My Pretty Boss

My Pretty Boss
Aksa bertemu Mada



Keesokan harinya, Aksa yang terbiasa joging pagi selama di Amerika, memutuskan untuk joging dengan memakai topi dan masker karena, jika ia joging di sekitar perumahan dan menuju ke taman yang ada di kompleks perumahan mewah itu, ia akan melewati rumahnya Theo.


Laki-laki tampan putranya Kenzo Julian itu melakukan peregangan di taman dan ia terusik akan sosok anak laki-laki tampan yang tengah berlarian di taman itu dengan anjingnya. Anjing yang dibawa anak laki-laki itu mengingatkan Aksa akan Bronzo, anjingnya Binar dulu tapi, anjing yang tengah bermain dengan anak laki-laki tampan itu lebih kecil dari Bronzo.


Aksa terus mengamati anak laki-laki itu dan entah kenapa, hatinya terasa hangat dan nyaman saat ia mengawasi tingkah polos anak laki-laki itu.


Anak laki-laki itu menyadari kalau ada seorang laki-laki muda bertopi yang terus memperhatikannya, jadi ia pun melangkah mendekati pemuda itu, "om, kenal sama saya?" tanya anak laki-laki itu.


Aksa segera memakai maskernya lalu berjongkok, "om nggak kenal sama kamu. Boleh om kenalan, siapa nama kamu?"


"Mada Tobias Revano" sahut anak laki-laki itu sambil tersenyum.


Putranya Theo dan Binar ternyata. Batin Aksa.


"Nama yang sangat bagus. Nama om, Aksa"


"Aksa siapa, Om?" tanya Mada.


"Aksa saja, hehehehe. Kamu sendirian aja? dan nggak bersiap-siap pergi ke sekolah?"


"Mada masuk siang jadi Mada bisa bawa Goldy joging dulu. Mada sendirian karena, rumah Mada dekat kok jadi bunda memperbolehkan Mada joging hanya ditemani Goldy. Tuh rumah Mada" Mada menunjuk rumahnya


Aksa mengikuti arah jari telunjuknya Mada dan ia berpura-pura kaget, "oh! itu rumah kamu, bagus juga, ya"


"Rumah Om yang mana? Mada belum pernah lihat Om, Om orang baru ya di perumahan ini? apa Om yang beli rumah bunda?"


Cerdas juga anak ini. Batin Aksa.


"Emm, yang beli rumah bunda kamu, saudaranya Om dan Om hanya menginap beberapa hari di sana"


"Oh!"


Tiba-tiba ada suara wanita berteriak, "Mada, ayok pulang! sarapan dulu!"


Aksa menoleh ke asal suara dan Deg! jantungnya berdegup kencang melihat sosok wanita yang selama ini sangat ia rindukan. Binar Adelard berdiri di pinggir taman dan melambaikan tangannya ke Mada.


Dia masih sangat menawan bahkan terlihat semakin cantik. Batin Aksa.


Mada kemudian bergegas pamit ke Aksa lalu menarik Goldy dan berlari menuju ke bundanya. Dan dalam sekejap Binar Adelard telah lenyap dari pandangannya Aksa.


Aksa membeku dan terus menatap rumahnya Binar, "andai aku memiliki keberanian menyapa kamu, Bin" dan setelah kekaguman berbalut kerinduannya telah mencair, Aksa segera berlari kecil untuk pulang ke rumahnya.


Setelah mandi, Aksa menaruh catatan kecil di meja makan kalau ia pergi ke rumah papanya dan meletakkan kunci mobil yang satu lagi di atas catatan itu untuk Monica.


Aksa sudah menganggap Monica seperti adik kandungnya sendiri jadi tanpa sepengetahuannya Monica, Aksa membelikan sebuah mobil untuk Monica.


Monica mengambil kunci mobil itu lalu membaca catatan kecil yang ditulis oleh Aksa, aku ke rumah papaku. Selamat bekerja dengan mobil baru kamu. Aku beli khusus untukmu, tipe-nya pun kesukaanmu.


