My Pretty Boss

My Pretty Boss
Aksa dan Kesedihannya



Aksa naik taksi dan turin di jembatan Brooklyn yang merupakan jembatan suspensi tertua yang menghubungkan Manhattan dan Brooklyn di New York City. Aksa berdiri di tepian jembatan itu dan terus bernapas tanpa ritmis tidak berirama karena, kesedihan berbaur kekecewaan telah menghantam hatinya dengan begitu keras dan kejam.


Aksa terus menatap aliran sungai East yang ada di bawah jembatan Brooklyn dengan sorot mata kosong. Dia menatap aliran air nan tenang dan terbuai akan ketenangan air itu. Dia seolah ingin menyatu dengan air itu supaya dia pun bisa menjadi setenang aliran air sungai East itu.


Tiba-tiba pundaknya Aksa ditarik oleh seseorang dan Aksa terlonjak kaget lalu menoleh ke kanan. Dia melihat sosok kakek tua yang berkharisma dan berwajah bijak. Kakek tersebut kemudian berkata dalam bahasa Indonesia karena, kakek itu bisa mengetahui dari tulisan di kaosnya Aksa, kalau Aksa orang Indonesia, "seberat apapun masalahmu, jangan bunuh diri Nak! Masih ada banyak jalan dan harapan untuk mengatasi masalah kamu jika kamu tetap hidup dan hargailah mama kamu, yang sudah berjuang melahirkan kamu ke dunia ini, jadi kakek mohon, jangan bunuh diri!"


"Kakek bisa berbahasa Indonesia dan darimana kakek tahu kalau saya orang Indonesia?"


Kakek tersebut tersenyum lebar lalu menunjuk kaosnya Aksa, "tulisan di kaos kamu yang menunjukkan ke kakek, kalau kamu orang Indonesia dan aku bisa berbahasa Indonesia karena, aku seorang pebisnis yang suka bepergian ke berbagai negara"


Aksa menunduk ke kaosnya untuk melihat tulisan, "tidak berhati-hati kamu akan benjut" Aksa tersenyum setelah membaca tulisan yang ada di kaosnya. Cowok tampan itu kemudian mengangkat wajahnya dan memutar badan untuk menatap kakek itu, "terima kasih sudah mengingatkan saya Kek. Saya tidak memiliki keinginan untuk bunuh diri namun, sesaat tadi, pikiran kosong saya, hampir membuat saya terjun ke dalam sungai ini"


Kakek tersebut tersenyum lebar lalu menepuk kembali pundaknya Aksa, "ikut kakek yuk! kakek akan ajak kamu minum kopi di kafe kakek"


Aksa yang tengah kalut pikirannya, akhirnya menganggukkan kepalanya dan mengikuti kakek tersebut menuju ke kafe yang berada tidak jauh dari jembatan Brooklyn tersebut.


Aksa dan kakek tersebut duduk saling berhadapan di sebuah meja yang berada di pojok kafe tersebut lalu, kakek tersebut bertanya, "siapa namamu anak muda?"


"Nama saya, Aksa Putra Julian"


"Hah? apa kamu putranya Dona dan Kenzo Julian?" tanya kakek tersebut.


"Benar, Kek" sahut Aksa lalu Aksa bertanya, "kakek kenal dengan papa dan mama saya?"


"Bukan hanya kenal, almarhum istrinya kakek sangat menyayangi papa dan mama kamu. Papa kamu kuliah di sini dan almarhum istrinya kakek sudah menganggap papa kamu sebagai putra kami karena, kami tidak memiliki anak. Kakek tadi di dalam perjalanan ke acara pertunangan kamu. Tunggu dulu! jangan bilang kalau kamu kabur dari acara pertunanganmu?"


Aksa menganggukkan kepalanya dengan raut wajah lesu dan sedih.


"Kenapa?"


"Saya tidak mencintai wanita itu dan saya kecewa dengan papa saya"


"Tapi Nak, kamu tidak memikirkan mama kamu? kalau kamu pergi begitu saja, bagaimana dengan perasaannya Dona?"


"Mama saya udah lama meninggal" sahut Aksa.


"Hah? Dona sudah meninggal? kakek ikut sedih mendengarnya. Dona itu sosok yang hangat dan penyayang, kakek udah menganggap mama kamu sebagai putri kakek sendiri. Maafkan kakek karena, kesedihan kakek kehilangan istri kakek maka kakek pergi menepi dan tidak mengetahui kabar mama dan papa kamu lagi"


"Maaf, nama kakek siapa?"


"Ooooo iya, hahahaha, aku sampai lupa memperkenalkan diriku, namaku Felix Barnett dan aku punya foto yang selalu aku simpan di dompetku" kakek Felix mengambil dompetnya, membukanya dan memperlihatkan foto dia bersama dengan istri tercintanya yang tengah merangkul Dona lalu kakek itu merangkul Kenzo.


Aksa menatap foto di dalam dompet kakek tersebut dengan senyum tipis kemudian mengambil buku harian milik almarhum mamanya dari dalam tasnya lalu menyerahkannya ke kakek itu lalu berkata, "ini alasan saya pergi meninggalkan papa saya"


Kakek Felix memasukkan kembali dompetnya ke dalam saku jasnya kemudian meraih buku harian yang diberikan Aksa, "buku harian? milik siapa?"


"Milik almarhum mama saya" sahut Aksa.


Kakek Felix kemudian membuka dan mulai membaca helai demi helai buku harian itu. Setelah membacanya, kakek Felix menutup buku itu dengan pelan lalu menatap Aksa dengan senyum dan wajah dipenuhi dengan tanda tanya.


