
Theo kembali masuk ke dalam kamarnya dan netranya menangkap ada kotak teronggok manis di bawah ranjang kabinnya. Theo tersenyum geli dia kemudian membungkuk dan mengambil kotak cokelat itu lalu menaruhnya di atas nakas sambil menatap kotak cokelat itu dia bergumam, "kamu iri melihat kemesraanku dan istriku tadi ya, maka kau memilih turun dan bersembunyi di bawah ranjang, hehehehehe"
Theo lalu memandangi wajahnya Binar, "dengan segala kelemahanmu, kau sempurna di mataku dan aku sangat mencintaimu"
Theo lalu masuk ke dalam selimut dan dia mengelus perutnya Binar dengan penuh kasih sayang. Laki-laki tampan dan gagah itu lalu berkata ke perutnya Binar yang sudah mulai membuncit kecil, "Nak, maafkan papa ya?! tadi papa menganggu waktu tidur kamu, hehehehe, maafkan papa kalau papa mengguncangmu dengan liar tadi" Theo menyusupkan wajahnya ke dalam selimut untuk mencium perutnya Binar dan dia berbisik di sana, "papa mencintaimu, Nak. Papa harap kamu juga mencintai papa" Theo mencium sekali lagi perutnya Binar lalu dia tegakkan kembali kepalanya.
Theo kembali berdiri dan melangkah keluar dari dalam kamarnya. Theo dilanda kelaparan tingkat Dewa. Theo sampai di dapur dan dia melipat tangan saat dia melihat bahan-bahan yang ada di dalam lemari es dua pintu yang tinggi menjulang dan tertanam di dalam tembok ruang dapurnya.
"Emm, telur, cabai rawit, cabai keriting, bawang putih, bawang merah, dan daging ayam ya. Aku masak nasi goreng aja kalau gitu" Theo lalu mengambil bahan yang dia butuhkan untuk memasak nasi goreng kesukaannya yaitu, nasi goreng pucat tanpa kecap karena, Theo tidak begitu menyukai rasa manis di dalam suatu masakan. Theo lebih menyukai rasa masakan yang asam, pedas, dan gurih.
Theo memilih tidak menguleg atau memblender bumbu nasi gorengnya. Dia memilih mengiris semua bumbu lalu dia masukkan ke dalam penggorengan. Dia kecilkan apinya lalu dia mengambil nasi di dalam rice cooker dan dia terlonjak kaget saat dia melihat wajahnya Miko meringis di dalam temaramnya lampu ruangan dapur itu.
"Kamu ngapain di situ? ngagetin aja" Theo berkata sambil menaruh nasi putih ke dalam mangkok besar.
"Bos, Miko juga mau nasi gorengnya" kata Miko sambil meringis.
"Oke! aku ambil agak banyak lagi nasinya kalau gitu"
"Aku juga mau"
Theo dan Miko menoleh secara bersamaan ke sumber suara itu. Seketika itu pula Theo dan Miko bersitatap lalu menoleh kembali ke si pemilik suara yang tengah meringis ke mereka berdua.
"Lho, kok bangun?" tanya Theo sambil menghampiri Binar lalu mengelus pipinya Binar singkat dan dia segera melangkah kembali menuju ke kompor untuk menaruh nasi yang dia bawa ke dalam penggorengan.
Binar menjawab, "aku lapar mas, hehehehe"
"Belum tidur, Bos? kencannya lancar kan?" tanya Miko sambil mengedipkan matanya.
Binar membentuk huruf O dengan tangannya lalu dia lemparkan ke Miko dengan senyum lebar.
"Kamu nggak mau makan steaknya? mau aku panaskan di microwave?" tanya Theo dari arah dapur.
"Enggak. Aku pengen nasi goreng kamu aja" sahut Binar.
"Aku juga mau, Bos" sahut Miko sambil menata tiga piring di atas meja makan.
"Siaappp! tapi nasi goreng ini nggak pakai kecap lho. Ini sesuai dengan seleraku kalau nggak cocok sama lidah kalian nggak apa-apa, kan?" tanya Theo sambil membawa penggorengan ke meja makan dan dia mulai membagi nasi goreng hasil karyanya ke ketiga piring yang sudah tertata apik di atas meja makan.
