
Dokter Hendrik menyuruh Binar masuk setelah Binar memakai baju khusus di ruang ICU. Dokter Hendrik memberikan penjelasan ke Binar kalau Theo positif koma untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. Pecahlah tangisnya Binar dan pingsanlah dia. Perawat segera membawa Binar ke ruang yang bersebelahan dengan Theo. Mereka memberikan pertolongan ke Binar dengan didampingi dokter Hendrik.
Binar akhirnya sadar dan segera berlari ke ruang sebelah untuk memeluk suaminya. Binar menumpahkan tangisnya di sana
"Kamu harus bersabar dan memberikan semangat ke Theo jangan malah menangis!" ucapan dokter Hendrik segera menghentikan tangisannya Binar. Binar menegakkan kembali tubuhnya, mengusap air matanya lalu berkata ke dokter Hendrik, "terima kasih sudah mendampingi saya dan suami saya Dok. Saya akan bersemangat demi suami saya, saya nggak akan menangis lagi di depannya.
Dokter Hendrik menumpangkan tangan di pundaknya Binar, "semangat! aku juga akan terus berjuang untuk membawa Theo kembali ke dunia nyata, kembali ke tengah kita semua. Aku juga merasa sedih saat ini karena, Theo udah aku anggap seperti anakku sendiri tali demi Theo kita semua harus sabar dan kuat dan terus memberikan semangat untuk Theo dengan cara teruslah berbicara di sampingnya. Bicarakan apa aja, ceritakan kejadian sehari-hari, lama-lama ia akan memberikan respons"
Binar tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "terima kasih, Dok"
Dokter Hendrik tersenyum lalu melangkah pergi meninggalkan Binar.
Binar duduk di samping suaminya. Dia langsung menggenggam tangannya Theo dan berucap, "Mas, cepatlah sadar. Mada dan Aries terus menanyakan kamu. Terlebih Mada, ia rindu tidur di dalam pelukanmu. Mas, ada hal yang bikin aku shock, Aksa di sini. Aksa sudah balik dari Amerika dan Aksa berkata kalau ia masih mencintaiku. Cepatlah bangun Mas, bantu aku menghadapi Aksa!" Binar berucap sambil menahan berjuta titik air mata yang membuncah ingin dikeluarkan.
Tiba-tiba Binar merasakan gerakan kecil di jarinya Theo. Binar menatap tangan Theo yang masih ia genggam dan ia melihat jari telunjuknya Theo bergerak-gerak pelan namun intens.
"Sus! jari tangan suami saya bergerak nih" pekik Binar tanpa melepas tangan suaminya.
Dokter Hendrik yang kebetulan masih berada di dalam ruangan itu segera berlari mendekat dan memeriksa Theo. Lima belas menit berikutnya, dokter Hendrik menatap Binar dengan senyum lebar, "Theo orang kuat. Selamat, ada kemajuan pesat nih, aku nggak nyangka juga. Berikan rangsangan melalui belaian dan terus ajak ngobrol suami kamu, itu akan mempercepat kesadarannya Theo dalam merespons"
Binar langsung tertawa bahagia, "baik Dok! saya akan terus mengajak suami saya mengobrol. Terima kasih, Dok"
Dokter Hendrik tersenyum dan meninggalkan Binar kembali.
Binar lalu menciumi tangannya Theo dan berkata, "terima kasih Mas, sudah berjuang demi aku dan anak-anak. Aku sangat mencintaimu"
Aksa mengajak Monica untuk makan malam di luar dan di dalam sebuah restoran yang cukup mewah, Aksa menyodorkan satu kotak berwarna merah dari bahan beludru, "gelang kamu udah jadi. Bukalah!"
Monica memekik girang sambil mengatupkan kedua tangannya dia menatap Aksa dengan berjuta bintang di sorot kedua matanya, "beneran ini untuk aku? aku buka sekarang ya?"
Aksa menganggukkan kepalanya.
Monica membuka kota itu dan tertegun melihat gelang dengan banyak hiasan bintang kecil-kecil lucu dan sangat manis, "ini sangat indah. Boleh aku memakainya?"
Aksa mengambil gelang itu lalu ia memakaikan gelang itu di pergelangan tangannya Monica.
Monica menatap gelang yang melingkar cantik di pergelangan tangannya itu, ia mengelusnya dengan senyum sumringah lalu mengangkat wajah untuk menatap Aksa, "kenapa bintang? apa aku seperti bintang?"
Aksa merapatkan bibir lalu tersenyum tipis, menghela napas panjang dan berucap, "cintaku ke Binar sangat pekat, sepekat langit di malam hari. Gelap gulita tak ada harapan. Dan kamu hadir, memberi sinar di pekatnya itu. Kamu bak bintang, memberi sinar dan keindahan di sana. Aku bisa bangkit kembali dari keterpurukanku akan cinta, itu karena kamu. Kamu bintang bagiku"
Monica terus menatap Aksa dengan rona merah di wajahnya.
Shit! kenapa dia terlihat begitu cantik malam ini. Batin Aksa.