Monica melempar kunci mobil itu ke atas lalu menangkapnya lagi sambi tertawa lebar lalu ia bergumam, "dasar Aksa gila dan aku sangat mencintainya" Monica menyantap sarapannya sambil terus mengulas senyum mendapatkan perhatian dari Aksa yang begitu spesial baginya.


Mada mandi lalu sarapan bersama di meja makan. Mada yang pendiam dan tidak terlalu suka membuka percakapan jika tidak ditanya, tidak menceritakan pertemuannya dengan seorang pemuda yang bernama Aksa sewaktu ia joging dengan anjing kesayangannya di taman tadi.


Theo mengantarkan Mada ke sekolah seperti hari-hari biasanya karena, jam kerja dia lebih santai daripada jam kerjanya Binar dan sesampainya di sekolahannya Mada, kepala sekolah memanggil Theo untuk masuk ke ruangannya.


"Maaf Pak apa bapak sibuk hari ini?" tanya bapak kepala sekolah yang bernama pak Sentot.


"Tidak Pak. Emm, ada perlu apa bapak memanggil saya kemari?"


"Ini berkaitan dengan Mada. Saya sangat berterima kasih, selama Mada bersekolah di sini, Mada udah banyak berkontribusi membawa nama baik sekolahan ini dengan terus menjadi juara di bidang seni lukis dan science. Putra bapak memiliki kecerdasan di atas rata-rata, melebihi teman-teman sebayanya" kata pak Sentot.


"Emm, sepertinya kami menjadi sadar diri. Kami merasa sudah tidak pantas lagi untuk mendidik putra bapak karena, kecerdasan Mada sungguh luar biasa. Bahkan Mada sudah pantas untuk duduk di bangku kelas lima Sekolah dasar saat ini. Mada bisa menyelesaikan soal matematika dan bahasa Inggris untuk anak kelas lima SD dengan baik dan benar tanpa kesulitan sama sekali"


"Hah? kenapa bapak kasih soal anak kelas lima SD ke anak saya?" Theo sedikit terusik emosinya.


"Itu tidak sengaja Pak. Kemarin kan ada tes kenaikan kelas dan saya kasih Mada soal standar masuk SD, membaca ia sudah sangat jago dan lancar, bahkan ia fasih berbahasa Inggris, dan dalam hal berhitung ia jago banget sampai tidak saya sadari, saya kasih ke Mada soal untuk anak kelas lima SD dan Mada berhasil menyelesaikan soal itu dalam waktu yang cukup singkat dengan baik dan benar"


"Lalu maksud anda?" tanya Theo.


"Saran saya, Mada disekolahkan ke sekolahan khusus saja atau homeschooling dengan mendatangkan guru yang kompeten untuk Mada karena, kalau Mada masuk ke kelas reguler, sayang banget untuk kecerdasannya. Kecerdasannya Mada akan terkungkung dan tidak bisa bebas berkembang. Lagipula di negeri ini, kalau anak lanjut ke level kelas yang lebih tinggi namun, dipandang belum cukup umur maka akan ditolak dan dikembalikan lagi di level yang sesuai dengan umunya, saya kok merasa itu nggak adil bagi Mada" ucap pak Sentot panjang lebar.


"Begitu ya?"


"Dan untuk bakat melukisnya Mada yang juga di atas rata-rata, saya sarankan anda masukkan Aksa ke galeri biar lebih terasah lagi bakatnya" ucap pak Sentot.


"Terima kasih banyak untuk sarannya Pak. Saya akan berdiskusi dengan istri saya dulu. Kalau sudah tidak ada lagi yang ingin bapak sampaikan, saya permisi" ucap Theo sambil berdiri.


Pak Sentot ikutan berdiri dan menyalami Theo.


Beberapa menit kemudian, Theo masuk ke dalam mobil dan menelepon Binar, "sayang, aku ke kantormu dulu ada yang ingin aku bicarakan, apa kamu repot?"


"Aku repot banget hari ini nanti sore aja ya sayang, nggak mendesak kan?"


"Baiklah, nanti sore aja, aku akan ajak kamu makan di luar"


"Lalu anak-anak?" sahut Binar.


"Aku akan minta tolong Miko dan Dita untuk menjaga anak-anak. Sebentar aja kok lagian udah lama kita nggak makan di luar berdua aja"


"Baiklah" sahut Binar.


