
Theo berucap, "aku akan lembur di ruang kerja. Kamu tidurlah dulu"
Binar mematung di depan pintu kamarnya dan menarik ujung kaosnya Theo.
Theo melirik ujung kaosnya lalu memandang wajah cantiknya bInar dan bertanya, "apa perutmu sakit? apa perut kamu kram? pengen muntah? atau apa?" wajah Theo mulai menunjukkan kepanikan yang luar biasa.
Binar menggelengkan kepalanya dan mengerucutkan bibirnya.
Theo kemudian memutar badan dan bernapas lega saat tahu Binar tidak kenapa-kenapa. Theo memegang kedua bahunya Binar, "lalu apa yang kamu rasakan sekarang? oh! kamu pengen keluar jalan-jalan atau makan sesuatu? aku akan belikan"
Binar semakin mengerucutkan bibirnya dan menggelengkan kepalanya.
"Lalu?" Theo mulai mengerutkan alisnya sambil terus menunduk untuk melihat wajahnya Binar.
Binar menundukkan wajahnya kemudian berucap sangat lirih, "aku ingin memegang tanganmu seperti biasa kalau aku tidur, boleh?" hampir tidak terdengar oleh Theo.
Theo mendesah panjang. Jika dia mengijinkan Binar memegang tangannya maka, dia takut akan bertindak lebih setelah apa yang dia lakukan sore tadi.
"Ka....kalau tidak boleh, nggak apa-apa kok" Binar mengangkat wajahnya lalu tersenyum ke Theo. Dia kemudian memutar badannya Theo dan dia dorong badannya Theo ke ruang kerjanya Theo sambil berucap, "selamat lembur, selamat bekerja suamiku" Binar menepuk punggungnya Theo kemudian memundurkan langkahnya lalu membuka pintu kamarnya dan bergegas masuk ke dalam.
Theo memutar badan kemudian menatap dalam diam pintu kamarnya. Perang batin menguasai hatinya. Di satu sisi dia tidak tega jika Binar tidak bisa tidur gara-gara tidak memegang tangannya tapi, jika dia menemani Binar tidur, dia takut jika hatinya mengkhianati nalarnya kembali dan dia akan bertindak hal yang aneh-aneh ke Binar.
Theo menggaruk-nggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal. Theo hendak berbalik badan ke ruang kerjanya kembali seperti rencana dia semula, kalau dia akan tidur di ruang kerjanya karena, dia takut jika dirinya bertindak aneh-aneh lagi ke Binar. Tapi akhirnya, Theo justru masuk ke dalam kamarnya dan bergegas berbaring di sebelahnya Binar sambil menyodorkan tangan kanannya ke Binar untuk Binar genggam.
Binar meraih tangannya Theo lalu menggenggamnya dan nampak girang bukan main. Kemudian Binar berkata, "terima kasih. Anakku sepertinya sangat menyayangi kamu. Dia selalu ingin memegang tanganmu"
Theo tersenyum bahagia, "benarkah itu? emm, apa aku boleh memanggilnya anakku?"
Binar tertegun mendengar perkataannya Theo yang tidak pernah dia duga akan terlontar dari mulutnya Theo.
"Bin?" Theo memanggil Binar karena, Binar nampak mematung dan melamun.
"Emm......iya?" Binar tergagap.
"Boleh aku mengelus perut kamu, mengobrol dengan dedek bayi yang ada di dalam perut kamu, dan memanggilnya anakku? emm, itu karena, aku adalah suami kamu dan aku ingin mulai akrab dengan anak kamu dan aku ingin menyayanginya sebagai anakku dan......"
"Boleh" sahut Binar dengan sangat cepat.
Kedua manik hitamnya Theo langsung menari-nari lincah dan kedua matanya kemudian mengerjap-ngerjap dengan penuh semangat saking gembiranya diijinkan oleh Binar memanggil anaknya Binar dengan sebutan anakku. Theo menarik tangannya dari dalam genggaman tangannya Binar kemudian dia duduk bersila di depan perutnya Binar.