"Kenapa anda menatap saya seperti itu, Kek?"


"Kalau hanya ini alasan kamu meninggalkan papa kamu maka kamu berhati sempit anak muda" sahut kakek Felix


Aksa menghela napas.panjang, "masih ada hal yang lainnya lagi, papa saya membuat saya kehilangan wanita yang sangat saya cintai.......Huuffttt! tapi anda benar, Kek.........saya memang berhati sempit karena itu, saya kehilangan belahan jiwa saya. Tapi saya tetap tidak ingin bertemu dengan papa saya lagi karena, papa saya telah menyebabkan banyak kekacauan di hidup saya"


Aksa menggelengkan kepalanya, "saya tidak tahu sampai kapan"


"Apa kamu berencana balik ke Indonesia?"


Aksa tersenyum tipis, "saya tidak ingin kembali ke Indonesia karena, saya sudah tidak lagi memiliki apapun untuk diperjuangkan dan saya juga tidak memiliki cukup uang jika saya ingin balik ke Indonesia"


"Baiklah, kakek akan menelepon papa kamu" kata kakek Felix.


"Jangan Kek!" Aksa segera mencegah kakek Felix namun, kakek Felix mengangkat tangannya dan berkata, "tenanglah! kakek nggak akan katakan keberadaanmu. Kakek cuma mau memberitahukan papa kamu kalau kamu baik-baik saja dan untuk sementara waktu tidak ingin menemuinya"


Aksa kemudian mematung dan membiarkan kakek Felix menelepon papanya.


"Aksa akan aku urus. Jangan khawatir! jika Aksa belum ingin bertemu denganmu maka jangan kamu paksa!" Klik, kakek Felix mematikan sambungan teleponnya dengan Kenzo Julian.


"Kakek akan mengurus saya?" tanya Aksa.


"Iya karena, kamu anaknya Dona maka kamu adalah cucuku. Aku akan mengurus kamu. Kamu tinggal denganku mulai hari ini. Ayo kita pulang!"


Kenzo mengatakan ke istrinya untuk tidak khawatir dan menangisi Aksa karena, Aksa baik-baik saja bersama dengan papa angkatnya Kenzo. Tapi, yang menjadi pertanyaan terbesarnya Kenzo adalah, kenapa Aksa tidak ingin bertemu lagi dengannya. Kenzo terduduk lemas dan meraup kasar wajah gantengnya


Dara kemudian bertanya, "ada apa mas? kata kamu, Aksa akan baik-baik saja bersama dengan tuan Felix Barnett?"


"Aksa baik-baik saja tapi aku sedih karena, papa angkatku mengatakan kalau Aksa tidak mau lagi bertemu denganku. Salah aku apa?"


Dara mendesah panjang lalu berkata, "aku akan ceritakan ke kamu mas, semuanya. Tapi nanti, saat kita sudah balik ke Indonesia"


Aksa telah masuk ke dalam mobilnya kakek Felix. Aksa tiba-tiba bertanya, "kakek asli Inggris ya?"


"Hahaha, kamu memang mewarisi banyak hal dari Dona, tidak cuma wajah kamu yang mirip dengan Dona tapi kecerdasan kamu pun sama dengan Dona. Iya Nak, aku orang Inggris dan menetap di sini setelah bertemu dengan belahan jiwaku" sahut kakek Felix.


"Anda beruntung, Kek. Anda bisa bertemu dengan belahan jiwa kakek dan bisa hidup bersama sampai maut memisahkan" ucap Aksa dengan mengulas senyum tipis.


"Iya aku beruntung memilikinya. Walaupun kami tidak diijinkan untuk memiliki keturunan tapi Belva istriku, memiliki banyak anak angkat karena, dia berhati lembut, hangat, dan baik. Aku hanya mencintai Belva seumur hidupku makanya setelah Belva meninggal aku begitu terpukul tapi, aku juga tidak ingin menikah lagi bagiku pernikahan hanya sekali dan itu dengan Belva" ucap Kakek Felix.


Aksa mendesah panjang lalu berkata, "saya juga menginginkan pernikahan yang seperti itu dengan Bin........aaahh! lupakan saja, Kek"


Kakek Felix kemudian menaruh tangannya di atas tangannya Aksa, "kalau kalian berjodoh, serumit apapun jalan kalian, maka kalian akan dipertemukan kembali namun, jika tidak berjodoh maka kamu akan bertemu dengan orang baru dan dimampukan Tuhan untuk kembali mengenal cinta"


Aksa menoleh dan tersenyum ke kakek Felix kemudian berkata, "terima kasih sudah menolong saya, mau menampung saya, dan menguatkan hati saya saat ini, Kek. Apa yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan kakek?"


"Belajarlah yang rajin sampai kamu lulus lalu kakek akan mengajari kamu untuk mengurus bisnisnya kakek"


"Hanya itu, Kek?" tanya Aksa.


"Iya, hanya itu yang kakek minta"


"Tapi kakek baru saja mengenal saya. Kenapa kakek begitu memercayai saya dan berencana mengajari saya soal bisnisnya kakek?"


"Karena kamu putranya Dona, maka aku percaya seribu persen lebih pada kamu" kakek Felix menepuk pelan pundaknya Aksa lalu menyuruh supir pribadinya untuk mempercepat laju mobilnya menuju ke istananya.


Awal kehidupan baru bagi Aksa Putra Julian dengan Felix Barnett akan membawa banyak perubahan pada Aksa.