andik.


"Makasih yan Ndik. Emm, sama besok tolong kamu ke Diamond Hotel, ada surat penting untuk Aksa dan jangan sampai Binar tahu" kata Theo.


"Aksa? siapa Aksa, Bos?" tanya Andik.


"Aksa mantannya Binar. Selama ini aku mengikuti kegiatan dan kehidupannya Aksa secara diam-diam tanpa sepengetahuannya Aksa dan Binar. Tolong besok kamu ke hotel tempat aku menginap dan ambil surat yang aku tulis ini, untuk Aksa"


"Tapi di mana Aksa tinggal?" tanya Andik.


"Di rumahnya Binar. Rumah Binar telah dibeli oleh Aksa" jawab Theo.


"Hah? dan nyonya nggak tahu soal ini?" tanya Andik.


"Binar nggak tahu dan jangan kasih tahu ke Binar. Biarlah sang waktu yang akan mempertemukan mereka dan untuk sekarang ini biarlah berjalan seusai dengan yang Aksa inginkan" kata Theo.


"Aksa inginkan?" gumam Andik.


"Aksa nggak ada niat menampakkan diri di depanku dan Binar dan ia masih ingin bersembunyi dari Binar. Aku hargai keputusannya itu. Mungkin ia belum mempunyai cukup keberanian untuk muncul di depannya Binar dan biarlah seperti itu dulu, biarlah semua mengalir apa adanya" kata Theo.


"Baiklah, Bos. Besok sepulang dari kantor, saya akan ke Diamond Hotel untuk mengambil suratnya" sahut Andik dan Klik Theo memutuskan sambungan telepon itu sambil memegang erat surat yang ia tulis untuk Aksa. "Semoga kau memahami maksud yang tertera di suratku ini, Sa" gumam Theo kemudian.


Binar memekik riang saat ia membuka pintu kamar hotel yang sudah Theo sewa untuk keluarga kecilnya. Binar menoleh ke Theo sambil melepas Aries ke lantai kamar itu, "bagus banget Mas, kamarnya. Dikelilingi kolam renang pribadi dan ada taman bunganya juga"


Theo mendekap Binar dari arah belakang, mencium bagian belakang kepalanya Binar dengan sangat mendalam lalu bergumam di sana, "aku mencintaimu"


Mada segera memakai kostum berenangnya lalu menarik tangan ayahnya untuk ia ajak berenang.


Binar masih terpana dan terus berucap, "Mas, kamar ini besar banget, mewah dan indah banget" Binar mengikuti langkahnya Theo dan Mada sambil menggendong Aries lalu ia duduk di tepi kolam renang. Ia mengikuti langkahnya Aries yang baru saja bisa berjalan. Dengan langkah gontai dan sesekali terjatuh, Aries berjalan menuju ke kolam renang.


Theo tersenyum lebar ke Aries dan Binar dari dalam kolam renang dan bertanya, "kamu suka?"


"Suka banget" sahut Binar dengan kedipan sinar keceriaan di kedua bola mata indahnya.


"Ya ya ya ya" sahut Aries.


Mada berenang menyusul ayahnya dan berhenti di tepi kolam renang, di sebelah ayahnya dan berucap, "Mada juga suka banget"


Theo langsung mencium pucuk kepalanya Mada dan berucap, "ayah bahagia banget saat ini melihat senyum merekah di wajah bunda kamu dan kamu, dan juga di wajah mungilnya adek kamu, Arie. Tuh lihat, adek kamu melangkah kemari, hahahaha, lucunya"


"Sini dek, berenang sama kakak" jerit Mada dan langsung disambut pekik kegirangannya Aries.


Theo tertawa lepas saking bahagianya melihat istri dan anak-anaknya tersenyum bahagia.


"Ta ta ta ta" sahut Aries sambil terus berjalan pelan-pelan menuju ke kolam renang, Binar segera mengejar Aries lalu merengkuh Aries ke dalam dekapannya, "no! kamu belum bisa berenang sayang"


Aries mulai merengek dan meronta-ronta di dalam pelukannya Binar.


Theo tertawa lepas lalu dengan segera ia mengangkat kedua tangannya ke udara, "Aries juga mau masuk ke air? sini sama Ayah, Ayah peluk sini!"