Theo kemudian mengusap pelan perutnya Binar dan berkata, "halo sayang, ini om Theo tapi, kamu boleh memanggil om Theo, papa karena, om Theo adalah suami dari mama kamu yang sangat cantik ini"
Binar tersenyum memandang Theo yang tengah menunduk menatap perutnya dan berbicara di atas perutnya sembari mengelus lembut perutnya yang masih terlihat rata.
"Karena, om Theo sekarang ini adalah papa kamu, maka om Theo akan memanggil malaikat kecil di dalam perut ini dengan panggilan anakku. Om Theo sangat menyayangi kamu walaupun kamu belum besar, heeeee. Om Theo akan selalu menyapa kamu agar kamu kenal suara papa Theo kamu ini, heeee" Theo kemudian menoleh ke Binar, "boleh aku menciumnya?"
Hatinya Binar terasa hangat dan Binar tersenyum melihat Theo berinteraksi dengan anak di dalam kandungannya. Theo begitu menyayangi, mengasihi, dan sorot matanya Theo benar-benar tulus ingin mencium anak di dalam kandungannya maka Binar pun menganggukkan kepalanya.
Theo tersenyum lebar berucap, "terima kasih" kemudian mencium perutnya Binar dengan penuh kasih sayang dan di saat dia mengangkat kembali wajahnya dia berucap, "nak, papa menyayangimu. Semoga kamu juga menyayangi papa, ya nak?"
Binar berkata, "dia sudah menyayangi kamu. Buktinya tiap malam dia minta memegang tangan kamu"
Theo kemudian mengecup keningnya Binar lalu merebahkan diri dengan posisi memiringkan tubuh jangkungnya kemudian menyerahkan tangan kanannya, "ini genggam lah!"
Binar meraih tangan itu dan dia genggam kemudian tidak begitu lama, Binar tidur nyenyak sekali.
Theo menatap Binar, lalu turun menatap tangannya yang digenggam Binar dan Binar taruh di atas perutnya. Theo tersenyum bahagia karena, dia memang sungguh-sungguh menyayangi anak di dalam kandungannya Binar. Bahkan CEO hebat pemilik perusahaan di bidang periklanan itu lupa kalau anak di dalam kandungannya Binar bukanlah anak kandungnya.
Theo mencium pipinya Binar sambil menggerakkan tangannya yang berada di tas perutnya Binar, tangan yang masih digenggam Binar lalu berkata, "selamat tidur istri cantikku dan selamat bobok malaikat kecilku"
Aulia menendang Hendra yang tidur di sebelahnya dan bau alkohol. Hendra terjatuh ke lantai lalu membuka mata dengan kepala yang terasa begitu berat dan pening. Hendra berdiri dan melotot ke Aulia, "kenapa kau menendangku?
"Kamu bau alkohol. Berani-beraninya kamu mabuk di malam pengantin kita dan kamu tinggalkan aku begitu saja. Aku pingsan kemarin, apa kau tahu itu, mas?" pekik Aulia kesal.
Hendra berjalan menuju ke kamar mandi, mengabaikan kicauannya Aulia yang selalu saja membuatnya kesal.
"Mas! aku kemarin pingsan dan kamu nggak tanyakan keadaanku? nggak tanya kenapa aku pingsan?" pekik Aulia.
Braaaakkk! Hendra menutup pintu kamar mandi dengan sangat keras karena kesal. Kepalanya masih terasa pusing, berat, dan kicauannya Aulia menambah rasa pening di kepalanya.
"Dasar cewek gila, nggak punya perasaan, egois, manja, cih! bisa-bisanya menendang suaminya dan saat tahu suaminya memegang kepala karena, pusing, tidak dibikinkan sesuatu yang hangat malah diberi kicauan nggak jelas, cih!" gumam Hendra sembari mengguyur kepalanya dengan air hangat.
Aulia mandi di kamar mandi luar lalu duduk di meja makan di depan papanya sambil melipat tangan dan merengut.
"Ada apa sebenarnya? kenapa kamu kemarin pingsan dan Hendra keluar rumah lalu pulang dalam keadaan mabuk?" tanya David Revano.