Theo berputar badan dan segera menaruh penggorengan itu ke dalam wastafel.
Binar dan Miko mencicipi nasi goreng dari piring mereka masing-masing dan mata mereka membulat sempurna saat mulut dan lidah mereka seirama bergoyang manis merasakan kesempurnaan cita rasa dari nasi goreng buah karyanya Theo.
Theo tersenyum sambil duduk di sebelahnya Binar dia bertanya, "gimana, enak nggak?"
Miko dan Binar menganggukkan kepala mereka secara bersamaan dan berkata, "hmm, Numero Uno"
Theo menyendok nasi gorengnya dan tersenyum puas lalu berkata, "hmm, lumayan lah"
Binar menoleh ke Theo, "ini nggak lumayan lagi, Mas. Ini enak banget dan.........."
"Iya bener enak banget" sahut Miko sambil memakan nasi gorengnya dengan sangat lahap.
Theo melempar tawanya ke Miko lalu dia menoleh ke Binar, "dan........."
"Dan......emm, boleh nggak kamu masak nasi goreng kayak gini, pagi dan sore hari untuk aku, hehehehe"
Theo tertawa senang lalu dia usap kepalanya Binar dan berkata, "boleh dong. Mulai besok aku akan masak nasi goreng kayak gini sampai kamu bosan, hahahaha"
"Miko juga bisa masak nasi goreng kayak gini, Bos. Kok nggak minta Miko saja yang memasaknya"
Binar segera memekik ke Miko, "nggak mau!"
Miko langsung tersedak dan menenggak air putih lalu merengut ke Binar, "nggak usah ngeluarin pekik kemerdekaan gitu dong Bos, ai kaget nih"
Theo tertawa geli melihat Miko lalu dia mengusap rambutnya Binar, "iya sayang, iya, aku akan masak nasi goreng kayak gini tiap hari hanya untukmu. Aku senang akhirnya kamu bisa makan nasi lagi"
Binar tersenyum penuh cinta ke Theo lalu meneruskan melahap nasi goreng di piringnya.
"Lalu nasib steaknya gimana dong?" sahut Miko.
"Kasih ke Bronzo dan Snowy aja" sahut Binar dengan santainya.
Miko manggut-manggut sambil meneruskan makanannya.
Aksa duduk di meja makan dan memandang ke sosok asing yang sudah duduk di depannya.
"Halo Sa" sapa Darren dan Monica secara bersamaan.
"Hai!" sahut Aksa singkat, "dan maaf kek, saya sudah dua puluh tahun, saya lebih tua tiga tahun dari Monica"
"Oh! berarti kamu ini awet muda, kakek kira kamu masih tujuh belas tahun, hahahaha"
"Aku senang akhirnya bisa memiliki kakak laki-laki" Monica melempar senyum ke Aksa namun, Aksa mengabaikannya.
Selang satu jam kemudian, Aksa duduk di teras belakang rumah sambil membawa buku pelajarannya. Dia melihat Darren tengah berbicara dengan seseorang di dalam telepon genggamnya. Sayup-sayup Aksa mendengar kata Adelard Design and Illustration from Indonesia.
Aksa segera memasang kuping untuk mempertajam pendengarannya agar bisa menangkap kata-katanya Darren karena, Aksa yakin kalau Adelard Design and Illustration yang disebutkan oleh Darren Barnett adalah perusahaan miliknya Binar Adelard.
"I love that woman so much and I will use that way to make her, mine. Her name is Binar Adelard. Just wait and see!" kata Darren.
Deg.....Jantung Aksa berdetak dengan kencang mendengar nama Binar disebut oleh Darren Barnett. "apa maksud ucapannya itu?" gumam Aksa.
Setelah menutup sambungan telepon dari telepon genggamnya, Darren memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya sambil berputar badan. Seketika itu pula dia bersitatap dengan kedua netranya Aksa.
Darren tersenyum lalu melangkah untuk duduk di sebelahnya Aksa dan melihat buku yang dipegang oleh Aksa, "kau menyukai desain juga? kau mau bantu-bantu di perusahaanku?" tanya Darren.
"Di mana? di sini?" tanya Aksa dengan wajah kaku karena, dia mulai bisa merasakan kalau Darren bukanlah pribadi yang baik dan tulus seperti kakek Felix.