Aries menganggukkan kepalanya dan semakin kuat ia meronta di dalam dekapannya Binar dan memekik, "ya ya ya!" Binar nampak khawatir, "tapi Mas, Aries belum bisa berenang dan aku lupa nggak bawa pelampung lengannya"


"Nggak apa-apa, aku akan jaga dia, sini sayang sama ayah" Theo merentangkan kedua lengannya dan Binar segera menaruh Aries ke dalam pelukannya Theo karena, Aries mulai merosot turun saat Binar melonggarkan dekapannya dan melompat ke dalam pelukan ayah tampannya.


Theo lalu menggendong Aries di atas lehernya dan ia berjalan pelan di dalam kolam renang, sesekali ia berjongkok sampai tubuh Aries terendam air dan Aries langsung memekik senang. Mada berenang mendekati ayah dan adik lali-lakinya sambil melempar air ke Aries Aries semakin keras memekik di dalam kegirangannya. Aries sangat menikmati bermain air bersama dengan ayah dan kakak laki-lakinya. Binar ikutan tertawa lepas dan ia pun langsung meluncur masuk ke dalam kolam renang untuk bergabung bersama suami dan kedua putranya.


Aksa rencananya akan menemui Boy dan meminta tolong Boy soal rencana renovasi rumah yang baru ia beli namun, justru ia mendapatkan kabar dari Boy dan Monica kalau Binar mengambil cuti dan menginap di Diamond Hotel kamar VVIP. Aksa akhirnya memutuskan untuk menggambar sendiri desain untuk merenovasi rumah yang barus aja ia beli yang rencananya akan ia jadikan rumah produksi karya-karyanya dan galeri.


Setelah selesai menggambar ia lalu memutuskan untuk menemui arsitek teman kuliahnya dulu sambil menunggu kedatangan kakek dan neneknya yang tengah dijemput oleh mama Dara dan Embun kemarin lusa.


Aksa semula nampak ragu karena, Binar sekeluarga ada di sana tapi, profesionalitasnya sebagai pebisnis membuat semua urusan pribadinya terkait dengan Binar ia tepiskan.


Namun, ketidaksiapannya untuk bertemu dengan Binar membuat Aksa tetap memutuskan untuk memakai masker demi untuk menutupi wajah tampannya dan ia berkata ke si pemilik taman bermain kalau ia sedang flu.


"Silakan duduk pak Aksa Putra Julian Anda masih sangat muda ya ternyata. Saya Broto Darmojo"


Aksa tersenyum dan duduk, "kita langsung saja ke pokok pembicaraan kita karena bagi saya waktu itu seperti napas hidup jika kita telat maka kita akan tamat. Maksud saya menemui anda karena, saya ingin anda menggarap taman mini di galeri saya nanti, emm, letaknya di jalan Delima 2 Kampung Pare"


"Anda to the point ya, saya suka. Saya juga bukan orang yang suka basa-basi. Oke saya akan menggarap taman bermain mini untuk anda dan berapa budgetnya lalu wahana permainan apa saja yang anda mau?"


"Standar aja untuk taman bermain mini, saya ngikut tapi saya minta ada ayunan dan kolam berenang kecil nanti. Untuk budget saya ikut, berapa yang anda minta saya akan bayar asalkan rinciannya masuk akal" sahut Aksa.


"Hahahaha saya suka gaya anda pak Aksa, oke nanti saya akan hitungkan budgetnya dan akan saya kirim via pesan text ke anda"


"Dan saya juga ingin anda membuat taman bermain mini juga di Panti Asuhan Harapan" Aksa lalu menuliskan alamat panti asuhan itu di kertas kecil yang ada di atas meja lalu menyerahkan kertas itu ke apk Broto, "ini alamatnya. Budgetnya pun saya ngikut"


"Baiklah" Pak Broto memasukkan kertas kecil itu ke dalam saku jasnya lalu berdiri, diikuti oleh Aksa. Mereka kemudian saling berjabat tangan dan pak Broto pun pamit.