"Semua karena Binar Adelard"
"Binar? apa salahnya Binar? dan kamu jangan kurang ajar ya! panggil kakak ke kakak ipar kamu jangan cuma Binar Adelard!" David langsung menaruh sendok dan garpunya lalu menautkan kedua alisnya di depan Aulia.
"Aku nggak sudi memanggilnya kakak. Binar Adelard itu........."
"Hentikan Aulia!" suara tegasnya Theo memotong ucapannya Aulia dan Aulia langsung bangkit, berputar badan dan memandang kakak laki-laki kesayangannya yang datang bersama dengan perempuan yang sangat dia benci.
Binar mematung namun, tetap memberikan senyum ke Aulia kemudian berjalan ke papa mertuanya, dia mencium punggung tangan papa mertuanya dan berkata, "selamat pagi, Pa"
David tersenyum dan berkata, "selamat pagi, Nak. Duduklah! kita sarapan sama-sama"
Binar tersenyum kemudian duduk dan Theo langsung menarik tangannya Aulia kemudian berkata ke Binar dan David, "maaf aku akan bicara dengan Aulia dulu"
Theo masuk ke dalam kamarnya Aulia tepat di saat Hendra selesai memasang dasinya. "Duduk kalian berdua!" perintah Theo.
Hendra dan Aulia langsung duduk di depannya Theo.
"Kakak kecewa sekali sama kamu Dek. Kamu udah gede dan sekarang udang menikah jadi kakak mohon berubahlah! jadilah wanita yang dewasa, jangan manja dan egois lagi! kalau kamu ingin Hendra membuka hati dan ingin suami kamu itu belajar mencintaimu maka berubahlah! jangan salahkan Binar ataupun orang lain lagi!" pinta Theo dan Aulia langsung diam terpaku.
"Dan kamu Hendra, hentikan mengganggu Binar! Binar tidak mencintaimu, camkan ini baik-baik! didiklah adikku yang sekarang ini sudah menjadi istri kamu, didik istri kamu untuk bisa mandiri, tidak manja, tidak egois! Semua berawal dari kamu karena, istri kamu mengormati kamu atau tidak, itu tergantung dari didikanmu, tergantung dari sikap kamu, dan tergantung dari perkataanmu. Jika kamu tidak ingin Aulia menjadi egois maka kamu pun harua berhenti menjadi egois! Ngerti?"
"Ngerti kak" sahut Hendra.
"Kakak sangat menyayangimu Dek. Kakak minta kalau kamu juga menyayangi kakak, kamu harus menghormati istri kakak! Asal kamu tahu, Binar tidak bersalah. Hendra yang sering mengganggu Binar padahal Binar selalu menolaknya karena, Binar tidak ingin kamu sedih, Binar tidak ingin merusak hubungan kamu dengan Hendra dan yang paling penting, Binar tidak mencintai Hendra" ucap Theo.
"Tapi........."
"Jika kamu masih menyalahkan istri kakak maka lebih baik kakak menjauh dari kamu untuk selamanya, Dek" potong Theo.
Aulia langsung bangkit dan berlari ke dalam pelukan kakak laki-laki yang sangat dia sayangi itu kemudian berucap, "jangan menjauh dari Aulia, Aulia sangat menyayangi kak Theo"
"Kalau gitu, kakak mohon hormatilah istri kakak" kata Theo sembari mengelus rambut panjangnya Aulia.
"Baiklah kak! aku akan mulai membuka hati untuk kak Binar dan aku akan menghormatinya" ucap Aulia.
"Kakak pegang janji kamu"
Aulia melepaskan pelukannya lalu mencium pipinya Theo, "iya, aku benar-benar janji dan nggak akan mengingkarinya. Mulai hari ini, aku akan mulai membuka hatiku untuk kak Binar dan......." Binar menoleh ke Hendra, "aku juga berjanji, aku akan berubah menjadi dewasa, nggak egois, nggak manja lagi, demi mas Hendra"
Hendra tanpa sadar tersenyum senang mendengar ucapannya Aulia.