"Terima kasih karena sudah menganggap aku sebagai bintangmu"
"Terima kasih juga telah menjadi bintang di gelapnya harapanku. Kau bersedia bersinar dan menghiasi hari-hariku tanpa pamrih. Kau tulus dan aku sungguh berterima kasih" ucap Aksa dengan sorot mata yang tidak biasanya. Ada kekaguman di kedua mata Aksa ketika ia menatap Monica dan membuat Monica merona dan semakin kikuk dibuatnya. Monica segera menundukkan wajahnya, ia menatap gelangnya dan memainkan hiasan bintang-bintang kecil yang melingkari gelang cantik itu.
"Cantik" ucap Aksa secara spontan.
Monica mengangkat wajahnya dengan tangan yang masih memainkan hiasan bintang di gelangnya, "iya, gelang ini sangat cantik. Terima kasih"
"Ka....kamu mengatakan aku can........tik?" Monica melotot karena, sejak ia berkenalan dengan Aksa baru sekali itu Aksa mengatakan dia cantik.
"Iya kamu memang cantik" ucap Aksa.
"Terima kasih" Monica semakin merona lalu kembali menundukkan wajahnya.
"Terima kasih sudah mengantarkan nenek ke rumah sakit dan sudah mendonorkan darah kamu untuk nenek"
Monica kembali mengangkat wajahnya, "sama-sama. Aku juga menyayangi nenek dan kakek kamu. Karena, aku nggak punya kerabat, apa boleh aku menganggap kakek dan nenek kamu, kakek dan nenekku juga?"
"Boleh tentu saja boleh. Aku lihat kakek dan nenek juga sangat menyayangimu" sahut Aksa dengan senyum lebar. Ada rasa hangat di hati Aksa saat ia mendengar Monica mengucapkan kata kalau Monica menyayangi kakek dan neneknya.
"Terima kasih. Ah! senangnya aku sekarang memiliki kakek dan nenek" Monica melepas senyum polosnya dan Deg! hari Aksa riba-tiba merasa aneh saat ia menatap senyum polosnya Monica dan tanpa Aksa sadari Aksa menarik tangannya Monica lalu ia genggam erat tangan itu.
Monica melihat tangannya yang berada di atas meja dan tertangkap manis di dalam tangannya Aksa lalu ia menatap Aksa dengan ambigu.
"Aku mau meminta maaf atas sikapku beberapa hari ini yang terkesan menjauhimu. Itu kulakukan karena, aku nggak tega menyakitimu dengan duri-duri masalah yang mengelilingi tubuhku. Aku takut jika aku mendekatimu maka kau akan terluka terkena duri-duri itu"
"Aku ngerti kok. Aku nggak marah" sahut Monica.
"Aku beruntung bertemu dengan gadis sebaik dan setulus kamu. Aku akan mencoba menjalin hubungan dengan kamu......"
"Ah benarkah? apa ini berarti........kita pacaran sekarang?" Monica langsung memekik kegirangan.
"Tapi ada satu hal yang harus kamu ketahui terlebih dahulu sebelum kita menjalin hubungan"
"Apa itu?"
"Aku punya anak dengan Binar dan aku saat ini masih ingin fokus mengejar anakku"
"Aku sudah tahu. Pas aku memasukkan jas kamu ke mesin cuci, ada kertas terjatuh dan aku menemukan hasil tes DNA. Kalau kamu mau mengejar anak kamu, aku akan mendukungmu penuh"
"Kamu tahu tapi kamu diam saja?"
"Aku memahami semuanya. Kalian masih polos di masa lalu, pas kalian berpacaran jadi wajar kalau kalian kebablasan dan memiliki anak bersama. Aku nggak memandangnya sebagai suatu hal yang besar. Aku lahir dan dibesarkan di Amerika jadi itu bukan hal yang mengagetkan bagiku. Aku diam karena, aku pikir itu privasi kamu, aku memilih memberi ruang ke kamu, dan aku akan bersabar menunggu kesediaan kamu untuk bercerita padaku"
"Kamu memang jauh lebih bijaksana dan dewasa dari aku walaupun umur kamu jauh lebih muda dariku. Terima kasih untuk pengertianmu selama ini. Lalu apa kamu masih ingin menjadi pacarku, setelah tahu aku punya anak?"
Monica terkekeh geli lalu ia menganggukkan kepalanya.
"Baiklah kita berpacaran sekarang tapi, aku masih dalam tahap menyukaimu aku belum bisa mencin.........."
"Jangan khawatir! aku akan selalu ada di sampingmu, melindungimu, menjadi bintangmu, menjadi penunjuk arah bagimu, dan aku akan berikan cinta yang lebih sempurna untuk kamu"
Aksa tersenyum lebar lalu berucap, "oke, aku pasrahkan diriku ke kamu, ajari aku mencintaimu mulai dari sekarang dan terima kasih sudah mencintaiku seperti itu"
Monica menganggukkan kepalanya dan tersenyum lebar penuh kebahagiaan, "kita makan makanannya, kasihan makanannya terus mendengarkan kita ngobrol"
Aksa tertawa renyah lalu melepas tangannya Monica dan ia pun mulai makan makanan kesukaannya.