Klik, Theo menutup sambungan teleponnya dengan Binar dan tes, tes, tes, ada darah menetes dari dalam lubang hidungnya Theo. Theo mengambil tissue dari kotak tissue yang menempel di atas dashboard mobilnya lalu menggulung tissue itu, memasukkannya ke dalam lubang hidungnya dan ia kemudian menengadahkan wajahnya ke atas.


Setelah ia rasa cukup dan tidak ada darah lagi yang menetes dari dalam lubang hidungnya, Theo segera memasang sabuk pengamannya dan meluncur ke kantornya.


Aku kecapekkan mungkin, jadi keluar darah dari dalam hidungku. Aku akan mulai mengurangi kegiatanku di luar rumah demi kesehatanku, demi Binar, dan anak-anak juga. Tekad Theo di dalam hatinya.


Aksa dipeluk erat oleh keluarganya. Embun bahkan memekik girang dan melompat masuk ke dalam gendongannya Aksa,. Embun mencium kedua pipi kakak laki-laki yang sangat ia rindukan itu sambil terus berucap, "aku merindukanmu, Kak!"


Aksa dan Kenzo meluangkan waktu berbicara empat mata di ruang kerjanya Kenzo selama dua jam lebih dan di saat kedua laki-laki tampan bermarga Julian itu keluar, wajah mereka berdua tampak sumringah dan senyum mereka berdua lepas tanpa beban.


Setelah makan siang, Aksa pamit pulang. Aksa hendak mencari sebuah rumah yang cukup besar yang akan ia pakai untuk tempat produksi karya-karya dia juga sekaligus tempat untuk galeri hasil karya-karyanya.


Aksa sampai di sebuah rumah tua tipe klasik letak rumah itu sesuai dengan alamat yang Boy berikan kepadanya. Sangat besar, berada di tempat strategis untuk memulai bisnis baru dan halamannya pun luas, cocok dengan seleranya Aksa.


Aksa berhasil menemui pemilik rumah itu dan berhasil mencapai kesepakatan harga. Di hari itu juga Aksa mengajak si pemilik rumah ke sebuah bank swasta dan menghubungi seorang notaris kenalan papanya untuk menyelesaikan semuanya dan akhirnya dalam hitungan jam, rumah itu jatuh ke tangan Aksa.


Aksa berkacak pinggang di saat ia berdiri di tengah ruangan rumah itu. "Aku butuh jasa Binar untuk merenovasi rumah ini tapi, bagaimana caranya aku menemui Binar? aku nggak enak kalau minta tolong terus sama Monica. Emm, apa aku minta tolong ke Boy aja ya? biar Boy yang ngomong ke Binar kalau, saudaranya yang punya rumah ini dan biar Boy yang berhubungan dengan Binar"


Monica duduk di ruangan yang cukup besar yang disediakan. Binar untuknya lalu Binar berkata, "anda jurusan ekonomi bisnis ternyata,. Kenapa anda tidak ambil seni dan desain sesuai dengan bakat anda?"


"Saya nggak suka desain" jawab Monica dengan cepat dan Monica segera meralat ucapannya saat ia melihat sorot mata Binar menatapnya dengan heran, "oh! itu, emm, maksud saya, saya ingin merasakan kuliah yang tidak sesuai bakat saya dalam desain, hehehehehe, itu, anu, hehehehehe, untuk mengembangkan diri saya"


Binar tersenyum lebar dan berkata, "anda tidak saja cantik namun juga cerdas, menarik, dan saya suka. Selamat bergabung secara nyata di perusahaan saya. Saya senang akhirnya kita bisa bekerja secara real nggak secara online lagi" Binar memeluk singkat Monica lalu Binar segera beranjak keluar dari dalam ruangannya Monica.


Monica segera menghempaskan diri di atas sofa saat Binar telah keluar dari dalam ruangan itu. "Apa yang akan aku lakukan kalau aku disuruh menemui klien dan menggambar desain di depan klien suatu saat nanti, bisa sesak napas aku. Tapi demi Aksa apapun akan aku lakukan, lagipula aku juga dapat kerjaan dengan mudah berkat Aksa"