"Perusahaanku ada di Indonesia. Yang di sini justru cabangnya, heeeeee" sahut Darren. "Gimana mau bantu-bantu di perusahaanku nggak? kata kakek kamu ini anak yang cerdas dan berbakat dan di saat ini aku membutuhkan bakat dan kecerdasanmu itu"
"Aku masih ingin fokus kuliah" sahut Aksa tanpa menoleh ke Darren.
"Oh! sayang sekali aku berniat memberikan gaji yang lumayan besar untukmu. Asal kau tahu, perusahaanku mulai berkembang dengan pesat lho karena, pesaing terhebatku Adelard Design and Illustration kehilangan fokus dan terlena dengan pencapaiannya selama ini. Binar si pemilik perusahaan itu menjadi ceroboh dan dengan mudahnya aku mengambil alih satu per satu kliennya"
Tanpa Darren ketahui, Aksa mengepalkan tinju di tangan kirinya.
Aksa menghela napas kemudian menoleh ke Darren, "pesaing terhebat?"
"Iya. Apa kau tahu, Binar itu wanita yang sangat cantik, cerdas, dan gigih. Perusahaanku berkali-kali kalah tender dengan perusahaannya Binar itu makanya aku sebut dia sebagai pesaing terhebat ku" Darren mengulas senyum palsu ke Aksa. Senyum palsu itu sudah melekat di pribadinya Darren karena, dia memang tidak pernah tulus terhadap siapapun.
Aku tahu Binar dengan sangat baik lebih daripada kamu. Dan berani benar kau katakan Binar cantik di depanku, dasar brengsek! Batin Aksa kesal.
"Lalu?" Aksa mencoba bersikap stabil untuk mengorek informasi lebih dalam dari Darren karena, Aksa ingin mengetahui maksud tersembunyinya Darren atas Binar.
"Hahahahaha, ya lalu, aku mulai merebut satu per satu klien tetapnya di saat dia mulai melemah fokusnya"
"Kata kamu dia itu cerdas dan gigih. Kok bisa melemah fokusnya?" tanya Aksa.
"Entahlah. Sejak dia menikah, dia menjadi lengah dan tumpul dalam berkarya. Emm, itu mungkin karena, dia terlalu bahagia dengan pernikahannya, biasa pengantin baru, jadi......."
"Cukup!" tanpa sadar Aksa memekik kesal.
"Kau kenapa?" Darren melengkungkan alisnya ke Aksa.
"Aaahh, maaf! aku bilang ke diriku sendiri tadi. Cukup! karena, aku mulai sedikit kewalahan dengan tugas kampus jadi tanpa sadar aku bilang cukup, tadi, heeeee" sahut Aksa asal sambil tersenyum lebar untuk menutupi kecemburuannya atas kebahagiaan Binar.
"Oh! kau harus santai kalau belajar, jika harus cukup ya cukup aja untuk hari ini, heeeee" sahut Darren.
"Aku tertarik dengan sosok Binar tadi, apa kamu dan Binar........."
"Aku mencintai Binar dari sejak lama. Kami teman satu kampus dulu. Berkali-kali aku nyatakan cintaku namun, berkali-kali pula Binar menolakku"
Sukurin Lo! umpat Aksa kesal di dalam hatinya.
"Lalu?" tanya Aksa sambil kembali menatap buku yang sedari tadi berada di dalam genggaman tangan kanannya.
"Iya aku ingin memilikinya dengan berbagai cara dan aku harus berhasil memilikinya"
Aksa kembali mengenalkan tinju di tangan kirinya dan berucap dengan acuh tak acuh, "katamu dia udah menikah"
"Aku tidak peduli. Aku mencintainya dan aku harus memilikinya dengan cara apapun, hanya itu yang aku tahu dan yang aku mau, heeeee"
Aksa mulai merapatkan gerahamnya lalu dia mencoba bertanya dengan santai, "lalu cara apa yang akan kamu pakai?"
"Akan kubuat perusahaannya bangkrut secara perlahan biar terasa menyesakkan bagi Binar lalu, aku akan membuatnya memohon dan bertekuk lutut padaku. Nah! di saat itulah aku akan membuatnya menikahiku"
Dasar licik dan picik. Aku nggak akan biarkan hal itu terjadi. Batin Aksa.