Aksa terhenyak di kursi, ia membuka maskernya untuk menyesap kopinya lalu mengedarkan pandangan di sekeliling Coffee Shop yang ada di pojok kanan Diamond Hotel, lalu ia bergumam, "di kamar mana Binar menginap ya? kenapa aku ingin sekali bertemu dengan Binar dan Mada? dan jiwaku terasa begitu haus akan Binar dan Mada, bagai anak sungai kering yang menanti datangnya hujan di musim kemarau"


Aku berkata pada atma-ku, kau beruntung di dekap asa, jadi teruslah melangkah, dan jangan menjadi serakah. Kata Aksa pada dirinya sendiri.


Lalu Aksa berdiri dan melangkah pergi dari Diamond Hotel untuk meneruskan urusan bisnisnya. Di hari itu Aksa berencana mewawancarai beberapa orang yang sudah mendaftar untuk menjadi karyawannya.


Bertepatan dengan langkah Aksa menuju ke lobi, ia bertabrakan dengan bocah kecil yang sangat ia rindukan.


"Mada!" Aksa segera menggendong Mada lalu menciumi wajah tampannya Mada dan mengajak Mada duduk di sofa yang melingkar di sudut lobi Diamond Hotel.


Mada lalu merosot turun dari pangkuannya Aksa dan duduk di sebelahnya Aksa dengan masih memasang wajah kaget dan herannya dan wajah polosnya Mada tertangkap lucu di kedua bola mata lentiknya Aksa, Aksa sampai tidak kuasa menahan tawa geli-nya, "kamu lucu kalau melongo kayak gitu" Aksa lalu melepas maskernya.


"Kok Om di sini?" tanya Mada.


"Kok kamu sendiri lagi?" Aksa melempar senyum ke Mada.


"Mada turun sebentar ke parkiran mobil untuk mengambilkan tas yang berisi bedak, minyak kayu putih untuk adek, nih" Mada menunjukkan tas kecil yang masih ia tenteng dengan manisnya di tangan kanannya.


Aksa tersenyum sambil mengusap puncak kepalanya Mada ia berucap, "kamu benar-benar mandiri dan cerdas, ya"


Seorang pegawai hotel mendekati Aksa dan Mada, "maaf pak, apa anda dan putra anda, memesan taksi online? ada taksi online di depan dipesan atas nama pak Bima, anda pak Bima?"


Aksa menggelengkan kepalanya dan berkata, "bukan saya bukan Bima"


"Oh! maafkan saya kalau begitu" pegawai hotel itu pergi meninggalkan Aksa dan Mada.


Aksa tertegun menatap Mada dan ia berpikir di dalam benaknya, apa Mada benar-benar mirip denganku? udah dua orang yang mengira kalau aku dan Mada adalah bapak dan anak?


Mada melambaikan tangan di depan wajah tampannya Aksa lalu berkata, "maaf Om, Mada naik dulu, Bunda pasti udah nungguin Mada" Mada hendak beranjak dan Aksa menahan tangan mungilnya Mada ia merasa belum puas menatap Mada.


"Maaf Pak, putra anda menjatuhkan permen cokelatnya di sana" ucap salah satu pegawai hotel yang lain lagi.


Mendengar kata putra anda, benak Aksa kembali terusik. Ia menyerahkan permen cokelatnya Mada ke Mada dan terus mengamati wajah mungilnya Mada yang tengah menatapnya dengan penuh tanda tanya.


Aksa yang sangat cerdas dan selalu berpikiran cepat segera berucap di dalam benaknya dan seluruh akal budinya menjadi terjaga penuh dengan kesadaran, "What?! jangan-jangan? Mada............"


"Emm, Mada maaf, boleh Om ambil sehelai atau dua helai rambut kamu?" tanya Aksa.


"Boleh" sahut Mada polos.


"Maaf tapi agak sakit ya" ucap Aksa.


"Nggak papa, Om. Tapi buruan ya, Mada takut Bunda khawatir menunggu Mada.


Aksa tersenyum dan dengan pelan ia mencabut dua helai lalu membungkus rambut itu dengan sapu tangannya dan ia masukkan sapu tangan itu ke dalam saku celananya lalu berkata, "terima kasih, sekarang ayok Om antar ke kamar kamu"


Mada menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ia segera berdiri dan menggandeng tangannya Aksa.